semua yang kulakukan selama ini ternyata tidak berarti apapun bagi mereka,orang yang kuhormati,kusayangi dan kucintai mengkhianati ku begitu saja.
menyaksikan kematian ku seperti pertunjukkan yang menghibur mereka,aku sungguh bodoh...
memilih mereka yang tidak memilih ku..yang hanya memanfaatkan ku..aku menyesal...
aku tidak menerima takdir ini....aku menolak...
aku meminta pembalasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HartaKarun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Makan malam disajikan satu persatu,namun Meisya tidak melihat makanan kesukaannya yang ada malah makanan yang sangat ia benci.
“Apakah tidak ada sayuran brokoli?”tanya Meisya pada pelayan yang menghidangkan makanan
“Maaf nona,kami lupa untuk membeli sayuran itu kemarin”
“baiklah jika tidak ada”
“Tidak ada yang kamu suka Meisya,kamu bisa menyuruh koki untuk membuatkan makanan yang baru”ujar Devan dengan mata yang penuh kekhawatiran menatap meisya.
Meisya merasa hati nya menghangat dengan perhatian Devan,”tidak usah,aku makan yang ada saja”
Devan tersenyum,lalu ia memberikan udang yang sudah ia kupas kulitnya ke piring Meisya,”makanlah udang ini,ini sangat enak.kamu pasti menyukainya”
Meisya menatap udang itu dengan sedikit jijik,namun karena Devan sudah bersusah payah mengupaskan untuknya ia akan memakannya.sedari kecil ia tidak menyukai olahan laut manapun,ia hanya suka makan banyak sayuran apalagi brokoli.
Ana yang berdiri disamping pintu menatap kasihan pada nonanya,bahkan belum sampai satu hari nonanya menerima semua hal yang tidak ia sukai,ia tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya nonanya nantinya.
“Aku sudah kenyang,aku merasa sedikit lelah.bolehkan aku beristirahat dulu?”Meisya berkata sambil menahan perutnya yang mual.
“Baiklah,selamat malam”
Setelah menerima ucapan itu,Meisya berlari ke kamarnya,ia membuka kamar mandi dan memuntahkan makanan yang ia makan.
“Nona…”cemas Ana,ia mengelus punggung Meisya
“Seharusnya anda menolak saja nona,lihatlah akibatnya”
“Ana,nanti saja mengomelnya”jawab Meisya dengan suara lemah,ini membuat Ana tidak tega untuk mengomel.
Sejak hari itu,makanan,perilaku dan kebiasaan yang dimiliki Meisya perlahan demi perlahan diubah oleh Devan,ia akan melakukan itu hingga meisya menjadi pengganti yang sempurna.
Ana sudah ingin mengadukan apa yang diterima meisya disini pada kakek dan neneknya,namun nonanya itu memohon padanya agar tidak memberi tahu.
Lalu perilaku Devan semakin menjadi-jadi,ia membatasi kegiatan Meisya,meminta Meisya memutuskan hubungan pertemanannya dengan orang-orang yang tidak Devan sukai dan Devan beralasan bahwa mereka-mereka itu akan membawa pengaruh yang buruk untuk Meisya.
Meisya yang sudah kecintaan pun hanya bisa menuruti Devan,bagaimanapun Devan nanti akan menjadi suaminya,tidak ada salahnya untuk mendengarkan permintaannya dari sekarang.akibat nya,Meisya kehilangan semua teman nya,ini membuat ia menjadi kurang semangat untuk berkuliah.
Lalu devan membujuk nya untuk pindah jurusan dan mengambil kelas bisnis.Meisya merasa ragu namun Devan meyakinkannya berkali-kali hingga ia luluh.namun ternyata pindah ke jurusan bisnis sangat menyiksa dirinya,ia akui ia tidak terlalu pintar jadi ia sering sekali kesulitan untuk memahami pelajarannya.
Hal ini membuat meisya menjadi stres dan tertekan,ia pun memberanikan diri untuk berbicara dengan Devan.
“Devan,bisakah kita berbicara?”pinta Meisya saat Devan baru pulang dari kantor.
“Oh tentu”Devan mengarahkan Meisya untuk berbicara di sofa.
“Itu….bisakah aku berhenti kuliah?”Meisya berbicara dengan lirih yang masih terdengar oleh Devan,sikapnya juga tampak gugup.
Wajah Devan mendatar,”berhenti kuliah?apa masalahnya?jika kamu tidak cocok dengan lingkungannya,dengan dosen atau teman sekelasnya aku akan memindahkan mu ke kampus lain”
Perkataan Devan malah membuat Meisya semakin gugup,”kurasa aku memang tidak cocok untuk kuliah”ia menunduk
“Itu hanya karena kamu kurang berusaha meisya”
“Apa?”meisya memandang Devan dengan terkejut
Devan mengangkat alisnya,”bukankah yang aku katakan itu benar,kamu terlalu dimanja oleh kakek dan nenekmu.masalah sepele seperti ini saja kamu tidak bisa menangani.bagaimana nantinya kamu menjadi Nyonya Atmajaya”
Ucapan Devan terngiang-ngiang di kepala Meisya,ia sudah melakukan semua usahanya namun tetap saja tidak bisa,ia menjadi semakin takut perilakunya ini akan membuat Devan meninggalkan nya.
“Kamu akan tetap kuliah,kamu mendengarkan ku?”Meisya mengangguk-angguk,ia harus bisa menahan sedikit penderitaan ini agar nantinya bisa bersanding dengan Devan.
“Bagus,jangan membicarakan hal bodoh seperti ini lagi”Devan meninggalkan Meisya dengan langkah lebar,rahangnya mengeras tampak menahan luapan emosinya.
Meisya semakin merasa bersalah pada Devan,ia membuat Devan kecewa dengan sikap lemahnya.