NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Sang Penenun & Realita yang Terkoyak

Lokasi: Zona Episentrum, Dasar Palung Weber.

Waktu: 13.15 WIT.

[DEPTH: 7.420 Meters…]

KRAAAAKKK!

Kubah hitam raksasa itu pecah sepenuhnya.

Ledakan yang mengikutinya bukanlah ledakan api, melainkan gelombang kejut hidroninamik yang luar biasa masif. Dinding air melesat ke segala arah dengan kecepatan suara.

“Tahan posisimu!” Teriak Dimas di interkom. Ia menancapkan lutut exosuit-nya yang seberat ratusan kilogram ke dalam lumpur abisal, memeluk pinggang baju selam Sarah agar istrinya tidak terlempar.

Gelombang kejut itu menghantam mereka. BAM! Layar Heads-Up Display (HUD) di dalam helm Sarah berkedip merah seketika. Bunyi derit logam titanium yang menahan tekanan jutaan ton air bergema mengerikan di telinga mereka.

Kawanan kepiting laba-laba obsidian yang tadi mengepung mereka tidak seberuntung itu. Makhluk-makhluk raksasa itu tersapu gelombang air bagaikan daun kering tertiup badai, cangkang batu mereka hancur berkeping-keping karena turbulensi tekanan yang brutal.

Cahaya merah darah yang menyilaukan menyembur dari pusat kubah yang hancur, mengubah air laut yang gelap gulita menjadi lautan merah menyala.

Dari dalam kepompong raksasa itu, Sang Penenun bangkit.

Dimas dan Sarah terbelalak di balik kaca cembung pelindung mereka. Akal sehat mereka menolak untuk memproses apa yang mereka lihat.

Makhluk itu tidak memiliki bentuk biologis yang wajar—tidak ada mata, tidak ada taring, tidak ada sisik. Sang Penenun berwujud seperti persilangan antara ubur-ubur raksasa dan Tesseract (kubus empat dimensi) yang terus berubah bentuk.

Inti tubuhnya adalah bongkahan cahaya merah yang berdenyut lambat. Dari inti tersebut, menjulur jutaan “benang” bercahaya keperakan yang panjangnya mencapai ratusan meter, melambai-lambai di dalam air dengan keanggunan yang mematikan.

“Alatku… alatku gila…” napas Sarah memburu. Matanya menatap panik ke arah indikator di dalam helmnya. “Dim! Sensor navigasiku mati. Gyroscope kacau. Alat ini bilang kita sedang jatuh ke atas, suhunya minus 50 derajat, dan radiasinya melebihi reaktor Chernobyl! Fisika di sekitar makhluk ini hancur total!”

“Dia bukan makhluk biologis, Sar! Dia anomali ruang dan waktu!” Dimas berusaha berdiri, mesin hidrolik di kakinya mengerang keras. “Benang-benang perak itu… dia merajut ulang realita di sekitarnya!”

Sehelai benang perak dari Sang Penenun melayang dengan lembut menyentuh sisa pilar kristal Lemuria raksasa yang roboh di dekat mereka.

Begitu benang itu menyentuh kristal padat tersebut, batu sekeras berlian itu tidak hancur atau terpotong. Batu itu… berubah wujud. Kristal itu mendidih tanpa panas, meleleh menjadi gumpalan daging yang berdenyut, lalu menguap menjadi gelembung ketiadaan.

Sang Penenun secara harfiah menghapus materi yang disentuhnya dan merajutnya menjadi sesuatu yang baru.

Lalu, inti merah raksasa itu berhenti berdenyut.

Meski tanpa mata, Dimas dan Sarah tahu persis bahwa entitas kosmik itu kini sedang “menatap” mereka.

Keheningan bawah laut pecah oleh suara yang tidak merambat melalui air, melainkan langsung bergema di dalam tengkorak mereka. Suaranya bukan lagi amarah primitif seperti Sang Pemakan di Jakarta. Suara ini sangat tenang, anggun, namun memiliki otoritas absolut yang bisa membuat jiwa manusia bertekuk lutut.

“Debu-debu kecil dari zaman yang fana…” suara Sang Penenun menggema di benak Dimas dan Sarah, membekukan darah mereka. “Kalian membawa aroma logam dan keputusasaan. Apakah kalian datang untuk melihat kanvas baruku?”

Ratusan benang perak tiba-tiba melesat ke arah mereka bagaikan cambuk cahaya.

“LARI! KE BUNKER OBSIDIAN DI BELAKANG KITA!” Raung Dimas.

Mereka berbalik dengan susah payah. Di dasar laut dengan exosuit seberat 300 kilogram, “berlari” lebih mirip seperti orang melangkah di bulan secara slow-motion.

Benang-benang perak itu membelah air laut, meluncur mengincar punggung Sarah.

Sarah berbalik separuh badan, mengangkat Speargun pneumatiknya. Ia tidak membidik inti makhluk itu—jaraknya terlalu jauh dan mustahil tertembus. Ia membidik benang cahaya terdepan yang berjarak kurang dari lima meter darinya.

SYUUUTT!

Harpun titanium melesat. Ujungnya yang bermuatan EMP (Electromagnetic Pulse) dan rajah penolak bala bertabrakan dengan benang perak sang dewa laut dalam.

BZZZZZTT!

Ledakan elektromagnetik berwarna biru meletup.

Benang perak itu tidak hancur, namun gelombang EMP berhasil “mengkorsletkan” realita di sekitarnya selama sepersekian detik. Benang itu tersentak mundur seperti tentakel yang tersengat listrik, memberikan Sarah waktu dua detik yang sangat berharga.

“Cepat, Sar!” Dimas menarik lengan titanium istrinya.

Sekitar lima puluh meter di sebelah kiri mereka, terdapat sebuah struktur Lemuria utuh yang tidak terbuat dari kristal atau daging, melainkan dari logam obsidian hitam legam yang sama persis dengan yang mereka temukan di perut Gunung Padang. Logam itu dirancang khusus untuk mengisolasi radiasi gaib.

Dua benang perak lain menyapu dari sisi kanan, siap membelah tubuh exosuit Dimas menjadi dua.

“Giliranku!” Dimas tidak bisa menghindar. Ia menghentakkan kaki besinya, lalu meninju dasar lumpur abisal dengan tangan kanannya yang menggunakan Pressure-Resistant Gauntlet berinti Giok.

“TOLAK!”

Energi Chi murni meledak dari telapak tangannya, menabrak dasar laut.

BOOOOM!

Sebuah kawah terbentuk seketika. Ledakan energi itu memicu gelombang kejut air dan tirai lumpur putih yang sangat tebal, menciptakan tabir asap bawah laut.

Benang-benang perak Sang Penenun menghantam tirai energi Giok itu, membelokkan lintasannya ke atas dan meleset dari tubuh Dimas.

Memanfaatkan kekacauan visual tersebut, Dimas dan Sarah mengerahkan tenaga maksimal pada motor pendorong baju mereka. Mereka menerobos masuk ke dalam lorong gelap bunker obsidian itu.

“Tutup pintunya!” Jerit Sarah.

Dimas menggunakan kedua lengan mekanisnya yang berkekuatan hidrolik untuk mendorong pintu batu obsidian seberat puluhan ton itu. Perlahan tapi pasti, pintu bergeser menutup.

BLAM!

Pintu tertutup rapat, memutuskan cahaya merah menyilaukan dari luar. Ruangan itu menjadi gelap gulita, menyisakan suara napas Dimas dan Sarah yang terengah-engah keras di dalam helm mereka.

Sensor HUD Sarah perlahan kembali normal. Gelombang anomali terputus oleh dinding pelindung diruangan ini.

“Peringatan. Intergritas lambung exosuit 02 menurun ke 85%. Terdapat retakan mikro di engsel bahu kiri,” suara komputer exosuit Sarah berbunyi monoton, membuat jantung Sarah nyaris berhenti.

“Dim,” suara Sarah bergetar. “Bajuku… kalau retakan ini membesar, air bertekanan tinggi bakal merobek bahuku.”

Dimas langsung mendekat, menyalakan senter bahunya. Ia memeriksa engsel bahu mekanis Sarah. Terdapat garis retakan setipis rambut, kemungkinan karena gelombang kejut saat kubah pecah tadi. Untungnya, segel karet internal masih menahan air.

Dimas mengambil semprotan Epoxy Sealant (lem penambal darurat titanium) dari kompartemen paha bajunya, lalu menyemprotkan tebal-tebal ke retakan tersebut. Bahan kimia itu langsung mengeras saat terkena air bersuhu 1 derajat, menyegel celah itu sementara.

“Kamu aman. Tambalan ini bisa tahan beberapa jam,” kata Dimas, menyandarkan helmya pelan ke helm Sarah—sebuah ciuman virtual di balik kaca setebal 15 sentimeter. “Napas pelan-pelan. Kita berhasil sembunyi.”

Sarah memejamkan mata, menstabilkan detak jantungnya. Setelah tenang, ia mengarahkan senternya untuk menyapu ruangan tempat mereke bersembunyi.

“Ini bukan sekedar bunker kosong, Dim,” kata Sarah, nadanya berubah penuh rasa ingin tahu.

Dimas berbalik. Ruangan obsidian itu berbentuk heksagonal. Tidak ada lumut atau tertitip di sini; ruangan ini steril. Di tengah ruangan, terdapat sebuah konsol melingkar yang memancarkan cahaya putih biru yang sangat redup dan bersahabat.

Di atas konsol itu, melayang sebuah benda logam rumit yang berbentuk seperti alat tenun kuno, dihiasi ribuan jarum-jarum kristal mikroskopis yang berputar sendiri dalam keheningan air.

“Alat Tenun Lemuria,” bisik Dimas terpesona, melangkah perlahan mendekati konsol tersebut. “Orang-orang Lemuria ngga bodoh, Sar. Mereka nggak cuma ngebangun penjara lalu berharap makhluk itu tidur selamanya.”

Dimas melihat ukiran di sekitar konsol. Matanya yang ahi sejarah purba langsung menerjemahkan maksudnya.

“Sama seperti kita bikin penangkal virus di Jakarta,” lanjut Dimas, matanya berbinar di balik kaca helm. “Mereka juga ninggalin ‘Senjata’ di dalam ruang darurat ini. Sebuah alat untuk mengurai kembali benang-benang realita yang dirajut sama makhluk di luar sana.”

Sarah mengecek layar komputernya, mencoba mencari frekuensi untuk terhubung dengan alat purba tersebut.

“Kalau makhluk di luar sana itu Sang Penenun (The Weaver)…” Sarah menatap alat logam yang melayang tersebut. “Berarti benda ini adalah Gunting-nya.”

Tiba-tiba, seluruh ruangan bunker itu bergetar hebat. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit obsidian.

Di luar sana, melalui sensor seismik bajunya, Sarah bisa mendeteksi bahwa Sang Penenun tidak lagi berdiam diri di dasar Palung. Makhluk raksasa itu sedang bergerak naik.

“Dim.” Lapor Sarah tegang. “Dia nggak peduli sama kita yang sembunyi di sini. Makhluk itu… dia berenang naik menuju permukaan laut. Menuju kapal RV Nusantara. Menuju daratan Nusantara.”

Waktu mereka baru saja menipis. Jika Sang Penenun mencapai permukaan, ia akan merajut ulang pulau-pulau, mengubah udara menjadi ruang hampa, atau melebur lautan dengan daratan. Kiamat secara harfiah akan segera dimulai.

1
NP
Sarah sama Dimas ternyata minim romansa nya ya 😂 next tipis2 ada romantisme deh kesian Dimas serius terus script nya wkwk
Felycia R. Fernandez
kayak di cuci nih otaknya Sarah
Felycia R. Fernandez
jadi ingat film barat aku nonton ,mereka sekeluarga diserang kepiting karena air laut nya menguap...kepiting di laut mendatangi kapal mereka...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!