NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEBAT PANAS DI PANGGUNG UTAMA (1)

Dua minggu sejak poster kampanye digital itu terpasang, atmosfer di SMA Nusantara Jaya benar-benar berubah total. Polarisasi dukungan di antara para murid tidak lagi bisa dibendung. Kubu Alvaro Pramudya yang didukung oleh struktur elite tradisional dan anak-anak konglomerat lama kini harus berhadapan dengan badai pergerakan baru: kubu Devan Narendra yang mengusung narasi kesetaraan, dipimpin oleh Kayla Shaqueena sebagai ikon perlawanan kaum beasiswa.

Hari itu, Aula Utama Nusantara Jaya yang berkapasitas ribuan orang telah disulap menjadi arena debat terbuka.

Lampu-lampu sorot bersinar terang menerangi panggung utama, di mana dua buah podium akrilik transparan berdiri megah saling berhadapan. Di atas panggung belakang, layar LED raksasa menampilkan wajah kedua kandidat Ketua OSIS. Di sisi kiri bawah panggung, barisan pendukung Devan berseragam pin biru langit tampak solid, sementara di sisi kanan, sirkel pendukung Alvaro dan The Elite Four mendominasi dengan warna hitam formal.

Kayla berdiri di belakang panggung, memegangi map berisi poin-poin pidato yang telah ia susun bersama tim sukses Devan. Tangannya dingin. Dari balik tirai beludru, ia bisa melihat Alvaro sudah duduk tegak di kursinya di atas panggung kanan. Cowok itu mengenakan almamater sekolah yang dikancing sempurna, wajahnya tampak tenang, dingin, dan sangat fokus. Luka memar di pipinya kini sudah hilang tak berbekas, digantikan oleh ekspresi penguasa sejati yang siap mempertahankan takhtanya.

"Gugup?" sebuah suara bariton yang lembut terdengar di dekat telinga Kayla.

Devan berdiri di sampingnya, melonggarkan sedikit kerah kemejanya sebelum memakai blazer kandidatnya. Senyuman malas yang biasa kini lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang sangat tajam dan penuh kalkulasi.

"Sedikit," aku Kayla jujur. "Alvaro terlihat sangat siap, Devan. Aku takut poin-poin perihal diskriminasi beasiswa yang kita susun justru akan dia serang balik menggunakan pengaruh keluarganya."

Devan melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Kayla, meremasnya pelan untuk menyalurkan kekuatan. "Ingat kesepakatan kita, Kayla. Kamu adalah suara dari mereka yang selama ini dibungkam. Biarkan aku yang bertarung secara politik di podium, tapi kamulah yang memegang kunci untuk meruntuhkan keangkuhannya. Percayalah padaku."

Kayla mengangguk, merasakan sedikit ketenangan mengalir ke dalam dadanya.

Bum! Bum! Bum!

Suara tabuhan drum pembuka menggema, menandakan debat resmi dimulai. Moderator acara—seorang guru senior berwibawa—meminta kedua kandidat untuk menempati podium masing-masing. Riuh tepuk tangan dan sorakan penonton bergemuruh memecah keheningan aula saat Devan dan Alvaro melangkah maju secara bersamaan.

Saat kedua pasang mata pangeran sekolah itu saling bertabrakan di tengah panggung, ketegangan ekstrem langsung terasa hingga ke bangku penonton baris paling belakang. Mereka tidak lagi hanya memperebutkan jabatan Ketua OSIS; mereka sedang mempertaruhkan harga diri, idealisme, dan seorang gadis yang kini berdiri di barisan depan penonton.

"Kita mulai sesi pertama: Penyampaian Visi dan Misi," ujar moderator tegas. "Kesempatan pertama diberikan kepada kandidat nomor urut satu, Alvaro Pramudya. Waktu Anda tiga menit."

Alvaro maju satu langkah, mencengkeram sisi podium akriliknya. Ia mendekatkan diri ke mikrofon, lalu mengedarkan pandangan hitamnya ke seluruh penjuru aula. Aura dominannya seketika membungkam seluruh sorakan.

"Nusantara Jaya tidak dibangun di atas fondasi belas kasihan," suara Alvaro menggelegar, mantap dan tanpa ragu sedikit pun. "Sekolah ini berdiri di puncak tertinggi karena kita dipimpin oleh sistem yang menuntut keunggulan mutlak. Visi saya adalah mempertahankan stabilitas dan memperluas jaringan global sekolah ini melalui kemitraan korporasi internasional. Kita tidak butuh perubahan radikal yang didasarkan pada sentimen emosional sekelompok orang yang merasa tertindas. Kita butuh pemimpin yang kuat, yang tahu cara mengendalikan kekuasaan, bukan pemimpin yang menggunakan topeng pahlawan hanya untuk mencari simpati."

Alvaro melirik tajam ke arah Devan, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke arah Kayla yang duduk di barisan depan. "Pemimpin sejati adalah dia yang berani berdiri di depan badai untuk melindungi apa yang menjadi miliknya, bukan dia yang bersembunyi di balik narasi kesetaraan yang palsu."

Tepuk tangan riuh dari kubu kanan pecah. Rafael Mahardika dan Galang Saputra tampak memberikan anggukan penuh hormat dari kursi VIP.

"Selanjutnya, kesempatan diberikan kepada kandidat nomor urut dua, Devan Narendra. Waktu Anda tiga menit," ucap moderator.

Devan melangkah maju dengan pembawaan yang luar biasa tenang. Ia meletakkan kedua tangannya di atas podium, menatap santai ke arah kerumunan murid sebelum mulai berbicara.

"Stabilitas yang Tuan Muda Alvaro maksud... adalah stabilitas yang dibangun di atas ketakutan," suara Devan terdengar sangat jernih dan tajam, memotong euforia kubu lawan dengan telak. "Sebuah sistem di mana satu warna kartu bisa menentukan apakah seorang murid layak diperlakukan sebagai manusia atau sebagai sampah di koridor sekolah. Visi saya sederhana: mengembalikan Nusantara Jaya kepada fungsinya yang sejati, tempat di mana kecerdasan dan integritas dihargai setara, tanpa memandang berapa banyak digit angka di rekening orang tua Anda."

Devan memajukan tubuhnya, menatap Alvaro dengan senyuman sinis yang mematikan. "Alvaro berkata dia tahu cara mengendalikan kekuasaan. Tapi kenyataannya, kekuasaanlah yang selama ini mengendalikan dirinya hingga dia lupa cara memandangi manusia lain dengan hati nurani. Sudah saatnya kita menghentikan dinasti tirani ini."

Sorak-sorai histeris dari kubu kiri langsung meledak. Murid-murid dari jalur beasiswa dan mereka yang selama ini menjadi korban perundungan berdiri sambil meneriakkan nama Devan.

Sesi debat memanas ketika memasuki babak tanya jawab terbuka antar-kandidat. Alvaro tidak lagi menahan diri. Ia menggunakan seluruh kemampuan retorikanya yang tajam untuk memojokkan program-program kerja Devan yang dianggapnya terlalu utopis.

"Kamu bicara tentang menghapus kartu merah dan kesetaraan, Devan," cecar Alvaro, matanya berkilat berbahaya. "Tapi mari kita bicara realitas. Delapan puluh persen dana fasilitas, beasiswa, dan operasional laboratorium canggih di sekolah ini disumbang oleh Pratama Group dan Pramudya Corp. Jika kamu menghapus sistem proteksi elite ini, bagaimana kamu menjamin para donatur besar tidak menarik modal mereka? Apakah kamu akan membiarkan sekolah ini turun kasta menjadi sekolah reguler karena kekurangan dana?"

Devan sempat terdiam sesaat, sebuah celah kecil yang langsung dimanfaatkan oleh pendukung Alvaro untuk bersorak meremehkan.

Melihat Devan terdesak, Kayla yang berada di bawah panggung tidak bisa tinggal diam. Berdasarkan aturan debat, juru kampanye utama diperbolehkan memberikan satu interupsi atau argumen tambahan di sesi pertengahan.

Kayla berdiri dari kursinya, berjalan mendekati mikrofon interupsi yang disediakan di tengah lantai aula. Seluruh perhatian ribuan pasang mata kini beralih sepenuhnya kepada sang anak laundry.

Alvaro menghentikan kalimatnya, menatap Kayla yang kini berdiri tegak di bawah panggung dengan tatapan mata yang mendadak melunak, namun sarat akan ketegangan batin.

"Saya ingin menanggapi pertanyaan dari Tuan Muda Alvaro," ucap Kayla, suaranya terdengar sangat lantang dan stabil berkat keberanian yang ia kumpulkan selama ini. "Anda bertanya bagaimana menjamin donatur tidak menarik modal jika sistem kartu merah dihapus? Jawabannya sederhana, Alvaro. Anda selalu berpikir bahwa uang Anda adalah alasan mengapa kami bertahan di sini. Tapi Anda lupa... alasan donatur besar menanamkan modal di sini adalah karena mereka ingin berinvestasi pada masa depan yang cerah, pada otak-otak cemerlang yang ada di sekolah ini—termasuk para anak beasiswa yang selalu menyumbang piala olimpiade emas untuk nama baik Nusantara Jaya!"

Kayla melangkah satu senti lebih dekat ke arah panggung, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Alvaro. "Uang Anda bisa membangun gedung laboratorium yang megah, Alvaro. Tapi uang Anda tidak akan pernah bisa membeli kecerdasan, ketulusan, dan kehormatan kami. Menghapus kartu merah bukan berarti menurunkan kasta sekolah, melainkan menaikkan derajat kemanusiaan yang selama ini Anda injak-injak!"

Aula Utama seketika hening mencekam. Kalimat Kayla yang begitu berani dan sarat akan kebenaran telanjang itu menghantam tepat ke dalam ulu hati Alvaro, membuatnya terpaku di balik podiumnya dengan napas yang tertahan.

----

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!