NovelToon NovelToon
Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:132.8k
Nilai: 5
Nama Author: ShasaVinta

Tak pernah terpikirkan bagi Owen jika dirinya akan menikah dengan selebgram bar-bar semacam Tessa. Bahkan di sini dialah yang memaksa Tessa agar mau menikahinya. Semua ia lakukan hanya agar Tessa membatalkan niatnya untuk menggugurkan kandungannya.

Setelah keduanya menikah, Tessa akhirnya melahirkan seorang putri yang mereka beri nama Ayasya. Kehadiran Ayasya, perlahan-lahan menghilangkan percekcokan yang awalnya sering terjadi di antara Tessa dan Owen. Kemudian menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya.

Empat tahun telah berlalu, satu rahasia besar akhirnya terungkap. Seorang pria tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ayah biologis Ayasya.

Bagaimana kelanjutan rumah tangga Owen dan Tessa?

Apakah Ayasya akan lebih memilih pria yang mengaku sebagai ayah biologisnya dibanding Owen, ayah yang merawatnya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Tak pernah akur

“Permisi, Bu …”

Seorang perawat wanita masuk lebih dulu ke ruang perawatan Aya di susul seorang dokter pria yang berjalan di belakangnya.

“Waktunya Aya diperiksa oleh dokter,” ucap perawat itu.

Ibu Damira menelan salivanya saat melihat tatapan aneh dari Si Perawat. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah perawat tersebut melihat apa yang telah ia lakukan pada Tessa.

Bagaimana jika dia melihat dan memberitahu Owen? Batin Bu Damira.

Apalagi Ayasya masih saja menangis dan Tessa juga masih sesenggukan. Bu Damira semakin cemas, bisa saja perbuatannya sampai ke telinga putranya.

“Loh … Aya kenapa menangis, Bu?” tanya Dokter itu dengan ramah.

“Entahlah Dok, mungkin Aya mengantuk.”

Jawaban Tessa membuat Bu Damira sedikit bisa bernapas lega. Ia pikir, menantu murahannya itu akan membeberkan kejadian sebenarnya.

“Oh, begitu. Memang sudah biasa kok, anak-anak kalau mengantuk jadi lebih rewel,” komentar dokter.

“Ibu jangan terlalu khawatir, ya. Jangan ikutan nangis juga, Bu. Nanti Aya-nya malah makin sedih dan nangisnya nggak berhenti,” lanjutnya.

“Eh, oh, iya Dok.” Tessa nampak gugup saat dokter mengomentari dirinya. Padahal ia sudah mengusap sisa-sisa buliran air matanya. Rupanya, tetap saja dokter tahu jika dirinya baru saja menangis.

“Maklumlah, Dok … menantu saya ini memang berhati lembut,” celetuk Bu Damira.

Ia sengaja berdiri di sisi Tessa. Satu tangannya merangkul pundak menantunya dan mencengkeramnya erat. Salah satu sudut bibirnya tertarik saat ia menoleh dan tersenyum pada Tessa.

“Benar kan Tes, kau tadi ikut menangis karena sedih melihat Aya terus menangis?”

Tessa yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya bisa menahan agar tak meringis karena sakit yang ia rasa di pundaknya. Ia memaksakan senyumnya lalu mengangguk untuk membenarkan ucapan Ibu Mertuanya.

Dokter dan perawat pun akhirya tergelak. “Tak apa Bu, kami paham kok. Sangat wajar jika seorang Ibu bersedih karena putra atau putrinya menangis,” ujar Dokter.

“Tapi jangan berlama-lama ya, Bu. Sama seperti orang tua yang sedih saat melihat anaknya menangis, begitu juga dengan anak-anak. Mereka akan ikut sedih saat melihat ayah atau ibunya bersedih,” lanjutnya.

Tessa mengangguk, “Baik, Dok.” Kembali ia paksakan senyumnya.

“Sekarang tolong Bu Tessa baringkan Aya,” pinta dokter.

Tessa segera melakukan apa yang diminta Dokter. Dalam hatinya ia bersyukur, dengan begitu ia bisa menjauh dari ibu mertuanya.

Masih sama seperti sebelumnya, Aya yang tadinya sudah mulai tenang kembali menjerit. Ia menangis saat Tessa merebahkannya di atas hospital bed.

Dokter dibantu perawat segera melakukan pemeriksaan. Setelah itu membiarkan Aya kembali digendong oleh sang Bunda.

Sebelum pergi, Dokter memberitahu Tessa mengenai hasil tes laboratorium. Ayasya … benar, menderita penyakit demam berdarah.

...…...

Sementara di bagian poliklinik, di rumah sakit yang sama, Owen merasa jika dirinya sangat sulit berkonsentrasi untuk bekerja. Beberapa kali ia meminta perawat untuk menahan antrian sesaat, karena ia harus membasuh wajahnya agar segar kembali.

Putrinya yang sedang sakit, ditambah masalah dengan istrinya yang belum selesai memenuhi isi kepala Owen. Setiap detik ia berdoa agar antrian pasien lebih cepat berkurang, sehingga dia bisa lebih cepat kembali menemui anak dan istrinya.

“Permisi, Dok.” Perawat yang saat ini bertugas mendampinginya, memberikan lembaran hasil tes laboratorium.

“Ini salinan hasil tes laboratorium putri Anda,” ucapnya.

“Terima kasih, Sus,” ucap Owen. “Beri aku waktu lima menit untuk membaca hasil lab putriku. Setelah itu kamu bisa panggil pasien selanjutnya,” pinta Owen.

“Baik, Dok.” Perawat pun pamit undur diri setelah paham dengan instruksi yang diberikan Owen.

Owen mulai membaca tulisan yang tertera di lembaran tersebut. Ayasya Putri Swan, gumamnya dalam hati membaca nama putrinya.

Senyumnya mengembang manakala ia mengingat bagaimana Tessa mengejek dirinya saat tahu ia menyematkan nama Swan di belakang nama putrinya.

‘Apakah kamu menyukai dongeng Swan Lake? Jangan katakan jika kamu bermimpi ingin menjadi seperti Pangeran Siegfried?’

Tanya Tessa kala itu disusul gelak tawanya. Sesaat sebelum Tessa melahirkan, keduanya memang telah sepakat jika bayi mereka laki-laki maka Tessa yang akan memberikan nama. Namun jika bayi mereka perempuan, maka Owen yang memiliki kewenangan untuk memberikan nama.

‘Dongeng Swan Lake? Bagaimana kisahnya? Sejujurnya, aku tak suka membaca dongeng. Pangeran Siegfried? Siapa dia? Apakah dia pangeran yang gagah berani? Jika Iya, berarti aku tak harus bermimpi untuk menjadi sepertinya. Lihatlah, aku memang seperti itu,’ balas Owen dengan menyombongkan dirinya.

‘Apakah kau memang tak tahu kisah dongen Swan Lake?’ tanya Tessa lagi kala itu. Sepertinya saat itu Tessa meragukan pengakuan Owen yang tak mengetahui kisah dongeng yang terkenal di seluruh penjuru dunia.

Owen hanya mengangguk menjawab pertanyaan Tessa. Tak ia duga, respon Tessa kala itu sangat berlebihan. Wanita yang saat itu baru saja melahirkan, menganga dengan mata yang membola menatap Owen.

‘Dongeng itu sangat terkenal. Bahkan sering kali ada pertunjukan balet yang mengisakhkan cerita dongeng Swan Lake.’

Saat Tessa menjelaskan, Owen hanya mengangguk saja. Ia sungguh tak tertarik. Kala itu, bayi mungil yang digendong oleh Tessa jauh lebih menarik perhatiannya.

‘Lalu, mengapa memberi nama Swan? Apakah ada arti khusus?’ tanya Tessa yang penasaran dengan arti nama putrinya.

Owen mengangguk dengan bersemangat. ‘Swan itu kuambil dari singkatan nama kita berdua. Jadi nama putri itu itu, Ayasya Putri Tessa dan Owen,’ jelas Owen.

Mendengar penjelasan itu, bukannya kagum Tessa malah semakin tergelak. Owen bahkan masih mengingat bagaimana Tessa yang tertawa begitu lepas, padahal beberapa jam sebelumnya wanita itu tak hentinya menangis dan meringis saat berjuang melahirkan putrinya.

‘Swan singkatan Tessa dan Owen? Maksa kali kamu, Bang.’ Ledek Tessa.

Senyum Owen mengembang mengingat momen-momen kebersamaannya dengan sang istri. Tak ia tampik, jika sejak hari pertama kehadiran Ayasya, merupakan hari pertama dimana dinding pembatas yang ia bangun antara dirinya dan Tessa mulai ia robohkan.

Owen melanjutkan membaca lembaran hasil lab di hadapannya. Baru saja tadi ia diangkat tinggi, melayang saat mengingat momen bahagia bersama Tessa dan Aya, kini rasanya Owen bagai dihempaskan dengan keras.

Dadanya terasa sesak saat membaca keterangan mengenai golongan darah Aya yang berbeda dengannya. Satu baris kalimat itu, seakan menamparnya. Sebuah fakta yang tak akan pernah bisa ia ubah dengan cara apa pun.

Owen yang sedang bergelut dengan pikirannya tak menyadari jika kini perawat kembali masuk ke dalam ruangannya. “Dok … Dok!” Serunya.

“Eh, iya!” Jawab Owen.

“Maaf jika saya mengejutkan Anda. Tapi apa boleh saya lanjut memanggil antrian pasien?”

“Ah! Benar juga, maaf. Silakan Sus, tolong panggil antrian selanjutnya,” pinta Owen.

...…...

Detik berganti menit. Menit pun berganti jam. Hari sudah sangat siang saat Owen selesai memeriksa seluruh antrian pasien. Kini saatnya beristirahat dan mengakhiri sesi prakteknya.

Owen bergegas kembali ke ruang rawat putrinya dengan membawa beberapa kotak makanan. Ia yakin istrinya pasti belum makan siang.

Setibanya di ruang rawat putrinya. Owen begitu sedih saat melihat putrinya itu masih saja terus menangis. Namun yang membuatnya heran adalah mata sembab istrinya.

Owen meletakkan makan siang yang ia bawa ke atas meja. Ia bergegas mengganti pakaiannya, dan menghampiri Istrinya. “Mau bergantian?” tawarnya.

“Kamu makan sianglah lebih dulu,” ucap Owen.

Tessa mengangguk karena sesungguhnya memang ia sangat lapar. Namun baru saja hendak memindahkan Aya ke gendongan Owen, celetukan Ibu Damira menghentikannya.

“Dasar istri manja! Tak tahu diri kamu!” Bu Damira menghina Tessa.

“Suami capek, pulang kerja cari nafkah, harusnya di urusin. Bukannya malah kamu ngasih kerjaan lagi,” oceh Bu Damira.

“Bu … sudahlah, lagian ini juga karena kondisinya Aya lagi sakit. Sebagai orang tua, kami berdua dituntut untuk lebih pandai bekerjasama dalam keadaan tak terduga seperti ini,” ucap Owen.

“Kamu itu, terus saja bela istrimu. Dia jadi ngelunjak,” ungkap Bu Damira.

“Dia jadi tak menghargaiku sebagai ibumu, sebagai ibu mertuanya,” imbuhnya.

“Bu … kumohon, berhenti!” Tegur Owen dengan tegas.

“Oke, Ibu akan berhenti. Ibu hanya sakit hati karena tadi istrimu itu mengusir ibu.”

“Usir? Aku tak pernah melakukan itu. Aku tak pernah mengusirmu, Bu.” Tessa membela diri. Ia tak terima jika Ibu mertuanya memfitnah dirinya.

“Mana ada pencuri yang mau ngaku,” ucap Bu Damira.

“Astaga, Ibu … mengapa Ibu berbohong dan memfitnahku,” balas Tessa. “Bang, kamu percayakan padaku?”

“Bang, kamu tahu kan, aku tak mungkin melakukan itu,” ujar Tessa pada Owen.

“Cih, aku muak melihatmu bersandiwara. Dasar wanita licik!” Geram Bu Damira.

Kepala Owen rasanya akan pecah. Ia cukup lelah, pasien cukup banyak hari ini. Lalu kini ia harus mendengar tangisan Aya. Ditambah lagi dengan Istri dan Ibunya yang tak berhenti berdebat.

Owen tak bisa lagi menahan diri. “Berhenti!” Bentak Owen membuat Istri dan Ibunya diam seketika.

Tok .. Tok .. Tok ….

Dan terdengar lagi suara ketukan di pintu. Owen menghela napas berat.

Siapa kali ini yang datang? Semoga tak akan membuat keadaan semakin kacau , batin Owen.

...————————...

1
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
akhirnya setelah melalui beragam.rintangan kebahagian itu datang juga...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
benarkah???
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
keguguran keknya...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
saatnya kamu panen apa yg kamu tanam nawra...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
good job ben.. wis alih profesi jd aktor aja ...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
hhmmm gmn buuuu calon menantunya hamil anak laki lain mboh siapa bapaknya.....
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
iiihh dasar ben sedeng 11 12 sm.nawra
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
mungkiniah owen diauruh danira bertanggung jawab pd nawra? kalo.iya .. angel wis angel....
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
weh dasar nawra stress berat menjurus depresi... dah bawa aja nawra ke rsj...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
kok.melu panas bacanya 🙈🙈
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
sabar owen dengerin penjelasan alfio dl... tp jgn syok ya nanti...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
mereka lg sibuk anu bang alfio 🤭😅😅✌
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
wis waktunya bezuk debay 🤭😅😅✌✌
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
yah danira gampang pisan dihasut nawra... bgtulah kalo di hatinya tertanam kebencian ga punya pendirian ..
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
makanya alfio jan krn ambisi/nap su ingin bertemu/ merebut ayasya sembarangan milih patner kan runyam...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
ben ga usah kepo gitu urus aja urusan sendiri gmn caranya tobat dr maksiat...
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
tessa menikah dg owen stelah melahirkan bkn saat hamil.. makanya ben jgn mudah percaya sm omongan nawra
🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸
ben percaya sama nawra.. syirik 🤭😅😅✌✌
nawra wanita licik, ben..
☠༄⃞⃟⚡𝙼𝙰ᶠᵉⁿᶦ𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅
Ye akhirnya happy ending. selamat ya tes doa dan harapan akhirnya tercapai dengan smua kejadian yang sudah kamu lalui akhirnya bisa berakhir bahagia.

wah alfio serius kamu suka ama qanita aunty dari putri mu, takdir cinta seseorang ga ada yang tau sih ya.

kak shasa setelah ini kasih bonchap kak pengen tau momen tessa melahirkan anak kedua nya, pengen tau raut bahagia dari owen, aya dan semua menyambut kelahiran adik nya aya...
zhA_ yUy𝓪∆𝚛z
mewek betulan lah aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!