Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri kesempatan
"Hai!"
Tiba-tiba saja, Aufar muncul di depan Aliya secara mengejutkan. Aliya hampir jantungan dibuatnya. Perempuan itu tampak memegang dadanya. Wajahnya sedikit jengkel saat menatap Aufar.
"Kak, ngagetin aja, sih," protes Aliya.
"Masa' gitu doang kaget sih, Al?" balas Aufar.
"Soalnya Kak Aufar muncul tiba-tiba, sih. Siapa yang nggak kaget, coba?"
Aliya memasang tampang cemberut. Entah kenapa, jika didepan Aufar, dirinya bisa benar-benar lepas.
Entah bersikap manja atau dewasa, Aliya bebas mengekspresikan dirinya.
"Ya elah, Al! Namanya juga bercanda. Masa' gitu doang ngambek?"
Aliya tak menggubris perkataan pria itu. Diletakkannya keranjang berisi roti didepan etalase kemudian mulai menyusunnya dengan barisan rapi satu persatu.
"Malam ini, nonton, yuk!" ajak Aufar.
"Kak Aufar yang traktir!?" tanya Aliya antusias. Tiba-tiba saja, dia lupa dengan kekesalannya barusan.
"Iya dong. Kan, aku yang ngajakin,"jawab Aufar.
"Oke, kalau gitu. Aku mau," sahut Aliya bersemangat.
Perempuan itu tersenyum senang. Aufar yang melihatnya juga merasa ikut senang.
Bisa dekat dengan Aliya serta mengobrol lepas berdua adalah sesuatu yang sudah sedari dulu Aufar impikan.
Baginya, Aliya adalah kebahagian. Melihatnya dari jauh bisa membuatnya bahagia. Melihatnya dari dekat, ternyata jauh lebih bahagia.
Dulu, Aufar hanya bisa menyembunyikan perasaannya secara diam-diam. Tapi, kini... Dia ingin memperlihatkannya secara terang-terangan. Aufar ingin menjadi obat untuk Aliya. Aufar ingin menjadi alasan untuk Aliya agar bisa jatuh cinta lagi.
"Ehm... Aliya," panggil Aufar kemudian. Tatapannya cerah, penuh arti.
"Kenapa?" tanya Aliya.
Dia masih sibuk menyusun roti-rotinya.
"Kamu cantik."
Degh!
Aliya menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh dengan kelopak mata yang sedikit bergetar.
"Hah?"
"Aku bilang, kamu cantik. Apalagi, kalau lagi mode serius gini. Aku paling suka lihat kamu pas lagi fokus nyusun roti-roti itu ditempatnya."
Aliya reflek menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Aufar sukses membuatnya salah tingkah.
Jika hatinya sembuh secepat ini, apakah dia bersalah?
Jika hatinya bisa sebahagia ini, dosakah dia?
Namun, pada akhirnya, Aliya mencoba untuk tidak terlalu senang. Dia takut, luka yang belum sepenuhnya sembuh kembali terkoyak lagi.
"Kak Aufar ngomong apa, sih?" tanya Aliya yang berusaha menetralkan kembali perasaannya.
"Nggak ngomong apa-apa. Cuma ngomongin fakta aja," jawabnya.
Aliya kembali memasang tembok yang tinggi padahal sebelumnya sudah sedikit menurunkan pertahanan dirinya. Pelan, Aufar memang bisa menyusup secara diam-diam ke dalam hati Aliya. Namun, terkadang Aufar merasa jika masih ada sedikit penolakan dari Aliya.
"Jangan suka muji aku, Kak. Nanti, aku besar kepala."
"Kalau kepala kamu jadi besar, berarti badan kamu juga harus dibuat besar biar seimbang."
Mata Aliya seketika mendelik. "Kak, jangan bercanda!"
"Yeeee... Siapa yang bercanda," balas Aufar.
Aliya berdecak sebal. Dia meninju bahu Aufar dengan sedikit keras.
"Wah, belum nikah tapi udah KDRT aja, Al," kata Aufar seraya memegangi bahunya.
"Dih, siapa juga yang mau nikah sama Kak Aufar?" balas Aliya.
"Kamu nggak mau?" tanya Aufar. Wajahnya sedikit mendekat ke arah Aliya.
"Nggak," geleng Aliya tanpa berani menatap wajah pria itu.
"Tapi, aku mau loh nikah sama kamu."
Degh!
Lagi, jantung Aliya terasa berdegup kencang. Pipinya mulai memerah.
"Kak Aufar ngomong apa, sih?"
Aliya berniat menghindar. Namun, Aufar malah memegangi pergelangan tangannya.
"Al, kasih aku satu kesempatan."
Kini, tatapan jenaka itu sudah menghilang. Yang ada di mata Aufar kini hanya keseriusan. Sesuatu yang tidak main-main.
"Ke-kesempatan apa?" tanya Aliya yang berpura-pura tidak mengerti.
"Bahagiain kamu," jawab Aufar.
Dan, Aliya hanya bisa terdiam seribu bahasa. Bukankah... ini terlalu cepat?
coba Lo nyesel setengah Modarrrr kan Lo
bas ya begitulah hukuman buat laki laki yang suka menyepelekan cinta wanita ,,,,,padahal Aliya kurang apa berpendidikan juga cantik,,,, berdoalah semoga Alisa mau membukan hati nya buat mu❤️,,,
. walau pernah kecelakaan namun hati kalau sudah terpaut sukar berpaling,namun Ibas tidak.Berarti mereka tidak berjodoh.
sedikit melawan lah ini belum malah sudah memaki,,,sedang menantu nya baik dan sayang sama kedua orang tua suaminya,