Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenneth Ferguson
Keesokan paginya, Arletta dikejutkan kehadiran seorang pria tampan yang sedang asyik makan cereal di dapur. Pria itu tersenyum manis ke arahnya dan Arletta langsung memekik heboh.
"Kentongaaaannn!" serunya dan langsung memeluk Kenneth Ferguson erat.
"Mas Kenneth! Aku lebih tua dari kamu, tahu!" kekeh Kenneth sambil membalas pelukan Arletta. "Kata Joseph, kamu datang sama pacar kamu?"
"Dih! Siapa juga pacaran sama dia!" cebik Arletta sambil melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Kenneth. "Aaaakkk ...."
"Lha? Minta didulang?" protes Kenneth tapi dia tetap menyendokkan cerealnya dan diberikan ke Arletta. Adiknya tampak senang disuapi kakaknya.
"Mbak Emmy nggak ikut?" tanya Arletta sambil mengunyah makanannya.
"Kamu tuh kalau makan jangan sambil ngomong. Macam Shakira aja!" tegur Kenneth sok galak.
"Kan aku adiknya. Jadi wajar dong!" senyum Arletta manis. "Mas Kentongan kapan datang?"
"Semalam. Jam dua. Kalian sudah pada tidur."
"Kok macam maling kolor datangnya?"
Kenneth melirik sebal ke Arletta. "Iye, maling sempak!"
Arletta terbahak karena mereka berdua memakai bahasa Indonesia. Setelahnya Kenneth pun tersenyum. Bertemu dengan adik perempuannya itu macam mood booster tersendiri. Kenneth sendiri punya adik perempuan bernama Kayleen yang tinggal di Milan karena bekerja sebagai desainer Morr.
"Mas, dalam rangka apa kemari?" tanya Arletta sambil berdiri dan mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas sementara pelayan sibuk membuat sarapan. Dua sepupu itu tampak tidak terganggu dengan kesibukan dapur. Arletta duduk lagi di sebelah Kenneth sembari memberikan satu botol air mineral itu.
"Danke. Aku ada misi rahasia sebenarnya tapi aku sempatkan pulang ke rumah dulu karena kangen bonyok," jawab Kenneth.
"Eh, mas. Kapan tuh Oom Louis minta aku datang ke istana karena kangen camilan khas Indo. Aku datang lah sambil bawain camilan macam-macam. Kamu tahu, masih ada fotonya Tante Ashley di mejanya. Aku masuk ke ruang kerjanya soalnya."
Kenneth menggeleng gemas. "Ampun deh raja gamon satu itu! Padahal nyokap udah bahagia sama bokap lho! Kagak bisa terima kalau mereka nggak jodoh sih!"
"Namanya juga gamon. Ingat Opa Devan kan juga sama. Butuh lama baru mau menikah lagi?"
"Tapi beda lah Letta, Opa Devan kan nikah sama ibunya Oom Rainer. Oma Thalia kan ibu kandungnya Oom Rainer dan Tante Rayline," jawab Kenneth.
"Iya .. tapi kan butuh waktu buat nikah lagi."
"Itu kan karena Opa Devan ditinggal meninggal sama Oma Belinda. Lha kalau Oom Louis itu nunggu nyokap jadi janda! Kan kampret!" omel Kenneth. "Emangnya kalau nyokap jadi janda, bakalan mau nikah sama Oom Louis? Bisa kehilangan state keluarga Ferguson!"
"Kan elu yang bakal warisin gelar Lord Oom Gavin," ujar Arletta.
"Iya benar tapi nyokap akan kehilangan gelarnya nanti," balas Kenneth.
"Duh, lieur aing! Soal gelar pun bikin ribet!" jawab Arletta.
"Kenapa kamu macam Hanabi sih?" kekeh Kenneth. Keduanya sengaja memakai bahasa Indonesia agar tidak didengar dan diketahui oleh para pelayan.
"Lha kan masih sodara juga. Aaakk lagi mas!" pinta Arletta.
Kenneth mendelik. "Bikin sendiri kenapa?"
"Enak didulang," jawab Arletta kalem.
"Haaaiiissshhh!" Meskipun mengomel tapi tetap saja Kenneth menyuapi adiknya.
***
Jeff keluar dari kamarnya dan celingukan mencari Arletta apalagi di kastil yang luas ini. Sepertinya Jeff merasa dia membutuhkan google maps di sini karena takut nyasar.
"Anda mencari Lady Peterson?" tanya Joseph ke Jeff.
"Iya. Dimana Arletta?" jawab Jeff ke pelayan keluarga Ferguson.
"Di dapur. Mari saya antarkan."
Jeff mengikuti Joseph dan dia yakin, tanpa bantuan pelayan itu, pasti bakalan nyasar. Dia tiba di dapur yang sudah harum masakan dan melihat Arletta sedang asyik mengobrol dengan seorang pria sebaya Jeff.
Jeff merasa cemburu melihat kemesraan pria asing itu ke Arletta. Ditambah, Arletta merangkul lengan kekar pria itu dengan mesranya.
"Letta ...." Jeff memanggil Arletta dengan nada dalam dan sedikit cemburu.
"Ah! Lihat Jeff! Mas Kenneth datang pagi jadi jadwal pulang ke London bisa siang seperti yang kita bicarakan semalam," senyum Arletta seolah mengacuhkan mata biru Jeff tampak tidak suka.
Pria yang kata Arletta bernama Kenneth itu menatap Jeff dengan wajah jenaka tapi penasaran. Mata coklatnya tampak tajam dan cerdas.
"Jadi ini yang mencium kamu di bawah mistletoe?" kekeh Kenneth.
"Dua kali!" timpal Arletta.
Kenneth menoleh cepat ke Arletta. "Dua kali?"
"Yup. Semua di bawah mistletoe," sahut Jeff. "Tidak salah kan?"
"Well, antara salah dan tidak salah sih ...." gumam Kenneth dengan wajah geli karena melihat wajah kesal Arletta.
"Lho? Kalian di dapur?" ucap Ashley yang bingung melihat anak-anak ( meskipun sudah dewasa tetap dianggapnya anak-anak ) pada berkumpul.
"Aku ngemil cereal yang dipalak Letta, Mommy," senyum Kenneth sambil berdiri dan salim ke ibunya. Tidak lupa pria itu memeluk dan mencium pipi Ashley.
"Cereal pun dipalak?" kekeh Ashley. "Ayo, kalian ke ruang makan, kita sarapan disana."
***
Kenneth Moretti Ferguson
Usai sarapan, Kenneth mengajak bicara Jeff sebelum mereka kembali ke London. Kenneth penasaran bagaimana adiknya yang ogah menikah, bisa dicium dua kali oleh pria yang sebaya dengannya. Mereka sekarang berada di ruang perpustakaan, ruang favorit Kenneth dan Gavin.
"Duduk Jeff," ucap Kenneth sembari membuat kopi yang ada di meja kopi. "Hitam dan satu gula?"
"Benar. Bagaimana kamu tahu?" tanya Jeff.
"Rata-rata keluarga dan iparku yang dokter seperti itu. Aku punya banyak Oom, Tante, ipar dokter bedah, dokter otak, dokter jagal dan dokter mayat. Kamu tinggal pilih deh!" jawab Kenneth santai.
"Dokter ... Jagal?" beo Jeff.
"Yup. Kamu tahu dokter Galena Darling bukan?" senyum Kenneth sembari membawa dua mug kopi.
"Damn it! Aku lupa kalau dia Tante kamu! Dia memang dokter jagal!" ujar Jeff. "Dia bahkan berani melawan direktur rumah sakit demi menyelamatkan nyawa pasien."
"Yup. Prinsip semua keluarga dokter di klan Pratomo, selama kamu ada kans 0,00001 persen bisa menyelamatkan pasien, segala cara akan dijabani! Meskipun dengan cara brutal sekalipun!" jawab Kenneth sambll duduk di seberang Jeff.
"Semua dokter yang berdedikasi, demi pasien, pasti akan dilakukan termasuk donor darah sekalipun," ucap Jeff sambil menyesap kopinya.
"So, kita ke topik utama. Bagaimana perasaan kamu ke Arletta?" tanya Kenneth dari balik mug. Mata coklatnya menatap tajam ke Jeff.
Jeff tahu dari Arletta kalau Kenneth masih ada darah Mafioso Moretti di Milan dan darah mafia Korea Selatan. Tak heran, jika pria ganteng itu sangat ... mengintimidasi.
"Sejujurnya?" balas Jeff.
"Yes Jeffery ... sejujurnya."
Jeff minum kopinya lagi. "Aku suka dia."
"Apa Letta suka kamu?"
"Entahlah. Aku tidak tahu, Ken."
"Peer kamu itu!"
***
Yuhuuuu up Pagi Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu