Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pagi itu, meja makan kediaman Arsalan tidak dihiasi dengan roti panggang atau sereal mahal. Sebagai gantinya, ada dua mangkuk mie instan dengan telur setengah matang yang bentuknya... yah, lumayanlah untuk ukuran Direktur yang biasanya cuma tahu cara tanda tangan kontrak triliunan.
"Gimana, Nyonya? Sudah lulus sensor?" Zyan menatap Alexa dengan cemas, masih pake celemek pink-nya.
Alexa menyeruput kuahnya, matanya terpejam. "Hmm... kuahnya pas, telurnya nggak pecah. Oke, Om, lo selamat dari hukuman jadi badut kantor."
Zyan menghela napas lega, tapi wajahnya kembali serius saat melihat foto tato sayap patah di tabletnya. "Rio sudah melacak posisi Si Topi Merah sebelum diserahkan ke markas besar. Ternyata, pusat komunikasi mereka ada di sebuah bengkel tua di daerah pinggiran yang dikenal sebagai 'Gudang Setan'. Itu tempat balap liar paling legendaris dan berbahaya, Lex."
Alexa langsung tersedak mie-nya. "Gudang Setan?! Om, itu wilayahnya geng 'Piston Karat'! Mereka nggak suka orang asing, apalagi orang yang bau-bau duit kayak lo. Kalau lo ke sana pake SUV, lo bakal dikira intel terus dikeroyok masa."
"Makanya," Zyan menatap Alexa dengan senyum yang sulit diartikan. "Saya butuh kamu untuk membawa saya ke sana. Bukan sebagai Zyan Arsalan, tapi sebagai... asisten montir kamu."
"Hah?! Lo mau jadi kenek gue?!" Alexa ketawa sampai nangis. "Om, lo nggak bisa bedain kunci pas sama kunci inggris aja mau jadi kenek! Yang ada gue yang malu!"
"Saya belajar cepat, Alexa. Dan saya sudah siapkan 'seragam' kita."
Dua jam kemudian, sebuah motor tua yang sudah dimodifikasi (hasil karya Alexa semalam) menderu menuju daerah pinggiran. Alexa yang menyetir, memakai kaos oblong hitam kucel dan celana pendek yang penuh noda oli. Di belakangnya, Zyan duduk dengan kaku, memakai jaket denim belel, topi baseball yang diputar ke belakang, dan mukanya sengaja dicoret-coret sedikit pake arang biar kelihatan "sangar".
Begitu sampai di Gudang Setan, suasana terasa sangat berat. Musik heavy metal berdentum dari speaker pecah, dan puluhan motor kencang berjejer rapi. Orang-orang dengan tato di sekujur tubuh menatap mereka dengan curiga.
"Woi! Anak mana lo?!" teriak seorang pria bertubuh besar dengan rambut mohawk yang sedang memegang botol minuman.
Alexa turun dari motor dengan gaya sok jagoan. "Anak aspal! Gue denger di sini ada yang jago setting mesin karbu, gue mau nantang!"
Si Mohawk melirik ke arah Zyan yang berdiri di belakang Alexa sambil megang tas kunci-kunci. "Terus ini siapa? Kok mukanya bening bener kayak artis drakor?"
Zyan mencoba merendahkan suaranya agar terdengar serak dan garang. "Gue... asistennya. Panggil aja gue 'Z'. Gue yang bagian pegang obeng."
"Halah, asisten gaya bener! Ya udah, masuk! Tapi kalau motor lo kalah, motor lo jadi milik kita, dan asisten lo ini harus cuci semua motor di sini!"
Zyan menelan ludah, tapi dia mengangguk mantap.
Di dalam bengkel, Alexa mulai beraksi. Sambil pura-pura mengecek mesin, matanya liar mencari simbol "The Phoenix". Zyan bertugas menjadi kenek yang mondar-mandir mengambilkan alat, padahal dia sibuk menempelkan alat penyadap kecil di bawah meja-meja kerja yang ada di sana.
"Om, kunci sepuluh!" bisik Alexa.
Zyan merogoh tas. "Ini?"
"Itu kunci dua belas, Om! Mana ada baut mesin ini pake dua belas!" desis Alexa.
"Sori, sori. Gelap di sini," Zyan memberikan kunci yang benar sambil melirik ke arah ruangan kaca di lantai dua. Di sana, ia melihat seseorang yang sangat familiar sedang duduk tenang sambil merokok.
"Alexa... itu Niko," bisik Zyan lewat mic kecil di kerah jaket Alexa.
"Niko siapa?"
"Mantan manajer operasional Arsalan yang saya pecat tahun lalu karena kasus pelecehan seksual ke staf magang. Ternyata dia salah satu pentolan Phoenix."
Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari luar. "Balapan dimulai! Alexa vs Si Hitam!"
Alexa menatap Zyan. "Gue harus balapan, Om. Ini satu-satunya cara buat kita tetep di sini tanpa dicurigai. Lo jagain tas gue, jangan sampai alat penyadapnya ketauan."
"Hati-hati, Lex. Jangan ngebut-ngebut banget!" pesan Zyan penuh kekhawatiran.
"Balapan ya harus ngebut, Om! Doain gue menang!"
Alexa melesat ke garis start. Zyan berdiri di pinggir jalanan aspal yang gelap, dikelilingi preman-preman bengkel. Rasanya sungguh surealis. Seorang miliarder sekarang berdiri di debu jalanan, bersorak untuk istrinya yang sedang taruhan motor.
VROOOOM!
Balapan berlangsung sengit. Alexa memimpin di tikungan pertama dengan teknik miring yang ekstrem, membuat Zyan hampir jantungan. Tapi di lurusan terakhir, lawan Alexa mencoba melakukan kecurangan dengan menyenggol ban belakang motor Alexa.
"ALEXA!" Zyan berteriak spontan.
Alexa hampir kehilangan kendali, tapi dengan insting montirnya, dia melakukan pengereman mendadak yang bikin lawannya terlewati, lalu memutar gas pol sampai garis finish. Menang!
Anak-anak bengkel bersorak. Tapi Niko, dari lantai dua, mulai curiga melihat asisten Alexa yang tadi berteriak dengan suara yang... sangat tidak asing. Niko turun ke bawah dengan langkah angkuh.
"Hebat juga lo, Bocah," ujar Niko pada Alexa. Lalu matanya beralih ke Zyan. "Tapi gue kayak kenal suara asisten lo ini. Heh, 'Z', coba buka topi lo."
Zyan membeku. Alexa langsung pasang badan. "Dia lagi sakit mata, Bang! Kena debu jalanan, nggak bisa kena lampu terang!"
"Buka atau gue bedah muka lo pake tang!" ancam Niko.
Saat suasana makin tegang, Zyan memutuskan untuk berhenti bersembunyi. Dia membuka topinya, menghapus coretan arang di mukanya dengan tangan, dan menatap Niko dengan pandangan yang membuat semua preman di sana mendadak diam.
"Lama tidak jumpa, Niko. Sepertinya penjara tahun lalu belum cukup membuatmu pintar," ujar Zyan dengan nada dingin yang langsung membelah suasana.
"Zyan Arsalan?!" Niko kaget setengah mati. "BERANI-BERANINYA LO DATENG KE SINI! WOI, TANGKEP MEREKA!"
Puluhan orang langsung mengepung Zyan dan Alexa. Alexa langsung mengambil posisi kuda-kuda, memutar kunci inggrisnya di udara. "Om, lo bisa berantem kan pake seragam gembel gini?"
Zyan membuka jaket denimnya, menyisakan kaos hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kencang. "Untuk kamu, saya bisa jadi apa saja, Lex. Termasuk jadi penghancur bengkel ini."
Pertarungan pecah! Zyan menghajar dua orang yang mencoba mendekat dengan teknik bantingan yang sangat rapi. Sementara Alexa, dia menggunakan kelincahannya untuk menghindar dan memukul saraf-saraf lawan menggunakan kunci pasnya.
BUGH! BRAK!
Di tengah kekacauan, Rio datang dengan mobil SUV-nya, menerjang gerbang bengkel. "MASUK, PAK! LEX! BURUAN!"
Zyan menarik tangan Alexa, mereka melompat masuk ke dalam mobil sementara anak-anak bengkel melempari mereka dengan botol dan ban bekas. Rio langsung tancap gas, meninggalkan kepulan asap ban di Gudang Setan.
Di dalam mobil, napas mereka terengah-engah. Alexa tertawa keras sambil memegangi perutnya. "Gila! Lo liat nggak tadi muka si Niko pas lo buka topi? Kayak liat hantu, Om!"
Zyan menyandarkan kepalanya di jok mobil, wajahnya penuh keringat dan debu. "Saya tidak pernah menyangka hidup saya akan jadi film aksi begini, Alexa. Tapi... harus saya akui, memukul Niko tadi rasanya sangat memuaskan."
"Selamat, Om! Lo resmi jadi 'Kenek Terbaik' tahun ini," goda Alexa sambil mengacak-acak rambut Zyan yang berantakan.
"Tapi kita dapat apa yang kita mau," Zyan menunjukkan ponselnya. "Alat penyadap tadi sudah mengirimkan koordinat markas utama Phoenix. Mereka tidak berada di Jakarta, Lex. Mereka ada di sebuah pulau pribadi di Kepulauan Seribu."
Alexa terdiam. "Pulau pribadi? Itu berarti mereka punya dana besar, Om. Bukan cuma sekumpulan mantan karyawan sakit hati."
Zyan mengangguk. "Ada 'ikan besar' di belakang mereka. Dan sepertinya, perjalanan kita ke pulau itu tidak bisa hanya pake motor atau mobil."
"Berarti... pake jet pribadi lo?" tanya Alexa semangat.
"Bukan. Kita akan pakai kapal yacht. Dan karena ini misi pengintaian, kita akan menyamar sebagai... pasangan yang sedang bulan madu."
Alexa langsung tersenyum lebar. "Bulan madu sambil nyelidikin penjahat? Best banget! Gue packing baju renang sekarang!"
Zyan tertawa, ia menarik Alexa ke dalam pelukannya. "Jangan lupa packing kunci inggris kamu juga, Sayang. Karena sepertinya 'bulan madu' kita bakal sangat berisik."
Bersambung....