semua yang kulakukan selama ini ternyata tidak berarti apapun bagi mereka,orang yang kuhormati,kusayangi dan kucintai mengkhianati ku begitu saja.
menyaksikan kematian ku seperti pertunjukkan yang menghibur mereka,aku sungguh bodoh...
memilih mereka yang tidak memilih ku..yang hanya memanfaatkan ku..aku menyesal...
aku tidak menerima takdir ini....aku menolak...
aku meminta pembalasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HartaKarun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
Meisya tetap menguatkan dirinya untuk bertahan melalui semua ini,ia akan menganggap hal ini sebagai syarat agar ia pantas bersanding dengan Devan.
Suatu hari Devan memintanya untuk ikut berkunjung kerumah orang tuanya,Devan menghabiskan waktunya bersama ayahnya di ruang kantor,berdiskusi mengenai beberapa hal mengenai masalah kantor,sedangkan Meisya menghabiskan waktunya bersama dengan ibunya Devan.
Nia memandang kasihan pada Meisya,dalam setahun meisya tampak berubah,anak yang yang dulu ceria sekarang tampak pendiam.
“Mama sudah meminta koki untuk memasakkan makanan yang kamu suka,ayok makan dulu”
“Tapi Devan…”
“jangan pedulikan mereka,mereka itu kalo udah menyangkut urusan kantor akan lupa dengan waktu”
Mata Meisya berkaca-kaca melihat hidangan yang disajikan,rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat makanan yang ia sukai di meja makan,
“makan lah sayang,ibu lihat kamu semakin kurus saja.ambil yang banyak”
Meisya sangat bersyukur memiliki mertua yang baik kepadanya,rasanya ia ingin menangis saja saking terharunya.
“Iya bu,terima kasih banyak bu”Meisya mengambil semua jenis makanan yang ia sukai,mata nya berbinar-binar akhirnya merasakan rasa yang ia rindukan.
Melihat betapa bahagia nya Meisya membuat Nia merasa semakin kasihan,perbuatan anaknya merenggut masa depan gadis yang cemerlang ini,rasa berdosa mengakar dalam hati Nia,andai saja..andai saja ia menentang keras permintaan Devan..andai saja ia tidak egois demi putranya…gadis ini tidak akan menjadi korban dari ke-egoisan Devan.menyesal sekarang pun rasanya sudah terlambat,Devan sudah tidak mau melepaskan dan Meisya tampaknya juga tidak akan mundur karena sudah jatuh cinta terlalu dalam pada permainan anaknya.
1 tahun berlalu
Di Kantor pribadi Devan
Ia menatap Meisya dengan tatapan menahan amarah,ia sudah mengajarkan hal ini secara berulang kali,namun gadis itu selalu melakukan kesalahan,
“SUDAH KUBILANG BAHWA DATA INI HARUS DIOLAH DENGAN METODE INI,MENGAPA KAMU SELALU MELAKUKAN KESALAHAN…DEMI TUHAN MEISYA APAKAH KAMU TIDAK MENDENGAR PENJELASANKU”bentak Devan yang membuat Meisya semakin menunduk dan menahan air mata yang sepertinya akan jatuh begitu saja.
“JAWAB!”
“Maaf….aku tidak sengaja”jawab Meisya terbata-bata
“TIDAK SENGAJA..TIDAK SENGAJA…ALASAN KONYOL ITU YANG SELALU KAMU PAKAI…AKU SUNGGUH MUAK…AKU SUDAH KEHILANGAN HARAPAN…ORANG SEPERTI MU MEMANG TIDAK BISA DI AJARI…SEKARANG KELUAR DARI RUANGANKU…JANGAN MENEMUIKU SEBELUM AKU MENYURUHMU DATANG”
Meisya mengangkat kepalanya menatap Devan dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya,andai saja ia tidak bodoh Devan pasti tidak akan memarahinya seperti ini.ia menyalahkan dirinya lagi dan lagi.
Tau bahwa Devan saat ini tidak bisa di ajak bicara Meisya hanya berucap maaf lalu keluar dari ruangan itu.
Di Dalam lift ia memukul-mukul kepalanya,merutuki kebodohan yang ia miliki.jika ia terus seperti ini ia akan kehilangan Devan,ia tidak mau hal tersebut terjadi.
Ia masuk ke mobilnya dan mengendarainya menuju taman yang agak sepi,di sana ia menangis tersedu-sedu.ingin rasanya ia mengadu pada kakek dan neneknya namun ia tidak ingin hal ini akan mengakibatkan keretakan antara hubungan mereka dengan Devan,ia takut jika mereka tau,mereka akan meminta nya menjauh dari Devan.
Demi tuhan,Meisya bersumpah bahwa ia tidak bisa hidup jika tidak bersama dengan Devan.yang ia sadari Devan sudah seperti separuh jiwanya.
Langkah sepatu menggema mendekatinya,orang itu berhenti di depannya membuat Meisya mendongakkan kepalanya melihat rupa orang itu.itu adalah seorang wanita yang sedikit lebih tua darinya,wanita itu menatapnya dengan tatapan mengejek.
“Sekalinya palsu tidak akan pernah menjadi asli”ujar wanita itu lalu ia duduk disamping Meisya
“Apa?’tanya Meisya tidak mengerti apa yang dibicarakan wanita itu.
“ck ck ck,sungguh malang dirimu,tidak menyadari selama ini hanya dimainkan sebagai boneka”wanita itu memandang wajah Meisya dengan seksama.
“Pantas saja ia memilihmu,wajah mu memang memiliki kemiripan dengannya”
“Siapa kau?jika tidak ada urusan mu pergilah dari sini,jangan berbicara omong kosong dengan ku Meisya merasa kesal karena harus diganggu oleh wanita yang berbicara tidak jelas dengannya.
“Anggap saja aku penyelamat hidup mu,apa kamu tidak penasaran mengapa orang seperti Devan mau dengan mu?jangan berpikir ini seperti cerita dongeng dimana si kaya menyukai si miskin”
“Apa maksud mu?apa kamu mencoba mengadu domba aku dengan tunangan ku?”marah Meisya
“Aku hanya menyampaikan fakta,fakta yang disembunyikan semua orang dari mu”
Walaupun Meisya tau ia tidak seharusnya mempercayai perkataan gadis itu namun rasa penasaran mengusik jiwanya,apa yang disembunyikan semua orang darinya?
“Aku tau kamu penasaran,aku akan berterus terang,kamu hanyalah pengganti bagi Devan.kamu ada untuk menggantikan sosok tunangan Devan yang sudah meninggal.tidakkah kamu sadar bagaimana usaha Devan untuk membuatmu mirip dengannya?”
Ucapan itu terdengar seperti bom di telinga Meisya,bagaimana mungkin ini terjadi?.Devan sangat mencintai nya bagaimana mungkin ia tega melakukan hal ini kepadanya.mata Meisya berkaca-kaca.
“Dan anehnya kalian mempunyai nama depan yang sama,Meisya Cakra Wijaya dan Meisya Zahira Agata.sungguh kebetulan yang aneh”
“Tidak kamu berbohong…KAMU BERBOHONG..INI TIDAK MUNGKIN”Meisya menjadi panik
“Lihatlah di area makam keluarga Atmaja,kamu akan menemukan makam Meisya disana,Devan sangat mencintainya sehingga ia menguburkan nya disana.itu sudah cukup untuk menjadi bukti yang akan meyakinkan mu”
Meisya menatap wanita itu dengan tajam,ia mencoba untuk tidak mempercayai wanita itu namun ia ingin melihat bukti yang wanita itu katakan.Dengan cepat Meisya berbalik meninggalkan wanita itu dan pergi dengan mobilnya.
Yang tidak ia sadari wanita itu,Nina tersenyum lebar.
Meisya mengendarai mobilnya dengan cepat,jantungnya berdebar-debar,pikirannya kalang kabut memikirkan jika apa yang wanita itu katakan benar,apa yang akan ia lakukan setelah itu?air mata mengalir di pipinya,ia tidak sanggup jika harus menerima kenyataan bahwa ia hanya lah pengganti dan cinta yang Devan berikan padanya selama ini hanyalah kebohongan.
Namun semua harapan Meisya hancur setelah melihat dengan matanya sendiri bahwa makam yang bertuliskan nama Meisya Cakra Wijaya memang ada disana,di pemakaman keluarga Atmajaya namun hal yang semakin menghancurkannya adalah makam kecil yang berada disamping makam Meisya,disana tertulis anak dari Devan Atmajaya dan Meisya Cakra Wijaya.
Kaki Meisya terasa lemas dan ia jatuh terduduk,
“Meisya?bagaimana mungkin kamu ada disini?”