Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
...~ Sudut Pandang Genta ~...
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar hitam; ia adalah gradasi abu-abu pekat yang dikotori oleh polusi cahaya dan ambisi manusia yang tidak pernah tidur. Dari puncak gedung pencakar langit yang belum selesai dibangun, beberapa blok dari apartemen nomor 404, aku berdiri mematung. Angin kencang menerpa jubah hitam ku, namun aku tidak merasakannya. Sensor ku tidak tertuju pada suhu udara, melainkan pada getaran frekuensi yang muncul dari sebuah kotak beton di kejauhan sana.
“Di sana kau berada, Linda,” Keluh ku, mata ku berkilat keemasan, menembus lapisan dinding dan jarak. “Berlindung di balik pelukan seorang manusia fana yang bahkan tidak bisa melihat bayangannya sendiri di dalam kegelapan. Kau pikir dinding bata dan CCTV plastik itu bisa menyembunyikan matahari yang sedang tumbuh di dalam rahim mu?”
Aku memejamkan mata, memfokuskan sirkulasi mana ku ke indra penciuman dan pendengaran spiritual. Biasanya, janin campuran, Han’yo, hanya memancarkan energi yang redup, sebuah anomali kecil yang mudah diredam. Namun ini? Apa yang aku rasakan dari kejauhan ini bukan sekadar anomali. Ini adalah denyut nadi siluman. Sebuah resonansi yang terasa seperti guntur yang tertahan di bawah permukaan air.
“Energi ini...” batin bergejolak, tangan ku mencengkeram besi pembatas gedung hingga melesat hancur. “Ini bukan sekadar campuran. Ini adalah akumulasi dari garis keturunan murni Linda yang dipicu oleh sesuatu... sesuatu yang asing dari pria itu. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin seorang pria yang menghabiskan harinya menghitung logistik bisa memberikan katalis sehebat ini?”
Setiap kali janin itu menendang, aku bisa merasakan riak di atmosfer Jakarta. Itu bukan tendangan bayi; itu adalah guncangan dimensi.
"Kau terlalu lama menatap, Genta. Itu membuat mu terlihat seperti pecundang yang merindukan mantan kekasihnya."
Suara bariton yang dingin itu muncul dari bayang-bayang di belakang ku. Aku tidak menoleh. Aku tahu itu adalah salah satu utusan dari Dewan Klan Rubah, seorang tetua yang menyamar dalam wujud pria muda dengan setelan jas mahal.
"Aku tidak merindukannya, Tetua," jawab ku tanpa emosi. "Aku sedang menghitung risiko. Apakah kau merasakannya juga? Getaran itu?"
Tetua itu melangkah maju, berdiri di samping ku. Ia mengendus udara, lalu wajahnya yang tenang mendadak berubah menjadi tegang. "Luar biasa... Energi kinetiknya begitu murni. Jika dia lahir di tengah kota ini, dia bisa menghapus memori seluruh manusia dalam radius sepuluh kilometer hanya dengan tangisan pertamanya."
"Itulah masalahnya," kata ku, suara ku kini seberat timah. "Linda adalah milik klan. Dia adalah aset. Tapi apa yang dia bawa sekarang... itu bukan aset. Itu adalah ancaman bagi hierarki kita. Jika bocah itu lahir dan tumbuh di bawah pengaruh manusia, dia akan menjadi senjata yang tidak memiliki tuan. Dia akan menjadi kekacauan yang terbungkus dalam kulit manusia."
“Aku harus menghentikannya,” Keluh ku, rasa benci mulai merambat seperti api di pembuluh darah ku. “Bukan karena aku cemburu pada pria bernama Dimas itu, meski melihatnya menyentuh kulit Linda membuat ku ingin mencabut jantungnya, tapi karena eksistensi bocah ini menghina semua yang aku perjuangkan. Keagungan darah murni kita akan dianggap sampah jika seorang Han’yo memiliki kekuatan yang melampaui para tetua.”
"Apa rencana mu?" tanya Tetua itu. "Dewan menginginkan Linda kembali. Mereka tidak peduli pada bayinya, asalkan Linda tetap menjadi bagian dari silsilah kita."
"Dewan terlalu naif," aku berbalik, menatap Tetua itu dengan tatapan predator yang tak terbantahkan. "Bayi itu tidak akan membiarkan Linda pergi. Dia sudah menyatu dengan aliran sihir ibunya. Jika kita mengambil Linda secara paksa sekarang, bayi itu akan meledak dalam rahimnya, dan kita akan kehilangan keduanya. Kita harus menunggu... atau kita harus melemahkan pelindung manusianya dulu."
"Manusia itu? Si Dimas?" Tetua itu tertawa meremehkan. "Dia hanya serangga. Kau bisa melenyapkannya dalam satu detik."
"Justru itu masalahnya," aku melangkah mendekati tepian gedung, menatap apartemen nomor 404 yang terlihat tenang. "Dia adalah jangkar emosional Linda. Jika aku membunuhnya sekarang, Linda akan jatuh ke dalam kegilaan, dan energi janin itu akan menjadi liar tak terkendali. Aku butuh dia hidup... untuk saat ini. Aku butuh dia merasa aman, sampai saat persalinan tiba. Itulah saat di mana benteng sihir mereka akan berada di titik terlemah."
“Lihatlah kau, Dimas,” Keluh ku penuh kebencian. “Kau merasa bangga dengan kenaikan pangkat mu. Kau merasa hebat dengan sistem keamanan mu. Kau bahkan mungkin merasa seperti pahlawan saat mengelus perut istri siluman mu. Kau tidak tahu bahwa setiap detik yang kau habiskan bersamanya hanyalah pinjaman dari ku. Aku membiarkan mu bernapas hanya karena kau adalah penenang bagi monster kecil yang sedang tumbuh di rahim Linda.”
Aku teringat saat terakhir kali aku berhadapan dengan Dimas. Dia berdiri tegak, melindung Linda dengan tubuh manusianya yang rapuh. Ada keberanian yang tidak logis di matanya. Keberanian yang membuat ku muak.
"Kenapa kau tidak langsung saja masuk ke sana malam ini?" tanya Tetua lagi, memancing ku. "Bibi Sari sudah ada di sana. Dia dokter klan yang hebat. Kau takut padanya?"
"Bibi Sari adalah rubah tua yang cerdik," jawab ku. "Dia tidak akan membiarkan ku masuk tanpa pertumpahan darah. Dan aku tidak ingin merusak 'sarang' itu sebelum waktunya. Aku ingin melihat sejauh mana manusia itu bisa bertahan. Aku ingin melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa semua teknologi dan cinta manusianya tidak akan bisa menyelamatkan anaknya dari takdir siluman."
Tiba-tiba, sebuah kilatan energi hijau samar terpancar dari arah apartemen. Itu adalah denyutan yang sangat spesifik. Janin itu baru saja bereaksi terhadap keberadaan ku. Dia bisa merasakan ku. Dari jarak sejauh ini, dia tahu ada predator yang sedang mengawasi orang tuanya.
“Dia menantang ku,” batin Genta tersentak. “Janin yang belum lahir itu... dia baru saja mengirimkan sinyal peringatan kepada ku. Dia melindungi ayahnya? Luar biasa. Ikatan mereka sudah sedalam itu?”
"Genta? Kau berkeringat," Tetua itu menyadari perubahan aura ku.
"Bayi itu... dia baru saja menyentuh mana ku," suara ku bergetar, antara amarah dan kekaguman yang tersembunyi. "Dia tahu aku di sini. Linda mungkin tidak menyadarinya karena dia sedang terbuai oleh hormon dan kemesraan, tapi bocah itu... Elkan... dia sedang berjaga."
Ini mengubah segalanya. Jika janin itu sudah memiliki kesadaran defensif di trimester kedua, maka hari ini akan menjadi medan perang yang jauh lebih berdarah dari yang aku bayangkan. Aku tidak hanya berurusan dengan Linda yang posesif atau Dimas yang gigih, aku berurusan dengan entitas baru yang memiliki kekuatan penghancur.
“Kau pikir kau bisa melindunginya, Dimas?” Keluh ku sembari mulai menghilang ke dalam kabut malam. “Silakan. Pasanglah CCTV lebih banyak. Belilah buku-buku kuno itu. Pergilah ke lereng Merapi. Lakukan semua yang kau bisa sebagai manusia. Karena pada akhirnya, saat air ketuban itu pecah dan sihir meluap, kau hanyalah penonton di barisan depan saat aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milik klan.”
Aku melompat dari gedung, meluncur di kegelapan malam Jakarta. Angin bersiul di telinga ku, membawa aroma melati yang samar dari kejauhan. Linda. Dia sedang bahagia sekarang. Dia sedang merasa dicintai.
"Nikmatilah sisa waktu mu, Linda," bisik ku pada angin. "Karena setiap tawa yang kau bagikan dengan manusia itu, akan aku bayar dengan air mata saat aku menghancurkan 'benteng' yang dia bangun dengan susah payah."
Aku menghilang di antara gang-gang sempit, kembali ke persembunyian ku untuk menyiapkan ritual yang lebih besar. Genta tidak akan kalah oleh seorang manajer logistik. Genta tidak akan kalah oleh cinta beda spesies yang naif.
Malam tetap hitam. Dan di bawah sana, di apartemen nomor 404, Dimas mungkin sedang terlelap, mengira dia telah memenangkan pertempuran. Dia tidak tahu bahwa monster yang sebenarnya bukan hanya berada di luar pintunya, tapi juga sedang tumbuh di dalam rumahnya sendiri.
“Dua garis biru,” Keluh terakhir ku sebelum benar-benar lenyap. “Dua garis yang akan membelah dunia mu menjadi debu, Dimas. Tunggu saja.”
100000/10
would recommend
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍