Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kado Ulang Tahun
Perjalanan pulang menuju Surabaya terasa lebih panjang dari biasanya. Aspal jalanan provinsi yang panas memantulkan uap tipis, sementara di dalam kabin SUV hitam, Dinara tampak sibuk dengan tablet di pangkuannya. Ia sedang menyusun daftar revisi terakhir dari catatan dosen pembimbing pascasarjana yang sempat ia intip kemarin. Pikirannya tersita sepenuhnya oleh urusan administrasi kelulusan dan rencana pendaftaran profesi.
"Dek, istirahat dhisik. Laptop sama tablet itu ditaruh, mripatmu selak perih (matamu nanti perih)," tegur Dimas sambil tetap fokus pada kemudi.
Dinara mendongak, memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal karena kacamata. "Bentar, Mas. Ini mumpung ingat. Kalau nggak dicatat sekarang, nanti pas sampai apartemen Dinara lupa semua."
Dimas hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rahasia di balik kumis tipisnya. Ia melirik jam di dasbor. Sudah lewat tengah hari. Dinara benar-benar lupa. Sejak bangun tidur di rumah orang tuanya tadi pagi hingga menempuh perjalanan dua jam ini, istrinya itu tidak menunjukkan tanda-tanda ingat bahwa tanggal di kalender hari ini memiliki lingkaran merah yang spesial.
"Nanti sampai Surabaya, Mas mau mampir ke toko buku dhisik ya. Ada referensi yang harus Mas cari buat bab baru," ujar Dimas memberi alasan.
"Nggih, Mas. Dinara ikut saja," sahut Dinara pendek, lalu kembali menekuni layar tabletnya.
Sesampainya di Surabaya, hawa gerah kota itu langsung menyambut mereka. Dimas memarkir mobil di sebuah area komersial yang cukup ramai. Ia sengaja mengajak Dinara masuk ke sebuah toko roti besar yang merangkap kafe, dengan alasan ingin membeli camilan untuk stok di apartemen.
Dinara berjalan di belakang Dimas dengan langkah gontai. Rasa lelah perjalanan membuatnya hanya ingin segera sampai di rumah dan merebahkan diri.
"Mas, beli roti tawar saja ya? Gak usah aneh-aneh, Dinara capek mau tidur," pinta Dinara saat mereka berdiri di depan deretan kue yang cantik.
"Sabar dhisik, Sayang. Pilihkan Mas kue yang paling enak menurutmu. Mas mau kirim buat editor Mas sebagai ucapan terima kasih," bohong Dimas dengan wajah sangat serius.
Dinara menghela napas, matanya menyapu deretan kue tart kecil. "Yang cokelat itu saja, Mas. Biasanya laki-laki suka cokelat yang nggak terlalu manis."
Dimas mengangguk, lalu berbisik kepada pelayan toko. Dinara tidak curiga, ia justru sibuk membenarkan letak jilbabnya di depan cermin besar toko tersebut. Setelah transaksi selesai, mereka kembali ke mobil dan menuju apartemen.
Begitu pintu apartemen terbuka, suasana terasa sepi dan tenang seperti biasanya. Dinara langsung meletakkan tasnya di sofa dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Mas, Dinara mandi dhisik ya. Gerah banget," pamit Dinara.
"Nggih, Dek. Mandi sing suwe (mandi yang lama) nggak apa-apa biar seger," sahut Dimas dari arah ruang tengah.
Setengah jam kemudian, Dinara keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah ia bungkus dengan handuk kecil. Ia mengenakan daster rumahan yang nyaman, merasa bebas karena di dalam apartemen hanya ada mereka berdua. Saat ia melangkah ke ruang tengah, lampu ruangan tiba-tiba padam.
"Mas? Mati lampu ta?" tanya Dinara heran. Ia meraba dinding, mencari saklar lampu namun tidak kunjung ketemu.
Tiba-tiba, dari arah meja makan, muncul cahaya temaram dari sebuah lilin kecil. Dimas berdiri di sana, memegang sebuah kue cokelat—kue yang tadi dipilih sendiri oleh Dinara di toko roti—namun kini di atasnya tertera tulisan dari lapisan gula putih: Barakallah Fii Umrik, Sayang.
Dinara mematung. Tangannya yang sedang memegang ujung handuk di kepalanya perlahan turun. Ia menatap kalender digital di atas meja kerja Dimas yang masih menyala. Tanggal itu. Ia benar-benar lupa.
"Mas..." suara Dinara tercekat.
"Selamat ulang tahun, Dek," Dimas berjalan mendekat, cahaya lilin itu menerangi wajahnya yang penuh kasih. "Mas tahu kamu sibuk mikirin sidang, mikirin profesi, sampai tanggal lahir sendiri saja lewat. Untung suamimu ini punya ingatan setajam silet kalau soal kamu."
Dimas meletakkan kue itu di meja, lalu meraih tangan Dinara. "Tiup lilinnya dhisik, terus doa yang kencang dalam hati."
Dinara memejamkan mata. Dalam heningnya apartemen, ia memanjatkan syukur yang mendalam. Ia bersyukur atas usia baru, atas kelulusannya, dan yang paling utama, atas kehadiran pria di depannya ini. Setelah meniup lilin, Dimas segera menyalakan lampu utama.
"Mas... makasih banyak ya. Dinara beneran lupa kalau hari ini ulang tahun," ucap Dinara sambil menghambur ke pelukan Dimas.
Dimas tertawa, membalas pelukan istrinya erat. "Makanya, jangan terlalu kaku jadi sarjana hukum. Sekali-kali jadi istri yang santai dhisik. Mas sudah siapkan kado kecil di kamar, coba lihat."
Dinara melepaskan pelukan, matanya berbinar. "Kado apa lagi, Mas?"
"Bukan perhiasan, bukan tas mahal. Mas tahu kamu lebih butuh ini," Dimas menunjuk ke arah tempat tidur.
Di atas kasur, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang didalamnya berisi set alat tulis premium dan sebuah buku jurnal berbahan kulit dengan inisial nama Dinara di sampulnya. Di dalamnya juga terselip dua tiket perjalanan kereta api menuju tempat wisata yang pernah Dinara sebutkan secara singkat berbulan-bulan lalu.
"Mas... ini kan..."
"Nanti kalau urusan wisudamu sudah beres, kita berangkat. Kamu butuh liburan, Dek. Biar otakmu nggak isinya undang-undang terus," ujar Dimas. Ia mendekat, merangkul pinggang Dinara dan menatapnya lekat. "Selamat bertambah usia, Sayang. Semoga selalu dalam lindungan Allah, jadi istri yang shalihah, dan tetap sabar hadapi Mas yang ajaib ini."
Dinara tidak bisa menahan senyum bahagianya. Ia meraih jurnal itu, meraba tekstur kulitnya yang halus. "Mas kok bisa tahu Dinara pengen ke sana? Padahal Dinara cuma ngomong sekali pas kita makan bakso dulu."
"Tugas penulis itu mengamati, Dek. Apalagi mengamati objek yang paling Mas cintai," gombalan Dimas keluar lagi, namun kali ini Dinara tidak mencubitnya. Ia justru tersipu.
"Mas ini ya... bisa saja," sahut Dinara pelan.
"Oh iya, satu lagi. Sebagai kado tambahan, malam ini Mas yang masak. Kamu duduk manis saja di sofa, nonton film atau baca jurnal barumu itu. Mas bakal buatkan sesuatu yang istimewa," Dimas menyingsingkan lengan bajunya, siap menuju dapur.
"Gak mi instan kan, Mas?" ledek Dinara.
"Huss! Menghina koki profesional. Mas mau buat nasi goreng bumbu Blitar spesial. Wis ta, rasanya bakal bikin kamu lupa sama skripsimu itu," jawab Dimas penuh percaya diri.
Dinara duduk di sofa, memerhatikan suaminya yang sibuk di dapur dengan gerakan yang lincah. Suara denting spatula dan aroma bawang putih yang mulai digoreng memenuhi ruangan. Ia merasa sangat beruntung. Di tengah kerasnya dunia luar dan tekanan masa depan yang sempat membuatnya stres, ia memiliki "rumah" yang sesungguhnya di dalam apartemen ini.
Malam itu, mereka merayakan ulang tahun Dinara dengan sangat sederhana namun penuh makna. Nasi goreng buatan Dimas ternyata benar-benar enak—atau mungkin bumbunya terasa lebih sedap karena rasa sayang yang ikut tercampur di dalamnya. Mereka makan dalam satu piring, saling bercerita tentang rencana-rencana setelah wisuda nanti.
"Mas, makasih ya buat semuanya hari ini," ujar Dinara saat mereka selesai makan.
Dimas mengusap kepala Dinara yang kini sudah kering rambutnya. "Sama-sama, Sayang. Mas cuma mau kamu tahu, sesibuk apapun kita nanti, Mas nggak akan pernah lupa hal-hal kecil tentang kamu. Itu janji Mas."
Surabaya malam itu tampak lebih indah dari biasanya. Di balik jendela kaca apartemen, cahaya kota berkelap-kelip seperti memberikan ucapan selamat bagi Dinara. Bagi Dinara, kejutan hari ini bukan hanya soal kue atau tiket perjalanan, tapi soal kesadaran bahwa ia dicintai oleh seseorang yang begitu memperhatikan detil hidupnya. Sebuah bab baru dalam usianya telah dimulai, dan ia yakin, bab-bab selanjutnya akan terasa jauh lebih mudah selama ia menjalaninya bersama Dimas.