NovelToon NovelToon
Celestia Online

Celestia Online

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Aksi / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: alicea0v

Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC ELTRA-Dansa Di Antara Maut

Di dekat pagar pembatas yang memisahkan jalan umum dengan rumah karantina tempat Eveline disekap, udara malam yang dingin kini dipenuhi oleh ketegangan pekat.

Franscov mengunci pandangan pada sosok Gilbert yang berdiri kokoh di hadapannya. Fokusnya menajam hingga ke tingkat luar biasa.

Pria itu menarik kaki, mengambil posisi kuda-kuda anggun khas kebangsawanan, tangan kirinya terlipat rapi di belakang pinggang, sementara tangan kanan mengangkat bilah pedang, bersiap siaga di depan dada.

"Bisakah kau menyingkir dari sini?" tanya Franscov pelan, suaranya rendah namun menekan.

Alih-alih terintimidasi, Gilbert justru meledak dalam tawa.

"Ahahahaha....!!! Haaah??? Apa aku tidak salah dengar?" ucap sang monster otot. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan telinga seolah sedang mendengarkan lelucon paling konyol abad ini.

Franscov tidak bergeming. matanya masih menatap tajam.

Gilbert menegakkan tubuh, lalu meregangkan otot lehernya ke kiri dan ke kanan.

​Kretak... Kretak...

​Suara persendian yang bergeser terdengar mengerikan di udara.

"Kau pikir sedang berhadapan dengan siapa hah?" Wuuush...!!! Tanpa peringatan, tubuh raksasa Gilbert melesat maju bagai peluru meriam, langsung menerjang ke arah sang Duke.

"Kita selesaikan ini dengan KEKUATAN!!!" Gilbert meraung, mengayunkan tinju raksasanya dari atas kepala, melancarkan serangan menukik.

Namun, Franscov memiliki refleks seorang petarung elit, ia merundukkan tubuh secara presisi. Tinju Gilbert lewat di atas kepalanya beberapa sentimeter, sebelum akhirnya menghantam permukaan tanah di belakang sang Duke.

"Sepertinya tidak ada cara lain." gumam Franscov pelan, lalu melesat maju, mengincar lengan kanan musuh yang masih tertanam di tanah. Sreet!!

Lengan kekar Gilbert terluka di bagian kanan bawah. Franscov langsung melangkah gesit, berputar ke sisi kanan pria itu dengan keanggunan tiada tara.

"Uugh... Keparat...!!!" monster otot itu menggeram kesakitan. Ia segera menolehkan kepala ke arah kanan namun terlambat, Franscov sudah tidak ada di sana.

Sraaak!!! Sebuah sayatan pedang yang dingin kembali merobek udara, kali ini terjadi di sisi kiri. Bahu tebal Gilbert tergores dalam, oleh pedang tajam milik Franscov.

"Ugggh.... Bangsaat!!" ​Gilbert yang mulai kehilangan kendali langsung melayangkan pukulan buta ke sisi kirinya. Namun kepalan tangannya lagi-lagi hanya menghantam tanah kosong hingga menciptakan cekungan baru.

Franscov sudah melompat mundur secara elegan. Gerakan kakinya begitu ritmis dan estetis, ia bagaikan sedang berdansa dengan indah di antara serangan brutal raksasa itu.

Ia mendarat mulus beberapa meter di depan sang monster otot. Jaketnya berkibar sesaat sebelum Franscov kembali mengunci posisinya dalam kuda-kuda bangsawan.

"Bagaimana? Apa kau masih ingin bertarung?" ucap sang Duke menatap Gilbert waspada.

Sementara itu, tak jauh dari arena pertarungan, Guinevere tertegun di tempatnya berdiri. Mata indahnya terbelalak lebar, terpaku pada sosok Franscov.

"Wah... indah... cantik sekali..." bisik gadis itu pelan. Ia terdiam, terpesona oleh cara sang Duke bertarung hingga memunculkan rasa ingin bisa seindah dan seanggun orang itu.

Gilbert masih diam untuk beberapa saat. Tangan kanannya tertahan dalam posisi terakhir, bertumpu di atas tanah. Pria itu menggeram penuh amarah.

"Huuumm.... Apa kau cuma bisa menghindar seperti binatang buruan? LAWAN AKU DENGAN SERIUS!!" raksasa itu menancapkan kedua telapak tangan besarnya jauh ke dalam permukaan tanah.

​Treeek..... Treeek.....

Seketika itu juga, tanah di bawah kaki pria itu retak perlahan. Suara retakan menjalar cepat, mengguncang area di sekitar mereka.

"Haaaah!!!!" Gilbert meraung sembari menyentak kedua tangannya dari dalam bumi. Dua bongkahan tanah dan batu berukuran raksasa menggumpal keras, kini telah berada di dalam cengkeraman tangannya yang perkasa.

"Matilah kau keparaaaat!!!" Wuush...!!! pria itu melemparkan kedua bongkahan tanah raksasa tersebut ke arah Franscov secara bergantian, sebelum akhirnya melompat tinggi membelah udara.

Dua gumpalan tanah padat itu melaju dengan cepat layaknya meteor jatuh. Namun, Franscov tetap menjaga ketenangannya. Ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun.

Ia memutar tubuhnya ke kiri sejenak.

Wuuushh...

Bongkahan pertama melesat lewat, memotong udara hanya beberapa milimeter dari permukaan pakaiannya.

Franscov kembali memutar tubuh ke arah kanan dalam satu gerakan halus.

Swaaash....

Bongkahan batu kedua melesat melewati bahu kirinya, menyisakan jarak beberapa sentimeter saja sebelum menjauh.

Duaaaaaaar!!!!

Kedua gumpalan tanah raksasa itu menghantam deretan rumah penduduk di belakang Franscov. Suara ledakan dan debuman keras menggelegar, menghancurkan dinding bangunan hingga kepulan asap pekat membubung ke angkasa.

Di tengah kehancuran itu, sang Duke tetap bergerak anggun, bagaikan sedang melangsungkan dansa indah di antara maut.

Sang raksasa yang telah melompat tinggi datang dari langit.

Di atas sana, Gilbert mengatupkan kedua tangan besarnya menjadi satu kepalan. Tubuhnya menukik tajam ke bawah, memanfaatkan gravitasi untuk melipat gandakan daya hancur tepat ke arah Franscov.

"Bedebaaaah!!!!" teriaknya marah, pria itu melesat bagai meteorit jatuh dan menghantam posisi sang Duke.

BOOOOM!!!

Sebuah ledakan masif pecah di titik benturan. Tanah di sekitar mereka bergetar hebat layaknya gempa tektonik. Gelombang kejutnya merambat cepat, merusak kestabilan pijakan para prajurit yang sedang bertarung beberapa meter dari sana.

"A... Apa ini?" Seorang prajurit bawahan Franscov yang sedang beradu pedang langsung kehilangan keseimbangan dan terduduk di atas tanah akibat guncangan dahsyat dari serangan mematikan Gilbert.

Begitu pula dengan para Kesatria Gereja, mereka semua terpaku di tempat, seolah-olah kaki mereka telah terkunci oleh rasa takut.

Leon seketika memutar kepalanya ke arah ledakan.

"Tuan duke!!!!" teriak sang kapten. Matanya terbelalak lebar, menatap cemas ke arah gumpalan asap dan debu tebal.

Sssshhh....

Perlahan-lahan, partikel debu di udara mulai menipis. Siluet dari sesosok tubuh raksasa mulai menampakkan diri di sana. Sosok itu berdiri diam, dengan posisi kedua tangan menghantam sesuatu di permukaan tanah.

Semua orang menahan napas, menatap ke arah siluet itu dengan wajah dipenuhi keterkejutan.

Perlahan kabut asap menipis...

"Uhukk..." Franscov terbatuk, setitik darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya kini tergeletak tak berdaya di atas tanah retak. Kedua tangan Gilbert ternyata telah berhasil menghantam telak bagian perut sang Duke.

Hening....

"HAHAHAHA.... MAKHLUK LEMAH SEPERTIMU, MEMANG COCOK BERBARING SEPERTI ITU DI ATAS TANAH!!! HAHAHAHAHA!!!" tawa kepuasan menggelegar. Gilbert tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi mengerikan, berdiri di atas tubuh Franscov yang tak berdaya.

"Huuumm" Grab!!! tangan raksasa monster itu bergerak mencengkeram seluruh wajah dan kepala sang Duke, lalu mengangkat tubuh pria itu ke udara.

Franscov perlahan membuka matanya, menatap wajah Gilbert. Rasa sakit yang menyengat terus menjalar dari perutnya.

"Haaa!!!" pria otot itu menarik tangan kirinya ke belakang dan melayangkan satu pukulan mentah berkekuatan penuh tepat ke arah ulu hati sang Duke.

Bummm!!! "Uuughhh!!!!" Franscov mengerang kesakitan.

Detik berikutnya, cengkeraman Gilbert terlepas dan tubuh Franscov melesat cepat ke belakang bagai anak panah, sebelum akhirnya menghantam dinding batu rumah penduduk.

Debu dan kerikil berterbangan di udara...

"Uhukk!!!" Franscov terbatuk kecil, memuntahkan sisa darah dari tenggorokan. Tatapan matanya mulai meredup, sayu, sebelum akhirnya merosot jatuh ke atas tanah.

"Hah...!!!" Guinevere spontan menutup mulut dengan kedua tangan. Lututnya gemetar hebat hingga ia terduduk lemas di tempatnya berdiri.

"Menyedihkan sekali.." ucap pria berkacamata dingin, ia berdiri di dekat podium. Matanya menatap tajam ke arah puing bangunan tempat Franscov terkapar.

"Hiaaaah!!!" tap.. tap.. tap.. Leon berlari dengan kecepatan penuh menuju posisi Gilbert, menggenggam erat pedang yang masih memancarkan pendaran cahaya.

Gilbert menolehkan kepalanya perlahan, menatap Leon dengan pandangan merendahkan.

"Hahaha... seberapa banyak pun kalian, kalian tetaplah mangsa bagiku." ucapnya penuh percaya diri.

Jarak antara Leon dan sang Kesatria Suci raksasa kian terkikis.

"Apa yang kau lakukan???" Leon berteriak. Ia melompat tinggi ke udara, mengayunkan pedang cahayanya ke bawah.

"PADA TUAN DUKEEE!!" sang kapten menebaskan senjata dalam satu garis lurus mematikan.

Gilbert dengan sombong mengangkat lengan kanan kekarnya untuk menahan tebasan pedang tersebut secara langsung.

Swaaash!!!

Hening....

DRRRR....!!!!

Detik berikutnya, Lengan kanan raksasa milik Gilbert mendadak lepas dan jatuh berdebam ke atas tanah. Bilah pedang cahaya milik Leon telah memotong daging dan tulang dalam satu tebasan.

"aaaaH... AAAAH... Bajingan kau... Uuuh... Aaaaa" pria itu menjerit histeris oleh rasa sakit. Tangan kirinya bergerak panik mencoba menekan lengan yang terus menyemburkan darah segar.

Tanpa membuang waktu, Leon langsung memutar tubuhnya di udara, melanjutkan rangkaian serangan berikutnya, mengincar langsung leher pria raksasa tersebut Traang!!!

Serangan itu mendadak terhenti. Gumpalan tulang yang diselimuti oleh aura berwarna ungu muncul secara instan, menahan tebasan pedang sang kapten tepat di depan wajah Gilbert yang masih mengerang kesakitan.

Rangkaian tulang tajam dan runcing lainnya mencuat dari dalam tanah di dekat kaki Leon, melesat ke atas bagaikan deretan bilah pedang yang siap mengoyak tubuh.

"Uhhhh" Leon secara refleks memutar pedangnya, menangkis serbuan tulang mendadak itu sekuat tenaga. Namun, daya dorong dari sihir tersebut terlalu kuat.

Tubuh sang kapten terpental mundur beberapa meter ke belakang, menjauhkannya secara paksa dari posisi Gilbert.

"Apa?" Leon mendarat di atas tanah, Ia langsung merendahkan tubuh, memasang sikap waspada.

Sementara itu, Gilbert masih terus mengerang, memegangi lengannya yang putus.

"Aaaah... Uuuhm... Tolong aku...!!! Jangan diam saja penyihir BANGSAT!!!" bentak pria itu sembari mengerang kesakitan.

Perlahan kabut hitam pekat muncul, menyelimuti potongan tangan Gilbert yang tergeletak di atas tanah. Kabut itu bergerak hidup, merayap perlahan menaiki tubuhnya, dan menempel di bagian lengan.

Secara tidak masuk akal, potongan tangan pria itu terangkat dari atas tanah.

Pelan namun pasti...

Seolah ditarik oleh benang-benang magis tak kasat mata, kedua bagian lengan Gilbert yang terputus mulai menyatu dan tersambung kembali.

Mata Leon terbelalak menyaksikan fenomena sihir di hadapannya.

"Ini... ukhh.." rahang sang kapten mengeras.

"Kau terlalu banyak bermain-main, Gilbert. Cepatlah selesaikan ini." ucap pria berkacamata di belakang sang monster, tangannya menggenggam tongkat sihir erat, memancarkan sisa-sisa mana kegelapan.

"DIAM KAU NYX!!" Gilbert kembali meraung liar sembari menggoyangkan tangan kanannya yang baru saja tersambung,

"Jangan terlalu banyak di gerakkan, nanti putus lagi." ucap pria bernama Nyx itu datar, seolah tidak peduli.

"Cih.. Keparat kalian semua!!" pria otot itu menggeram, emosinya kini terbakar oleh amarah.

Di sisi lain, lima orang prajurit Franscov yang tersisa, seketika tersentak mundur. Wajah-wajah mereka memucat, diliputi kengerian luar biasa setelah melihat sihir aneh dan tabu di depan mata kepala mereka sendiri.

"Apa.. Apaan itu?"

"Dia bukan manusia..."

"Kita harus melindungi Duke"

Dengan tangan gemetar memegang senjata, kelima prajurit itu secara refleks memposisikan diri di depan tubuh Franscov yang masih terbaring di atas tanah.

Mendengar suara pasukannya, sang Duke mencoba sekuat tenaga untuk bangkit.

"Uuugh... dia..." sambil mencengkeram tanah, ia mendudukkan tubuh perlahan. Seluruh badannya gemetar hebat, namun matanya menatap tajam ke arah Gilbert yang sedang memulihkan diri.

"Duke!!! Anda tidak apa-apa?" Leon segera menghampiri tuannya, Ia berlutut di dekat Franscov, melingkarkan tangan untuk menopang tubuh sang Duke, raut wajahnya dipenuhi rasa khawatir.

"Leon... kita harus menyelamatkan eveline.... beri aku waktu memulihkan kekuatanku uhuk...." sang Duke kembali terbatuk, memuntahkan darah segar sekali lagi.

"Tuan!!! Anda harus beristirahat!" suara Leon bergetar hebat.

"Tidak... aku tidak akan berhenti, sebelum istriku aman." meskipun tatapan mata Franscov mulai sayu dan redup, pria itu tetap mengunci sosok raksasa besar di hadapannya dengan pandangan membunuh. Tidak ada sedikit pun ketakutan disana.

Leon terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat wajah tuannya yang bersimbah darah, Perlahan, sang kapten menundukkan kepala.

"Baiklah tuan... aku akan mengikutimu sampai akhir." pria itu berdiri tegak, gerakannya pelan. Lalu memutar tubuh menghadap kembali ke arah Gilbert. Semangat bertarung terpancar jelas dari mata Leon.

Melihat hal itu, sang raksasa otot justru menyeringai kejam.

"Bagus... sekarang aku bisa mematahkan lengan dan kakimu.." ucap pria itu, rasa haus akan pertarungan terpancar di wajahnya.

"Cepatlah selesaikan, aku sudah bosan berada disini." Nyx mulai mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi, memejamkan mata, dan merapalkan mantra. Ia mengarahkan ujung tongkatnya ke arah bangunan karantina di belakang.

"Kegelapan.. bawalah jiwa-jiwa yang sesat menuju kehancuran..."

"Hentikan dia!!" Franscov seketika berteriak memberi perintah, sembari mempertahankan posisi berlutut.

Leon langsung melesat bagai badai ke arah sang penyihir. Pedang cahaya di genggaman, bersinar terang benderang di setiap derap langkah kakinya yang memacu cepat.

"Berhenti!!!" ucap sang kapten, mengerahkan seluruh kecepatannya. Namun, sebelum ia berhasil mencapai Nyx, tubuh raksasa Gilbert berdiri tegak memblokade jalan.

"Kau mengabaikanku, bajingan?" pria raksasa itu merentangkan kedua tangan, menutup seluruh ruang gerak sang kapten menuju penyihir yang masih terus merapalkan mantra.

Jarak Leon kian terkikis. Dengan satu sentakan kaki, ia melompat tinggi ke udara, mengayunkan pedang cahayanya dalam lintasan melengkung, mengincar leher Gilbert dari kiri ke kanan.

"Hiaaah!"

Traaaang!!!! Ssssh....!!!!

Sesuatu yang mustahil terjadi...

Bilah pedang cahaya milik Leon yang seharusnya mampu membelah baja setebal apa pun, kini mendadak terhenti di kulit leher sang monster otot, menyisakan suara gesekan logam.

​Leher Gilbert hanya tergores tipis, sebuah luka dari goresan pisau kecil, matanya menatap dingin ke arah Leon yang masih melayang di udara.

"[High skill: Impenetrable Body]" bisik pria raksasa itu, geramannya rendah, menatap Leon dengan amarah.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Leon untuk mendarat, tangan raksasa Gilbert melesat maju, mencengkeram kuat leher sang kapten.

Grab!!

"Aaakh...!!" Leon mengerang, tubuhnya terangkat tinggi ke udara akibat cengkeraman berkekuatan monster tersebut.

"Hahahahaha... kau pikir kau bisa menebas ku dua kali??" tanya Gilbert merendahkan, wajahnya berada sangat dekat dengan Leon.

"Jangan di gerakkan terlalu banyak!" Tiba-tiba suara ketus Nyx menyela dari arah belakang, sebelum kembali fokus merapalkan bait-bait sihirnya.

"DIAAAM KAU PENYIHIR SIALAN, LAKUKAN SAJA TUGASMU!!" Gilbert refleks berbalik, mengamuk kesal pada rekannya sendiri.

Memanfaatkan kelengahan itu, Leon mulai meronta-ronta dengan sisa tenaganya. Ia memukul, menusuk, dan berusaha menyayat lengan Gilbert menggunakan pedangnya.

Namun, lengan raksasa itu kini telah diselimuti oleh aura kuning keemasan, sebuah pelindung yang membuat kulit sang monster menjadi lebih keras dari baja terkuat di dunia. Semua serangan Leon memental sia-sia.

Gilbert kembali memfokuskan pandangannya pada Leon.

"Kau sudah lihat perbedaan kita, kan? Yang kuat akan menang... " sang raksasa mengayunkan tangannya, melempar tubuh Leon tinggi-tinggi ke atas langit.

"Uggh... " tubuh Leon melayang bebas di udara. Di milidetik berikutnya, Gilbert menekuk lututnya lalu melompat menyusul ke atas.

"Dan yang lemah... Harus matiiii!!!" dengan raungan liar, Gilbert melayangkan tinju berkekuatan penuh tepat ke arah perut Leon yang tak terlindungi.

Braaak!!! Seketika itu juga, bunyi benturan besi zirah penyok dan hancur menggema di udara. Tubuh Leon terhempas jatuh ke atas tanah dengan kecepatan tinggi, menciptakan hantaman yang menggetarkan permukaan bumi.

Pupil mata sang kapten melebar sempurna.

"Uhahahaha HAHAHAHHA!!!!" sebelum debu sempat mereda, Gilbert menukik jatuh, mencengkeram satu kaki Leon yang masih tergeletak lemas di atas tanah.

Dengan satu ayunan lengan 180 derajat, ia membanting tubuh sang kapten ke arah kanan sekuat-kuatnya.

Bum!

Leon menghantam tanah. Belum sempat tubuh itu berhenti memantul, Gilbert kembali memutar poros tubuhnya, mengayunkan pria lemas itu 180 derajat ke arah kiri.

BOOOM... !!!

Tanah hancur berantakan. Debu dan kerikil berterbangan tinggi ke udara, menjadi saksi bisu betapa fatalnya kerusakan yang diterima sang kapten, Leon telah kehilangan kesadaran.

Franscov terdiam, menyaksikan bagaimana kesatria setianya diperlakukan bagaikan boneka kain yang rusak oleh monster tersebut.

Namun, kebungkaman sang Duke bukanlah karena takut, melainkan kemarahan terpendam dan meluap-luap.

"Ahahahahaha.... Ahahahaha!!" sang raksasa kembali tertawa dalam kegilaan.

Tiba-tiba, di tengah tawa Gilbert, suara melengking seorang gadis terdengar dari belakang.

"Hentikan!!!"

Pria otot itu menghentikan gerakannya, menolehkan kepala ke asal suara. Di sana, Guinevere tampak terduduk lemas di atas tanah sembari menutup mulut dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Hentikan Gilbert!! Dia sudah tidak bisa bertarung lagi!" ucap gadis itu gemetar.

"Huh? Beraninya kau menghentikanku?" Gilbert mendengus kasar. Ia membuka cengkeramannya, membiarkan kaki Leon terlepas begitu saja dan terkapar tak bergerak di atas tanah.

Dengan langkah lambat dan terasa berat, raksasa itu membalikkan tubuh dan berjalan mendekati Guinevere.

Duk... Duk... Duk...

Ia menghentikan langkah tepat di depan gadis itu.

"Apa kau lupa? Alasan kau ada disini, huh? Gadis baru?" tanya Gilbert.

Guinevere hanya bisa menundukkan kepala. Seluruh tubuh mungilnya bergetar hebat, gadis itu tidak lagi memiliki keberanian ataupun kata-kata untuk membalas sang raksasa kesatria Suci.

Di sisi lain medan pertempuran, Nyx telah menyelesaikan bait terakhir dari rapalannya.

"[Mid magic: Dark Flame]"

Sebuah lingkaran sihir dengan pola geometris terpancar di sekeliling ujung tongkatnya. Detik berikutnya, dari pusat lingkaran sihir tersebut, semburan api berwarna ungu pekat melesat, langsung menerjang ke arah rumah karantina.

Api terkutuk itu menyentuh atap, merusak dinding kayu, dan melahap pintu utama bangunan tersebut. Dalam hitungan singkat, rumah karantina itu kini mulai dilalap oleh kobaran api ungu.

DEG... DEG...

Franscov yang menyaksikan itu merasakan sesuatu di dalam dirinya. Dengan sisa-sisa tenaga, ia perlahan menegakkan tubuh kembali, berdiri tegak di atas kedua kakinya. Mata pria itu memancarkan amarah, menusuk lurus ke arah barisan Kesatria Suci di depannya.

Sang Duke mulai melangkah pelan, berat namun pasti, melewati kelima prajuritnya. Ia Mendekati tubuh Leon yang tergeletak di tanah, tanpa sekali pun memutuskan pandangan tajam dari sosok Gilbert.

Sang raksasa menoleh kembali ke arah Franscov. Sebuah seringai kejam kembali merekah di wajahnya.

"Masih hidup, rupanya... baiklah... selanjutnya aku pastikan kau mati." pria otot itu melangkah pelan, mengikis jarak menuju sang Duke.

Sebuah perintah bernada tinggi memotong dari arah podium. Itu adalah suara sang Uskup Agung yang sejak awal hanya mengawasi dari ketinggian.

"Jangan bunuh dia, dia masih berguna bagi.."

Belum sempat pria tua itu menyelesaikan kalimat, Gilbert telah meledakkan suaranya.

"DIAMLAH BANGSAT!! KALAU BUKAN KARENA TUAN LUSPUTH AKU SUDAH MEMATAHKAN LEHERMU!!" teriak Gilbert, yang seketika membuat Uskup itu terduduk lemas di atas podium.

"Ma... ma... maaf... " Uskup itu merangkak mundur.

Sang raksasa kembali memutar tubuh, menatap Franscov yang kini telah berdiri kokoh di hadapannya.

"Baiklah... mari kita selesaikan ini, binatang!"

Seringai akan hasrat membunuh kembali terpancar jelas di wajah Gilbert, siap menghancurkan sisa-sisa perlawanan sang Duke.

1
Ryu
kok gak dilanjut /Frown/
T28J
hiatus kah ini
T28J
Action yang bagus ... Garrick suka 👍👍👍
alicea0v: makasih kak, bisa di bayangin di kepala kah?
total 1 replies
The Ironheart
☺️
alicea0v: apa? Grrrrr
total 1 replies
Katekiii
Sorry kak alice telat baca aku... 😅
alicea0v: gpp kak 🤭🤭🤭
total 1 replies
Not Not
novel kontrak yang bagus👍 aku harap aku tidak menemukan di platform lain
alicea0v: makasih Noveltroon
total 3 replies
Not Not
kak coba baca novel ku mungkin itu lumayan membantu untuk menulis Action bab 6 dan 7 keknya cukup
alicea0v: boleh kak
total 1 replies
Not Not
lebih baik lengan aja yang tergores kak jangan tangan kekar👍
alicea0v: baikk
total 1 replies
Not Not
lebih baik show don't tell kak👍
alicea0v: makasih kakak
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bisa kok untuk menghancurkan... sebar ribuan bibit pohon di kota musuh, lalu tumbuhkan semua pohonnya jadi sangat sangat besar sampai kotanya hancur karena akar dan barang pohonnya😈
Manusia Ikan 🫪: gk papa, selama bukan pohon sawit-
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
ah itu matanya aja yang rusak🙈
Manusia Ikan 🫪: 🤫huttttt
total 2 replies
Not Not
semangat /Determined/
alicea0v: boleh kak, sabar ya masih ada kerjaan
total 3 replies
T28J
Garrick membaca adegan pertarungan itu sambil menyandarkan palu mekanisnya di bahu.

“Lumayan...”

Tiga tebasan. Gerakan bersih. Presisi bagus.

Tapi alisnya malah berkerut. “Kurang brutal.”

Ia menunjuk bagian Leon memotong para kesatria suci itu. “Harusnya masih ada suara tulang retak ... atau minimal satu lawan dilempar menembus pagar.”

Garrick menghela napas panjang seperti benar-benar kecewa. “Kalau next chapter masih sopan begini … biar aku sendiri yang ngajarin Leon cara bertarung.”

Senyum tipis muncul di wajahnya, yang justru terlihat lebih berbahaya.

“Habis itu baru kita lihat… siapa yang masih berani maju.”

—Garrick, si pengguna HammerHOOD (Hydraulic Overdrive Obliteration Device)
T28J: martil siapa itu jatuh dari langit 🤣🤣
total 4 replies
Katekiii
Lanjut Kak Alice
alicea0v: makasih kakak 🙏😍
total 1 replies
Katekiii
Woylah Uskup nya minta di sentil anj, bisa² nya di bilang kutukan dewa
alicea0v: sabar kak🤭
total 1 replies
Not Not
Semangat /Smirk/🙌
alicea0v: makasih kak Eng.. eng.... avatar kah? 🤭
total 1 replies
T28J
buset, kebablasan bah, jauh banget 20 meter 🤣
alicea0v: Eh, Kejauhan kah🤭🤭🤭 gomenasaai..
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
aku akan selalu mendukungmu/Rose/
Manusia Ikan 🫪
TUH SUDAH AKU DUGA DARI AWAL CHAPTER 🤣
Manusia Ikan 🫪: insting ku ini cukup kuat loh/Doge/
tidak ada yang kebetulan untuk nama author dan MC yang sama... kecuali keduanya saling terhubung🥴
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
inilah tantangannya :v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!