Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26
Hari demi hari kami lalui dengan gembira. Entah sejak kapan aku mulai akrab dengan teman Julia. Dan kini mereka juga menjadi temanku. Walaupun kami berbeda sekolah, namun setiap minggu kami rutin bertemu di basecamp yang Juna sediakan. Ketika ayah mengetahui aku memiliki teman, ia juga tampak senang. Dan ketika ia tahu Juna yang menjadi temanku, ia tambah senang lagi. Ya, sosok Juna begitu istimewa di negara P ini. Dia adalah pewaris tunggal dari orang terkaya nomor 1 di negara P. Juna terkenal sebagai anak yang sulit di dekati. Bahkan hanya Mei dan Bass yang selalu ada di sampingnya. Julia kebetulan berteman dengan Mei sehingga mereka juga tidak sengaja berteman.
Siang itu kami berencana pergi ke mall. Aku juga sudah berencana menguras kartu yang di berikan ayah waktu itu. Sesampainya di Mall, Mei dan Julia tanpa henti mengambil pakaian untuk kami para lelaki. Juna tampak lelah berganti pakaian yang di pilihkan Mei. Dan aku juga lelah karena Julia melakukan hal yang sama. Namun Bass hanya duduk manis di sofa bersama para gadis. Dia berpendirian teguh. Apa yang dia kenakan, ia tidak mau merubahnya sama sekali. Saat itu aku dan Juna mencoba pakaian terakhir kami.
"Kamu tidak mau mengungkapkannya?"
Tanya Juna tiba-tiba.
"Aku... Aku merasa tidak pantas."
"Coba saja dulu. Kalaupun di tolak itu bisa jadi pengalaman."
"Mengatakannya saja memang mudah. Lagi pula memang kamu pernah di tolak?"
"Aku tidak pernah merasakannya karena aku tidak punya kesempatan. Jadi karena kamu punya, kamu harus mencobanya."
"Jadi kamu tidak suka Mei?"
"Aku menyukainya! Mei segalanya bagiku. Tunggu? Kenapa jadi bahas aku?!"
Aku tertawa merasa lucu.
"Aku akan mencobanya."
Sorenya, Juna, Mei dan juga Bass membiarkan aku pulang berdua dengan Julia. Aku sudah bertekad untuk menyatakan perasaanku padanya.
"Kamu cocok dengan style ini. Nanti ganti semua pakaian di lemari dengan ini. Aku dan Mei sudah memilihnya dengan hati-hati. Lensa kontaknya bagaimana? Nyaman tidak?"
"Julia. Aku..."
"Hm?"
"Julia, terimakasih atas semua yang kamu lakukan untukku. Aku tidak menyangka akan merasakan kehidupan normal seperti ini. Sebenernya ada yang ingin aku katakan. Aku..."
Belum sempat aku menyelesaikan percakapanku dengan Julia, ponselnya berbunyi tiba-tiba.
"Halo? Ya? Aku akan segera pulang. Baiklah."
"Ada apa Julia?"
"Ibu menyuruhku segera pulang. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Jemputanku sudah tiba."
"Baiklah. Hati-hati Julia. Besok aku akan menjemputmu. Kita berangkat sekolah sama-sama."
Julia mengangguk tanda setuju lalu masuk ke dalam mobil. Kaca mobil itu terbuka.
"Gerald. Kamu ternyata sangat tampan. Besok berdirilah dengan lebih percaya diri ya! Bye-bye!"
Ucapan manis yang keluar dari bibir mungilnya membuatku tersipu dan bahagia. Aku memegangi pipiku.
"Oh dewa, aku bahkan belum mengungkapkannya!"
Keesokan paginya aku menjemputnya di rumah. Sepanjang perjalanan aku melihatnya tampak melamun.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Ah tidak ada. Oh iya, kemarin kamu mau mengatakan apa?"
"Ah itu..."
Aku kemudian meraih tangan Julia.
"Julia. Sebenernya... Aku... Aku menyukaimu Julia."
Wajahnya tampah terkejut dan bingung. Dia terdiam cukup lama.
"Julia, aku tidak terburu-buru. Kamu bisa memikirkan jawaban untukku pelan-pelan. Aku akan menunggu."
Tiba-tiba Julia membalas genggaman tanganku.
"Gerald. Terimakasih."
Aku pun melanjutkan perjalananku ke sekolah. Sesampainya suasana sekolah langsung berubah saat kedatanganku bersama Julia. Banyak yang bertanya-tanya siapa aku. Tapi ada juga yang menyadari tentang aku.
"Gila, itu Gerald? Si culun yang pengecut itu?! Dengan gaya rambut yang berbeda dan tanpa kacamata ketampanannya sungguh luar biasa!"
Aku melihat ke arah Julia. Ia tampak senang.
"Kedepannya, kamu akan lebih di hargai. Selamat."
Ucap Julia senang.
Hari demi hari aku lalui dengan berbeda. Perlakuan murid di sekolah sudah tidak seperti dulu. Semenjak aku mengungkapkan siapa ayahku, bahkan para pembully sudah tidak berani mendekat karena sekretaris ayahku ternyata diam-diam membawa pengacara hebat menemui orang tua mereka. Aku pikir ayah tutup mata dengan apa yang terjadi di hidupku. Namun ternyata semenjak perubahanku, ayah mulai mencari tau apa saja yang aku lalui selama ini. Pantas ayah lebih sering memberikan uang sekarang. Tubuhku juga mulai terbentuk dengan bagus. Namun satu perubahan lain juga mulai kurasakan. Keceriaan Julia sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dia tampak lebih murung dari hari kehari. Saat mengobrol bersama teman di basecamp pun dia lebih sering melamun dan tidak fokus.
"Julia? Kenapa kamu terlihat murung?"
Tanya Mei yang sepertinya menyadarinya juga.
"Ibuku sakit. Dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit."
"Sakit? Sakit apa? Bukannya baru seminggu semenjak bibi menikah lagi?"
Aku terkejut tentang apa yang di ucapkan Mei. Mengapa aku tidak mengetahui hal itu? Apa Julia menganggapku orang luar?
"Aku tidak tahu. Ibuku enggan memberi tahu tentang penyakitnya. Aku ingin merawat ibuku. Sepertinya aku harus pulang sekarang."
"Ayahmu kemana? Dia tidak merawatnya?"
Tanya Juna.
"Dia... Dia sibuk bekerja."
Aku menyadari ada hal yang di sembunyikannya.
"Besok aku akan menjemputmu lagi."
Ucapku. Dan Julia menyetujuinya.
"Gerald! Jangan lupa tentang hal yang kita bicarakan di Mall waktu itu. Tanyakan jawabannya!"
Bisik Juna bersemangat.