Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Menemukan pelakunya
Pagi pun tiba.
Gio menatap dua orang yang berdiri di hadapannya. "Mana sampel yang ku butuhkan?"
Marco menyodorkan hasil lab yang tadi malam dia bawa ke rumah sakit pribadi milik keluarga Abraham.
"Ternyata dugaanku benar. Makanan itu sudah di campur dengan obat tidur," Gio meletakkan kertas hasil lab tersebut.
"Apa kau sudah dapatkan orangnya?" tanyanya kemudian pada Julham.
"Menurut informasi, pelakunya itu orang terdekat Nyonya, Tuan."
Gio sontak bangkit dari tempat duduknya. "Apa! Katakan padaku, siapa yang berniat mencelakai istriku."
"Ratu!"
Beginilah jika punya uang banyak, penjahat langsung tertangkap tidak lebih dari dua puluh empat jam.
Wajah Gio terlihat merah dan tegang, dia bahkan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Murka, amarahnya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Bawa wanita itu ke hadapanku! Akan ku beri dia pelajaran, berani sekali dia berniat mencelakai istriku." geramnya.
Kedua orang kepercayaan itu pergi berlalu. Mereka mengerjakan tugasnya masing-masing.
Gio masih berdiri, matanya memancarkan kemarahan yang tak terkendali. Dia tidak bisa percaya jika Ratu, adik tiri Vania, bisa melakukan hal seperti itu. Gio mengingat kembali hubungan Vania dan Ratu yang selalu bermasalah, dan sekarang dia tahu Ratu memiliki motif untuk mencelakai.
Gio mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak ingin melakukan kesalahan. Dia perlu memastikan apakah memang Ratu yang bertanggung jawab sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Gio terbuka. Marco dan Julham masuk, membawa Ratu yang terlihat takut dan lemah.
"Gio, tolong... aku tidak melakukan apa-apa," Ratu menangis, suaranya bergetar.
Gio menatap Ratu dengan mata yang dingin. "Jangan berbohong, Ratu. Aku tahu apa yang kau lakukan. Kau mencoba mencelakai Vania, kakakmu sendiri."
"Tapi itu bukan kemauanku," Ratu mengehentikan ucapannya sebelum membawa nama Jenny. Dia kembali memikirkan konsekuensinya.
"Bicara yang jujur, Ratu. Kalau tidak, aku akan memotong lidahmu sekarang juga!"
Ratu menunduk, tidak bisa membantah tuduhan Gio. "Ya! Aku yang melakukannya... A—aku hanya ingin dia pergi, Gio. Aku tidak bisa melihat dia bahagia denganmu."
Gio menggelakkan kepala. "Kau sangat salah, kau egois dan tidak punya hati! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, tanpa mempedulikan keselamatan orang lain. Vania tidak pernah melakukan apa-apa untuk menyakitimu, tapi kau malah mencoba mencelakainya."
Ratu menangis, suaranya bergetar. "Aku hanya tidak suka melihat dia bahagia denganmu. Kau milikku, Gio. Kau harusnya milikku!"
Gio menggelakkan kepala. "Cih! Meskipun hanya kau satu-satunya wanita di dunia ini, aku tetap tidak akan sudi menikahimu!"
Julham dan Marco maju, siap untuk mengambil Ratu. "Tuan, apa yang akan Anda lakukan padanya?"
Gio menatap Ratu dengan mata yang dingin. "Aku akan memberinya pelajaran, agar dia tidak pernah mencoba mencelakai Vania lagi. Bawa dia ke tempat yang aman, dan pastikan dia tidak bisa keluar sampai aku memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya."
Ratu menangis, suaranya bergetar. "Gio, tolong... aku tidak ingin pergi ke sana. Aku tidak bisa bertahan di sana."
Gio tidak mempedulikan tangisan Ratu. "Bawa dia pergi! Dia pasti tidak sendirian melakukan semua ini, suruh dia buka mulut dan mengatakan siapa rekannya." katanya kepada Julham dan Marco.
Ratu ditarik keluar dari ruang kerja Gio, dia menangis dan berteriak. Gio menatap ke luar jendela, matanya memancarkan kemarahan yang tak terkendali. Dia akan memastikan bahwa Ratu tidak pernah mencoba mencelakai Vania lagi.
*
*
Setelah menyelesaikan tugasnya, pria itu kembali ke Villa tepat pukul sebelas siang. Dia tidak ingin membuat Vania menunggu untuk makan siang. Saat baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa, dia terpesona dengan Vania yang menyiram tanaman tepat di halaman samping. Pria itu berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku celana. Senyumnya terus terukir, mananya pun tak lepas dari sosok wanita yang sangat dia cintai.
"Sayang," panggil Gio, menghampiri Vania.
"Kau membuatku kaget," Vania mengelus dadanya.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?"
"Untuk apa?" tanya Vania, merasa tidak paham.
"Aku sudah membuatmu kaget, aku takut terjadi sesuatu padamu." ucap Gio yang terlalu serius.
"Itu terlalu berlebihan, Gio. Aku baik-baik saja, kaget sudah menjadi hal biasa di dalam kesehatan." Vania tersenyum manis. "Oh, ya, kamu dari mana saja?"
"Ada urusan yang harus ku selesaikan," sahut Gio memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Apa ada masalah?"
"Hanya masalah kecil," sahut Gio seraya mengecup rambut Vania. "Kamu sudah makan siang? Kalau belum, ayo kita makan bersama." Keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah dengan Gio yang terus merangkul sang istri.
.......
BERSAMBUNG
KIRA KIRA MASIH ADA YANG MENDUKUNG PERJALANAN VANIA DAN GIO GAK NIH???