NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 24: "Sajadah Cinta di Sepertiga Malam dan Aroma Martabak yang Menggoda"

​Gerimis yang tadinya malu-malu kini telah berubah menjadi hujan lebat yang membungkus kota Kediri dalam selimut dingin. Aroma tanah basah meruap masuk melalui celah ventilasi mobil, bercampur dengan wangi parfum sandalwood milik Zain yang menenangkan. Mobil hitam itu melaju perlahan, membelah genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan yang temaram.

​Shania menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya menatap bulir-bulir air yang berkejaran di kaca jendela. Hatinya masih bergetar hebat. Ucapan Zain tentang "Zain Junior" dan filosofi Umar bin Khattab benar-benar meruntuhkan pertahanan logikanya. Bagaimana mungkin seorang ustadz yang biasanya bicara soal fiqih dan nahwu-shorof, tiba-tiba bisa berubah menjadi pria paling puitis dan romantis saat hanya berdua dengannya?

​"Kok melamun? Masih memikirkan cara membela diri?" suara bariton Zain memecah keheningan, nada bicaranya mengandung unsur godaan yang kental.

​Shania menoleh, mencoba mengatur detak jantungnya.

"Tidak, Mas. Aku, cuma sedang berpikir, sejak kapan Mas Zain belajar silat lidah seperti itu? Sejarah Umar bin Khattab yang begitu agung, kenapa ujung-ujungnya jadi... jadi ke situ?"

​Zain terkekeh, tangannya masih lincah memutar kemudi saat memasuki area perkotaan yang lebih ramai.

"Itu namanya kontekstualisasi, Sayang. Sebagai ustadz, saya harus bisa menghubungkan teks sejarah dengan realitas kehidupan. Nah, realitas kita sekarang adalah... membangun rumah tangga yang kokoh. Dan rumah tangga yang kokoh butuh regenerasi, bukan?"

​Shania membuang muka ke jendela, menyembunyikan pipinya yang dipastikan sudah semerah tomat di balik cadar.

"Alasan saja. Bilang saja memang Mas sudah merencanakannya sejak kuis semalam."

​"Memang," jawab Zain jujur tanpa beban, membuat Shania semakin salah tingkah.

"Lampu merah di depan itu ada penjual martabak langganan santri. Martabak manis atau martabak telur?"

​"Dua-duanya!" sahut Shania cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik yang "berbahaya".

​"Sesuai kesepakatan ya. Martabak untuk sogokan, dan kuis tadi untuk mahar janji," bisik Zain pelan saat ia menepikan mobil di depan kedai martabak yang asapnya mengepul hangat di tengah dinginnya hujan.

​Sesampainya di rumah mungil mereka, suasana pesantren sudah mulai sepi. Para santri sudah masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat setelah shalat Isya berjamaah. Shania melangkah cepat menuju kamar, menjinjing plastik martabak yang masih panas, sementara Zain menyusul di belakang setelah memastikan mobil terkunci rapat.

​Di dalam kamar, Shania segera melepas outer dan jilbabnya, menyisakan gamis rumahannya yang berbahan katun lembut. Ia duduk di atas hamparan karpet bulu di samping tempat tidur, membuka kotak martabak dengan semangat.

​"Mas, ayo makan dulu. Mumpung masih hangat," panggil Shania.

​Zain yang baru saja meletakkan jas dan sarung sutranya, berjalan mendekat. Namun, alih-alih duduk di depan martabak, ia justru duduk tepat di belakang Shania. Ia menyandarkan dagunya di bahu sang istri, membuat Shania mematung dengan potongan martabak manis yang hampir masuk ke mulutnya.

​"Wanginya enak," bisik Zain.

​"I-iya, martabaknya emang enak, Mas. Ini yang cokelat keju kesukaan, Mas Zain," ujar Shania terbata.

​"Bukan martabaknya. Tapi, kamu," goda Zain lagi.

Tangannya melingkar santai di pinggang Shania.

"Tadi di pesantren Kyai Hamdan, saya terus-terusan tidak fokus saat rapat. Bayangan istri saya yang sedang 'sidang' di depan para Nyai terus muncul. Saya, takut kamu menangis karena merasa terpojok."

​Shania meletakkan kembali martabaknya, hatinya menghangat. Ia berbalik sedikit, menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat.

"Awalnya memang takut, Mas. Tapi aku ingat kata-kata Mas soal harga diri dan ilmu. Ternyata, kalau kita jujur mengakui ketidaktahuan kita, orang lain justru lebih menghargai. Nyai Maryam bahkan memelukku tadi."

​Zain tersenyum bangga. Ia mengusap sisa keju yang menempel di sudut bibir Shania dengan ibu jarinya. Gerakan itu sangat pelan, sangat intim, membuat suasana kamar seketika berubah menjadi sunyi yang mendebarkan.

​"Kamu, sudah hebat, Shania. Kamu, bukan lagi Shania yang liar tanpa arah. Kamu, adalah Shania yang sedang membangun singgasana di hatinya sendiri, dan saya hanya bertugas menjaganya," ucap Zain dengan suara rendah yang menggetarkan.

​"Mas Zain..."

​"Ingat janji semalam? Dan kuis tadi pagi?"

Zain menatap mata Shania dalam-dalam. Senyum jahil kembali terukir di wajahnya yang bersih.

"Semalam kamu bilang, kalau kamu bisa jawab semua pertanyaan soal Umar bin Khattab, saya boleh minta apa saja. Dan tadi, di depan gerbang pesantren, kamu sudah mengangguk setuju."

​Shania menunduk, meremas ujung gamisnya.

"Tapi kan... ini masih jam delapan malam, Mas."

​"Memangnya ada aturan jam berapa seorang suami boleh bermanja pada istrinya?"

Zain menarik Shania ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Shania yang harum aroma sabun bayi dan parfum vanila.

"Sesuai perkataan Umar bin Khattab tadi, di luar saya memang singa yang disegani santri, tapi di depanmu... biarkan saya jadi 'anak kecil' yang butuh perhatian istrinya."

​Shania tak kuasa menahan tawa kecilnya, meski jantungnya berdegup kencang. Ia mengelus rambut hitam Zain yang rapi.

"Ustadz Zain, kalau sudah mode begini, bener-bener gak ada wibawanya ya."

​"Wibawa itu untuk di podium, Sayang. Kalau di kamar, yang ada cuma cinta," balas Zain sebelum mengecup kening istrinya dengan lama dan penuh ketulusan.

​Malam semakin larut. Suara rintik hujan di atap genteng menjadi musik latar yang menenangkan. Setelah menghabiskan waktu dengan obrolan ringan dan tawa kecil sambil menyantap martabak, suasana berangsur menjadi lebih khidmat.

​Zain bangkit, ia mengambil wudhu kembali, mengajak Shania untuk shalat sunnah bersama. Di atas sajadah yang terbentang bersandingan, Zain memimpin doa. Suaranya yang merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an selalu berhasil membuat Shania merasa tenang sekaligus kecil di hadapan Sang Pencipta.

​Setelah salam, Zain tidak langsung beranjak. Ia memutar tubuhnya, menghadap Shania yang masih mengenakan mukena putih bersih. Ia menggenggam kedua tangan istrinya.

​"Shania, dalam Islam, hubungan suami istri bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan biologis. Tapi ini adalah ibadah. Ini adalah cara kita menjemput amanah Allah. Setiap sentuhan, setiap kasih sayang, dicatat sebagai sedekah."

Zain memulai dengan nada ustadz-nya yang lembut namun serius. ​Shania mendengarkan dengan takzim.

​"Malam ini, kita bukan hanya sedang memenuhi janji kuis atau hadiah martabak. Kita sedang meminta pada Allah, agar dari rahimmu lahir generasi yang akan lebih baik dari kita. Generasi yang lisannya basah dengan dzikir, dan hatinya sekuat Al-Faruq. Kamu, siap?"

​Shania menatap mata suaminya yang penuh dengan cahaya ketulusan. Rasa takut, rasa minder akan masa lalunya, dan segala keraguan seolah luruh dalam sekejap. Ia mengangguk dengan keyakinan penuh.

​"Aku, siap, Mas. Bimbing, aku. Jangan lelah mengajariku, meski aku sering bebal."

​Zain tersenyum, sebuah senyuman yang paling indah yang pernah Shania lihat. Ia mendekat, membisikkan doa di telinga Shania, doa yang biasa dibaca sebelum memulai hubungan suami istri, meminta perlindungan dari gangguan setan untuk mereka dan keturunan mereka nantinya.

​Lampu kamar diredupkan, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan. Di luar, hujan Kediri masih terus mengguyur, seolah ikut mengaminkan doa-doa yang melangit dari dalam kamar rumah mungil mereka malam itu.

​Pukul tiga pagi. ​Udara Kediri mencapai titik terdinginnya. Shania terbangun saat merasakan usapan lembut di pipinya. Ia membuka mata perlahan, menemukan wajah Zain yang sudah segar, tampak baru saja selesai mandi dan berwudhu.

​"Bangun, Sayang. Kita tahajud sebentar," ajak Zain lembut.

​Shania menggeliat di balik selimut tebalnya, namun segera bangkit saat teringat "pertempuran" manis semalam. Ia tersenyum malu saat melihat Zain yang sedang merapikan sarungnya.

​"Mas Zain, gak capek?" tanya Shania polos.

​Zain menghentikan gerakannya, lalu menoleh dengan kerlingan mata yang nakal.

"Capek itu kalau shalatnya sendirian. Kalau ada makmum cantik seperti kamu, rasa capeknya hilang tertutup berkah. Lagipula, bukankah kita harus bersyukur atas 'hadiah' semalam?"

​Wajah Shania kembali memanas.

"Mas! Jangan dibahas terus!"

​Zain tertawa rendah, suara tawanya memecah keheningan malam yang sunyi. Ia mendekati tempat tidur, lalu mengecup hidung Shania singkat.

"Cepat mandi wajib. Saya, tunggu di sajadah. Kita minta sama Allah agar 'Zain Junior' segera hadir mewarnai hari-hari kita di pesantren ini."

​Shania segera beranjak menuju kamar mandi dengan hati yang dipenuhi bunga-bunga.

Di atas sajadah cinta itu, di bawah sisa gerimis yang mulai mereda, mereka bersujud dalam syukur yang paling dalam. Shania menyadari, "mahar" terindah yang diberikan Zain bukanlah sekadar benda atau janji, melainkan bimbingan untuk menjadi wanita yang lebih mulia di mata Tuhan, tanpa pernah memintanya berhenti menjadi dirinya sendiri.

​Di sepertiga malam itu, di sebuah sudut pesantren di Kediri, dua hati telah benar-benar menyatu dalam ikatan yang lebih kuat dari sekadar kata-kata. Cinta yang tumbuh di atas landasan ilmu, sejarah, dan ketaatan, kini siap menyongsong fajar baru yang lebih terang.

​Bersambung ....

1
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!