Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Sudah sedikit mencair
Dengan langkah tegas, A masuk kembali ke dalam ruangan Annasya. Tempat di mana seseorang sudah berani menabuh genderang perang pada keluarganya, terutama istrinya.
A membuka pintu. Pria itu duduk di kursi di dampingi dua bodyguard Azzam. Tadi masih security yang mengamankan . Tapi begitu Azzam mengantar Annasya ke mobil, dua pria berbaju hitam dengan postur tinggi besar itu datang menggantikan tugas security.
Pak Heri terkejut, begitupun keluarga tuan Irfan yang lain nya, termasuk adik laki laki pak Heri karena kedatangan dua pria besar itu. Berulang kali mereka menanyakan siapa keduanya, tapi bodyguard itu tidak menyahut.
Azzam muncul. Ia sudah melepas jas dan menggulung lengan kemejanya hingga siku. Tidak ada senyum apalagi sapaan. Rahangnya mengeras dan kaku, kedua alisnya berkerut dengan tatapan tajam pada satu arah. Laki laki yang sudah memukul istrinya.
" Lepaskan !" Perintah Azzam masih sementara berjalan dan berjarak kurang lebih lima meter dari pak Heri.
Anak buah A melepaskan pegangan nya dari pundak pak Heri.
Langkahnya ia percepat dan _ ' bugh.'
Pak Heri terlempar bersama kursinya setelah Azzam memberikan tendangan yang cukup keras.
" Hei, apa apaan kau. Kau siapa? Kenapa melukai kakak ku ? " Suara kicauan adik pak Heri . Meneriaki Azzam yang menurutnya berlaku kasar pada sang kakak.
Azzam tidak menjawab. Ia justru mendekati pak Heri yang terlihat susah payah untuk bangkit.
Kemudian, Azzam kembali memberikan hadiah untuk pak Heri tanpa perlu menunggu ia berdiri. Kali ini bukan lagi kaki, A menghajar pak Heri habis habisan hingga siapapun tidak akan mengenali wajah nya . Babak belur. A menjadikan pak Heri samsak tinju .
Hingga pak Heri pingsan dengan wajah penuh luka. A mengusap tangan nya yang berdarah menggunakan sapu tangan yang ia ambil dari saku kemeja nya.
Pak Heri di bawa anak buah A ke ruang IGD. Sementara itu adik pak Heri nampak ketakutan apalagi setelah A menatap nya tajam. Seolah olah, netra amber itu mengatakan, ' sekarang giliran mu. '
A menghampiri adik pak Heri.
" Almarhum ayah mu, Irfan Baskara . Aku yang akan menanggung semua biaya pemakaman nya. " Ujar A, lalu berlalu pergi.
Adik pak Heri menelan ludah nya kasar . Tatapan A benar benar seperti seorang pembunuh bayaran yang membuat adik pak Heri merinding ketakutan.
" Di_dia siapa ? " Tanya nya terbata pada seorang perawat yang berdiri tidak jauh dari nya.
Perawat itu menghela nafas kasar. " Sebenarnya, apa yang kalian cari ? Kasian almarhum tuan Irfan. Kalian menyalahkan SOP kami dalam menangani tuan Irfan, namun anda salah besar. Tidak ada satupun kesalahan yang kami lakukan sebagai tuduhan melenyapkan nyawa tuan Irfan. Seharusnya kalian tidak bertingkah . Dokter Annasya, adalah dokter bedah saraf terbaik yang di miliki Brawijaya. Beliau bekerja super hati hati dan penuh disiplin. "
Adik pak Heri tertunduk lemas. " Saya sadar, jika kepergian ayah kami bukanlah kesalahan pihak rumah sakit."
" Syukurlah kalau anda mengerti."
" Tapi, pria tadi hampir membunuh Kakak ku, dan yang itu saya tidak bisa terima. "
" Anda mau meminta pertanggungjawaban?"
" Tentu saja. "
" Anda yakin? "
" Memangnya kenapa ? "
" Pria tadi, yang memukul kakak anda, ruangan nya di lantai paling atas gedung ini. Lift untuk keruangan nya ada di sebelah sana. Saya bisa menemani, tapi sebatas di depan lift saja, untuk masuk , saya minta maaf. saya tidak berani. "
" Baiklah, biar saya yang pergi sendiri. "
Perawat itu kembali memberikan informasi penting. " Jika anda sudah sampai di atas, silahkan belok ke kanan, di sana anda akan menemukan pintu, dan di depan pintu itu ada plang nama besar tertulis ' Presdir '. "
Adik pak Heri kelihatan bingung, tidak bisa mencerna kata kata perawat dengan baik. " Maksud nya ?"
" Beliau adalah bos kami, Tuan Azzam, CEO Brawijaya. Dan dokter yang di tampar kakak anda tadi adalah istri nya. Jadi wajar kan jika tuan Azzam marah besar ?
" A_apa ? Ja_ jadi yang tadi itu, tuan Azzam Brawijaya?"
Perawat mengangguk.
Seketika, penglihatan adik pak Heri berkunang kunang, oleng, dan berakhir menyusul pak Heri ke ruang gawat darurat. Ia pingsan.
*
*
Kediaman Magnolia.
Rumah sepi, Abi dan umi sedang ada acara . Jadi, tinggal Annasya yang duduk termenung di depan TV. Suara tawa yang berasal dari dalam layar besar itu tak kunjung membuatnya turut bergembira.
" Pak Heri sedang menjalani perawatan, luka di wajah dan tubuhnya mendapat banyak jahitan. Tadi nya saya pikir, dia akan mati , dok ."
Lima menit lalu, Annasya menghubungi Melan. Dan jawaban Melan benar benar membuat Annasya syok. Karena gugup , ia mulai menggigit ujung ujung kukunya. " Alhamdulillah dia selamat, bagaimana jadinya kalau dia meninggal ? Aku tidak bisa membayangkan." Gumam Annasya di penuhi ketakutannya sendiri.
" Tapi, kenapa bisa dia tiba tiba muncul ? "
Annasya kepikiran dengan A, perasaan pria itu masih berada di Dubai saat ia menelponnya semalam.
" Ah, sudahlah, aku mengantuk. "
Akhirnya Annasya beranjak menuju kamar nya di lantai dua.
Di ujung tangga, ia bertemu A. Netra mereka bersitatap, saling menyelami isi kepala masing masing, hingga Azzam lah yang memutus tatapan itu.
Azzam bingung, memulai dari mana berbicara dengan Annasya. Namun, saat Annasya tertunduk dan melihat tangan A yang terluka, ia panik.
Ia meraih tangan A. " Tangan mu terluka. "
A tidak menjawab, ia justru sedang menikmati wajah panik Annasya.
" Sini biar aku obati. "
Tanpa sadar, Annasya menarik tangan A , menaiki puluhan anak tangga dengan perasaan was was. Sementara itu, A menurut saja. Ia menatap tangan nya yang di pegang Annasya sembari mengulas senyum samar.
Pintu kamar terbuka, di dalam ruangan persegi yang cukup luas itu, Annasya mulai sadar dengan kebodohannya. Di saat pintu tertutup, dan ia hanya berdua dengan A , Annasya mulai merasa risih. Seketika ia melepas tangan A yang sejak tadi ia pegang.
" Ma_ af. " Ucapnya terasa begitu canggung.
A tersenyum tipis, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa panjang.
" Apa yang kamu tunggu ? "
" Ha..." Annasya melongo , ia lupa tujuan awalnya membawa A ke kamar.
A mengangkat tangannya yang terluka. " Tadi kamu bilang mau mengobati ku."
" Oh_ iya, aku lupa. "
Annasya buru buru meraih kotak di lemari. Kemudian meletakkan kotak itu di atas meja dan duduk di sebelah A.
Ia meraih dan meletakkan lengan A di atas pahanya. Dengan telaten dan penuh kehati hatian, Annasya membersihkan sisa sisa darah di ruas buku buku jemari A.
Sesekali ia nampak meniup tangan A yang yang sudah di olesi salep. Setiap gerakan yang di lakukan Annasya tak satupun yang luput dari netra amber itu.
Jantung A berdegup kencang, sentuhan sentuhan lembut tangan Annasya menorehkan gelenyar aneh dalam hati nya.
" Selesai." Ucap Annasya setelah membalut luka A. Hasil karya nya yang begitu rapi tak tertampik jika ia memanglah seorang dokter bedah. " Jangan kena air dulu, takut lukanya basah dan penyembuhannya jadi lama."
A menatap intens wajah teduh Annasya. " Terima kasih."
" Sama sama ." Ujar nya tersenyum manis.
Deg..
( Tidak, ada apa dengan jantung ku ? Sepertinya aku harus menemui Zizi. Aku perlu konseling dari nya.)
Otak dan anggota tubuh A mulai tidak sinkron. Otaknya melarang, namun tangannya tidak dapat ia cegah.
Ia kini memegang pipi kanan Annasya. Mengusap pipi itu lembut dengan gerakan menggeser ibu jari nya berulang kali.
" A_apa yang kamu lakukan ? " Tanya Annasya .
" Oh_"
A menarik tangan nya . Ia heran sendiri dengan apa yang baru saja ia lakukan.
" Pipi mu membiru. Apa masih sakit ? "
...****************...
abi dan umi juga tau kalau mereka sudah ada rasa tapi cara mengungkapkannya bingung bagaimana memulainya
semoga kedepannya A bahagia seperti ummi dan abinya....
KLO untuk azima apa yaa, JD penasaran