"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Kanaya menyuapi ibunya yang sudah bangun, dengan bubur nasi yang diantar barusan, saran dokter tadi ibunya harus mulai makan, walaupun hanya makan bubur.
Kanaya menyuapi bubur nasi itu sangat telaten dan hati-hati, ibunya kelihatan masih lemah, namun dia dengan sabar melayani wanita kesayangannya itu.
Beberapa kali bu risma menolak suapan dari kanaya, ia hanya menghentikan suapannya sebentar, menunggu dengan sabar sampai ibunya menelan makanannya.
"Sudah..nduk, ibu sudah kenyang"
kanaya menggeleng, "ibu mau pulang cepatkan? ibu harus makan, trus makan obat" bujuknya lembut, menyodorkan suapan bubur lagi.
Bu risma membuka mulutnya enggan, namun ia tetap melakukannya, ia merasa segan dan sungkan. Rasa bersalah masih bersemayam di hatinya, entah mengapa rasa itu selalu hadir jika berhadapan fengan putri sulungnya itu.
Pengorbanan kanaya terhadap keluarga membuat bu risma menyegani putrinya sendiri. Kanaya tersenyum lega, suapan terakhir dikunyah habis oleh ibunya.
"Setelah minum obat, ibu bisa tidur lagi,
Atau ibu mau berjemur diluar?, nanti naya minta ijin ama perawat atau dokter" ujarnya lembut menyodorkan obat ke mulut ibunya.
"Gak usah nduk, ibu masih lemah.."
Kanaya merapikan selimut ibunya, memperbaiki posisi jilbab ibunya yang tidak rapi, tiba-tiba tangannya dipegang ibunya yang menatapnya sendu.
"Kamu sudah makan nduk?,"
"Nanti...buk, naya tak terbiasa makan pagi" sahutnya tersenyum lembut, mengenggam jemari kurus ibunya, ada bulir bening jatuh dipipi wanita tua berhati lembut itu. Kanaya menyeka air mata itu dengan ujung jari.
"Ibu selalu menyusahkan kamu nduk.." isak ibunya terdengar perlahan
"Ibu tidak tahu bagaimana caranya membalas semua pengorbananmu pada keluarga"
"Ibu.., jangan ngomong begitu, naya tidak pernah merasa ini pengorbanan, naya menyayangi keluarga, ibu dan adik-adik adalah satu-satunya harta yang naya miliki
Ibu jangan ngomong gitu lagi, naya jadi sedih", menatap ibunya sendu, ia menciumi tangan kurus ibunya.
"Kalau terjadi apa-apa dengan ibu, naya gak akan sanggup bu"
"Sayang..." elus ibu mariana lembut di kepaka kanaya, baginya putri sulungnya ini adalah segalanya, putrinya, temannya, tempat bersandarnya.
Suasana haru masih menyelimuti mereka, ketika dokter zayyan masuk dengan gaya nyentriknya, duduk di ranjang sembari menatap ke arah ibu dan anak yang masih saling mengenggam.
"Boleh saya ikutan nih..?" tanyanya dengan senyum kocaknya,
"Sepertinya bakalan seru nih, kalau kita buat trio, acara tangis-tangisannya bisa lebih merdu"
Bu risma tersenyum, menatap dokter kocak yang sudah merawatnya setahun terakhir ini. Tangannya menyeka air mata, sementara kanaya memalingkan wajahnya yang basah ke arah lain, menyeka air matanya dengan tisu yang diambilnya dari atas meja di samping ranjang ibunya.
" gimana mau sembuh ibu! Kalau masih ada acara menangis seperti ini" ujar dokter zayyan, sembari memperhatikan detak jantung ibu dari monitor jantung, tangannya memeriksa letak jarum infus ditangan ibu risma.
"Si mbak juga..kenapa harus ikut-ikutan ibu, pakai acara nangis segala,"
"Maaf dok.." kanaya menyahut cepat, meminta maaf ke dokter zayyan yang menatapnya dengan tatapan lucu.
"Hmmmmm, maksud saya, yah kalau ada acara tangis-tangisan begitu, jangan lupa ajak saya, biar sempurna mbak, ada suara 1, 2 dan 3, jadi suara tangisan yang keluar akan kedengeran merdu"
Kanaya menatap dokter zayyan lekat, ucapan dokter tadi terdengar seperti candaan, namun wajah dokter itu terlihat sangat serius. Kalau saja kanaya tidak mendengar ibunya tertawa, dia pasti kebingungan dibuatnya.
Suara tawa ibunya masih menggantung, ketika dokter zayyan kembali duduk di atas ranjang ibunya, kanaya tersenyum melihat keakraban itu.
"Karena ibu vokalis utama, ada baiknya ibu yang harus paling banyak mendapat vocal linenya,
Saya dan naya, jadi backing vocalnya saja,
Gimana naya..?" tanyanya tiba-tiba menatap kanaya, yang akhirnya tertawa lucu mendengar candaan dokter zayyan.
Kanaya hanya mengangguk-angguk lucu, tertawa sembari merapikan meja samping ranjang ibunya.
"Ibu jangan banyak pikiran yah, ibukan tahu penyakit ibu melarangnya" suara dokter zayyan tiba-tiba terdengar serius, naya menoleh, memperhatikan dokter itu yang sudah kembali ke mode dokternya.
"Atau ibu emang ingin jumpa saya terus nih?"
Kanaya tertawa, mengelengkan kepalanya, menatap dokter zayyan yang juga tersenyum menatapnya dan ibunya bergantian.
'Pria lucu' batin kanaya dalam hati, bisa-bisanya berganti dari mode serius ke mode canda, secepat kilat.
"Dokter zayyan..", panggil ibu tiba-tiba, reflek kanaya dan dokter zayyan mendekat ke arah ibunya, kanaya khawatir apakah ibunya merasakan keluhan.
"Bagaimana kabar si cantik alita..?"
Mata kanaya mengernyit, menatap ibunya penuh tanya, kanaya melihat wajah ceria dokter zayyan berubah sendu.
Dokter itu tersenyum, namun entah mengapa senyum itu tak secerah biasanya, kanaya mengamati diam-diam.
"Alita titip salam ke ibu..dalam 2 hari ini mungkin alita akan dipindahkan keruangan ranap juga bu.."
"Ibu yang semangat yah...cepat sembuh dan cepat keluar dari rumah sakit" ucapnya berusaha riang kembali.
Tapi entah mengapa di matanya dokter itu terlihat tak mampu kembali ceria. Kanaya menatap kepergian dokter zayyan yang ijin ingin menjenguk pasiennya yang lain.
Kanaya mengiringi hingga ke depan pintu, berbalik menatap penuh tanya ke arah ibunya, yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Duduk sini.." pinta ibunya, menepuk ranjang disisi kirinya, kanaya patuh, beranjak mendekati ibunya, duduk sembari tangannya kembali meraih jemari ibunya.
"Alita, adalah putri semata wayangnya, yang saat ini juga sedang di rawat,
Usianya baru 4 tahun nduk, ia menderita jantung bocor" jelas ibu dengan tenang,
"Sementara ibunya alita, istri dokter zayyan, meninggal ketika melahirkan putrinya itu, dengan riwayat penyakit jantung juga"
kanaya terkejut, ia tak menyangka dokter zayyan yang begitu riang dan nyentrik itu, memiliki kisah sedih dalam hidupnya.
Dengan riwayat jantung di dalam keluarga dokter zayyan, kanaya memaklumi kedekatan yang terjalin antara ibunya dan dokter lucu itu.
"Dokter itu yang ibu bilang tempo hari bertanya tentang kamu, nduk?" ibunya menatap kanaya serius, mencoba mengamati reaksi dari wajah kanaya.
Senyum kanaya mengembang, ia memahami arti tatapan ibunya. Kanaya melangkah mendekati jendela ruangan,menatap keluar jendela.
Sungguh kanaya memahami keinginan ibunya, tapi hatinya tak bisa diajak kompromi, dia simpati terhadap dokter zayyan.
Namun hati kanaya tak dapat dibohongi, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, nama kala masih tersimpan rapi, menghuni relung hatinya dan mengisi mimpi-mimpi malamnya.
Denyut di jantungnya, masih meneriakkan nama kala dengan indah, entah sampai kapan, kanaya sendiripun tidak tahu.
Tapi satu yang pasti, untuk saat ini tak ada siapapun yang dapat menggantikan kala di hatinya, entah nanti takdir berkata lain.
Namun kanaya selalu melangitkan nama kala dalam doa-doa malamnya, meminta kepada yang kuasa memberikan yang terbaik untuk dirinya.
Kanaya membalikkan tubuh, menatap ibunya dengan senyuman sumringah tersemat di bibirnya,
"Ibu gak usah khawatir, jika Allah masih mengijinkan naya memiliki suami, pasti akan ada jalannya bu.."
Ibu risma menatap senyum di wajah kanaya, entah mengapa ia merasa senyum putrinya tidak tulus dan terkesan dipaksakan. Ia hanya menghela nafasnya, ia tak mau lagi memaksa putrinya.
Kanaya mendekati ibunya, merapikan selimut dan meminta ibunya untuk istirahat.
Kanaya tersenyum menatap ibunya yang mematuhi permintaannya, perlahan mata bu risma terpejam. Kanaya meninggalkan ibunya yang sudah tertidur, menuju ke kantin rumah sakit, perutnya mulai terasa lapar.
Hqri sudah sudah menjelang siang, ia melangkah dengan tenang, sementara isi kepalanya masih saja memikirkan kala, di sana. Dan kanaya tahu pria itu tak pernah memikirkannya sekalipun.
Nomor ponselnya tidak berganti, nomor kala juga tidak ia blokir, namun sekalipun pria itu tak pernah menghubunginya atau hanya sekedar mengirim pesan.
Lelah rasanya hati kanaya berharap, namun tak jua ia berhenti berharap.
Bersambung...