Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Proyeksi Dan Pengkhianatan
Monumen Nasional berdiri angkuh di tengah kegelapan Jakarta, puncaknya yang berlapis emas berkilau di bawah siraman lampu sorot. Namun, malam ini, Monas bukan sekadar simbol sejarah. Puluhan proyektor laser raksasa telah mengubah lapangan sekitarnya menjadi sebuah teater digital. Ribuan orang berdesakan, mata mereka menengadah ke langit, menantikan sosok yang dijanjikan sebagai penyelamat dari kekacauan ekonomi dan kriminalitas yang mencekik kota ini.
Arga berdiri di tengah kerumunan, terhimpit di antara warga yang haus akan harapan. Masker hitam menutupi separuh wajahnya, sementara topi baseball-nya ditarik rendah. Di telinganya, suara statis dari frekuensi rahasia Nadia terdengar sayu.
"Arga, posisi. Unit pengamanan Winata Group ada di setiap sudut. Siska tidak main-main. Dia mengerahkan seluruh tentara bayaran Vulture yang tersisa," bisik Nadia.
"Aku melihat mereka," jawab Arga rendah. Matanya menyisir panggung utama yang terletak di cawan Monas. Di sana, Siska Winata berdiri tegak. Jaket putihnya tampak elegan, namun lengan kiri prostetiknya yang terbuat dari serat karbon hitam memberikan kesan predator yang mematikan. Siska sedang berpidato, suaranya yang penuh wibawa palsu menggema melalui sistem suara yang memekakkan telinga.
"...dan hari ini, melalui kemitraan dengan Nova-Logic, Jakarta tidak akan lagi mengenal kegelapan! Mari kita sambut, Sang Arsitek Perdamaian... Elina!"
Seketika, udara di atas Monas bergetar. Cahaya biru memadat, membentuk partikel-partikel cahaya yang menari-nari hingga membentuk sosok wanita setinggi sepuluh meter. Hologram Elina muncul di udara, tampak begitu nyata dan bercahaya, mengenakan gaun putih yang melambai-lambai seolah ditiup angin surgawi. Wajahnya tenang, matanya yang besar memandang kerumunan dengan kasih sayang yang mekanis.
"Rakyat Jakarta," suara Elina terdengar, jernih dan berwibawa, diproses oleh ribuan server yang tersembunyi. "Ketakutan kalian adalah kegagalanku. Mulai malam ini, setiap detak jantung kota ini akan berada dalam perlindunganku."
Kerumunan bersorak histeris. Banyak yang bersujud, menganggap ini sebagai keajaiban. Namun, Arga merasakan ada yang salah. Dia melihat Siska di bawah sana, tangan prostetiknya tidak sedang memegang mikrofon, melainkan sebuah perangkat kendali kecil yang layarnya berkedip merah.
"Nadia, pindai sinyal di sekitar Siska sekarang!" perintah Arga.
"Tunggu... Arga, aku mendeteksi transmisi feedback yang sangat kuat. Itu bukan protokol transmisi data biasa. Itu adalah Logic Bomb! Siska tidak mencoba meretas hologramnya, dia mencoba mengirimkan sinyal balik ke lokasi fisik sumber data Elina!"
Arga tersentak. Dia tahu cara kerja sistem yang dirancang kakeknya. Elina saat ini terhubung secara saraf dengan server pusat Nova-Logic. Jika Siska menyuntikkan virus destruktif melalui jalur transmisi hologram ini, virus itu akan menjalar langsung ke otak Elina melalui neural-link. Siska ingin menghanguskan otak Elina dari jarak jauh.
"Dia ingin membunuh Elina di depan umum untuk membuktikan bahwa teknologi ini tidak aman, lalu mengambil alih kembali kendali atas nama 'keamanan nasional'," desis Arga.
"Kau harus menghancurkan pemancar Siska, Arga! Jika tidak, dalam enam puluh detik, sinkronisasi saraf Elina akan mencapai titik balik dan otaknya akan meledak!"
Arga tidak punya waktu lagi untuk menjadi bayang-bayang. Dia menerjang kerumunan, menyikut orang-orang yang menghalangi jalannya.
"Woi! Pelan-pelan dong!" teriak seorang warga, namun Arga tidak peduli.
Dia melompat melewati pagar pembatas. Penjaga berseragam Winata Group segera menyadari pergerakannya. "Target di sektor empat! Tangkap dia!"
Arga mencabut pistolnya, namun tidak menembak ke arah manusia. Dia menembak ke arah trafo listrik di bawah panggung. Duar! Percikan api meledak, menciptakan kepanikan sesaat. Di tengah kekacauan, Arga berlari mendaki anak tangga panggung.
Siska menoleh, matanya yang penuh dendam berkilat saat melihat Arga. "Kau! Kau seharusnya tetap membusuk di Krakow!"
"Hentikan virusnya, Siska! Kau akan membunuh semua orang jika sistem sarafnya mengalami backload!"
"Biarkan dia mati!" Siska tertawa gila, jarinya menekan tombol eksekusi pada perangkatnya. "Jika aku tidak bisa memiliki dunianya, maka aku akan menghancurkan tuhan yang dia ciptakan!"
Di langit, hologram Elina mulai mengalami distorsi. Wajahnya yang tenang mulai retak, warnanya berubah dari biru suci menjadi merah menyala. Suara Elina yang merdu berubah menjadi jeritan statis yang menyayat hati.
"Ar...ga... to...long..." suara Elina yang asli pecah di tengah gangguan digital.
Arga melompat, menerjang Siska. Mereka berguling di atas panggung megah itu. Lengan prostetik Siska mencengkeram leher Arga dengan kekuatan hidrolik yang luar biasa. Arga merasa oksigennya habis, pandangannya mulai kabur.
"Mati kau, pecundang!" desis Siska.
Arga meraba saku jaketnya, menarik anting perak yang hangus itu. Dengan sisa tenaganya, dia menghujamkan anting tajam itu ke celah sendi lengan prostetik Siska.
Krak!
Sirkuit lengan itu korslet. Cengkeraman Siska melemah. Arga menendang Siska hingga terjatuh, lalu menyambar perangkat kendali yang terlepas. Dia melihat hitungan mundur di layar: 00:03.
Arga tidak menghancurkan alat itu. Dia tahu kode kakeknya. Dia mengetikkan angka: 74291.
Bukan untuk menghapus, tapi untuk mengalihkan beban virus itu ke dirinya sendiri melalui perangkat tersebut.
"Arga, jangan! Itu akan membakar sarafmu!" teriak Nadia lewat earpiece.
"Hanya ini satu-satunya cara, Nadia. Jarak di antara kami... harus aku yang menanggungnya," bisik Arga.
Arga menekan Enter.
Seketika, aliran listrik murni seolah menyambar otak Arga. Dia menjerit saat cahaya putih membutakan matanya. Di langit, hologram Elina kembali stabil, warnanya kembali biru jernih, namun dia menatap ke bawah, ke arah Arga yang kini terkapar di panggung dengan telinga yang mengeluarkan darah.
Hologram Elina merendah, tangannya yang raksasa seolah-olah menyentuh tubuh Arga yang kecil.
"Arga..." bisik Elina, kali ini dengan perasaan yang sangat dalam.
Siska bangkit, hendak menyerang Arga lagi, namun tiba-tiba puluhan drone Nova-Logic turun dari langit, mengunci Siska dengan laser merah.
"Siska Winata," suara Elina bergema di seluruh Monas, kali ini dingin dan mematikan. "Kejahatanmu telah dicatat. Eksekusi aset dimulai sekarang."
Dalam hitungan detik, seluruh layar di Jakarta menampilkan bukti-bukti korupsi Siska yang dikirimkan Arga sebelumnya. Kerumunan yang tadinya memuja, kini berteriak marah ke arah panggung.
Siska mundur, ketakutan melihat massa yang mulai beringas. Dia mencoba lari, namun Nadia muncul dari balik bayangan dan menendang kakinya hingga tersungkur.
Arga terbaring di panggung, napasnya tersengal-sengal. Pandangannya mulai kembali, namun dia merasakan ada yang hilang dalam dirinya. Memori-memorinya tentang Jakarta mulai kabur. Harga yang harus dibayar karena menerima beban virus itu adalah sebagian dari ingatannya.
Hologram Elina menatap Arga untuk terakhir kalinya sebelum perlahan menghilang.
"Terima kasih, Arga. Kau telah memberiku satu alasan lagi untuk tidak menjadi monster. Tapi permainan ini belum selesai. Temui aku di tempat kita pertama kali bertemu, jika kau masih ingat siapa aku."
Arga memejamkan mata saat petugas medis militer mulai mendekat. Di tengah kebisingan Jakarta, dia hanya memikirkan satu hal. Siapa Elina? Dan kenapa hatinya terasa sangat sakit saat menyebut nama itu?