Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG SETELAH PANEN
Suara terompet terdengar dari sebelah bukit Menoreh. Genderang perang ditabuhkan. Satu panah hitam melesat tepat di tugu peringatan Kerajaan Kali Ireng.
"Sri Baginda Raja, pasukan Jalapati sudah menuju pucuk Bukit Menoreh!" Ki Bentaran melapor.
"Siapkan serangan balasan! Kerahkan pasukan pertahanan. Amankah semua statistik seperti gudang persenjataan dan gudang pangan juga air!" titah Prabu Laksa tegas.
"Baik Sri Baginda!" seru salah satu Adipati kerajaan itu.
Sementara di barisan paling depan. Derap kuda Adipati Sengko dan wakil Adipati Jalak Rawut memecah jalan berbatu.
Ringkikan kuda dan suara pecut terdengar menyentak di udara. Pasukan pertahanan memang selalu ada di garis paling depan. Hanya sepuluh bala prajurit dengan kedigdayaan yang tak bisa diukur dengan tangan. .
Sementara di balik Bukit, Pasukan Jalapati seperti tertahan tak bisa naik ke puncak bukit.
"Cepat serang!" teriak Komandan perang, Senopati Walangsang.
"Hooo!" teriakan para prajurit semangat untuk menyerang.
Tetapi, sepuluh pria yang berpakaian khusus itu hanya berdiri sambil bersedekap. Kaki-kaki mereka seakan menjejak tanah, mencengkram tanpa goyah.
Senopati menatap gusar, yang ia lawan hanya sepuluh prajurit penjaga perbatasan. Tetapi dua ratus prajuritnya tak bisa menembus. Seakan-akan seluruhnya berhadapan dengan tembok baja yang kokoh.
Sementara di kerajaan Jalapati, Prabu Wijaya Ningrat terkejut.
"Siapa yang berani memimpin perang tanpa perintahku!" teriaknya murka.
"Ampun Raja. Senopati Walangsang memimpin perang. Kata beliau, panen akan membuat para prajurit lengah dan kita bisa merebut lagi sisi selatan bukit Menoreh!" jawab salah satu penembahan.
"Lancang kalian!" teriaknya marah.
Brak! Tubuh Panembahan terpental dua tombak. Ia langsung batuk darah.
"Siapkan kuda. Aku akan hentikan pertempuran itu!"
"Raja ... Pangeran Arya Seta sedang menuju ke sana!" seru salah satu abdi dalem memberitahu.
Wajah sang raja makin pucat, ia yakin putranya akan cepat terprovokasi.
"Pasti Arya akan mengambil alih perang," gumamnya menegang.
Benar saja, derap langkah kuda menggerus jalanan berbatu. Bunyi pecut terdengar seiring ringkikkan kuda yang memacu cepat.
Berbeda di lereng di mana tempat Srikandi berada. Gadis itu mendengar suara terompet perang. Ia sudah melapisi tubuhnya dengan kain tebal, baju pangsi warna biru dan celana pangsi senada. Menggelung rambutnya dan menyelipkan setangkai lidi.
Tangannya meraih pedang Bodas Sekti dan menyerahkannya ke bilik ruang di balik lengannya. Ki Walungan ia sampirkan di bahu dan bungkusan seratus anak panah.
"Sri ... Mau kemana?' Rukmi menatap keponakannya.
"Aku mau pergi," jawab Srikandi tanpa ekspresi.
Ia melangkah, tapi tubuh Rukmi menghalangi jalannya.
"Minggir Bi. Aku sedang mencari keadilan untuk ayahku!" ucapan Srikandi begitu dingin dan mengandung aliran murni.
"Sri ... Aku bibimu!" geleng Rukmi.
"Minggir," suara Srikandi begitu tenang tapi menekan ulu hati bibinya.
"Nduk ...," Rukmi sekuat tenaga menghalangi jalan Srikandi.
Hanya dengan sentuhan ringan di bahunya. Srikandi menggeser tubuh bibinya dan Rukmi tak bisa menghalanginya lagi.
"Kalau kau pergi akan ku hancurkan kebun itu!" ancam Rukmi dengan suara putus asa.
"Coba saja Bi. Akan kuseret Doko ke medan perang dan menjadikannya tumbal!" Srikandi balik mengancam.
Rukmi diam, lalu tubuh Srikandi melesat pergi meninggalkannya sendiri. Tubuh Rukmi menggelosor ke lantai semen yang dingin, dadanya terasa sesak.
"Uhuk!' ia mengeluarkan sedikit darah. Rukmi yakin ia kena luka dalam akibat ilmu yang dikeluarkan keponakannya tadi.
"Ampun Sri Baginda Raja ... Dia sangat kuat. Dia bukan lagi gadis lugu," gumamnya memohon ampun pada sang penguasa.
Sementara serangan makin keras dilancarkan. Pangeran Arya Seta sudah sampai. Ia berusia dua puluh tahun, masih sangat muda, gampang tersulut.
"Pangeran. Kita terdesak!" lapor Senopati berbohong.
Padahal dua ratus prajurit tempurnya tak bergerak maju sama sekali.
Pangeran Arya Seta mengerutkan keningnya.
Matanya yang tajam menyapu medan di depan.
Di depannya, dua ratus prajurit sudah menghunuskan pedang. Bahkan kobaran semangat menyerang terdengar jelas.
Lalu matanya menatap sepuluh pria yang berdiri tegak tak bergerak. Hanya menatap para prajurit yang entah ingin apa.
"Kenapa kita tidak maju!" teriaknya marah.
"Maju!" teriak salah satu berpangkat perwira.
Semua bergerak, tetapi kaki mereka seperti tertahan. Mata Arya Seta membelalak, sering ia dengar pasukan kerajaan musuhnya adalah pasukan tak terkalahkan. Tapi, baru kali ini ia mendapati betapa kuatnya pasukan itu. Padahal yang berdiri di sana hanya sepuluh orang saja.
Kuda Adipati Sengko dan wakilnya sudah tiba, pasukan musuh baru bergerak maju.
Semestinya ... Arya Seta memilih mundur.
Semestinya ... Arya Seta paham jika kekuatan musuh tidak sebanding dengan kekuatan pasukan tempurnya.
Tetapi, melihat pasukannya bergerak, kobaran semangatnya makin membara.
"Maju!" teriaknya keras.
"Wo!" seru dua ratus prajurit yang akhirnya bisa maju.
Mereka naik ke puncak bukit, sepuluh prajurit yang menahan tadi seakan menghilang di telan bumi. Dagu Arya Seta makin terangkat.
"Sekuat-kuatnya baja. Pasti akan luluh karena api!" gumamnya jumawa.
Teriakan para prajurit mengusik ketenangan hutan bukit menoreh. Burung-burung berterbangan berlari keluar hutan begitu juga hewan-hewan lainnya.
Lalu dua ratus pasukan berhadapan dengan Adipati Sengko. Dengan pedang di tangan kanan dan tangan kiri masih memegang kendali kuda. Tangan kanannya bergerak, menebas menggunakan aliran energi tenaga dalam..
Wush! Angin besar tercipta, debu, pasir dan kerikil berterbangan. Dua ratus prajurit yang memangkat pedang tentu langsung menurunkan lengan mereka, menutupi wajah agar tak terkena debu, pasir ataupun kerikil.
Arya Seta makin marah, ia menghentak tali kekang sampai kaki kuda terangkat ke atas.
"Hiiiik!" Kuda lalu dipacu.
Mata Adipati Sengko menangkap sosok muda yang belum pernah ia kenali.
"Siapa anak muda itu?" tanyanya. Hingga ...
"Hajar mereka Pangeran Arya Seta!"
Sengko kembali mengibaskan pedangnya kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Lalu ....
Blar! Kuda terkejut, menaikkan kaki mendadak dan Arya Seta terpental dari kudanya.
Bruk! Tubuh tegap itu jatuh ke tanah dengan sangat keras.
Semua mata melotot sempurna, mereka tak percaya jika pangerannya yang berilmu tinggi bisa jatuh dengan mudah.
Senopati Walangsang memucat, ia menarik kuat-kuat kudanya dan membawanya mundur perlahan.
Sementara Sengko mengangkat tangannya. Tak ada lagi serangan, jadi ia menahan seratus pasukan yang baru saja tiba. Pasukan itu dipimpin oleh Punggawa Buksa.
"Gusti Adipati?" tanyanya heran.
Kudanya sudah ada di sisi Adipati.
"Tenang Sengko. Kita sepenuhnya berhadapan bocah ingusan," ujar Sengko lirih.
"Apa?" Buksa tentu bingung.
Sengko menggerakkan kepalanya. Buksa menatap dua ratus prajurit yang berdiri di sepuluh tombak di depannya. Sangat akan mudah mengalahkan mereka. Tetapi, prajurit sejati tak menyerang musuh yang tidak berdaya.
Lalu matanya menatap sosok pemuda yang memegang dada. Dua prajurit membantunya berdiri. Ia menatap marah pada pasukan musuh.
"Aku mau merebut wilayah selatan bukit Menoreh!" serunya.
"Sudi kiranya kalian menunggu ...."
"Cah lanang ... Pulanglah!' suruh Sengko menggunakan ilmu tenaga dalam. Bibirnya tak bergerak sama sekali.
"Aku ...," Arya Seta masih ingin bersikeras.
"Latih dirimu sekeras mungkin. Lalu buat strategi perang yang bisa membuatmu menang!" sebuah nasihat bijak dari suara yang ia tak melihat wujudnya.
"Pulanglah Cah Lanang. Jangan sampai buat ayahmu Raja Wijaya Ningrat malu!" seru Buksa keras. .
Arya menatap gusar, ia memang terlalu ceroboh dan mudah terprovokasi. Terlebih melihat seluruh prajuritnya yang tak bisa bergerak maju.
Dengan wajah tertunduk, ia memimpin pasukan mundur. Setelah musuhnya tak kelihatan lagi, ia menatap seratus prajurit di depannya.
"Jangan katakan apapun soal ini!" peringatnya tegas.
"Jika ada yang bicara ngawur. Kepala kalian akan berpisah selamanya dari badan!" lanjutnya mengancam.
Sementara di atas pohon waru, Srikandi menatap kecewa. Ia baru saja hendak mencari tau kebenaran. Akan tetapi, keinginannya malah terputus.
"Memalukan. Tetapi, kenapa Paman Sengko melarang anak buahnya bicara soal serangan gagal ini?" gumamnya bingung dalam hati.
Bersambung.
Itu karena jiwa ksatria murni Sri! Seorang Ksatria tak akan membuat malu, terlebih mereka juga berangkat dengan pasukan besar.
pastinya ia juga malu karena ternyata perangnya hanya prank doang 🤣😅
Next?
lanjut
Srikandi