Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tumpahan Kopi dan Amarah Atasan
Aroma biji kopi arabika yang baru saja digiling merebak di dalam ruang pantri lantai dua Gedung Graha Subroto. Di depan mesin pembuat kopi otomatis, Mahesa berdiri dengan takzim. Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak kecil berisi secangkir kopi hitam pekat pesanan khusus untuk rapat internal manajemen pagi itu. Jam dinding digital di sudut ruangan menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Setelah hantaman kata-kata tajam dari para tetangga di gang sempit rumahnya tadi pagi, Mahesa sengaja mempercepat ritme kerjanya agar fokusnya tidak terpecah.
Ia membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot akibat keringat, lalu melangkah keluar dari pantri dengan sangat hati-hati. Tatapan matanya lurus ke depan, memastikan setiap langkah di atas lantai marmer yang licin itu berjalan seimbang.
Namun, nasib malang seolah enggan beranjak dari pundak pemuda itu. Tepat saat Mahesa hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat, pintu ruang HRD terbuka secara mendadak dari dalam. Seseorang melangkah keluar dengan tergesa-gesa tanpa melihat kiri dan kanan.
Brak!
Tubuh kurus Mahesa bertabrakan keras dengan sosok bertubuh tegap itu. Nampan perak di tangannya terguncang hebat. Dalam hitungan detik, cangkir porselen putih itu terguling, mengirimkan cairan hitam pekat yang masih mengepulkan uap panas langsung ke atas kemeja putih bersih milik Pak bagus, Manajer HRD Graha Subroto.
"Astagfirullah! Maaf, Pak! Maaf sekali, saya tidak sengaja," seru Mahesa dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi. Ia langsung berlutut di lantai, mencoba memungut cangkir yang retak dengan tangan yang gemetar hebat.
Pak Bagus tertegun selama beberapa detik, menatap kemeja mahalnya yang kini menyisakan noda cokelat kehitaman yang melebar di bagian dada hingga perut. Detik berikutnya, wajah pria paruh baya itu memerah padam, urat-urat di lehernya menegang, dan sepasang matanya menatap Mahesa dengan kilatan amarah yang meledak-ledak.
"Goblok kamu ya! Punya mata nggak sih?!" bentak Pak Bagus dengan suara menggelegar, gema suaranya langsung memutus keheningan koridor lantai dua yang mulai ramai oleh lalu lalang karyawan.
Beberapa staf administrasi, sekretaris, dan OB lainnya langsung menghentikan langkah mereka. Dalam sekejap, koridor itu berubah menjadi panggung dadakan, dengan Mahesa sebagai pesakitan yang bersimpuh di lantai di bawah tatapan belasan pasang mata.
"Maaf, Pak Bagus. Benar-benar maaf, tadi saya mau mengantar kopi ke ruang rapat dan tidak sempat mengerem," ratap Mahesa dengan suara lirih, tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap genangan kopi di lantai marmer.
Pak Bagus maju satu langkah, menendang nampan perak di dekat kaki Mahesa hingga berdenting keras di dinding koridor. "Alasan saja kamu! Kamu tahu nggak ini kemeja merek apa? Ini sutra impor, harganya lebih mahal dari gaji kamu setahun, tahu! Dasar culun, kerja bersihin lantai aja nggak becus, sekarang malah merusak baju orang!" maki Pak Bagus habis-habisan tanpa memedulikan harga diri Mahesa yang terkoyak di depan umum.
Doni dan Rian, dua OB yang pagi tadi menjebak Mahesa, tampak berdiri di barisan belakang kerumunan karyawan. Bukannya membantu, mereka justru saling berbisik sambil menyunggingkan senyum kemenangan, menikmati tontonan gratis di mana Mahesa kembali menjadi bulan-bulanan.
"Kamu sengaja ya mau bikin saya malu di depan direksi pagi ini? Hah?!" tuduh Pak Bagus lagi, suaranya naik satu oktav, memutus sisa-sisa keberanian Mahesa untuk membela diri.
"Tidak, Pak. Demi Allah, saya sama sekali tidak ada niat seperti itu. Saya murni tidak sengaja karena pintu terbuka mendadak," jawab Mahesa dengan nada bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa logikanya di tengah intimidasi yang begitu masif.
"Halah, potong bicara saya lagi kamu! Udah salah, masih berani menjawab!" potong Pak Bagus dengan nada kasar, telunjuknya menuding tepat di depan wajah Mahesa yang terhalang kacamata tebal. "Dengar ya, Mahesa! Kamu itu cuma OB miskin di sini. Status kamu itu kontrak, gampang banget buat saya tendang dari gedung ini hari ini juga! Jangan sok belagu pakai bantah omongan atasan!"
Naratif penindasan ini terasa begitu akrab sekaligus menyakitkan bagi Mahesa. Di dalam rongga dadanya, rasa sesak menjalar hingga ke tenggorokan. Mengapa dunia begitu kejam kepadanya? Pagi tadi tetangganya mencaci maki kemiskinannya, dan kini di tempat kerja, kesalahpahaman kecil membuatnya diperlakukan seolah ia telah melakukan kejahatan kriminal besar. Ia ingin berteriak bahwa Pak Bagus yang melangkah keluar tanpa melihat jalan, namun ia sadar, di dalam ekosistem korporasi ini, suara seorang office boy rendahan tidak akan pernah memiliki bobot yang sama dengan suara seorang manajer berdarah biru.
"Iya, Pak. Saya salah. Saya mengaku salah. Tolong maafkan saya, Pak Bagus," ucap Mahesa akhirnya dengan suara yang nyaris habis, memilih untuk menelan mentah-mentah seluruh makian itu demi mempertahankan pekerjaannya. Pikiran tentang Neneknya yang butuh obat di rumah petak kembali menjadi rem darurat bagi amarahnya.
Pak Bagus mendengus jijik, membersihkan sisa noda kopi di tangannya menggunakan tisu yang disodorkan oleh seorang sekretaris yang menonton di dekatnya. "Maaf tidak bisa membersihkan kemeja saya, Mahesa! Mulai hari ini, gaji kamu saya potong lagi untuk biaya laundry khusus dan denda pelanggaran disiplin kerja!" putus Pak Bagus dengan sewenang-wenang.
Mendengar keputusan itu, jantung Mahesa rasanya seperti dihantam godam besar. Gaji bulan ini sudah dipotong tiga puluh persen karena fitnah tempo hari, dan kini harus dipotong lagi? Bagaimana ia bisa membeli obat jantung Nenek? Bagaimana ia bisa membayar tunggakan kontrakan yang sudah ditagih Bu RT pagi tadi?
"Pak Bagus, tolong, Pak... jangan potong gaji saya lagi. Nenek saya sedang sakit keras di rumah, butuh biaya obat," pinta Mahesa dengan nada memelas yang teramat sangat, mendongakkan wajahnya yang tampak rapuh, menatap sang manajer dengan pandangan memohon.
Namun, alih-alih iba, Pak Bagus justru mencibir dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Itu urusan pribadi kamu, bukan urusan perusahaan! Kalau nggak mau gaji dipotong, makanya kerja yang becus, jangan pakai otak culunmu itu! Sekarang, bersihkan lantai ini sampai mengkilap lagi, lalu pergi dari hadapan saya! Mengotori pemandangan saja!" usir Pak Bagus sembari membalikkan badan dengan kasar, melangkah kembali ke dalam ruangannya dan membanting pintu hingga menimbulkan suara berdentum yang keras.
Kerumunan karyawan di koridor perlahan membubarkan diri seiring perginya sang manajer. Beberapa orang menatap Mahesa dengan kasihan, namun lebih banyak yang memandang dengan tatapan geli dan meremehkan. Doni dan Rian berlalu sambil tertawa kecil, meninggalkan Mahesa sendirian yang masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin.
Mahesa menarik napas panjang secara perlahan, mencoba menguasai gemetar di sekujur tubuhnya. Ia melepaskan kacamatanya yang berembun, menyekanya dengan ujung seragam biru mudanya yang kini juga ikut terkena cipratan kopi hitam. Tidak ada air mata yang jatuh; air matanya sudah mengering oleh kerasnya realitas hidup. Dengan sisa-sisa keteguhan batin yang ia miliki, ia mulai memunguti pecahan porselen satu per satu, lalu menyeka genangan kopi di lantai menggunakan selembar kain lap yang selalu ia kantongi. Di lantai dua Graha Subroto yang mewah ini, Mahesa kembali belajar mengubur harga dirinya dalam-dalam, demi sebuah senyuman menyambut kepulangannya di rumah petak nanti malam.