NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gunting Lemuria & Peluncuran Darurat

Lokasi: Bunker Obsidian, Dasar Palung Weber.

Waktu: 13.25 WIT

[DEPTH: 7.420 Meters…]

Konsol melingkar di tengah ruangan heksagonal itu berpendar biru memantulkan wajah tegang Dimas dan Sarah dari balik kaca helm titanium mereka.

Di atas konsol, benda logam yang menyerupai alat tenun kuno itu melayang statis. Ribuan jarum kristal berukuran mikroskopis di dalamnya berputar membentuk pola geometri suci, mengurai untaian cahaya menjadi ketiadaan. “Gunting” Lemuria—antitesis dari kekuatan merajut Sang Penenun.

“Gimana cara kita bawa ini?” Suara Sarah terdengar mendengung cemas di interkom. “Kalau kita cabut paksa dari konsolnya, energi pelindungnya bisa meledak.”

Dimas melangkah mendekat. Sebagai Archivist, instingnya dalam menangani artefak kuno lebih tajam dari mesin pemindai mana pun. Ia melihat tidak ada tombol mekanis atau kabel pada konsol tersebut.

“Lemuria nggak pakai listrik, Sar. Mereka pakai resonansi bio-elektrik,” Dimas mengangkat tangan kanannya yang dibalut Pressure-Resistant Gauntlet. Pendaran hijau dari batu Giok di telapak tangannya menyala redup. “Benda ini nunggu ‘Sidik Jari’ spiritual.”

Dimas menempelkan telapak tangan besinya yang bersinar hijau itu tepat di atas konsol, beberapa sentimeter di bawah alat tenun yang melayang.

Ia memejamkan mata, membiarkan energi Chi dari tubuhnya mengalir masuk ke dalam sirkuit batu purba tersebut. Ia mengatur napasnya ke frekuensi yang tenang, mengirimkan sinyal “Aku bukan ancaman, aku adalah pewaris.”

Konsol obsidian itu merespons. Bunyi dengungan rendah bergema di air. Jarum-jarum kristal pada alat tenun itu mulai melipat ke dalam dirinya sendiri dengan mekanisme pengerutan spasial yang mustahil dijelaskan oleh fisika modern. Benda yang tadinya berukuran sebesar koper itu menyusut, melipat menjadi sebuah silinder logam padat seukuran tabung gambar arsitek.

Silinder itu jatuh dengan bunyi klanting halus ke atas konsol.

“Bisa dibawa,” Dimas segera meraih silinder itu, lalu mengaitkannya ke sabuk kargo magnetik di pinggang exosuit-nya. “Ayo keluar. Kita harus mengejar dewa gila itu sebelum dia sampai ke permukaan.”

Dimas dan Sarah berjalan menuju pintu bunker seberat puluhan ton. Dimas kembali menggunakan tenaga hidrolik lengan bajunya untuk menggeser pintu obsidian itu.

KREEEEKK…

Begitu celah pintu terbuka, pemandangan di luar membuat darah mereka membeku.

Lokasi: Eksterior Kota Lemuria.

Kubah hitam yang tadinya berada di tengah kota telah hancur total. Sang Penenun sudah tidak ada di dasar laut. Entitas itu telah melesat naik menuju permukaan.

Namun, pergerakan makhluk kosmik sebesar itu menciptakan efek samping hidrodinamik yang brutal. Tarikan massanya menciptakan Arus Updraft (arus naik vertikal) raksasa—sebuah tornado air bawah laut. Lumpur abisal, sisa-sisa pilar kristal, dan bangkai kepiting laba-laba tersedot ke atas berputar-putar dalam pusaran air yang menggelapkan sisa jarak pandang mereka.

“Sensor navigasiku kacau balau!” Teriak Sarah ditengah deru arus yang memekakkan telinga. Exosuit-nya bergetar hebat saat ia melangkah keluar dari bunker. “Arus naiknya mencapai 30 knot! Kalau kita terbawa pusaran ini, kita bakal dibanting ke dinding palung!”

“Baruna-01 jaraknya cuma seratus meter di sebelah kanan kita!” Dimas menunjuk dengan lampu sorot dibahunya. Di kejauhan, lampu merah darurat dari kapal selam mereka berkedip redup menembus badai lumpur.

“Pegang tanganku! Nyalakan jangkar magnetik di sepatumu!” Perintah Dimas.

CLANG! CLANG!

Elektromagnet di sol sepatu titanium mereka aktif, mengengkeram lapisan sedimen padat di bawah lumpur. Mereka mulai berjalan. Setiap langkah adalah pertarungan melawan hisapan tornado air raksasa di atas mereka.

Tiga puluh meter. Empat puluh meter.

Tiba-tiba, alarm merah berbunyi nyaring di helm Sarah.

BIP! BİP! BİP!

“WARNING. INTEGRITAS BAHU KIRI MENURUN KRITIS. 60%.”

“Dim!” Jerit Sarah panik. “Tambalan epoxy-nya retak lagi! Arus ini terlalu kuat narik lengan bajuku!”

Dimas menoleh. Ia bisa melihat gelembung-gelembung udara mikroskopis mulai bocor dari engsel bahu kiri Sarah. Jika gelembung itu keluar, berarti air mulai masuk mencari jalan. Tekanan 700 ATM sedang berusaha menghancurkan istrinya.

Dimas tidak berpikir dua kali. Ia melepaskan jangkar magnetik sepatunya, membiarkan arus menyeretnya satu langkah kebelakang hingga tubuh besinya membentur punggung Sarah.

Dimas memeluk bahu kiri Sarah dari belakang menggunakan kedua lengan exosuit-nya, secara harfiah bertindak sebagai penahan fisik tambahan untuk engsel yang retak tersebut.

“Jalan, Sar! Aku tahan bajumu!” Teriak Dimas, otot-otot aslinya di dalam baju selam menjerit karena harus menahan tarikan hidrolik.

Sarah menggertakkan giginya. Ia memfokuskan seluruh tenaga mesin kakinya untuk melangkah menyeret bobot Dimas sekaligus. CLANG. CLANG. CLANG. Mereka berjuang menembus badai abisal.

Sepuluh meter. Lima meter.

Tangan kanan Sarah akhirnya berhasil meraih tuas palka airlock di perut Baruna-01. Ia menariknya sekuat tenaga.

Palka terbuka. Sarah menarik Dimas masuk bersamanya ke dalam ruang kedap air yang sempit itu. Ia memukul tombol Emergency Close dengan kepalan besinya.

BLAM!

Palka bawah tertutup kedap. Pompa bertekanan tinggi langsung menyala dengan raungan keras, menguras air laut es dari dalam airlock dan menggantinya dengan udara.

Air surut dalam waktu dua puluh detik yang terasa seperti seabad.

Begitu indikator tekanan udara internal menunjukkan warna hijau (1 ATM), Dimas dan Sarah langsung memutar tuas pengunci helm mereka secara bersamaan.

PSSSHH!

Helm titanium terlepas. Keduanya menghirup udara kabin banyak-banyak, terbatuk-batuk dan bersimbah keringat basah. Sarah segera melepaskan pengait dada exosuit-nya, melangkah keluar dari baju zirah besi itu dengan kaki gemetar. Bahu kirinya memar ungu pekat akibat tekanan mekanis bajunya yang nyaris gagal, tapi kulitnya utuh. Dia selamat.

Dimas menyusul keluar dari exosuit-nya. Ia mencium pucuk kepala Sarah kilat, lalu tanpa banyak bicara, keduanya langsung memanjat tangga vertikal menuju kokpit utama Baruna-01.

Lokasi: Kokpit Baruna-01.

Waktu: 13.35 WIT.

Dimas membanting tubuhnya ke kursi ko-pilot, mengusap wajahnya yang pucat.

Sarah langsung duduk di kursi pilot, jari-jarinya yang telanjang terbang di atas konsol kendali layar sentuh. Ia menyalakan reaktor utama. Lampu kabin kembali menyala terang benderang.

“Kita nggak bisa ngejar makhluk itu pakai kecepatan pendakian normal,” kata Sarah, matanya menatap tajam ke layar sonar yang menunjukkan satu blok warna merah masif bergerak menjauh ke atas. “Dia naik 100 meter per detik. Di luar nalar aerodinamika air.”

“Gimana caranya kapal ini bisa lebih cepat dari itu?” Tanya Dimas, menempatkan silinder “Gunting Lemuria” ke dalam kompartemen aman di sebelahnya.

“Kita buang semua beban. Kita ubah kapal selam ini menjadi roket air,” jawab Sarah. Tangannya bergerak ke tuas mekanis darurat berpenutup kaca merah di tengah konsol.

Sarah memecahkan kaca penutup itu dengan sikutnya.

“Aku akan melakukan Emergency Blow (Pembuangan Balas Darurat),” jelas Sarah tegas. “Aku membuang semua air di tangki pemberat dan mengisinya dengan udara bertekanan maksimal dalam satu detik. Ditambah pendorong vertikal 120%. Kapal ini bakal melesat ke atas seperti gabus yang ditekan di dasar ember.’’

“Resikonya?”

“Gaya gravitasi (G-Force) yang narik kita ke atas bakal bikin kita pingsan kalau kita nggak nahan napas yang bener. Dan kalau kita nabrak puing dijalan… kita hancur berkeping-keping.”

Sarah menatap Dimas, mencari persetujuan di mata suaminya.

Dimas menarik sabuk pengaman lima titiknya hingga terkunci rapat di dada. Ia tersenyum miring, sebuah senyum nekat yang sangat dibenci sekaligus dicintai oleh Sarah.

“Terbanglah, Kapten,”

Sarah menarik tuas merah itu ke bawah dengan sekuat tenaga.

WUUUUUSSSSSSHHHHH!!!!

Suara udara bertekanan tinggi meledak dari tangki lambung kapal, memuntahkan ribuan galon air dalam sekejap.

Baruna-01 bergetar hebat hingga gigi mereka bergemeretak. Lalu, gravitasi terasa seolah terbalik. Tubuh Dimas dan Sarah terhenyak keras ke kursi mereka saat kapal selam berbentuk bola itu melesat vertikal ke atas dengan kecepatan peluru.

Layar indikator kedalaman berputar gila-gilaan.

[DEPTH: 7.000m… 6.500m… 5.800m…]

Pemandangan diluar jendela akrilik berubah menjadi garis-garis blur putih dari gelembung udara mereka sendiri. Kapal itu menerobos pusaran updraft dengan kekuatan mesin murni.

“Kita mengejar kecepatannya!” Teriak Sarah, matanya terpaku pada layar radar tiga dimensi. “Jarak dengan target: 2.000 meter vertikal!”

Di layar sonar, “Sang Penenun” digambarkan bukan sebagai ikan, melainkan sebagai badai anomali. Di manapun makhluk itu lewat, suhu air anjlok, dan gelombang suara terdistorsi.

“Peringatan! Anomali Spasial terdeteksi di lintasan target!” Suara komputer Baruna-01 berbunyi.

Melalui layar kamera atas kapal selam, Dimas dan Sarah melihat kengerian kemampuan Sang Penenun di perairan terbuka,

Benang-benang cahaya perak raksasa dari entitas itu menyapu lautan diatasnya. Kawanan ikan laut dalam yang tak sengaja tersapu benang itu tidak mati berdarah. Tubuh ikan-ikan itu meleleh menjadi cairan cahaya, lalu dirajut ulang menjadi gumpalan daging berwujud asimetris yang tidak memiliki mata atau mulut, hanya meronta-ronta sesaat sebelum hancur karena tekanan air.

Sang Penenun sedang mengubah lautan menjadi mimpi buruk.

“Dia ngerubah hukum materi di lautan!” Dimas mengepalkan tangannya. “Kalau dia sampai ke permukaan dan benang itu nyentuh pulau atau kapal RV Nusantara… daratan kita bakal dihapus dan dijadiin kanvas daging alien!”

[DEPTH: 4.000m… 3.500m…]

Mereka telah melewati Zona Abisal dan masuk ke dalam Zona Tengah Malam (Batipelagik). Kecepatan naik mereka sangat brutal. Suhu di dalam kabin meningkat karena gesekan mesin yang overheating.

“Kita udah dekat!” Lapor Sarah. “Jarak 500 meter di bawahnya! Kita tepat berada di ekornya!”

Tiba-tiba, sonar peringatan kembali menjerit. BIP! BIP! BIP!

“Target melambat!” Mata Sarah membelalak.

Sang Penenun, yang tadinya melesat ke atas, tiba-tiba menghentikan lajunya secara absolut di kedalaman 2.000 meter. Makhluk itu memutar “tubuh” nya ke bawah, menghadap langsung ke arah kapal selam kuning yang sedang melesat bak roket ke arahnya.

Entitas kosmik itu menyadari ia sedang diikuti oleh nyamuk besi,

Jutaan benang perak meluncur ke bawah, membentuk jaring cahaya yang sangat rapat selebar lapangan sepak bola, siap menyongsong dan “menghapus” kapal Baruna-01 beserta penumpangnya menjadi ketiadaan.

“Sar! Dia bikin jaring!” Teriak Dimas, melihat maut bercahaya perak itu menutupi seluruh jendela atas kapal.

“Kita melaju terlalu cepat! Rem hidrolik nggak akan mempan nahan momentum Emergency Blow!” Keringat dingin membasahi wajah Sarah. Kematian hanya berjarak lima detik lagi.

Kapal selam peluru itu meluncur lurus menuju mesin penghapus realita.

Dimas langsung mencabut Pressure-Resistant Gauntlet-nya, membuangnya ke lantai, dan menyambar silinder Gunting Lemuria dari samping kursinya. Ia tidak peduli kapal ini akan hancur atau tidak. Ia adalah The Archivist.

“Sar, putar haluan kapal 45 derajat! Kasih aku sudut tembak langsung ke jendela atas!”

Sarah membanting kemudi tongkat rias (joystick) sekuat tenaga, memiringkan kapal selam itu secara ekstrem.

Dimas mengarahkan silinder Lemuria itu lurus ke arah jendela kaca akrilik, berhadapan langsung dengan jaring maut yang akan menelan mereka dalam hitungan detik.

1
Felycia R. Fernandez
jadi ingat film barat aku nonton ,mereka sekeluarga diserang kepiting karena air laut nya menguap...kepiting di laut mendatangi kapal mereka...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!