Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.
Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.
Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.
Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?
Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama yang menegangkan
Langit malam membentang sunyi di atas villa megah milik Rendra. Cahaya temaram di dalam kamar menjadi saksi awal kehidupan baru untuk dua insan yang baru saja sah menjadi suami istri itu.
Gaun pengantin yang Nadia kenakan, kini telah berganti menjadi gaun tidur.
Sementara Rendra masih mengenakan kemeja yang belum sempat ia ganti. Wajahnya tampak lelah, tapi ada senyum tipis yang ia pertahankan. "Aku mandi dulu, ya," katanya, yang dijawab anggukan oleh Nadia.
Malam itu seharusnya menjadi awal yang indah, tetapi rasa gelisah tiba-tiba muncul di benak Nadia. Hiasan kamar pengantin, dan aroma bunga melati yang memenuhi udara, tak mampu menyembunyikan rasa gelisahnya itu.
Beberapa saat telah berlalu....
Rendra selesai mandi, masih sambil mengeringkan rambutnya, ia mendekat ke arah Nadia dengan langkah yang tenang.
Nadia sempat menoleh sekilas, lalu kembali menunduk."Kamu sudah selesai?" Tanyanya tanpa berani mengangkat wajah.
"Iya." Jawab Rendra dengan jarak yang cukup dekat.
Dipegangnya pundak Nadia, kemudian tangan satunya mengangkat dagu Nadia. Tatapannya lembut, tetapi ada keseriusan di sana yang membuat Nadia tak berani menatapnya lebih lama.
Nadia hanya memberi senyuman singkat, lalu kembali menunduk.
"Kamu kelihatan tegang banget." Kata Rendra.
"Iya, sedikit." Jawabnya.
Tangannya terangkat pelan, menyentuh ujung rambut Nadia yang masih setengah basah. Gerakannya sangat hati-hati, Rendra tak ingin membuat Nadia semakin gugup.
"Tenang saja, kita nggak perlu terburu-buru. Yang kamu rasain itu wajar banget kok," katanya lalu tertawa kecil. "Tapi jujur, aku nggak percaya, wanita seperti kamu bisa segugup ini?" Lanjutnya.
Beberapa saat kemudian...
Malam yang seharusnya menjadi malam paling sakral dalam hidup mereka, justru menjadi ruang sunyi penuh ketegangan.
Rendra menemukan sesuatu yang tak pernah ia harapkan, sebuah kenyataan yang menghantam perasaannya tanpa ampun.
Kembang kempis dadanya, menahan pikiran yang dipenuhi pertanyaan—yang berlarian tanpa arah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian Nadia.
"Kenapa tidak ada apa-apa?" Tanya Rendra penuh amarah.
"Apa maksud kamu?"
Ia mendengkus kesal, "jangan pura-pura tidak paham maksud aku. Ini tidak seperti yang seharusnya, dan aku yakin kamu paham betul dengan yang aku maksud!"
"Aku—aku tidak tahu, aku—" ucapnya terbata.
Tangan lebarnya seketika mencengkram rahang Nadia kuat-kuat, "beraninya kamu membohongi aku." Ucapnya dengan rahang yang mengeras, dan mata melotot kemerahan.
"Dengar, dengarkan aku dulu." Kata Nadia dengan suara bergetar.
"Ternyata hanya wanita murahan. Menyesal aku menikahi kamu!" Teriak Rendra sambil menghempaskan Nadia dengan keras, hingga ia terbanting diatas kasurnya.
Nadia kembali bangun dengan cepat. "Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya—" Nadia ingin membela diri yang langsung dipotong oleh Rendra.
"Diam!!" teriaknya. "Keluar, aku tidak mau melihatmu di sini lagi!" Usir Rendra.
Nadia berlutut di kakinya, "jangan. Tolong jangan usir aku, aku tidak ingin kehilangan kamu."
"Jangan paksa aku mengulanginya!" Kata Rendra penuh tekanan.
"Aku janji, aku bakal ngelakuin apapun, apa pun yang kamu minta, asal jangan usir aku."
Hening... Rendra tak dapat berkata-kata, hanya ada suara napas yang berat, kemudian ujung matanya basah akibat lelehan kristal bening.
"Aku akan menebus semuanya, aku akan jadi istri seperti yang kamu inginkan, asal aku tetap di sini." Sambung Nadia lagi.
"Kamu pikir kesucian bisa ditukar begitu saja?"
"Aku nggak tahu harus berbuat apa, tapi aku hanya ingin tetap di sini, jadi istri kamu." Ucapnya memohon.
"Rumah tangga macam apa ini, baru mulai sudah langsung menghancurkan kepercayaan?" Ia memekik frustasi.
"Aku tahu, dan aku menyesal."
Rendra berjalan mondar-mandir, rasa kecewanya terlalu berat, namun ada rasa tak tega bersikap terlalu keras pada Nadia.
"Aku seharusnya sudah mengusir kamu, sekarang juga. Tapi..." Rendra menatap Nadia dengan mimik memelasnya, "tapi aku tidak bisa melakukannya." Tangisnya pecah yang membuat Nadia semakin menyesal telah membohonginya.
"Aku minta maaf, tolong maafkan aku." Lirihnya.
Rendra menghela napas pelan, "baiklah, kamu tetap di sini tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu."
"Terimakasih," ucap Nadia sambil ingin mencium tangan Rendra.
Rendra menyingkirkan tangannya yang membuat Nadia terdiam pasrah.
Nadia menyeka air matanya, kemudian berdiri. "Aku akan terima resikonya, tapi jangan usir aku dari sini. Aku tidak bisa menghadapi ayah dan ibuku." Kata Nadia.
Tanpa banyak bicara, Rendra keluar dari kamar—meninggalkan Nadia di sana dengan penyesalannya.
Di sepanjang malam itu, Rendra tidak kembali ke kamarnya lagi. Kini, penyesalan Nadia sangat dalam, ia bingung harus berbuat apa?
Kamar pengantin yang mewah itu, hanya dipenuhi oleh suara isak tangis Nadia, hingga rasa kantuk membawanya ke alam mimpi.
* *
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap di sela tirai jendela. Dinginnya AC, bagai ikut menahan sisa-sisa ketegangan semalam.
Nadia duduk di sudut ruangan, memeluk lutut sambil menenangkan pikirannya.
Ponsel di atas meja bergetar pelan, kemudian Nadia menoleh. Dadanya terasa sesak, ketika nama ibu muncul di layar ponselnya. Ia tetap menggeser tombol hijau meski tangannya gemetar.
"Hallo, Nad. Gimana kabarmu pagi ini?" Sapa bu Risa penuh perhatian seperti biasa.
Sejenak Nadia terdiam, menelan segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. "Baik, bu..." jawabnya pelan, dengan suara yang terdengar kurang meyakinkan.
Ibunya tak ingin menyingung, namun tetap bertanya dengan hati-hati demi rasa ingin tahunya. "Malam pertamamu....semuanya baik-baik saja, kan?"
Cahaya pagi semakin terang, namun hatinya justru terasa semakin sempit. Nadia menarik napas dengan mata terpejam.
"Iya, bu. Semuanya berjalan lancar." Kata Nadia, meski menyimpan begitu banyak hal yang tak sanggup ia ucapkan.
Di seberang telepon, bu Risa terdiam sejenak, lalu berpesan lembut. "Jaga dirimu baik-baik ya, Nak. Karena sekarang kamu sudah jadi seorang istri."
Nadia mengangguk meski ibunya tak melihatnya. "Iya, bu."
Panggilan berakhir, meninggalkan keheningan yang justru terasa lebih berat dari sebelumnya. Pagi itu, Nadia menyadari bahwa tidak semua cerita bisa dibagi, bahkan kepada orang tuanya sekalipun.
Ketukan pintu terdengar, membuat Nadia menoleh cepat, berharap suaminya kembali.
Nadia bangkit perlahan, ia segera merapikan pakaian, rambut, lalu menyeka wajahnya sebelum melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Pintu terbuka, seorang pelayan berdiri di sana dengan nampan sarapan yang masih mengepulkan uap hangat.
"Permisi... Sarapan, nyonya..." ujarnya dengan sopan.
"Terimakasih." Jawab Nadia, pelan.
Pelayan masuk, kemudian meletakan nampan itu di atas meja.
Sementara Nadia hanya berdiri terpaku, dengan pikiran melayang ke satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
"Maaf, apa anda melihat suami saya?"
Pelayan itu terkejut, namun segera mengangguk kecil. "Tadi pagi sekali, tuan sudah keluar, nyonya."
"Keluar?" Suaranya nyaris berbisik, "ke mana?"
"Saya tidak tahu, nyonya. Beliau tidak berkata apa-apa." Katanya.
Nadia terdiam, ucapan pelayan itu seolah menyisakan ruang kosong yang begitu besar di dalam dadanya.
Ia hanya tersenyum tipis, "terimakasih." Ucapnya sebelum pelayan itu pergi.
...****************...