"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Malam setelah hukuman pelukan posesif itu meninggalkan jejak kelelahan yang luar biasa di wajah Zoya.
Namun, pagi ini, suasana di penthouse terasa berbeda. Tidak ada suara langkah kaki tegas Arvin yang biasanya menggema di koridor menuju ruang makan. Keheningan itu terasa berat, seolah-olah udara sedang menahan napas.
Zoya melangkah menuju kamar utama dengan ragu. Sejak insiden foto di perpustakaan, ia merasa seperti berjalan di atas kulit telur. Setiap gerakannya harus diperhitungkan.
Namun, nalurinya sebagai seorang istri mengalahkan rasa takutnya ketika ia melihat pintu kamar Arvin masih tertutup rapat, padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, jam di mana Arvin biasanya sudah berada di kantor untuk memimpin rapat direksi.
Saat pintu dibuka perlahan, Zoya menemukan Arvin masih terbaring di bawah selimut tebalnya. Wajahnya yang biasanya terpahat sempurna dan dingin kini tampak pucat, dengan rona merah yang tidak wajar di sekitar pipi dan dahi. Napasnya pendek-pendek dan berat.
Zoya mendekat, lalu memberanikan diri menyentuh dahi Arvin.
"Ya Allah, panas sekali..." bisik Zoya.
Arvin jatuh sakit lagi. Bukan karena tifus kali ini, melainkan karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Selama berhari-hari, pria itu nyaris tidak tidur.
Ia bekerja belasan jam di kantor, dan sisanya ia habiskan untuk menatap layar ponselnya, memantau titik biru GPS Zoya, memastikan istrinya tetap berada dalam radius yang ia izinkan, dan memelototi setiap rekaman CCTV yang dikirimkan oleh supir pribadinya.
Posesivitas telah memakan habis energinya sendiri.
Zoya segera mengambil air hangat dan handuk kecil. Meski hatinya masih terasa perih akibat sebutan barang dan perlakuan kasar Arvin kemarin, Zoya tidak bisa meninggalkan pria itu dalam kondisi seperti ini.
Dengan telaten, ia mengompres dahi Arvin, mengganti pakaian suaminya yang basah oleh keringat dingin, dan menyiapkan bubur hangat.
Arvin mulai mengigau. Tubuhnya menggigil di balik selimut meski suhu ruangan sudah disesuaikan. Tangannya bergerak gelisah di atas kasur, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.
"Zoya... jangan pergi..." gumam Arvin, suaranya sangat serak dan nyaris tidak terdengar.
Zoya yang sedang memeras handuk tertegun. Ia duduk di tepi ranjang, menatap pria yang selama ini selalu tampak tak terkalahkan. Di saat sakit seperti ini, Arvin tampak seperti anak kecil yang ketakutan.
"Aku di sini, Tuan," bisik Zoya lembut, tangannya mengusap rambut Arvin yang berantakan.
Tiba-tiba, tangan Arvin yang panas menyambar pergelangan tangan Zoya. Cengkeramannya tidak sekuat biasanya, namun terasa sangat putus asa. Mata Arvin terbuka sedikit, sayu dan tidak fokus karena pengaruh demam tinggi.
"Pria itu... kenapa kau tertawa bersamanya?" Arvin bergumam dalam igauannya, air mata tanpa sadar merembes dari sudut matanya yang terpejam. "Apakah aku tidak cukup? Apakah rumah ini terlalu sempit untukmu?"
Zoya merasa dadanya sesak. "Tuan, tidak ada siapa-siapa selain kamu..."
Arvin menarik tangan Zoya lebih dekat ke dadanya, mendekapnya erat seolah takut Zoya akan menguap begitu saja.
"Tetaplah di sini... jangan pernah lihat pria itu lagi. Hanya aku yang boleh ada di matamu. Jangan biarkan dia menyentuhmu... aku bisa gila, Zoya... aku bisa mati kalau kau pergi..."
Kalimat itu menghujam pertahanan Zoya. Untuk sesaat, Zoya merasa ingin memaafkan segalanya. Ia melihat luka yang sangat dalam di balik sikap posesif Arvin. Ia melihat seorang pria yang begitu trauma akan kehilangan hingga ia tidak tahu cara mencintai selain dengan cara mengekang.
Zoya meneteskan air mata, ia membungkuk dan membisikkan doa-doa di telinga Arvin sampai pria itu kembali tertidur pulas dalam pengaruh obat penurun panas.
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk dengan cerah. Arvin membuka matanya, merasa tubuhnya jauh lebih ringan meski masih sedikit lemas. Ingatannya tentang malam tadi samar-samar, ia ingat rasa dingin handuk di dahinya, aroma menenangkan dari cadar Zoya, dan perasaan aman yang luar biasa.
Ia melihat Zoya yang tertidur dengan posisi duduk di kursi samping tempat tidurnya, kepalanya tersandar di tangannya sendiri di tepi ranjang.
Arvin menatap wajah tertutup itu lama sekali. Perasaan hangat menjalar di dadanya. Ia tahu ia telah mengatakan banyak hal memalukan saat demam tadi. Namun, saat kesadarannya kembali pulih sepenuhnya, begitu pula dengan egonya yang setinggi langit.
Arvin berdehem keras, sengaja membuat suara untuk membangunkan Zoya.
Zoya tersentak bangun, segera menyesuaikan posisi cadarnya. "Tuan? Alhamdulillah, kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu? Apa masih pusing?"
Arvin duduk bersandar, memasang kembali wajah datarnya yang sedingin es. "Aku baik-baik saja. Kenapa kau masih di sini? Kau tidak kuliah?"
Zoya tertegun dengan perubahan sikap Arvin yang begitu drastis. "Aku ingin memastikan suhu tubuhmu stabil dulu, Tuan. Tadi malam... Kau sangat gelisah. Kau bicara banyak hal."
Rahang Arvin mengeras. "Bicara apa? Aku hanya mengigau karena demam. Jangan anggap serius apa pun yang keluar dari mulut orang yang sedang tidak sadar."
Zoya menatap Arvin dengan tatapan terluka. "Kau bilang, bahwa kau takut aku pergi. Kamu bilang aku hanya boleh melihatmu saja. Apakah itu juga hanya igauan yang tidak berarti, Tuan?"
Arvin mendengus sinis, ia memalingkan wajahnya agar Zoya tidak melihat rona merah canggung di telinganya.
"Itu pasti karena aku terlalu terobsesi memastikan asetku tidak hilang. Aku sudah bilang, kan? Aku tidak suka barang milikku rusak atau diambil orang. Jadi, jika aku memintamu tetap di sini, itu karena aku sudah membayar mahal untuk keberadaanmu di rumah ini."
"Hanya itu?" suara Zoya bergetar. "Hanya karena status aku sebagai barang yang kau bayar?"
Arvin kembali menatap Zoya dengan mata yang kembali dingin dan tajam. "Lalu kau berharap apa? Pernyataan cinta yang dramatis? Bangunlah, Zoya. Kita berada di dunia nyata, bukan di dalam novel picisan yang sering kau baca. Sekarang keluar, aku ingin mandi dan bersiap ke kantor. Jangan lupa periksa GPS-mu, aku ingin kau sampai di kampus tepat waktu."
Zoya berdiri, matanya berkaca-kaca namun ia mencoba tetap tegar. "Aku mengerti, Tuan Arvin Dewangga. Terima kasih telah mengingatkan aku kembali tentang posisiku di rumah ini. Aku hampir saja membuat kesalahan dengan menganggapmu memiliki hati."
Zoya berjalan keluar dari kamar dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup, Arvin memukul bantalnya dengan kesal.
Ia memaki dirinya sendiri karena kembali menggunakan kata-kata kasar, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin menarik Zoya kembali ke pelukannya dan memohon agar Zoya tidak pernah meninggalkannya.
Namun bagi Arvin, mengakui cinta adalah sebuah kelemahan. Dan ia lebih baik dianggap kejam daripada dianggap lemah.
...----------------...
**To Be Continue** ....