Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam itu, Naya duduk di pinggir ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara matanya berkali-kali melirik ke arah jam dinding yang entah mengapa terasa bergerak jauh lebih lambat dari biasanya.
“Kenapa Lucio belum pulang,” gumamnya pelan.
Lucio sudah pergi sejak sore. Naya yakin pria itu menemui ayah Ardan. Meski pria itu bukan orang yang berkuasa, ia terkenal licik dan penuh perhitungan.
Tak tahan hanya duduk diam, Naya akhirnya berdiri. Ia berjalan mondar-mandir di dekat jendela, mencoba mengusir kegelisahan yang terus menghantui. Sesekali ia menoleh ke arah pintu, berharap mendengar suara langkah atau gagang pintu yang terbuka.
Waktu terus berjalan.
Pukul sebelas…
Pukul dua belas…
Pukul satu…
Pukul dua.
Namun belum juga ada tanda-tanda Lucio kembali.
Naya menghentikan langkahnya, lalu mendekat ke jendela. Ia mengintip ke halaman depan. Gelap dan sepi. Tidak ada suara mesin mobil, tidak ada cahaya lampu yang mendekat.
“Apa aku telepon saja?” gumamnya ragu.
Ia menggigit bibir bawahnya, menatap layar ponselnya cukup lama. Nama Lucio terpampang jelas di sana, seolah menunggu untuk ditekan.
Jarinya sedikit bergerak, namun kembali berhenti.
Haruskah ia menelepon?
Atau justru itu akan membuat semuanya menjadi lebih buruk?
Naya melemparkan ponselnya ke atas ranjang dengan sedikit kesal, lalu membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Napasnya tertahan, pikirannya berputar tanpa arah yang jelas.
Ini aneh… benar-benar aneh.
Seharusnya ia tidak perlu sekhawatir ini. Tidak seharusnya ia menunggu seseorang seperti ini.
Jangan bilang perasaan itu sudah berubah.
“NGGAK! Itu nggak benar.” Naya tiba-tiba bangkit duduk, menyangkal keras pikirannya sendiri. Dadanya naik turun, seolah berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang ia rasakan hanyalah ilusi sesaat.
Namun sebelum ia sempat menenangkan diri,
BRAK!
Pintu kamarnya terbuka dengan keras.
Naya terlonjak kaget, refleks menoleh ke arah pintu. Matanya langsung membelalak lebar saat melihat sosok yang berdiri di sana.
“P-pa… papa…” suara Naya tercekat. Lidahnya terasa kelu saat menyebut kata itu. Bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena ada rasa takut dan sesak yang tiba-tiba mencengkeram dadanya.
Di ambang pintu, Tuan Tuqman berdiri dengan beberapa pria di belakangnya. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum namun senyum itu terasa dingin, tidak menyentuh matanya sama sekali.
“Naya,” panggilnya pelan.
Suara langkahnya menggema di lantai kamar, satu per satu mendekat.
Naya tanpa sadar mundur perlahan di atas ranjang, jantungnya berdetak semakin cepat. Untuk pertama kalinya kehadiran ayahnya sendiri terasa begitu asing dan menakutkan.
Naya mundur perlahan hingga hampir menyentuh jendela. Ia menoleh sekilas ke arah halaman, berharap melihat mobil Lucio masuk dan menghentikan semua ini. Namun yang terlihat hanya halaman yang kosong dan sunyi.
“Kenapa kamu membohongi papa, Nak?” suara Tuan Tuqman terdengar tenang.
Ia berhenti di dekat ranjang, jemarinya menyapu permukaan sprei dengan gerakan berulang, seolah sedang memainkan sesuatu yang tak kasat mata. Gestur kecil itu justru terasa jauh lebih mengganggu daripada teriakan.
“Makam itu bukan milikmu…” lanjutnya pelan, lalu sudut bibirnya terangkat lebih lebar. “…tapi papa yakin, sebentar lagi akan jadi milikmu.”
Senyum itu dingin sekali, membuat darah Naya seakan membeku.
Napasnya semakin berat. Tangannya mencengkeram tepi jendela lebih erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih dan asin darah menyebar di lidahnya.
Rasa sakit itu nyata.
Dan itu cukup untuk menyadarkannya, ini bukan mimpi buruk.
Ayahnya benar-benar ada di sini.
Lalu satu pertanyaan besar menghantam pikirannya,
Bagaimana dia bisa tahu kalau Naya masih hidup?
...***...