Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Isi Hati Mella
Hari yang lama sudah mulai dekat, Gua udah siap dengan nama panggung baru, meskipun harus menggunakan identitas yang berbeda. Soal Yura, Gua tunggu aja kejutan apa yang ia akan berikan pada Gua dan yang lain. Tapi Gua masih bingung sama Mella, cuek banget , nggak kayak dulu kalo ketemu usilnya hampir sama dengan Yura.
Hari ini kelas kosong jadi Gua ke tempat sanggar musik SMP 33 palembang, nggak besar sih cukup lah untuk kegiatan 20-30 orang. Gua melihat Yura sedang mengotak-atik gitarnya, sepertinya ia sendang asik dengan lagunya. Gua akui suara Yura emang terbaik, sejak SD kelas 5, ia sudah banyak sekali memenangkan piala kecil, baik itu sekolah maupun waktu perayaan HUT kemerdekaan nusantara. Demi bisa bersanding dengan Alvin, ia berjuang keras hingga pernah suatu hari aku melihat tangannya kapalan karna terlalu sering berlatih.
"tumben kesini ada apa? segitu kangennya dengan gua ya?"ucap Yura yang menyadari kedatanganku, lalu menghentikan latihannya kemudian menyapaku dengan senyumnya. Gua tau senyum itu lagi-lagi palsu, kayaknya anak ini belum bisa move on dari masa lalunya.
"iya nih kangen banget sama lo yur, bosen banget di sanggar seni Lukis sendirian, biasanya ada Fia sih tapi dia lagi sakit"ucap Gua duduk disampingnya lalu bersandar di bahunya sambil menceritakan keluhan hari ini.
"oh si Fia itu ya? dia dari kemarin pas lo lagi sibuk entah kemana keadaannya memang buruk"ucap Yura sambil memejamkan matanya
"oh ya mana tuh ajudan lo si ratu es itu, tumben banget nggak sama lo lan?"ucap Yura menanyai perihal Erin yang lagi kebetulan nggak barengan dengan Gua
"oh, dia lagi sibuk ngurusin acara, lo kan tau dia ketua osis"ucap Gua menjawab pertanyaan yang di lontarkan Yura
"lo nggak cemburu lan? Delvano wakil ketua osis loh, pasti barengan terus sama dia"ucap Yura mulai kembali menggoda Gua, Gua hanya tersenyum lalu membalas
"lo kan tau Erin kalo sama orang lain gimana?"ucap Gua yang membuat Yura bergidik ngeri, Erin yang Gua kenal sangat manja dan penurut ini ternyata hanya pada Gua saja, pernah saat suatu hari Gua lagi mau ke kantin membeli pulpen. Gua melihat sendiri Erin dengan tegasnya memarahi seluruh perangkat osis yang kurang maksimal, dengan jelas Gua dapat melihat raut muka Erin yang dingin dan tegas, berbanding terbalik dengan apa yang Gua tau, sifatnya yang manja dan cuek itu kayaknya berlaku dengan lingkaran pertemanan kami saja. Bahkan Gua melihat sendiri gimana tegasnya Erin dalam mengatur seluruh adik kelasnya serta memarahi Delvano yang bertingkah sembarangan.
"udah lah kalo bahas anak itu kupingnya dimana-mana bisa-bisa kita kena amuk dia"ucap Yura sambil berbisik di telinga kanan Gua.
"oh begitu ya?"ucap Erin yang entah dari kapan sudah ada di belakang kami, Yura cengir-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"eh ada ratu... ah maksudku ketua kami lagi bahas kegiatan tambahan untuk pentas nanti"ucap Yura meski terlihat berbohong bakat anak ini dalam berakting sungguh mengerikan. Erin hanya ber oh ria saja lalu menatapku dengan senyum cerah, sambil menggoyangkan tanganku
"lana... hari ini capek banget... pokoknya aku mau bubur telur lagi seperti biasa ya"ucapnya yang tengah bergelayut manja di pergelangan tangan kiriku. Kalo kalian kenal Erin cuma di luar saja mungkin akan mati terkejut melihat tingkahnya yang berbanding terbalik dengan gelarnya. Gua hanya tersenyum kemudian mengelus pucuk kepalanya, anak ini harus segera di tenangkan.
"baik lah... bolehkan ketua pinjam ruangan praktik prakarya?"ucap Gua sambil mengedipkan sebelah mata pada Erin, Erin mengangguk setuju, orang ini sepertinya sudah kepincut dengan masakanku.
Akhirnya kami keluar dari sanggar musik lalu menuju ruang praktik prakarya, jaraknya nggak terlalu jauh dengan ruangan Eskul pramuka berada, hanya berbeda 2 ruangan. Saat kami sampai disana terlihat Leo tengah memaki Mella sambil hendak memukulinya.
"behenti! disini dilarang berkelahi"ucap Erin dengan tegas dan tatapan auranya yang mampu membunuh siapa saja, Leo kemudian menoleh mendapati Erin yang menatapnya dengan aura membunuh seketika membuat nyalinya menciut lalu kabur terbirit-birit.
"kamu nggak papa?"ucap Gua yang mendekat setelah Leo kabur
"nggak papa"ucap singkat Mella yang membuat hati Gua terasa sakit, di kehidupan kedua ini kenapa bisa dia harus menderita seperti ini.
"kamu lana kan? apa boleh aku jadi temanmu?"ucap Mella secara tiba-tiba pada Gua, mendengar hal ini tentu membuat Gua terkejut termasuk Erin dan Yura, mereka tidak menyangka Mella secara tiba-tiba mengajak Gua berteman. mata Gua tertuju padanya, tak ada tatapan dingin tapi, tatapan seakan merindukan seseorang.
"ah... boleh saja"ucap Gua tanpa fikir panjang, namun sebelum Mella memelukku ia di cegat oleh Erin yang menatapnya dengan tatapan tajam
"apa maksudmu itu, bukankah kau seminggu yang lalu menolak dengan tegas bahkan menyakiti Lana"ucap Erin dengan nada dingin, Gua ngerti seminggu lalu Gua sempat bertekad ingin berteman dengannya, lalu di koridor sekolah ketika semua orang pulang, Gua secara pribadi mengajaknya untuk berbicara empat mata, disitu Gua mengajukan pertemanan dengannya dengan maksud untuk mendekatinya secara pelan-pelan. Namun, Mella menolak kemudian mendorong Gua dengan keras sehingga Gua sempat terjatuh. Erin membantuku lalu melihat kaki Gua yang keseleo kemudian membantu Gua berjalan menuju UKS.
"ah aku tidak bermaksud... aku salah maafkan aku huhuhuhu, aku takut kalian akan terkena imbasnya huhuhu, ayahku mafia aku takut kalian akan menjahuiku"ucap Mella sambil menangis tersedu-sedu, Erin merasa bersalah, ia kemudian memeluk Mella tanpa sadar
"ah maaf aku tidak tau kehidupanmu seperti ini"ucap Erin sambil diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat, Gua bisa melihat jelas sepertinya Erin tau sesuatu.
Setelah itu Mella menceritakan semua apa yang ia alami di sekolah, ia dulu terkenal sama seperti Yura berteman dengan siapa saja namun, naasnya teman perempuannya di sekolah sebelumnya menuduhnya merebut pacarnya, Mella merasa tidak salah karna ia dan pacar temannya itu perangkat kelas jadi ada kemungkinan mereka beberapa kali berinteraksi, namun temannya itu tak mau mendengarkannya lalu membongkar rahasia Mella yang selama ini ia sembunyikan yaitu ia adalah putri seorang mafia yang membuat satu sekolah mengucilkannya bahkan mereka sampai membullynya, anehnya ayanya sama sekali tidak turun tangan membantu putrinya ini.
Setelah mendengar cerita itu amarah Erin seperti mau meledak, Yura memeluk Mella yang masih menangis setelah bercerita, tatapan Gua kosong, tak menyangka sahabat Gua ini mengalami hal yang begitu tragis, bahkan ia sekarang tinggal di tempat gubuk reot bekas almarhum neneknya
"tenang Mel lo nggak akan menderita lagi"
Nyahoo sampai sini dulu ya semoga kalian suka dengan ceritaku, sampai jumpa di bab selanjutnya see you MUACH