NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Warung Pojok

​Langit sore di Desa Karang Jati menggantung kemerahan, seperti luka yang baru saja tergores. Di Warung Pojok milik Mak Ipah, asap rokok kretek membumbung tinggi, menyatu dengan aroma kopi tubruk yang pahit dan uap gorengan yang berminyak. Warung itu adalah jantung informasi desa—tempat di mana rahasia dipreteli dan harga diri orang lain dijadikan kudapan sore.

​Sugeng dan Bambang duduk di pojok balai-balai, nyaris tak menyentuh kopi mereka yang sudah mendingin. Di sekitar mereka, beberapa petani dan pemuda desa sedang asyik membicarakan topik paling hangat abad ini: kepulangan Ratri.

​"Edan! Tadi aku lihat sendiri dia lewat pakai sedan hitam. Mengkilapnya sampai bisa buat ngaca!" seru seorang pemuda sambil mengunyah mendoan.

​"Katanya dia menetap di Desa Sukomaju, desa sebelah kita itu. Malah dengar-dengar, dia sudah beli tanah luas di pinggir jalan raya. Mau dibangun supermarket modern, katanya. Harganya harga desa, tapi tempatnya pakai AC. Kalau itu jadi, kita tidak perlu lagi belanja ke pasar kecamatan yang becek," sahut yang lain dengan nada antusias.

​Namun, bagi Sugeng dan Bambang, berita kemakmuran Ratri bukanlah kabar baik. Sejak pertemuan di toko material tadi pagi, ada rasa was-was yang merayap di tengkuk mereka. Ada sesuatu yang salah dengan cara Ratri menatap mereka—seolah wanita itu sedang melihat sepotong daging yang siap dipotong-potong.

​"Geng, kamu rasa tidak? Dia beda sekali," bisik Bambang, suaranya nyaris tenggelam oleh suara tawa warga lain.

​Sugeng mengangguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu yang dekil. "Bukan cuma beda, Bam. Dia seolah... sengaja mendatangi kita. Dan kata-katanya soal Karno tadi pagi? Itu ancaman. Aku yakin itu ancaman."

​"Apa kita perlu lapor Pak RT? Kejadian Karno semalam itu terlalu aneh. Kalau memang Ratri pakai ilmu hitam untuk balas dendam, kita semua dalam bahaya," lanjut Bambang dengan wajah yang semakin pucat.

​Baru saja nama itu disebut, sosok yang dibicarakan muncul. Pak RT Hardo berjalan dengan langkah tegap, sarungnya disampirkan di bahu dengan gaya berwibawa yang dipaksakan. Ia menyapa warga sebentar sebelum matanya menangkap sosok Sugeng dan Bambang. Dengan isyarat dagu, ia menyuruh keduanya bergeser agar ia bisa ikut duduk.

​"Kalian di sini rupanya," ucap Pak RT Hardo sambil memesan kopi pahit pada Mak Ipah.

​"Pak RT... kami baru saja mau ke rumah Bapak," bisik Sugeng dengan nada serius.

​Pak RT Hardo mengangkat sebelah alisnya. "Soal Ratri?"

​Bambang mengangguk cepat. "Dia muncul tadi pagi di toko material, Pak. Penampilannya... seperti nyonya besar. Kaya raya. Dia juga tahu soal Karno yang sakit."

​Pak RT Hardo tertawa meremehkan, suara tawanya kering dan parau. "Alah! Kalian ini penakut sekali. Paling-paling dia cuma simpanan orang kaya di kota, lalu pulang ke sini untuk pamer harta. Wanita seperti Ratri itu, dari dulu ya begitu; lemah, hanya bermodal rupa. Kalau dia memang kaya sekarang, itu bagus. Kita bisa cari cara untuk 'memanfaatkan' kekayaannya, seperti dulu kita memanfaatkan tubuhnya."

​"Tapi Pak, Karno jadi gila. Dia teriak-teriak minta ampun!" protes Bambang.

​"Karno itu memang dasarnya mental tempe. Dia ketakutan karena bayangannya sendiri," sahut Pak RT sambil menyesap kopinya. "Begini saja, Sugeng... kamu kan yang paling pandai merayu. Coba kamu cari tahu motif sebenarnya dia kembali ke desa sebelah. Benar tidak dia mau bangun supermarket? Ataukah dia cuma mau memancing Bayu supaya menyesal? Atau jangan-jangan... dia memang rindu 'main-main' dengan kita lagi?"

​Pak RT menyeringai busuk. Di matanya, Ratri tetaplah objek yang sama dengan dua tahun lalu. Selembar daging yang bisa mereka cabik kapan saja mereka mau.

​"Ingat tidak," lanjut Pak RT dengan nada rendah, memancing ingatan gelap yang terkubur, "bagaimana dia memohon-mohon malam itu di ladang jagung? Wanita seperti itu tidak akan pernah berubah. Dia akan selalu tunduk di bawah laki-laki."

​Mendengar ucapan Pak RT, ingatan Bambang dan Sugeng pun terseret kembali ke malam jahanam dua tahun silam. Kenangan itu muncul begitu detail, seolah bau tanah basah dan aroma jagung yang baru menguning kembali menyerbu indra penciuman mereka.

​Flashback: Malam di Ladang Jagung (Dua Tahun Lalu)

​Malam itu, Desa Karang Jati diselimuti kegelapan yang pekat. Bayu sedang pergi ronda, dijebak oleh beberapa kawanan itu agar menjauh dari rumahnya. Sementara itu, segerombolan orang pria, dipimpin oleh Pak RT Hardo, sudah mengepung rumah mungil itu.

​Ratri saat itu baru saja selesai shalat isya. Ia terkejut ketika pintu rumahnya didobrak paksa. Tanpa sempat berteriak, mulutnya dibekap dengan kain yang sudah ditetesi cairan berbau menyengat—obat perangsang tradisional hasil racikan dukun suruhan Pak RT yang dikenal dengan nama "Jaran Edan".

​Dalam keadaan setengah sadar dan tubuh yang mulai memanas secara tidak wajar, Ratri diseret menuju ladang jagung di perbatasan hutan. Di sana, di bawah naungan pohon randu besar, mereka telah menyiapkan selembar terpal kumuh.

​"Tolong... Mas Bayu..." rintih Ratri, suaranya sangat lemah. Matanya sayu, pengaruh obat itu mulai bekerja, membuat kesadarannya antara ada dan tiada. Jantungnya berdegup kencang, kulitnya terasa terbakar, dan rasa haus yang luar biasa menyiksa tenggorokannya.

​Pak RT Hardo berdiri paling depan, menatap tubuh Ratri yang menggeliat gelisah karena pengaruh obat. "Bayu tidak akan datang, Ratri. Malam ini, biarkan warga desa ini mencicipi betapa nikmatnya punya istri secantik kamu."

​"Jangan... saya mohon..." Ratri mencoba merangkak pergi, namun Bambang dengan kasar menarik kakinya, menyeretnya kembali ke tengah lingkaran.

​Karno, yang saat itu membawa kamera saku, mulai menyalakan lampu kilatnya. Cret! Cret! Cahaya putih menyambar-nyambar wajah Ratri yang penuh air mata namun terlihat liar karena pengaruh zat perangsang itu.

​"Rekam yang jelas, No! Biar besok suaminya tahu betapa nakalnya istrinya ini," teriak Sugeng sambil tertawa keras.

​Penyiksaan itu pun dimulai. Satu per satu, laki-laki bejat itu menggilir Ratri. Ratri, yang dalam kondisi normal adalah wanita yang sangat santun dan setia, kini di bawah pengaruh obat itu bersikap di luar kendali. Ia mengerang, mencakar, dan sesekali bertindak liar seolah-olah ia menikmati siksaan itu—padahal batinnya sedang menjerit dan menangis dalam kehancuran yang paling dalam.

​Sepuluh orang pria itu, termasuk Pak RT yang seharusnya menjadi pengayom desa, tertawa-tawa sambil melakukan aksi keji tersebut berkali-kali. Tidak ada belas kasihan. Setiap kali Ratri pingsan, mereka menyiramnya dengan air botol agar ia bangun kembali untuk menerima giliran selanjutnya.

​"Lihat ini! orang kota ternyata lebih liar dari jalang!" ejek Agus, salah satu pelaku lainnya, sambil menekan wajah Ratri ke tanah yang lembap.

​Kekerasan itu berlangsung hingga fajar nyaris menyingsing. Tubuh Ratri penuh dengan lebam, bekas gigitan, dan noda-noda menjijikkan dari sepuluh laki-laki tersebut. Pakaiannya sudah robek menjadi kain perca yang tak berbentuk.

​Sebelum mereka pergi meninggalkan Ratri yang terkapar pingsan, Pak RT Hardo berbisik di telinga wanita itu, "Kalau kamu berani bicara pada suamimu, rekaman ini akan kusebar ke seluruh kecamatan. Kamu akan malu seumur hidup, dan Bayu akan membencimu sampai mati."

​Malam itu, ladang jagung menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang manusia. Dan di sisa-sisa kesadarannya sebelum benar-benar kegelapan menjemput, Ratri yang saat itu melihat bayangan sepuluh pria itu menjauh, membatin sebuah sumpah yang sangat dingin: "Demi setiap tetes darah dan air mata ini... aku bersumpah, suatu saat nanti, kalian akan merangkak di bawah kakiku, memohon kematian yang tidak akan pernah kuberikan."

​Kembali ke Masa Sekarang (Warung Pojok)

​Sugeng tersentak dari lamunannya. Bulu kuduknya berdiri. Ingatan tentang malam itu entah mengapa terasa begitu mencekam sekarang, seolah-olah suasana ladang jagung itu berpindah ke warung ini.

​"Bagaimana, Geng? Sanggup kan?" suara Pak RT Hardo membuyarkan lamunan Sugeng.

​Sugeng berdehem, mencoba menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba muncul di perutnya. "Sanggup, Pak RT. Besok saya akan coba main ke Desa Sukomaju. Saya akan cari tahu di mana dia tinggal sekarang."

​"Bagus. Jangan lupa, bawa sedikit 'oleh-oleh' kalau perlu. Siapa tahu dia memang rindu sentuhan laki-laki desa," tawa Pak RT kembali meledak, namun kali ini tawa itu terdengar sumbang di telinga Bambang.

​Bambang menatap Pak RT dengan tatapan ragu. "Tapi Pak... kalau dia memang punya 'pegangan' bagaimana? Karno itu bukan orang yang gampang gila."

​Pak RT Hardo berdiri, merapikan sarungnya. "Dunia ini milik orang yang berani, Bam. Ratri itu cuma wanita. Mau dia punya harta sebanyak apa pun, tetap saja dia pernah kita injak. Ingat itu."

​Pak RT melangkah pergi meninggalkan warung dengan penuh percaya diri. Namun, Sugeng dan Bambang tetap bergeming. Di luar, hari sudah benar-benar gelap. Angin malam berdesir melewati Warung Pojok, membawa aroma melati yang samar—aroma yang sangat mereka kenali tadi pagi di toko material.

​Sugeng merasa sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya. Ia menoleh ke belakang, ke arah jalanan yang gelap gulita. Di sana, di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia seolah melihat sosok anjing hitam besar sedang berdiri menatap ke arah warung, sebelum akhirnya menghilang ditelan bayangan pepohonan.

​"Bam... ayo pulang. Perasaanku makin tidak enak," ajak Sugeng dengan suara bergetar.

​Malam itu, di rumah masing-masing, sepuluh orang pria itu mulai dihantui oleh bayangan ladang jagung. Bedanya, kali ini dalam ingatan mereka, Ratri tidak lagi menangis. Dalam ingatan mereka yang terdistorsi, Ratri berdiri tegak di tengah ladang dengan mata merah menyala, memegang seutas benang emas yang siap menjerat leher mereka satu per satu.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!