Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Latar belakang foto itu sama persis dengan latar belakang foto wanita itu.... Apakah saat itu, aku jatuh cinta pada kekasih orang lain, apakah aku merebut kamu dari wanita itu, Dit......?"
"Sayang, aku kan udah bilang. Itu hanya masalalu.."
"Atau saat itu kamu dan dia masih memiliki hubungan... Apakah aku merusak hubungan kalian ?"
Langkah Aditya berhenti di pertengahan tangga, ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan sabar, mengontrol emosinya. Ia sedikit kesal dengan sikap istrinya yang seolah olah terus mencari masalah.
"Sekarang, Itu tidak penting lagi sayang, kita sudah menjalani kehidupan rumah tangga selama enam tahun. Kamu istriku dan dia bukan siapa-siapa" Suara Aditya sedikit parau.
Bohong.... Aditya berbohong lagi, Chelsea tidak tahu kalau wanita yang selalu ada dalam mimpi mereka, dialah awal dari semua ini, dia kunci dari kehilangan buah cinta mereka.
"Iya Dit, aku sangat berharap dia tidak ada lagi dalam hati mu..."
Aditya menatap Chelsea dengan wajah tegang " Ada apa Dit? Apakah yang aku katakan salah?" Tanya Chelsea.
"Tidak sayang, aku hanya lelah menjelaskan padamu, bahwa dia bukan siapa-siapa, dia hanya masalalu " lagi lagi kebohongan itu meluncur dari mulut Aditya.
Tatapannya terpaku pada sosok wanita dalam pelukannya, ia mencoba meyakinkan istrinya bahwa dia jujur walaupun dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri karena menciptakan begitu banyak kebohongan.
"Bawa aku ke kamar Dit, aku mengantuk sekali"
"Baiklah sayang..."
Aditya menurunkan Chelsea dengan sangat hati-hati " Tidur lah sayang, aku juga harus tidur. Besok pekerjaan banyak yang harus ku selesaikan"
Chelsea tersenyum, ia berbalik membelakangi Aditya yang sedang menatap punggung Chelsea.
Mereka berdua tidur bersama, tubuh berdekatan tapi entah kenapa ada jarak yang membuat mereka terasa jauh. Mereka menjadi asing.
Aditya tidak bisa memejamkan matanya, begitu juga dengan Chelsea.
"Dit.... kalau suatu saat nanti, kita berdua tahu. bahwa di antara kita berdua ada rahasia yang kita tutupi bertahun tahun. Apa yang harus kita lakukan Dit ?" Chelsea bertanya dengan suara parau, ia masih membelakangi Aditya.
Aditya tersentak, jantungnya berdegup kencang. Matanya mengerjab liar " Sayang, apa maksud kamu?"
"Aku hanya bertanya..."
"Untuk apa bertanya seperti itu?"
"Aku hanya penasaran..." jawab Chelsea dingin.
Walaupun pertanyaan Chelsea tersenyum biasa saja namun Aditya merasa itu seperti hantaman palu tepat di ulu hatinya. Ia merasa sesak dan membuatnya sulit bernafas. namun Aditya tetap menjawab dengan tenang.
" Sayang, dengarkan aku... semua orang punya masalalu, aku..kamu..ayah..ibu..kak Ardian, kak Tania, pasti punya masalalu, bagaimana kelamnya masalalu seseorang, termasuk aku. Aku hanya berharap maaf ku di terima "
"Aku harus memaafkan kamu ? seperti itu maksud kamu Dit..?"
"Ya... Karena aku bukanlah manusia yang sempurna, sayang"
Chelsea diam, hanya suara angin malam yang mengalun perlahan lahan.
"Baiklah Dit...aku hanya berharap tak ada rahasia apapun di antara kita, karena kita sudah saling terbuka di awal kita mengucapkan janji di depan altar "
____
Pukul tujuh pagi, Hendra sudah menunggu Aditya di depan rumah Aditya. Langkah kaki Aditya semakin mendekat ke arahnya.
"Kita jalan sekarang, aku ingin ke tempat kerjanya" Aditya berjalan dengan langkah kaki yang ringan dan panjang.
"Baik tuan..."
Aditya merasa perjalanan kali ini terasa sangat lambat, ia ingin cepat sampai. dia ingin menyelesaikan semuanya. " Hendra... apakah dia ada di tempat kerjanya..? "
Hendra hanya mengangguk...
Aditya semakin jauh meninggalkan rumahnya yang megah, menuju ke tempat yang akan menjadi penentu nasib rumah tangganya.
Aditya menurunkan kaca mobil sedikit, ia ingin menghirup udara yang banyak. Aditya memejamkan matanya. Matanya terpejam, jari tangannya mengetuk perlahan handle pintu mobil. Aditya gugup.
"Ini tempatnya tuan..." Hendra menunjuk sebuah bangunan yang sangat besar, Aditya membuka matanya, ia melihat gedung itu. Dia pernah datang kesini
"Aku pernah ke tempat ini Hendra, saat itu aku tidak tahu siapa pemilik butik ini.. Hentikan mobil di sini, aku ingin melihat lihat sebentar " Aditya bukan ingin melihat lihat, dia sedang menenangkan debaran jantungnya.
Tepat saat itu, seorang wanita keluar dari mobil berwarna merah. Aditya menahan nafas, matanya tak lepas menatap ke depan.
Hingga kemudian, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak..Dunia seolah-olah berhenti berputar. Aditya membeku. Saat sosok wanita yang ia cari selama ini, melihat ke arah mobilnya.
Elfa masih berdiri di sana, di atas trotoar..Elfa mengenakan pakaian yang sederhana namun terlihat sangat sempurna di tubuhnya.
Aditya memperhatikan wajah Elfa, ia terlihat lebih dewasa dan tenang. Wajahnya masih terlihat penuh kedamaian, wajah yang sama. Elfa tersenyum saat ada yang menyapa. Aditya melihat senyum itu, masih sama. Senyuman yang ramah.
Garis kecantikan itu tak memudar sedikitpun di wajah Elfa yang tidak lagi muda, karena sekarang dia adalah Elfa dengan usia tiga puluhan. Aditya juga melihat ketegaran di wajah Elfa.
"Elfa...."Desis Aditya, suara nya tiba tiba hilang di tenggorokannya. Tercekik oleh penyesalan yang menghantam dadanya. Aditya merasakan jantungnya bukan lagi berdetak kencang tapi ia merasakan jantungnya melemah.
Aditya melihat Elfa tertawa kecil saat ia bicara dengan seorang wanita tua yang berdiri di samping Elfa, dia berdiri di samping wanita dengan pakaian yang sangat sederhana.
Hendra ikut memperhatikan Elfa, ia tidak mengatakan pada Elfa kalau hari ini Aditya akan ke butiknya. ia ingat kata Elfa semalam..
"Biarkan saja dia tahu yang sebenarnya,, Hendra..."
Dan seperti inilah yang terjadi saat ini.
Aditya mencengkram erat handle pintu, tangannya gemetar. Ia ingin membuka pintu dan berlari ke sana, lalu bersujud di kaki Elfa dan meminta maaf. Namun kakinya seperti batu yang keras. Sulit di gerakkan.
Aditya melihat Elfa tertawa lepas, Tawa yang dulu hanya untuknya, tawa yang ia hargai dengan sangat murah. Kini tawa itu terasa sangat mahal. Ia tidak bisa menjangkau. Bahkan uangnya, hartanya tidak akan bisa membeli tawa itu.
Elfa masih berdiri di sana, berbincang dengan tenang pada wanita itu, tak lama kemudian ia melihat Elfa berjalan kaki, ia berjalan perlahan menemani wanita itu.
" Ikuti dia, Jalan perlahan lahan Hendra, jangan sampai dia curiga" Kata Aditya.
Mobil bergerak dengan sangat berlahan, dan saat itu juga. Aditya melihat Elfa berdiri di depan rumah makan. Sepertinya Elfa sedang memesan makanan dan minuman, lalu...
Elfa memberikan dua kantong plastik pada wanita tadi. Aditya yakin, wanita itu adalah wanita yang hanya lewat saja dan Elfa kasihan pada wanita tua itu " Bahkan dia masih mengutamakan orang lain " Guman Aditya
Ia melihat tangannya. ia memakai jam tangan mahal, baju dan semua yang ada di tubuhnya bukan barang murah. Ia punya segalanya, ia juga sering berbagi dengan memberikan sumbangan ke panti asuhan tapi dia tidak pernah berdiri dengan seseorang dengan penampilan seperti wanita di sebelah Elfa.
Tak lama kemudian Elfa berjalan menuju butiknya.
Mobil Aditya merayap perlahan ia dekat di mana Elfa berjalan.
"Apakah anda akan menemuinya, tuan?"
"Berhenti di sini, biarkan dia masuk ke dalam butik. Aku akan berjalan kaki mengikuti dia " ucap Aditya tegas.
Aditya keluar dari mobil, mengikuti Elfa yang berjalan santai..
Saat itu, Aditya merasakan getaran dari ponselnya.
Istriku..
Aditya mengabaikan panggilan telepon itu, ia melangkah perlahan lahan mengikuti langkah kaki Elfa. Jantung Aditya berdegup kencang, ia belum berani menyapa Elfa.
Elfa berhenti, Aditya yang tidak menyadari langkah Elfa yang berhenti tiba-tiba. Hampir saja terjatuh.
"Sial.... hampir saja ketahuan" Batin Aditya. Sementara di dalam mobil, Hendra tertawa melihat Aditya.
Di belakang Elfa, Aditya berdiri mematung. Ia berusaha mengatur pernafasannya, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.. seolah-olah dia takut Elfa bisa mendengar detak jantungnya.
Aditya sudah memerintahkan Hendra untuk diam dalam mobil, menunggu nya di tempat tadi. Aditya ingin memastikan lagi bahwa wanita di depannya benar benar Elfa. Ia tidak ingin salah mengenal Elfa, seperti halusinasinya saat melihat wanita yang di tepi jalan, yang ia pikir itu Elfa.
Aditya melihat Elfa, tiba-tiba ia merasa bersalah, dan perasaan itu semakin besar ia rasakan, ia sempat menertawakan Elfa saat mendengar pekerjaan Elfa hanya tukang cuci dan sekarang, Elfa yang berdiri di depannya adalah Elfa yang sukses. Elfa yang pantas berada di lingkungannya.
Aditya melamun dan tepat saat itu, seorang anak kecil menabrak Aditya.
"Maaf paman, aku tidak sengaja..."
Dan saat itu pula Aditya dan Elfa serentak menoleh.. Aditya terpaku,. dunianya seolah-olah meledak.
Elfa berdiri jarak lima meter dari Aditya, sedang melihat pesan masuk di ponsel, namun begitu matanya menangkap sosok pria yang berdiri menatapnya, wajah Elfa menegang.
Kedua mata mereka bertemu, mata Aditya dengan tatapan yang penuh dengan permohonan beradu dengan mata Elfa yang melebar karena terkejut, hanya sekilas Aditya melihat rona merah di wajah Elfa. Karena setelah itu, ia melihat Elfa hanya menatap tanpa kedip padanya..datar
"Elfa....."
.
.
.
Next....
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.