NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Setelah melontarkan keinginan untuk mengenalkan Aurora kepada ayahnya, Alexander terlihat sangat santai. Sebaliknya, Aurora justru mendadak diserang kepanikan luar biasa. Jantungnya serasa mau copot.

"Ayahmu?" beo Aurora dengan mata membelalak.

Alexander mengangguk tenang. "Iya."

Aurora langsung memegang dahinya yang mendadak pening. "Kenapa semua anggota keluargamu harus mengenalku secara tiba-tiba?"

Alexander terkekeh, lalu menatap Aurora lekat-lekat. "Karena aku serius."

Deg.

Kalimat singkat itu sukses membuat Aurora kehilangan fokus seketika.

---

Sepanjang malam, Aurora sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ucapan Alexander terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Karena aku serius."

Kata-kata itu terngiang berkali-kali, membuat Aurora senyum-senyum sendiri di atas tempat tidur. Lily, yang sejak tadi sedang fokus mengerjakan tugas kuliah di meja belajar apartemen mereka, akhirnya menyerah dan meletakkan penanya.

"Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri, tahu," tegur Lily sambil menyipitkan mata.

Aurora langsung tersentak dari lamunannya. "Hah? Apaan, sih?"

Lily menunjuk wajah sahabatnya itu dengan ujung pensil. "Lihat tuh mukamu. Masih mau mengelak?"

Aurora buru-buru menutupi kedua pipinya yang mendadak terasa panas. "Aku nggak senyum, Lily!"

"Halah, bohong banget!" cibir Lily sambil tertawa.

---

Keesokan harinya, Alexander sudah bersiap menjemput Aurora tepat setelah kelasnya berakhir. Mereka memutuskan untuk pergi makan siang bersama. Namun, sepanjang perjalanan membelah jalanan New York, Alexander tampak sedikit berbeda. Pria itu lebih banyak diam seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Sampai akhirnya, di salah satu lampu merah, Alexander membuka suara. "Aurora."

"Hm?" Aurora menoleh.

"Aku mau tanya sesuatu."

"Apa?" Aurora memperhatikan raut wajah Alexander yang mendadak berubah.

Pria itu terlihat jauh lebih serius dari biasanya. Jarang sekali Aurora melihat ekspresi seintens itu dari seorang Alexander Kingsley.

"Kalau nanti kita lulus..." Alexander menggantung kalimatnya sejenak, menatap lurus ke jalanan di depan. "Apa yang ingin kamu lakukan?"

Aurora berpikir sejenak sebelum menjawab, "Mencari pekerjaan, tentu saja."

Alexander mengangguk paham. "Lalu?"

"Membantu keluargaku," jawab Aurora lagi.

Alexander kembali mengangguk. "Setelah itu?"

Aurora mulai tertawa kecil karena merasa diinterogasi. "Kamu kenapa, sih? Kok nanyanya beruntun begitu?"

Alexander ikut tersenyum, menyembunyikan kegugupan tipisnya. "Aku cuma penasaran."

Aurora kembali memandang keluar jendela, melihat gedung-gedung yang berjejer. "Mungkin... suatu hari nanti aku ingin punya rumah kecil."

Alexander diam, menyimak setiap untaian kata yang keluar dari bibir gadis itu.

"Rumah yang nyaman," lanjut Aurora dengan nada suara yang melembut. "Tidak terlalu besar, tidak terlalu mewah. Hanya cukup untuk menampung orang-orang yang aku sayangi."

Alexander tersenyum tipis. Rumah kecil. Pria itu tumbuh di sebuah mansion megah yang ukurannya hampir menyerupai hotel bintang lima. Namun anehnya, saat Aurora menceritakannya, gambaran rumah kecil itu terdengar jauh lebih hangat dan hidup di kepalanya.

"Terus?" tanya Alexander, memancing Aurora untuk bercerita lebih banyak.

Aurora menoleh sambil mendengus jenaka. "Kamu banyak tanya banget hari ini."

Alexander tertawa kecil. "Jawab dulu, Aurora."

Aurora menghela napas panjang, lalu tersenvum malu-malu dengan pipi yang merona. "Mungkin... Mungkin aku juga ingin punya keluarga kecil yang bahagia."

Deg.

Jantung Alexander langsung berdegup dua kali lebih cepat. Tanpa gadis itu sadari, Aurora baru saja menggambarkan masa depan yang selama ini diam-diam juga ia impikan.

---

Mereka akhirnya tiba di restoran favorit mereka. Namun, bahkan hingga makanan mereka disajikan, Alexander masih terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai akhirnya, ia meletakkan garpunya perlahan, menegakkan posisi duduk, dan menatap Aurora lurus-lurus.

"Aurora," panggil Alexander dengan suara rendah yang dalam.

"Iya?" Aurora menghentikan kunyahannya.

Alexander menarik napas pelan, mengumpulkan seluruh kemantapan hatinya.

"Aku nggak pernah membayangkan masa depanku bersama orang lain."

Aurora membeku di tempatnya.

"Tapi sekarang, aku mulai membayangkannya."

Tenggorokan Aurora mendadak kering. Bahkan untuk bernapas pun rasanya ia lupa bagaimana caranya.

Alexander menyunggingkan senyum kecil—senyuman paling tulus yang pernah Aurora lihat sepanjang mengenalnya.

"Dan setiap kali aku memikirkan masa depan itu... kamu selalu ada di sana."

Deg.

Aurora langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Pipinya terasa seperti terbakar dan detak jantungnya sudah tidak karuan lagi. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak pernah memberi kesempatan baginya untuk bersikap tenang sedikit saja.

Melihat reaksi salah tingkah yang begitu menggemaskan itu, Alexander tertawa kecil. "Kenapa mukamu merah begitu?"

Aurora yang terlanjur malu langsung memukul pelan lengan Alexander. "Jangan bicara seperti itu tiba-tiba, ih!"

"Memangnya kenapa?" goda Alexander sengaja mencondongkan badannya ke depan. "Aku kan cuma jujur."

Aurora semakin menyembunyikan wajahnya yang matang sempurna. Namun di balik candaan itu, Alexander sungguh-sungguh dengan setiap perkataannya. Sangat serius. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup seorang pewaris tunggal Kingsley, ia benar-benar memikirkan masa depan.

Dan di dalam masa depan itu, selalu ada nama Aurora Quinn.

---

Sementara itu, di tempat lain yang bernuansa dingin dan formal.

Sophia sedang duduk berhadapan dengan Victoria Kingsley di sebuah restoran privat pasca-makan malam mewah mereka. Setelah meletakkan cangkir tehnya perlahan, Sophia menatap Victoria dengan tatapan penuh simpati palsu, lalu melontarkan rangkaian kalimat yang seketika membuat atmosfer di ruangan itu membeku.

“Nyonya Kingsley," ujar Sophia dengan nada suara yang direndahkan, seolah sedang membagikan rahasia besar. "Apa Anda yakin ingin membiarkan Alexander terus bersama Aurora? Anda tahu sendiri bagaimana latar belakang keluarganya. Mereka itu dari kalangan bawah, bahkan kabarnya saat ini orang tua Aurora sedang terlilit utang yang sangat besar di mana-mana."

Sophia sengaja jeda sejenak, menakar reaksi Victoria sebelum memberikan hantaman argumen berikutnya yang jauh lebih menusuk.

“Alexander adalah pewaris tunggal bisnis Kingsley. Dia tidak hanya membutuhkan seorang istri, tapi dia membutuhkan penerus bisnis Anda. Dan calon pewaris masa depan itu berhak mendapatkan sosok ibu yang setara, wanita berkelas tinggi yang bisa menjaga martabat keluarga, bukan gadis miskin yang hanya akan memanfaatkan kekayaan putra Anda demi melunasi utang kotor keluarganya. Apa Anda rela nama besar Kingsley diseret ke dalam lumpur kemiskinan mereka?"

Suasana mendadak sunyi senyap.

Victoria perlahan mengangkat kepalanya, mencengkeram cangkir tehnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat dingin, angkuh, dan tajam. Kata-kata Sophia berhasil memicu ego tertingginya sebagai seorang ibu dari penguasa tunggal.

Dan untuk pertama kalinya... sebuah ide berbahaya untuk menyingkirkan gadis miskin itu mulai muncul dan berakar di benak sang nyonya besar Kingsley.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!