NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Sisik Perak Menembus Barikade

Uap putih membubung dari sela-sela jembatan beton yang membeku di luar area bongkar muat Baron Logistics. Udara subuh di muara Tanjungbalai yang biasanya hangat oleh bau solar dan garam, mendadak lumpuh oleh hawa es yang menggigit tulang. Di depan gerbang besi raksasa setinggi empat meter, lima mobil SUV hitam milik pasukan keamanan Baron terparkir melintang, membentuk barikade rapat. Lampu sorot dari menara penjaga menyala terang, membelah kabut tipis yang merayap dari arah rawa nipah.

"Ada sesuatu yang datang dari arah dermaga!" teriakan itu memecah sunyi melalui radio panggil yang berdengung keras.

Seorang komandan penjaga dengan rompi antipeluru tebal memicingkan mata. Di ujung aspal yang retak, sesosok bayangan berjalan dengan langkah konstan. Cowok bertopi kupluk hitam itu melangkah tanpa alas kaki. Setiap kali telapak kakinya menyentuh permukaan jalan, aspal di bawahnya langsung mengeras, tertutup lapisan kristal es tipis yang retak memercik.

Itu Kala. Namun, dia bukan lagi cowok kuyu yang merenung di gubuk rumbia.

Pelipis matanya telah berubah, ditumbuhi gumpalan sisik perak mengilap yang merayap hingga ke pipi. Mata emasnya menyala benderang di kegelapan subuh, memantulkan lampu sorot menara tanpa berkedip. Amarah yang dikirimkan oleh jeritan Lara melalui denyut nadi di pergelangan tangannya telah menghancurkan sisa-sisa kesabaran mahluk purba ini.

"Tembak! Jangan biarkan dia mendekati gerbang!" perintah sang komandan melengking panik.

Dada-da-da-da-da!

Suara rentetan senapan otomatis langsung memecah keheningan pelabuhan. Kilatan cahaya laras senjata api menyala bergantian, memuntahkan ratusan peluru berkaliber tinggi dalam hitungan detik. Bau mesiu yang menyengat langsung memenuhi udara terbuka.

Namun, pemandangan berikutnya membuat nyali para penjaga itu ciut seketika.

Ting! Tang! Ting!

Bunyi dentang logam keras bergaung bersahut-sahutan. Peluru-peluru tajam yang sanggup menembus pelat baja mobil itu mendadak memantul hancur saat menghantam dada dan lengan Kala. Bunga api menyembur bergantian dari permukaan kulitnya. Jubah dan kaos hitamnya robek-robek terkena gesekan mesiu, namun di balik kain yang hancur itu, lapisan sisik perak tebal telah merapat sempurna, membentuk perisai alami sekeras berlian purba.

Kala tidak melambat. Dia terus berjalan menembus hujan peluru. Langkah kakinya berat, menyisakan jejak semen yang amblas di setiap injakan. Sebuah peluru mengenai pipinya, namun hanya menimbulkan percikan bunga api kecil sebelum peluru logam itu gepeng dan jatuh tak berguna di atas es.

"Senjata kita tidak mempan! Dia monster! Dia monster sungai!" teriak seorang penjaga dari balik kap mobil, tangannya gemetar hebat saat mencoba mengganti magasin senapannya yang kosong.

Kala tiba di depan barikade mobil pertama. Tanpa mengeluarkan suara, tangan kanannya yang kini telah berubah wujud menjadi cakar besar dengan kuku perak tajam bergerak maju. Dia mencengkeram bumper depan mobil SUV seberat dua ton itu, lalu mengangkatnya ke udara dengan satu tangan murni memanfaatkan kepadatan otot naganya.

Kreeek... Boom!

Mobil itu dilempar kasar ke samping, bergulingan menghantam pagar kawat berduri hingga hancur berantakan. Para penjaga di belakangnya tunggang-langgang, melompat ke parit rawa demi menyelamatkan nyawa mereka dari hantaman besi tua.

Mata emas Kala beralih ke gerbang besi utama yang mengunci akses ke area logistik dalam.

Gerbang itu tebal, dikunci dengan rantai baja raksasa dan gembok digital. Di balik gerbang itu, jalur turun menuju laboratorium bawah tanah berada. Dia bisa merasakan detak jantung Lara di bawah sana—melemah, tersiksa oleh racun perak yang disuntikkan Roy. Denyutan itu membuat darah di dalam tubuh Kala bergolak panas, mengusir hawa dingin di sekitarnya menjadi energi dorong yang masif.

Kala menoleh ke sebelah kiri. Di sana, di tepi dermaga kargo, berjejer tumpukan boks kontainer besi berukuran dua puluh kaki. Kontainer-kontainer logistik berwarna merah dan biru itu penuh berisi suku cadang dan barang sitaan, dengan berat masing-masing mencapai belasan ton.

Kala melangkah mendekati salah satu kontainer merah di tumpukan paling bawah. Jemari cakarnya menusuk menembus dinding pelat besi kontainer tersebut seperti pisau memotong mentega, menciptakan bunyi derit koyak yang memekakkan telinga.

Sreeet... Kreeeakkk!

Dengan satu sentakan bahu yang kokoh, Kala menarik paksa boks kontainer belasan ton itu dari tumpukannya. Debu, karat, dan baut-baut raksasa terlempar putus ke udara. Dia memutar tubuhnya, mengayunkan beban raksasa itu menggunakan kekuatan fisik murninya yang mengerikan.

"Tiaraaap!"

Whuusss... BOOM!

Boks kontainer besi itu dilemparkan dengan kecepatan tinggi, meluncur horizontal membelah udara subuh. Hantamannya tepat mengenai tengah-tengah gerbang besi utama dan dua mobil barikade yang tersisa. Benturan mahadahsyat itu menghasilkan suara ledakan mekanis yang menggelegar, merontokkan kaca-kaca jendela pos penjagaan dalam radius lima puluh meter.

Gerbang besi empat meter itu langsung tercabut dari engsel betonnya, terlipat hancur menjadi rongsokan tak berbentuk di bawah tindihan kontainer.

Dua pos penjagaan yang mencoba bertahan di balik tembok beton ringsek seketika, tertimbun puing-puing bangunan yang runtuh akibat energi dorong lemparan tersebut. Udara di sekitar area kargo kini dipenuhi asap hitam tebal dan bubuk semen abu-abu yang beterbangan.

Kala berjalan melewati puing-puing besi yang masih membara. Topi kupluknya sudah hilang, menampilkan rambut hitamnya yang bergerak liar ditiup angin malam. Sisik perak di sepanjang pelipis dan lehernya memancarkan pendaran cahaya kebiruan yang dingin di tengah kepulan asap.

Dia kini berdiri di tengah kompleks dalam pelabuhan, tepat di atas titik di mana jalur lift rahasia Baron berada. Di bawah kakinya, lapisan lantai beton luar yang tebal menyembunyikan laboratorium steril tempat Tuan Baron bersembunyi.

Kala tidak berniat mencari tombol pintu atau tangga turun. Waktu Lara tidak banyak.

Dia mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, lalu menghantamkannya ke bawah dengan seluruh berat tubuh dan amarah naga purbanya.

BLAAAM!

Lantai beton tebal di bawah kakinya langsung retak hebat. Guncangan itu menciptakan gelombang kejut yang merayap ke segala arah, merubuhkan tiang lampu dermaga dan membuat truk-truk tangki di sekitarnya bergoyang. Kala menghantamkan kakinya sekali lagi, kali ini lebih keras.

CRASH!

Beton luar itu amblas, jebol sepenuhnya membentuk lubang menganga selebar lima meter.

Bongkahan-bongkahan semen raksasa, besi penyangga, dan kabel-kabel listrik atas putus menyemburkan percikan api, runtuh berjatuhan ke dalam perut bumi.

Dari atas lubang hancur itu, pandangan mata emas Kala langsung menembus ke bawah. Asap putih dan uap es yang dibawanya mulai mengalir turun, memenuhi ruangan bawah tanah yang remang-remang oleh lampu sirine merah. Di bawah sana, di balik reruntuhan semen yang baru saja dia jatuhkan, kekacauan laboratorium terlihat jelas. Orang-orang berbaju lab berlarian panik, dan di ujung ruangan, bayangan kursi besi tempat Lara terikat mulai tertangkap oleh radar matanya.

Kala menekuk lututnya, siap melompat turun menjemput gadis kurirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!