"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Dari Benua Tengah
Yan Mu gemetaran parah mendengar perintah dari Ling Chen. Wajahnya yang tadi sudah putih kayak kertas, sekarang makin pucat sampai-sampai bibirnya membiru.
Dia menatap kepala gurunya yang tergeletak beberapa langkah di sampingnya dengan ngeri. Kemudian, pandangannya beralih menatap ujung sepatu Ling Chen yang masih bersih tanpa noda darah sedikit pun.
"Kam-kau... kau beneran gila ya?" bisik Yan Mu dengan suara yang nyaris habis.
"Membantai satu peleton Garda Emas saja sudah bikin kau jadi buronan nomor satu di kekaisaran ini," lanjut Yan Mu sambil menelan ludah susah payah.
"Sekranag kau malah mau menantang Pangeran Agung langsung di istananya? Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Yan Mu dengan sisa keberaniannya yang sudah di ujung tanduk.
Ling Chen tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia membalikkan badannya perlahan dengan gerakan yang sangat tenang.
Matanya menatap ke arah matahari fajar yang mulai naik tinggi di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang hangat di atas kota Jakarta dan Jombang.
"Pangeran Agungmu itu terlalu banyak tingkah," ucap Ling Chen datar.
"Dia mengira dengan menyewa beberapa anjing dari Benua Tengah, dia bisa menguasai dunia fana ini dengan sesuka hatinya," lanjut Ling Chen sambil mendengus sinis.
"Dia sudah merusak pintu penginapanku, mengganggu sarapan pagiku," kata Ling Chen dengan nada malas.
"Dan sekarang kau masih mau bertanya kenapa aku harus mendatangi istananya?" tanya Ling Chen balik, menatap Yan Mu dengan pandangan sedingin es.
Mu Rong'er yang berdiri di belakang Ling Chen cuma bisa menepuk jidatnya sendiri. Dia benar-benar habis kata-kata melihat jalan pikiran pemuda di depannya ini.
Urusan nyawa dan konspirasi tingkat tinggi kekaisaran malah disamakan dengan urusan pintu kamar rusak dan sarapan pagi yang keganggu.
"Tuan Muda Ling," panggil Mu Rong'er pelan sambil melangkah mendekat.
Kuro yang ada di pelukannya juga ikut menjulurkan kepalanya yang kecil. Makhluk itu menatap Yan Mu dengan pandangan yang seolah-olah ikutan kasihan melihat nasib pemuda jubah putih itu.
"Kalau dia beneran bawa mayat Tetua Mo kembali ke istana, Pangeran Agung pasti bakal langsung tahu," ucap Mu Rong'er ragu-ragu.
"Dia pasti bakal memperketat penjagaan istana inti dengan ribuan prajurit dan formasi pertahanan tingkat tinggi," lanjut gadis itu lagi dengan cemas.
"Bukannya itu malah bikin kita susah buat masuk ke sana besok malam, Tuan Muda?" tanya Mu Rong'er khawatir.
Ling Chen menoleh sedikit ke arah Mu Rong'er. Dia memberikan lirikan tipis yang bikin Mu Rong'er langsung membeku di tempatnya.
"Memperketat penjagaan?" Ling Chen tersenyum sinis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa percaya diri yang mutlak.
"Baguslah kalau begitu," kata Ling Chen enteng.
"Semakin banyak tikus yang berkumpul di satu tempat, semakin sedikit waktu yang kubutuhkan untuk membasmi mereka semua sekaligus," lanjut Ling Chen kejam.
"Aku malas kalau harus mencari mereka satu per satu di kota yang luas ini," ucap Ling Chen sambil mengibas jubahnya dengan gaya santai.
Yan Mu yang mendengar percakapan itu merasa dunianya bener-bener sudah runtuh total. Di Benua Tengah, tidak ada satu pun kultivator muda yang berani bicara se-arogan ini.
Nama besar Sekte Matahari Sabit selalu ditakuti di mana-mana. Tapi di tempat terpencil ini, dia malah menyaksikan sesepuh sektenya dipenggal kayak ayam pasar.
"Cepat bereskan mayat gurumu dan pergi dari sini," bentak Ling Chen tiba-tiba.
"Jangan sampai aku berubah pikiran dan memutuskan untuk menjadikannya pupuk di kebun kedai bubur ini," gertak Ling Chen lagi.
Matanya berkilat biru safir yang seketika bikin Yan Mu langsung melompat bangun ketakutan dari atas tanah.
"I-iya! Aku pergi sekarang! Jangan bunuh aku, Tuan Besar!" jerit Yan Mu panik setengah mati.
Dengan tangan yang masih gemetaran parah, Yan Mu buru-buru mengambil kain sutra besar dari balik cincin ruang miliknya.
Dia membungkus jasad dan kepala Tetua Mo dengan tergesa-gesa sampai pakaian putihnya sendiri ikut ternoda oleh darah segar yang masih hangat.
Dia memanggul bungkusan berdarah itu di pundaknya dengan susah payah sambil meringis menahan sakit di dadanya.
"Aku pasti sampaikan pesanmu! Aku pergi dulu!" seru Yan Mu ketakutan.
Pemuda jubah putih itu langsung berlari terbirit-birit ke arah jalan menuju gerbang istana dalam tanpa berani menengok ke belakang lagi.
Setelah bayangan Yan Mu benar-benar menghilang di balik tikungan jalan, suasana di persimpangan itu kembali menjadi sunyi dan sepi.
Ling Chen berbalik menatap pemilik kedai bubur yang masih pingsan dengan posisi telungkup di balik gerobak dagangannya.
Dia berjalan mendekat ke arah meja kayu, lalu menjatuhkan sekeping koin emas fana ke dalam mangkuk kosong yang tadi digunakannya.
"Ayo jalan," ajak Ling Chen pada Mu Rong'er.
"Eh? Mau ke mana lagi kita sekarang, Tuan Muda?" tanya Mu Rong'er cepat-cepat melangkah menyusul di samping pemuda itu.
"Kan kamu billing mau mendatangi istana besok malam," lanjut Mu Rong'er sambil membetulkan posisi gendongan Kuro.
"Terus sisa hari ini kita mau tinggal di mana? Rumah kosong yang tadi pasti sudah nggak aman lagi buat kita berteduh," ucap Mu Rong'er bingung.
"Siapa bilang kita mau sembunyi dan tidur?" Ling Chen terus berjalan santai menyusuri trotoar jalanan granit.
"Kita cari toko pakaian terbaik yang ada di kota ini sekarang," perintah Ling Chen tanpa menoleh.
"Jubah biruku ini sudah mulai kotor dan berdebu karena angin badai orang tua tadi," keluh Ling Chen sambil melihat ujung lengan bajunya.
"Aku butuh jubah baru yang lebih bersih dan rapi untuk mendatangi pesta di istana besok malam," kata Ling Chen dengan nada santai.
Mu Rong'er bener-bener cuma bisa pasrah dan mengukuti langkah kaki Ling Chen dari belakang.
Di dalam hatinya, dia cuma Bisa berdoa semoga jantungnya cukup kuat untuk menghadapi kegilaan-kegilaan lain yang bakal dilakukan oleh pemuda misterius ini. Badai besar beneran sudah bergulung di atas langit, dan Ling Chen adalah pusat dari kehancuran tersebut.
Mereka berdua terus berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai ramai oleh para pedagang dan penduduk setempat. Lanskap kota Jakarta dan Jombang yang penuh dengan dinamika kehidupan fana berpadu dengan aura magis dunia kultivasi.
"Tuan Muda, apa jubah baru nanti bisa meningkatkan kekuatan Tulang Dewamu?" tanya Mu Rong'er mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak terlalu tegang.
"Jubah hanyalah pelapis luar, tidak ada hubungannya dengan esensi kekuatan," jawab Ling Chen tenang. "Namun, seorang kaisar sejati tidak boleh terlihat berantakan di depan musuh-musuhnya."
Mu Rong'er mengangguk-angguk paham. Di matanya, Ling Chen semakin hari semakin memancarkan wibawa yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan akal sehat.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah bangunan megah bertingkat tiga dengan papan nama berlapis emas bertuliskan "Paviliun Kain Surga". Ini adalah toko pakaian paling mewah di seluruh wilayah distrik inti.
"Kita masuk ke sini," kata Ling Chen singkat.
Seorang pelayan toko dengan pakaian rapi langsung menyambut mereka di pintu depan dengan senyuman ramah yang profesional. Namun, begitu melihat jubah biru Ling Chen yang agak berdebu, senyuman pelayan itu sedikit memudar.
"Selamat datang di Paviliun Kain Surga, Tuan dan Nona. Ada yang bisa kami bantu? Pakaian di lantai dasar ini adalah koleksi standar untuk kultivator lokal," ucap pelayan itu dengan nada yang terdengar meremehkan secara halus.
Ling Chen tidak marah, dia malah langsung mengeluarkan sebuah kantong sutra hitam dari balik jubahnya dan melemparnya ke atas meja kasir dengan bunyi berdentang yang sangat berat.
BRAK!
"Bawa aku ke lantai tiga dan tunjukkan koleksi terbaik kalian yang tidak bisa dibeli oleh kultivator biasa," ucap Ling Chen dingin.
Pelayan kasir buru-buru membuka kantong tersebut dan matanya langsung melotot lebar melihat puluhan batu roh tingkat murni berkilauan di dalamnya. Nilainya bahkan cukup untuk membeli setengah dari isi toko ini.
"Ba-baik, Tuan Agung! Mohon maaf atas kelancangan kami! Silakan lewat sini, jalan menuju lantai tiga selalu terbuka untuk tamu kehormatan seperti Anda!" seru pelayan itu dengan sikap yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat membungkuk takzim.
Mu Rong'er yang melihat hal itu cuma bisa geleng-geleng kepala. Uang dan kekuatan bener-bener hukum mutlak yang bisa merubah segalanya di dunia fana ini. Sementara itu, Ling Chen terus melangkah naik ke lantai atas dengan pandangan mata yang lurus ke depan, siap memilih jubah terbaiknya untuk pertunjukan berdarah di istana besok malam.