NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 : Dara Bingung

Kini mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Jakarta. Sebagian besar staf langsung memanfaatkan waktu penerbangan untuk beristirahat. Beberapa masih mengobrol pelan, sementara yang lain sudah tertidur bahkan sebelum pesawat lepas landas.

Dara duduk di kursinya sambil memangku map berisi dokumen proyek. Di sampingnya, Alexander duduk tenang dengan jas hitam yang masih terlihat rapi seperti biasa. Pesawat baru mengudara sekitar dua puluh menit, seketika Dara mulai membuka dokumen tersebut.

"Tuan."

"Hm."

"Untuk kontrak kerja sama dengan Naga Buana, ada beberapa poin yang perlu kita bahas."

Dara membuka laptopnya lalu menunjukkan beberapa catatan revisi.

Namun jawaban Alexander justru membuatnya terdiam. "Saya mau istirahat, kita bahas di kantor saja."

Setelah mengatakan itu, Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu memejamkan mata dengan santai.

Dara menatapnya tidak percaya, dalam hati ia langsung mengeluh. Bukankah tadi pria ini yang memaksa dirinya untuk duduk di sini karena alasan pekerjaan? Kalau memang tidak ingin membahas pekerjaan, kenapa harus merebut kursinya dari Aldi?

Dara menghela napas panjang pelan. Sayangnya, Alexander mendengarnya. Meski matanya masih terpejam, sudut bibir pria itu bergerak tipis.

"Saya dengar kamu kesal dengan saya."

Deg.

Dara langsung menegakkan punggungnya. "T-tidak, Tuan. Memang sebaiknya dibahas di kantor saja." Jawabannya terdengar sopan.

Dan Alexander tahu itu. Pria itu membuka satu matanya sedikit lalu melirik Dara. Wanita itu sedang menatap lurus ke depan dengan wajah tenang. Namun dari cara bibirnya yang sedikit mengerucut, Alexander tahu Dara sedang kesal. Entah kenapa hal itu justru membuatnya ingin tersenyum.

Dan beberapa detik kemudian...

Kini senyum tipis benar-benar muncul di wajah Alexander. Senyum yang nyaris tidak terlihat, beruntung Dara sedang menatap ke arah jendela pesawat.

Jika tidak, ia pasti akan terkejut. Karena hampir tidak ada orang di perusahaan yang pernah melihat Alexander tersenyum seperti itu.

Di luar jendela, hamparan awan putih membentang luas. Dara mencoba menenangkan dirinya. Namun pikirannya justru kembali pada kejadian semalam. Tentang ucapan Alexander, tentang pernikahan, dan tentang masa depan yang bahkan belum pernah berani ia bayangkan. Tanpa sadar ia menggenggam map di pangkuannya sedikit lebih erat.

Sementara itu, beberapa baris kursi di belakang mereka. Aldi sedang duduk dengan tangan terlipat di dada. Tatapannya mengarah ke kursi Alexander dan Dara, sangat lama.

Pak Ganjar yang duduk di sampingnya akhirnya menghela napas. "Pak Aldi."

"Hm."

"Bapak sedang melihat apa?"

Aldi menunjuk ke depan. "Itu."

Pak Ganjar mengikuti arah jarinya. Lalu langsung menutup mata sesaat. Astaga, lagi-lagi...

"Pak Aldi."

"Iya?"

"Tolong jangan membuat masalah di pesawat."

Aldi mendengus pelan. "Yang membuat masalah bukan saya."

"Lalu siapa?"

Aldi menunjuk punggung kursi Alexander. "Itu si Bos."

Pak Ganjar hampir tertawa.

"Pria itu dari kemarin merebut semua kesempatan saya."

"Kesempatan apa?"

"Berbicara dengan Dara."

Pak Ganjar langsung memijat pelipisnya. Aldi kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap langit-langit kabin.

"Sumpah, kalau Alex nggak suka sama Dara, kenapa dia bertingkah seperti itu?" gumamnya pelan.

Pak Ganjar hanya tersenyum kecil. Karena berbeda dengan Aldi, pria tua itu sudah mengetahui jawabannya. Hanya saja, sepertinya Alexander sendiri baru menyadarinya beberapa hari terakhir.

Waktu berlalu cukup cepat selama penerbangan. Sebagian besar staf akhirnya tertidur. Bahkan Aldi yang sejak tadi mengomel tentang Alexander pun akhirnya menyerah dan memejamkan mata.

Sedangkan Dara masih duduk diam di dekat jendela. Sesekali ia menatap awan di luar sana. Pikirannya kembali mengingat ucapan Alexander semalam. Membuat wajahnya kembali memanas.

Tanpa sadar, Dara menghela napas pelan. Di sampingnya, Alexander yang terlihat sedang beristirahat perlahan membuka mata.

"Kamu tidak tidur?"

Dara langsung menoleh. "Tidak, Tuan."

"Hm."

Setelah itu Alexander kembali memejamkan mata. Namun beberapa menit kemudian justru Dara yang diam-diam melirik ke arahnya.

Pria itu terlihat lelah. Sepertinya pria itu hampir tidak bisa tidur, karena mengurus proyek, mengawasi seluruh staf, ditambah masalah perceraiannya yang belum selesai.

Kini Dara mulai menyadari, di balik sosok Alexander yang selalu terlihat kuat dan tenang, pria itu juga manusia biasa. Dan entah kenapa, pemikiran itu membuat hati Dara terasa sedikit sesak.

Dua jam kemudian.

Suara pramugari terdengar melalui pengeras suara. "Para penumpang yang kami hormati, beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta..."

Satu per satu penumpang mulai terbangun. Aldi langsung meregangkan tubuhnya. "Astaga..."

Pak Ganjar melirik. "Ada apa lagi, Pak?"

"Saya gagal tidur."

Pak Ganjar menghela napas.b"Itu karena dari tadi Bapak sibuk mengawasi Bos."

Aldi tidak membantah, karena memang benar. Tak lama kemudian roda pesawat menyentuh landasan.

Beberapa staf langsung bertepuk tangan kecil.

"Akhirnya sampai juga."

"Besok masuk kerja lagi."

"Tolong jangan ingetin."

Keluhan langsung terdengar di berbagai arah. Dara ikut tersenyum kecil mendengarnya. Namun senyumnya perlahan menghilang saat mengingat satu hal.

Mereka sudah kembali, artinya semua masalah yang sempat terasa jauh selama berada di Surabaya kini kembali menunggu. Termasuk Sabrina, keluarga Dirgantara, dan termasuk ucapan Alexander tentang pernikahan.

Setelah pesawat berhenti sempurna, seluruh penumpang mulai turun satu per satu. Alexander berdiri lebih dulu, ia mengambil koper kabinnya dengan mudah lalu menoleh kepada Dara.

"Ayo."

"Iya, Tuan."

Mereka berjalan keluar bersama rombongan staf lainnya. Bandara Soekarno-Hatta terlihat ramai seperti biasa. Beberapa staf langsung sibuk mengambil koper di area bagasi.

Rina menguap panjang. "Aku mau tidur dua hari."

Dara tertawa kecil. Sedangkan Aldi baru saja berjalan mendekat ketika ponsel Alexander bergetar. Pria itu melirik layar dan kini ekspresinya berubah.

Pak Ganjar yang berdiri tidak jauh langsung menyadarinya. "Ada apa, Tuan?"

Alexander mematikan layar ponselnya. "Saya harus pulang ke rumah utama sekarang."

Pak Ganjar langsung mengerti. Karena hanya ada satu alasan yang bisa membuat Alexander berubah seperti itu. Di layar ponselnya tadi hanya ada satu pesan singkat dari Ibu Sandra.

"Alex, pulanglah. Mommy ingin bicara. Sabrina juga ada di sini."

Keheningan sesaat menyelimuti Alexander. Lalu tanpa ekspresi ia memasukkan ponselnya kembali ke saku jas.

"Ada masalah, Bos?" tanya Aldi.

Alexander menatap ke arah pintu keluar bandara. "Masalah pribadi." Jawabannya singkat.

Suasana area pengambilan bagasi masih cukup ramai. Para staf satu per satu mengambil koper mereka sambil mengobrol mengenai pekerjaan yang menunggu di kantor. Namun perhatian Dara masih tertuju pada Alexander.

Pria itu baru saja membaca pesan dari Ibu Sandra.nDan ekspresinya berubah. Dara belum pernah melihat perubahan suasana hati Alexander secepat itu.

Keheningan berlangsung beberapa detik.

Lalu Alexander menoleh kepadanya. "Dara."

"Iya, Tuan?"

"Kamu ikut saya."

Deg.

Dara membeku. "Hah?"

Alexander tetap tenang. "Kita ke rumah utama."

Mata Dara langsung membesar. "Untuk apa, Tuan?"

Sebelum Alexander menjawab, Aldi sudah lebih dulu menyela.

"Tunggu dulu."

Semua orang menoleh kepadanya.

Aldi mengernyit. "Bukankah itu masalah pribadi?"

Alexander menatapnya datar. "Benar."

"Kalau begitu kenapa Dara ikut?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Lalu Alexander berkata singkat. "Karena saya membutuhkannya."

Dara langsung menunduk.

Sedangkan Aldi terlihat semakin tidak mengerti. "Bos."

"Hm."

"Logika macam apa itu?"

Alexander mengambil koper miliknya. "Logika saya."

Aldi hampir tersedak mendengarnya. "Alex, serius."

Kali ini Alexander menatap sahabatnya lurus. Tatapan yang membuat senyum Aldi perlahan menghilang. "Kau jangan ikut campur."

Suasana langsung hening. Karena nada suara itu berbeda. Alexander jarang berbicara setegas itu kepada Aldi.

"Bos..."

"Saya tahu apa yang saya lakukan." Jawaban itu mengakhiri semuanya.

Aldi mengepalkan tangannya pelan. Jujur saja, ia mulai kesal. Beberapa hari terakhir Alexander selalu menggunakan alasan apa pun untuk membawa Dara bersamanya.

Dan sekarang bahkan urusan keluarga pun sama. Aldi baru saja membuka mulut untuk membantah lagi.

Namun Pak Ganjar segera menahan lengannya. "Pak Aldi."

"Tapi Pak..."

"Sudah."

Aldi menoleh, Pak Ganjar menggeleng pelan. Aldi menghembuskan napas kasar. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, justru Dara yang berbicara.

"Pak Aldi."

Aldi menoleh.

Dara tersenyum tipis. "Maaf. Kali ini tolong jangan ikut campur dulu."

Aldi terdiam. Karena kali ini mengatakan itu secara langsung. Wanita itu terlihat gugup, tetapi matanya menunjukkan kesungguhan.

Beberapa detik berlalu. Lalu Aldi akhirnya mengangkat kedua tangannya menyerah. "Oke."

Dara menghela napas lega. Sedangkan Alexander hanya mengangguk singkat.

"Ayo."

"Iya, Tuan."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Alexander berbalik menuju pintu keluar VIP bandara. Dara segera mengikuti di belakangnya sambil menarik koper. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan area bagasi.

Sementara Aldi hanya bisa menatap punggung keduanya yang semakin menjauh. "Sumpah..."

Pak Ganjar menghela napas. "Pak Aldi."

"Saya benar-benar ingin menjitak Bos itu."

Pak Ganjar hampir tertawa. "Jangan Pak."

"Nyebelin banget," gerutu Aldi.

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!