Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Point of View Gerald
Aku pernah berkata sebelumnya, bahwa yang terpenting dalam hidupku adalah menikmatinya dan terus bersenang-senang. Tetapi sebenarnya itu hanyalah kebohongan. Aku tidak pernah sekalipun menikmati perjalanan hidupku dan bahkan tidak benar-benar merasa senang juga. Aku hanya mencoba melarikan diri dari kenyataan di mana kebahagiaanku yang sebenarnya telah hilang bersama sosok dirinya.
Lima tahun yang lalu, saat itu aku bukanlah Gerald yang tampan, keren dan terkenal. Gerald yang dulu hanyalah seorang pria culun, kutu buku, dan selalu memakai kacamata kemana pun ia pergi. Saat itu aku yang masih berusia 13 tahun selalu menjadi sasaran perundungan disekolah. Karena kepintaranku juga terkadang aku selalu di perintahkan mengerjakan tugas sekolah orang yang merundungku. Karena aku kaya, cukup sering juga mereka merampas uangku . Saat hati sudah merasa lelah akan semuanya, merasa dunia ini tidak adil bagiku seorang gadis mengulurkan tangannya untukku.
Saat itu aku sudah berdiri di ujung atap sekolah dan hendak mengakhiri hidupku.
"Hei! Kamu mau melompat ya?"
Aku menoleh kearahnya yang menegurku. Aku hanya terdiam.
"Kamu pikir masalahmu akan selesai jika kamu melompat?"
"Aku lelah."
Jawabku pelan.
"Kalau kamu lelah, kamu kan bisa rehat sejenak?"
"Bukan lelah itu yang kumaksud."
"Aku mengerti, karena selama ini aku memperhatikanmu. Kenapa kamu tidak mencoba meminta bantuan jika kamu kesulitan?"
"Tidak ada yang mau mendengarku."
"Orang tuamu?"
"Aku takut mereka kecewa dan malu jika mereka tau apa yang terjadi padaku di sekolah."
"Bukankah tindakanmu yang sekarang lebih memalukan?"
Aku terdiam.
"Kalau begitu, aku akan mendengarkanmu mulai sekarang. Jadi turunlah dari situ."
Gadis itu mengulurkan tangannya kearahku. Awalnya aku merasa ragu. Tapi pada akhirnya aku menyambut uluran tangannya. Aku ingin mencoba hidup dengan baik sekali lagi. Ketika semua orang menjauhiku saat aku di rundung, hanya gadis itulah yang selalu ada disisiku dan membantuku melawan mereka walau akhirnya mendapatkan luka di tubuhnya. Dia bahkan tidak peduli pandangan orang lain tentangnya saat bersama denganku. Lama kelamaan, ada sedikit rasa malu dalam hati ini karena selalu aku yang dilindungi wanita itu. Saat itu aku memberanikan diri berbicara untuk pertama kalinya kepada ayahku tentang keinginanku.
"Ayah, a-aku mau belajar bela diri."
Awalnya ayah hanya diam. Namun dia tetap mengizinkan. Kulihat wajahnya sedikit kaget. Sebuah kartu debit berwarna hitam dikeluarkannya.
"Ambillah. Pakai sesukamu."
"Apa benar yang dikatakan gadis itu? Aku hanya perlu berbicara pada ayah."
Dua hari setelah itu, sekertaris ayahku menemuiku.
"Tuan Muda, ini tempat pelatihan terbaik di negara P. Tuan Besar juga sudah menyetujuinya. Tuan Muda bisa mulai berlatih besok setelah pulang sekolah."
"Terimakasih. Em...?"
"Doni. Panggil saja Doni."
"Terimakasih Doni."
"Tuan Muda, sering-seringlah berbicara dengan Tuan Besar. Dia sangat senang."
Ucapnya lalu pergi.
Aku tersenyum mendengar ucapan sekretaris itu. Selama ini, mungkin aku yang salah paham tentang ayah. Semenjak kedatangan Julia, hidupku seperti lebih mudah.
Keesokannya. Di ruang pelatihan. Hari itu juga adalah pertemuan pertamaku dengan Bass. Di lihat dari penampilannya hampir sama sepertiku. Tapi kacamata yang di kenakannya terlihat lebih besar.
"Apa lihat-lihat?!"
Dia menggertakku. Kesan pertama yang menyebalkan.
Lalu di hari berikutnya aku bertemu dengan Juna. Aku melihat Mei yang ada di sampingnya. Juna tampak akrab dengan Bass. Saat guru datang kami pun mulai berlatih. Tapi Bass nampak tidak menekuninya. Tidak lama kemudian Julia datang. Fokusku teralih. Aku melihatnya berbicara akrab dengan Mei.
"Mereka saling mengenal?"
Satu pukulan melayang ke pipiku. Saat itu aku sedang sparing dengan Juna.
"Apa yang kau lihat?! Mei itu milikku!"
Dia salah paham. Aku sedikit kesal karena pukulannya, lalu aku membalasnya tepat di sudut bibirnya. Juna terjatuh. Mei yang menonton merasa khawatir. Begitu pun Julia. Juna mulai tersulut emosi. Lalu membalas pukulanku kembali. Suasana mulai tidak terkendali. Aku malah terjebak di pertengkaran yang konyol ini. Guru juga tidak mencoba melerai kami. Kami bertarung sampai lelah dan babak belur. Bass yang melihat kami hanya tertawa. Di atas lantai Ring pertandingan itu aku tergeletak lelah. Juna lalu mengikutiku juga.
"Aku tidak melihat ke arah Mei. Tapi Julia."
Aku mencoba menjelaskannya.
"Kamu suka Julia ya?"
"Iya."
Jawabku tanpa ragu.
Lalu guru menghampiri kami berdua.
"Jadi bagaimana rasanya perkelahian pertama kalian?'
Tanyanya enteng.
Aku menoleh ke arah Juna. Rasanya konyol. Aku pun tertawa. Begitu pula dia. Mei dan Julia yang awalnya khawatir sedikit lega.
Pelatihan telah usai. Mei dan Julia sudah menunggu kami di depan pintu masuk.
"Ternyata ini yang selalu Julia bicarakan. Perkenalkan aku Mei."
Aku menatap Julia. Dia tersenyum padaku seolah-olah berkata "Ini akan baik-baik saja."
Aku menyambut tangan Mei. Namun dengan cepat Juna melepaskan tangan kami.
"Ini Juna. Tunanganku. Dan ini Bass."
Aku merasa aneh mendengar kata 'Tunangan' di usia kami yang baru menginjak angka 13. Itu awal mula bagaimana kami bisa berteman. Seminggu berteman dengan mereka aku jadi tahu bagaimana mereka bertemu. Mereka bertemu di sebuah pesta kalangan elit. Julia memiliki Ibu yang masih berkerabat jauh dengan Mei. Dan Juna adalah pasangan yang di jodohkan orang tuanya sebagai pernikahan bisnis. Dan Bass adalah kerabat jauh dari ibu Juna. Dia tidak begitu suka bela diri. Dia datang ke tempat pelatihan hanya karena Juna ada di sana.
"Ibu bilang aku harus akrab dengan dia."
Jarinya menunjuk Juna tanpa ragu. Kemudian Juna menggigit jarinya.
"Juna!"
Tangan Mei memukul bahu Juna dan ia melepaskan gigitannya.
"Ya, bagaimanapun orang tua kita itu pembisnis. Tidak apa-apa."
Lanjut Mei kemudian.