Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.
Hari-hari di Lyon berlalu dengan tenang, namun waktu terus berjalan menuju momen penting yang telah dinanti-nantikan. Sebelum hari wisuda yang tinggal satu minggu lagi, Alana memutuskan untuk kembali ke Lausanne, kota tempat ia menempuh pendidikan kedokteran dan menjalani masa magang. Ia harus kembali ke asrama mahasiswi untuk mengambil beberapa barang pribadi dan dokumen penting yang masih tertinggal.
Perjalanan menuju Lausanne terasa akrab bagi Alana. Saat kereta melaju melintasi pemandangan pegunungan dan danau yang indah, pikirannya melayang mengingat masa-masa belajar yang penuh kerja keras. Sesaat setelah ia turun di stasiun, sebuah suara yang tak asing memanggil namanya.
"Alana! Maaf, membuatmu menunggu lama, ya?"
Alana menoleh dan tersenyum lebar. Di sana berdiri Keanu Abigail, seorang teman satu angkatan yang juga lulusan kedokteran. Pria itu tampan dengan wajah yang teduh, postur tegap, dan senyum yang selalu membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Selama masa studi, Keanu dikenal tidak hanya cerdas, tetapi juga sangat perhatian dan penolong.
"Tidak lama, Keanu. Terima kasih sudah mau menjemput dan menemaniku," jawab Alana ramah.
"Apa sih yang tidak aku lakukan untuk teman terbaikku?" gurau Keanu sambil mengambil tas yang cukup berat dari tangan Alana. "Lagipula, ini juga kesempatan terakhir kita berkeliling kota ini sebelum kita benar-benar menjadi dokter penuh."
Mereka berjalan beriringan menuju asrama. Sepanjang jalan, obrolan ringan tak henti terdengar. Mereka tertawa mengenang masa-masa sulit saat ujian, atau kejadian lucu saat magang di rumah sakit di mana salah satu dari mereka pernah salah membawa rekam medis pasien.
"Kau tahu, aku masih ingat saat kau pingsan karena begadang tiga hari berturut-turut demi proyek penelitian itu," kata Keanu sambil tertawa, namun matanya menatap wajah Alana dengan tatapan yang sangat tenang dan hangat, seolah ia selalu menikmati setiap momen bisa berbicara dengan gadis itu. "Kalau saja aku tidak membawamu ke ruang perawat, mungkin kau sudah masuk menjadi pasien di rumah sakit tempat kita magang."
Alana tertawa renyah, memukul pelan lengan Keanu. "Jangan dibahas terus dong! Itu kan masa lalu. Lagipula, kau juga tidak lebih baik, pernah tertidur di ruang operasi saat menunggu dokter senior datang."
Keanu hanya tertawa, namun tatapannya tak berubah—penuh kekaguman yang mungkin sudah ia simpan lama, namun selalu ia simpan dalam batas persahabatan. Tak terasa, mereka sudah sampai di depan gedung asrama mahasiswi yang berarsitektur klasik itu.
"Baiklah, aku antar sampai sini. Kau hati-hati mengambil barang-barangnya ya. Aku akan menunggu di sini atau di kedai kopi di seberang jalan," ucap Keanu.
"Terima kasih banyak, Keanu. Tunggu sebentar ya, aku akan cepat kembali ," sahut Alana sebelum berlari kecil masuk ke dalam.
********
Satu minggu kemudian, hari yang dinanti akhirnya tiba. Gedung universitas di Lausanne dipenuhi warna-warna cerah, bunga, dan wajah-wajah bahagia para wisudawan serta keluarga mereka. Alana, mengenakan gaun wisuda berwarna hitam dengan hiasan emas, berjalan dengan bangga di barisan para lulusan fakultas kedokteran. Ia kini resmi menyandang gelar sebagai dokter, puncak dari kerja keras dan pengorbanan bertahun-tahun.
Kedua keluarga hadir memadati tempat duduk tamu kehormatan. Keluarga Hadinata dan juga keluarga Lenoir—Marcel, Annabelle, dan tentu saja Aslan—hadir lengkap untuk mendukung Alana. Aslan duduk di barisan depan, matanya tak pernah lepas dari sosok kekasihnya yang terlihat begitu anggun dan cerdas di atas panggung. Kebanggaan terpancar jelas di wajahnya, namun naluri waspada nya juga terus bekerja.
Saat upacara selesai dan suasana berubah menjadi perayaan, para wisudawan berbaur dengan keluarga dan teman-teman. Alana sedang sibuk menerima ucapan selamat ketika ia melihat Keanu berjalan mendekat. Pria itu juga baru saja diwisuda dan kini berdiri di hadapannya dengan buket bunga.
"Selamat, Dokter Alana. Akhirnya kita berhasil," ucap Keanu hangat, lalu memberikan bunga itu. Tanpa sadar atau mungkin memang sudah menjadi kebiasaannya, ia menatap wajah Alana dengan hangat dan lembut penuh kekaguman, sedikit lebih lama dari sekadar tatapan teman biasa.
Dari jarak tidak jauh, Aslan yang baru saja berjalan mendekat untuk memeluk Alana melihat semua itu. Senyum di bibirnya perlahan memudar. Aura hangatnya berubah menjadi dingin dan tajam. Ia melihat bagaimana pria itu menatap Alana—tatapan yang sama persis seperti tatapan yang ia miliki sendiri. tatapan seseorang yang melihat satu-satunya hal berharga di dunia ini.
Aslan melangkah mendekat dengan langkah tegap namun mengintimidasi. Ia berdiri tepat di samping Alana, lalu menatap Keanu dengan pandangan menantang.
Keanu menyadari kehadiran sosok tinggi besar yang memancarkan aura kekuasaan itu. Ia menoleh dengan sopan, namun tetap mempertahankan ketenangannya.
"Halo, saya Keanu Abigail, teman satu angkatan dan rekan magang Alana," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Aslan menatap tangan itu sebentar, lalu menjabatnya dengan genggaman yang cukup kuat, seolah ingin menunjukkan dominasinya. "Aslan Lenoir. Tunangan Alana."
Suasana seketika menjadi sedikit tegang. Alana yang peka langsung merasakan getaran cemburu yang memancar dari tubuh Aslan. Ia tahu betul sifat kekasihnya yang posesif. Segera, Alana memegang lengan Aslan dan menariknya perlahan.
"Maaf sebentar ya, Keanu. Aku mau bicara sedikit dengan Aslan," kata Alana cepat, lalu membawa Aslan menjauh menuju sudut taman yang lebih sepi, jauh dari keramaian tamu.
Begitu merasa cukup jauh, Aslan langsung melepaskan tangannya dengan kasar, meskipun tidak sampai menyakiti Alana. Wajahnya masam, alisnya terkerut tajam.
"Teman angkatan? Teman magang?" suara Aslan rendah namun penuh kemarahan. "Kau lihat cara dia menatapmu, Alana? Dia tidak memandang mu hanya sebagai teman. Aku tahu tatapan itu, karena itu adalah cara ku menatapmu juga. Apa kau buta atau sengaja tidak menyadarinya?"
Alana menghela napas, berusaha tetap tenang. "Aslan, dengar aku dulu. Keanu memang teman dekatku. Kami sudah bersama melalui banyak hal sulit selama belajar. Dia memang orang yang hangat dan perhatian, tapi tidak ada apa-apa di antara kami. Hubungan kami murni persahabatan, itu saja. Dia tahu aku bertunangan denganmu, dan dia menghormatinya."
"Menghormati tapi menatapmu seperti kau miliknya?" cibir Aslan, matanya masih menyala karena cemburu. "Aku tidak suka, Alana. Aku tidak suka ada pria lain yang berani memandang mu dengan cara seperti itu. Kau milikku. Hanya aku yang berhak melihatmu seperti itu."
Melihat Aslan yang masih terus bersikap keras dan marah, Alana tahu argumen logis mungkin belum cukup saat ini. Pria ini sedang diliputi rasa takut kehilangan dan rasa memiliki yang kuat. Dengan hati-hati, Alana melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di dada bidang Aslan, lalu mendongak menatap mata biru gelapnya.
"Aslan..." bisiknya lembut. "Di hati dan pikiranku, hanya ada kau. Selalu hanya kau."
Tanpa memberi waktu bagi Aslan untuk memprotes lagi, Alana berjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Aslan. Itu adalah kecupan singkat, namun lembut dan penuh makna, seolah ia sedang mentransferkan seluruh rasa cinta dan kesetiaannya lewat sentuhan itu.
Saat Alana mundur perlahan, ia melihat bagaimana ketegangan di wajah Aslan perlahan mengendor. Kemarahan di matanya berganti kembali menjadi kasih sayang yang dalam, meskipun sisa-sisa cemburu masih tersisa sedikit. Tangan besar Aslan perlahan terangkat, memegang pipi Alana dengan lembut, ibu jarinya mengusap kulit gadis itu pelan.
"Kau memang tahu cara membuatku menyerah," gumam Aslan, suaranya sudah kembali lembut, namun masih ada nada peringatan. "Tapi ingat ya, meskipun aku percaya padamu, aku tidak akan membiarkan pria mana pun—siapa pun dia—mencoba mendekatimu lebih dari batas yang wajar."
Alana tersenyum lega, lalu memeluk pinggang Aslan erat-erat. "Aku tahu. Dan aku juga tidak akan membiarkan siapa pun menggantikan tempatmu."
Aslan memeluknya balik, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup aroma gadis itu untuk menenangkan sisa amarahnya. Di kejauhan, Keanu yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum tipis penuh pengertian, lalu perlahan berbalik dan pergi, menyadari bahwa ikatan di antara kedua orang itu terlalu kuat untuk ditembus siapa pun.