Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Satu minggu telah berlalu sejak Giana dan Cayden menghilang tanpa jejak. Waktu seharusnya membawa kejelasan, tetapi bagi Cameron, setiap hari justru terasa semakin menyesakkan. Ia telah mengerahkan semua yang ia miliki. Semua orang-orang kepercayaannya, jaringan bisnisnya, bahkan koneksi yang selama ini jarang ia gunakan.
Setiap sudut kota telah disisir tanpa terkecuali, mulai dari rumah sakit, terminal, hingga tempat-tempat terpencil yang bahkan tidak terpikirkan olehnya sebelumnya..Namun hasilnya tetap sama. Tak ada jejak ataupun kabar, seolah Giana dan Cayden benar-benar hilang dari kota itu.
Di dalam mobilnya, Cameron duduk diam, menatap kosong ke arah luar jendela mobil. Wajahnya tampak lebih pucat dan keras dari biasanya, sementara lingkar hitam di bawah matanya menjadi bukti dari malam-malam tanpa istirahat yang ia lalui selama seminggu terakhir.
“Tuan,” panggil Abraham pelan dari kursi depan.
Cameron melirik sekilas sambil menggumam pelan.
“Tim kami masih melanjutkan pencarian di area luar kota. Mungkin kita akan menemukan sesuatu dalam waktu dekat.” Abraham menunjukkan bukti laporan dari orang-orang kepercayaannya lewat ponsel.
“Lanjutkan pencariannya. Lakukan apa pun agar bisa menemukan mereka,” jawab Cameron serak. Nada suaranya terdengar datar tanpa emosi, hanya menyisakan ketegasan yang dingin.
Abraham terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia tahu, dalam kondisi seperti ini, tidak ada kata-kata yang benar-benar bisa menenangkan atasannya.
Mobil kembali dipenuhi keheningan. Namun di balik diam itu, sesuatu dalam diri Cameron perlahan berubah. Kegelisahan yang dulu terasa samar kini menjelma menjadi tekanan yang nyata. Ia tidak hanya kehilangan kendali, tetapi juga mulai menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia akui, bahwa ia takut kehilangan. Ia sudah kehilangan sosok sang kakak bertahun-tahun lalu, dan kini ia tak ingin lagi kehilangan Cayden.
Sementara itu, di London, suasana yang jauh berbeda menyelimuti rumah utama keluarga Rutherford. Bianca duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangannya. Uapnya sudah lama menghilang, menyisakan cairan yang mulai dingin, sama seperti suasana hatinya saat itu.
Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang jauh dari ruangan megah yang mengelilinginya. “Mengapa sekarang aku jadi begitu memikirkan bayi itu?” gumamnya gelisah.
Semenjak Cameron pergi dari rumah dengan terburu-buru untuk mencari Giana dan Cayden itu, Bianca tak bisa menghentikan pikirannya untuk memikirkan kalimat Cameron tempo hari itu.
“Apa yang sebenarnya dia maksud aku tak bisa mengusir cucuku pergi? Apakah Cayden sungguh-sungguh cucuku? Tapi, hasil tes paternitas itu menunjukkan jika Cayden bukan putra Cameron. Lalu ….”
Bianca mengerutkan kening, seolah ingin menepis perasaan dan rasa penasarannya itu. Namun semakin ia menolak, bayangan itu justru semakin jelas. Terlebih saat ia mengingat ucapan terakhir Cameron sebelum pergi, serta tatapan putranya yang penuh tekad, seolah ada sesuatu yang ingin ia lindungi dengan mati-matian.
Bianca menghela napas pelan, mencoba mengabaikan kegelisahan dan rasa penasaran yang terus tumbuh di dalam dirinya. Namun tiba-tiba, suara Michael membuatnya tersentak.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Bianca menoleh cepat, sedikit terperanjat, tetapi segera mengendalikan ekspresinya. Ia langsung tersenyum tipis tatkala melihat wajah suaminya di sana.
“Apa? Tidak, tidak ada yang kupikirkan,” jawabnya beralasan. “Aku hanya sedikit lelah dan ingin beristirahat.”
Michael menatapnya beberapa saat, seolah mencoba membaca sesuatu yang disembunyikan sang istri. “Kau melamun cukup lama,” katanya pelan.
Bianca tersenyum paksa sambil mengibaskan tangannya pelan. “Itu … mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.”
Michael masih memandangnya dengan curiga, tetapi akhirnya memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia duduk di hadapan Bianca, lalu berkata dengan nada yang lebih santai, “Kalau begitu, mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal lain.”
Bianca mengangkat alis tipis. “Membicarakan hal apa?”
“Pertunangan Cameron dan Regina,” jawab Michael.
Kedua nama itu membuat Bianca sedikit terdiam. Namun ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan. “Bukankah itu sudah jelas? Regina adalah pilihan yang tepat.”
Michael mengangguk pelan, meskipun tatapannya masih menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya terbaca. “Regina memang calon potensial untuk Cameron dan aku ingin kita segera mempersiapkan pertunangan mereka berdua,” ucapnya.
Bianca terdiam, namun matanya tak bisa berbohong bahwa ia terkejut dengan keputusan Michael yang terkesan tiba-tiba itu.
“Kenapa begitu cepat?” tanya Bianca hati-hati.
“Aku ingin mereka segera bertunangan sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Kau tahu sendiri bagaimana anakmu itu, kita harus segera mengendalikannya sebelum dia memberontak seperti wanita itu,” jawab Michael.
Bianca tidak langsung menjawab. Untuk sesaat, pikirannya kembali melayang, bukan pada Regina, bukan pula pada rencana pertunangan, melainkan pada seorang bayi kecil yang entah mengapa kini terasa sulit untuk ia lupakan.
“Kita harus membicarakan hal ini lebih dulu bersama orang tua Regina dan juga Cameron.”
***
Cahaya sore menari-nari dengan lembut di atas atap panti asuhan yang sederhana itu. Di sanalah kini Giana menjalani hari-harinya dengan tenang. Kehidupan di panti memang tidak mudah, tetapi Giana merasa lebih dari cukup.
Sore itu, Giana tengah berada di dapur bersama ibu panti, membantu menyiapkan makanan untuk anak-anak. Tangannya bergerak cekatan, meski sesekali ia harus berhenti untuk mengecek Cayden yang terbaring di dekatnya.
Ketika tangisan kecil Cayden terdengar, Giana segera menghampirinya, menggendong Cayden dengan lembut, serta mengusap punggung kecil itu dengan penuh kasih selayaknya seorang ibu yang mengasihi putranya sendiri.
“Cayden, sudah, ya. Jangan menangis lagi, Sayang. Vayden anak baik,” bisiknya pelan sambil menimang Vayden.
Wajah cantiknya tampak jauh lebih tenang dibandingkan dengan saat ia diusir dari rumah itu. Luka itu masih ada, tetapi perlahan tidak lagi terasa setajam sebelumnya.
Di tempat sederhana ini, ia menemukan sesuatu yang tidak ia sadari ia butuhkan, yaitu ketenangan.
Ia sudah mencoba menghubungi nomor Cameron berkali-kali, tetapi panggilan itu selalu berakhir dengan salah sambung. Merasa tak ada lagi pilihan, Giana pun memutuskan untuk memulai semuanya kembali dari awal. Hanya antara dirinya dan Cayden.
Giana kemudian kembali ke dapur sambil menggendong Cayden, tetap membantu pekerjaan yang ada tanpa keluhan. Bagi orang lain, hidupnya mungkin terlihat sederhana, bahkan kekurangan. Namun bagi Giana, semua itu terasa cukup. Ia hanya berharap bisa membesarkan Cayden dengan baik.
“Sudahlah, Giana. Kau istirahat saja, lihat anak itu, kasihan dia jika terus berada di dapur,” omel ibu panti saat Giana membantunya memasak sup namun sambil menggendong Cayden.
“Tidak apa-apa, Bu. Lihat ini, Cayden senang saat harus membantu ibunya. Lagipula agar pekerjaan ini cepat selesai, Bu. Tidak apa-apa, aku bisa,” kata Giana tanpa mengeluh.
Ibu panti itu akhirnya hanya tersenyum sambil sesekali tetap melihat Giana, berjaga-jaga, takut jika sesuatu terjadi pada bayi mungil itu.