Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Mereka sampai di area tempat artefak itu; terlihat bebatuan tersusun rapat satu sama lain. Dinding lembah menjulang tidak rata, seperti gigi patah yang ditanam mengelilingi cekungan. Pohon-pohon mati berdiri miring, akarnya mencuat dari pasir yang retak.
Di tengah, terdapat artefak yang mengeluarkan aura Rift yang tampak jelas—bahkan bagi Ren dan para Mercenary yang bukan Awakened.
Aura itu seperti kabut tipis berwarna biru pucat, naik perlahan dari kristal setinggi setengah lengan. Tidak liar. Tidak mengamuk.
Justru terlalu tenang.
Scout; wanita bersenapan yang berada di depan pun menunjukkan. "Kamu sudah mengitari sekitar sebelumnya, area aman untuk dijelajahi."
Ren langsung maju tanpa jeda. Ia terlihat sangat lelah, apalagi setelah ketegangan pertarungan melawan para tikus tadi. Debu masih menempel di kerah bajunya, napasnya panjang dan berat, bahunya sedikit turun seperti orang yang memaksa tubuhnya tetap tegak.
Tabletnya dinyalakan. Sebuah drone kecil muncul dari sakunya—baling-balingnya berdengung tipis sebelum naik setinggi kepala dan mulai mengitari artefak.
"Baiklah, lakukan saja pekerjaan kalian. Aku akan fokus mengidentifikasi ini."
"Kerja bagus, semua," komentar Hwaran, tapi mukanya sedikit kusut. "Baiklah, sebagian boleh mengambil Scarstone dari kelompok tikus yang telah kita basmi."
Beberapa Mercenary langsung bersorak kecil. Hadiah selalu membuat kelelahan terasa lebih ringan.
Hwaran menoleh pada Scout dengan pedang di pinggangnya. "Lucas, temani mereka mengambil Scarstone itu."
"Baik, Nona Hwaran."
Ia menyentuh gagang pedangnya singkat, lalu memberi isyarat pada beberapa orang untuk ikut.
Hwaran menoleh pada Scout wanita dengan senapan itu. "Xiao Yan, aku akan memeriksa sekitar. Tolong awasi Admin dengan para sisa Mercenary lain."
"Baik Kak, tapi memang kamu mau melakukan apa?" sanggahnya, kali ini dengan nada yang lebih akrab.
"Aku akan memeriksa sesuatu, aku mengandalkan kalian."
Kalimatnya ringan, tapi tatapannya tidak.
Para Mercenary pun mulai melakukan kesibukan masing-masing. Ada yang duduk bersandar pada batu, ada yang membersihkan darah dari bilah senjata. Yang masih berenergi melihat-lihat sekitar—mencari sumber daya yang mungkin bisa mereka jarah.
Dan Xiao Yan terlihat melompat-lompat di bebatuan, sekali-kali berbincang pada Mercenary lain. Senapannya tetap tergantung stabil di punggungnya. Gerakannya lincah, seperti gurun itu taman bermain dan bukan anomali yang bisa menelan mereka kapan saja.
Ren tidak memperhatikan mereka lagi.
Fokusnya hanya pada artefak.
Drone kecilnya memproyeksikan data ke layar tablet. Gelombang energi. Fluktuasi aura. Pola getaran.
"Stabil, tidak ada yang aneh."
Ia mendekat satu langkah, mendekat ke arah benda itu. Pasir tempat tumpuan artefak terlihat lebih padat, seolah energi di sekitarnya menekan dari atas.
Ren berlutut.
Ujung jarinya menyentuh permukaan artefak dengan pelan. Ada keraguan tipis pada gerakannya.
"Data menunjukkan, seharusnya aman kalau aku pegang."
Dingin.
Permukaannya terasa seperti menyentuh logam yang terlalu lama berada di ruang tanpa matahari. Dan di situlah bentuk artefak itu tampak jelas, sisi-sisinya tidak benar-benar simetris, seperti kristal yang tumbuh mengikuti kehendaknya sendiri.
Cahaya itu bergerak.
Bereaksi terhadap sentuhan Ren.
"Syukurlah, tidak ter—Hwah!"
Tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh Ren dengan cepat. Menembus kulitnya tanpa suara, tanpa rasa sakit sama sekali.
Ia tersungkur ke samping.
Tablet terlepas dari tangannya, drone bergoyang di udara sebelum menstabilkan diri.
Xiao Yan, melihat itu langsung menghampirinya. "Anda tidak apa-apa, Admin?"
Ren meringis, lalu memaksakan senyum. "Ti-tidak, aku hanya sedikit terkejut. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ia menarik napas, berusaha terdengar profesional. "Sedikit lagi akan selesai, nikmati waktu kalian."
Xiao Yan menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengangguk sopan. "Baik."
Ia kembali ke tempat para Mercenary, meski kini jarinya lebih sering menyentuh pelatuk.
Seolah menjawab pernyataan Ren.
Tanah mulai bergetar.
Bukan perlahan. Bukan bertahap.
Sangat cepat, hingga bebatuan belum sempat mendapatkan kesempatan untuk retak dengan anggun. Mereka sudah hancur.
Retakan menjalar dari bawah artefak, pasir tersedot ke dalam lubang gelap yang tiba-tiba terbuka.
Xiao Yan bersama para Mercenary yang lain menyadari apa yang salah.
Tapi sudah terlambat.
Di saat Ren menunduk pada layar tabletnya, memastikan data terakhir tersimpan, sesuatu bergerak tepat di bawahnya.
Tanah meledak.
Seekor tikus raksasa muncul dari dalam pasir, tubuhnya jauh lebih besar dari yang sebelumnya mereka basmi. Bulu kelabunya kasar dan dipenuhi pecahan batu yang menempel seperti sisik.
Mulutnya yang lebar itu menganga. Siap menelan Ren dari bawah.
"Admin!" teriak Xiao Yan.
Semua terjadi dalam satu tarikan napas. Rahang itu menutup.