NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sore harinya, kepindahan itu terjadi lebih cepat dari yang Bianca bayangkan. Arlan, yang sedari tadi mengawasi dari jendela ruang kerjanya, melihat Pak Arep membantu membawakan koper kecil milik Gita menuju paviliun.

Pria itu menyesap kopinya yang sudah dingin. Ada rasa puas yang aneh saat tahu wanita itu kini berada di bawah atap yang sama dengannya. Namun, rasa penasaran Arlan jauh lebih besar daripada rasa puasnya. Ia turun ke lantai bawah, melangkah menuju area paviliun dengan alasan ingin mengecek keran air yang katanya bermasalah.

Di koridor paviliun, ia berpapasan dengan Gita yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Wanita itu sudah berganti pakaian—kaos putih polos dan celana kain panjang—namun tetap saja, kecantikannya yang elegan tidak bisa disembunyikan oleh kain murah.

"Sudah nyaman dengan kamarmu?" tanya Arlan tiba-tiba.

Gita terhenti, sedikit terkejut namun segera menunduk hormat. "Sangat nyaman, Tuan Arlan. Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini."

Arlan melangkah maju, memperpendek jarak. Ia bisa mencium aroma sabun mandi melati yang lembut dari tubuh wanita itu.

"Aku tidak memberimu kamar ini cuma-cuma, Gita. Aku menghargai efisiensi. Dengan tinggal di sini, artinya aku bisa memanggilmu kapan pun aku butuh bantuan, bahkan di luar jam kerja resmi."

Gita mendongak, matanya yang jernih menatap langsung ke dalam manik mata Arlan.

"Saya mengerti, Tuan. Saya siap bekerja sesuai instruksi."

Arlan menyipitkan mata. Jawaban itu terlalu formal, terlalu terkontrol. "Kamu tidak takut padaku? Banyak pelayan di sini yang segan bicara denganku, tapi kamu... kamu selalu punya jawaban yang tepat."

"Ketakutan adalah kemewahan yang sudah lama saya lepaskan, Tuan," jawab Gita pelan namun tegas.

Arlan hendak membalas, namun suara ponsel di sakunya bergetar hebat. Ia merogohnya dan melihat nama yang tertera di layar. Sekretaris Jakarta. Wajah Arlan mengeras seketika. Ia memberikan isyarat pada Gita untuk pergi, lalu mengangkat telepon itu dengan nada bicara yang berubah menjadi sedingin es.

**

Malam harinya, hujan turun deras mengguyur perkebunan. Suara guruh bersahutan, membuat suasana villa terasa mencekam. Bianca duduk di tepi ranjang kecilnya, mencoba membaca buku di bawah temaram lampu meja. Pikirannya tidak fokus. Ia terus teringat tatapan Arlan sore tadi. Pria itu tampak sangat terobsesi untuk mengulitinya, mencari tahu rahasia yang ia simpan rapat-rabun.

Tiba-tiba, pintu paviliun diketuk dengan keras. Bukan ketukan lembut Mak Saroh, melainkan gedoran yang mendesak.

Bianca membuka pintu dan menemukan Isah berdiri di sana dengan wajah pucat pasi.

"Neng Gita... Neng, tolong! Tuan Arlan... beliau mengamuk di ruang kerjanya. Semua barang dipecahkan. Bapak dan Ibu sedang tidak di rumah, mereka menginap di kota untuk urusan darurat. Kami takut mau mendekat!"

Jantung Bianca berdegup kencang. Ia segera berlari menuju bangunan utama, menaiki tangga menuju ruang kerja Arlan. Di sana, suasana berantakan. Berkas-berkas berserakan, dan sebuah gelas kristal hancur berkeping-keping di lantai.

Arlan berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke kegelapan kebun teh, napasnya memburu. Saat ia berbalik, matanya merah karena amarah dan... luka.

"Kenapa kamu di sini?" bentak Arlan. "Pergi!"

Bianca tidak bergeming. Ia melangkah melewati pecahan kaca dengan hati-hati. Keangkuhannya yang dulu kini bermutasi menjadi keberanian yang tenang.

"Isah takut, Tuan. Apa yang terjadi?"

Arlan tertawa sinis, langkahnya limbung mendekati Bianca. Ia mencengkeram kedua bahu wanita itu, menekannya hingga punggung Bianca menabrak rak buku kayu yang dingin.

"Apa yang terjadi? Mantan istriku baru saja menelepon. Dia bilang dia berhasil membekukan asetku di Jakarta atas tuduhan penggelapan yang tidak pernah kulakukan. Dia ingin aku hancur, Gita! Sama seperti dia menghancurkan hatiku demi pria lain!"

Arlan menatap Bianca dengan pandangan liar. "Dunia ini busuk, ya? Penuh dengan orang-orang yang pura-pura baik padahal mereka ular."

Bianca menatap Arlan dengan rasa iba yang mendalam. Ia tahu rasanya dikhianati. Ia tahu rasanya dunia runtuh dalam semalam. Tanpa sadar, tangannya terangkat mengusap lengan Arlan yang tegang.

"Tidak semua orang seperti itu, Tuan."

"Lalu kamu? Kamu siapa sebenarnya?!" Arlan berteriak tepat di depan wajahnya. "Pelayan? Mantan napi? Atau seorang putri yang sedang bermain sandiwara?"

Arlan menarik Bianca lebih dekat, wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Obsesi dan kemarahan bercampur menjadi satu energi yang menyesakkan.

"Katakan yang sebenarnya, atau aku akan..."

Kalimat Arlan terhenti. Matanya tertuju pada leher Bianca, di bawah kerah kaosnya yang sedikit bergeser karena cengkeramannya. Di sana, tergantung sebuah kalung perak tipis dengan liontin berbentuk inisial 'B' yang terbuat dari berlian asli—sebuah benda yang lupa Bianca lepaskan sebelum pindahan tadi.

Tepat saat Arlan ingin menyentuh liontin itu, pintu ruang kerja terbuka kasar. Pak Arep masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa.

"Den Arlan! apakah aden baik-baik saja?" teriak Pak Arep khawatir.

“Karena sudah ada Pak Asep, saya permisi, Tuan!” Bianca menundukkan kepalanya kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja Arlan sambil merapikan kerah kaosnya.

**

Di dalam kamar kecil yang hanya berisi satu ranjang kayu, sebuah lemari, dan meja rias sederhana, Bianca berdiri mematung di depan cermin yang sedikit kusam.

Napasnya masih memburu. Bayangan wajah Arlan yang memerah karena amarah dan rasa penasaran tadi seolah masih tertinggal di udara. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Bianca meraih lehernya. Ia merasakan logam dingin itu—liontin perak dengan inisial 'B' yang mungil. Sebuah benda yang seharusnya sudah ia buang bersama tumpukan trauma masa lalu, namun tetap ia simpan sebagai satu-satunya jangkar menuju jati dirinya yang asli.

Klik.

Pengait liontin itu terlepas. Bianca menatap benda itu di telapak tangannya, lalu merutuki dirinya sendiri dalam hati.

"Bodoh... kamu benar-benar bodoh, Bianca," bisiknya lirih.

Hampir saja. Jika saja Pak Arep tidak menerobos masuk, Arlan pasti sudah mengulitinya hidup-hidup. Pria itu bukan pengusaha sembarangan; instingnya tajam seperti pisau bedah. Arlan tidak melihat Gita Ivara sebagai seorang pelayan yang rajin, melainkan sebagai sebuah anomali. Sebuah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan.

Ia teringat teriakan Arlan di ruang kerja tadi. Suaranya yang berat dan menggelegar masih terngiang jelas: "Pelayan? Mantan napi? Atau seorang putri yang sedang bermain sandiwara?"

Bianca menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mencoba mencari di mana letak kesalahannya. Rambutnya diikat rapi, wajahnya polos tanpa polesan kosmetik mahal, dan tubuhnya dibalut kaos katun murah yang ia beli di pasar lokal. Bahkan ponsel di atas meja pun hanya perangkat sederhana seharga tiga juta rupiah—sangat jauh dari gaya hidupnya dulu yang bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk sekali makan siang.

Ia sudah mematikan Bianca Adytama. Ia sudah mengubur nona muda yang angkuh itu di balik jeruji penjara selama sepuluh tahun. Namun, sekeras apa pun ia mencoba menjadi "Gita", ada sesuatu yang tidak bisa ia tanggalkan: aura. Cara ia berdiri, cara ia menatap mata lawan bicaranya, dan ketenangannya di bawah tekanan—semua itu adalah genetik dan didikan bertahun-tahun yang tidak bisa dihapus hanya dengan seragam pelayan.

"Apa aku begitu mencolok?" gumamnya pada bayangan di cermin.

Di bangunan utama vila, Arlan Dirgantara tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam yang menusuk tulang menyapu dadanya yang bidang. Pikirannya tertuju pada paviliun belakang.

Ada sesuatu pada diri "Gita" yang membuatnya merasa terancam sekaligus tertarik secara magnetis. Sebagai pria yang pernah dihancurkan oleh wanita yang hanya memuja hartanya, Arlan memiliki mekanisme pertahanan diri yang sangat tinggi. Ia biasanya bisa mencium bau kebohongan dari jarak jauh. Namun pada Gita, kebohongannya terasa... mulia. Seolah wanita itu berbohong bukan untuk menyakiti orang lain, melainkan untuk melindungi sisa-sisa jiwanya yang hancur.

"Gita Ivara..." Arlan menggumamkan nama itu. "Siapa pun kamu, kamu membuatku merasa seperti orang bodoh yang sedang mengejar bayangan."

Arlan teringat saat ia mencengkeram bahu Gita tadi. Wanita itu tidak gemetar karena takut seperti pelayan lainnya. Matanya justru menunjukkan keberanian yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah pernah kehilangan segalanya. Tidak ada ketamakan di sana, hanya ada kelelahan yang dalam.

***

1
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!