Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.Sisa Malam dibalik Dinding Asrama
Jeritan Raynare yang melengking membelah kesunyian taman, suaranya parau penuh ketakutan yang murni. Di bawah tatapan dingin Bibi Dong, Malaikat Jatuh itu merasa seolah-olah jiwanya sedang dipreteli helai demi helai. Aura ungu yang berpendar dari tubuh sang Permaisuri menciptakan tekanan yang begitu padat hingga aspal di bawah lutut Raynare mulai retak, menyerah pada gravitasi yang tidak wajar.
Bibi Dong mengangkat tangan kanannya perlahan. Ujung jemarinya mulai memercikkan energi kehijauan gelap yang berdenyut—manifestasi dari racun rohnya yang telah berevolusi. Ia menatap mangsanya dengan keanggunan seorang pemangsa puncak yang tidak terburu-buru mengakhiri perburuan.
"Ren, makhluk ini terlalu rapuh," ucap Bibi Dong, suaranya tetap jernih meski di sekelilingnya badai energi sedang mengamuk. "Satu sentuhan lagi, dan eksistensinya akan terhapus dari dunia ini. Apakah kau yakin ingin aku berhenti?"
Ren, yang sedari tadi hanya bersandar tenang pada tiang lampu, mulai melangkah maju. Sepatunya mengetuk aspal dengan bunyi yang santai, namun setiap langkahnya seolah-olah meredam getaran liar dari energi Bibi Dong. Ia berjalan melewati Issei yang kini sudah tidak bergerak lagi, napasnya tinggal satu-dua yang tersisa di tenggorokan.
"Sudah cukup untuk perkenalannya, Dong'er," ucap Ren sambil berdiri di samping istrinya. Ia meletakkan tangan di bahu Bibi Dong, sebuah sentuhan yang seketika membuat aura mematikan di sekitar mereka menyusut dan kembali tenang. "Kita tidak ingin menarik perhatian 'Gubernur' mereka terlalu dini. Biarkan burung gagak ini membawa rasa takutnya kembali ke sarangnya."
Bibi Dong menurunkan tangannya, meski matanya masih berkilat dengan sisa-sisa niat membunuh. "Kau terlalu baik pada sampah, Ren."
"Bukan baik, sayang. Ini adalah investasi," Ren melirik Raynare yang kini gemetar hebat di atas tanah, wajahnya pucat pasi dan sayap hitamnya tampak layu. "Pergilah. Katakan pada kawan-kawanmu bahwa mulai malam ini, taman ini adalah wilayah terlarang. Jika aku melihat bulu hitam lagi di sini... aku akan membiarkan istriku menjahit mulut kalian dengan duri rohnya."
Raynare tidak menunggu perintah kedua. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan sayapnya mengepak, terbang melesat ke langit malam dengan gerakan yang sangat tidak stabil, meninggalkan bulu-bulu hitam yang rontok di udara.
Setelah sosok itu menghilang di balik awan, Ren berjongkok di samping tubuh Issei yang bersimbah darah. Ia menatap wajah pemuda itu—wajah seorang manusia yang baru saja dikhianati oleh cinta pertamanya.
[SISTEM: Target Issei Hyodo berada dalam fase 'Kematian Klinis'. Resonansi dengan Boosted Gear mencapai titik kritis.]
[SISTEM: Deteksi keberadaan Rias Gremory. Jarak: 300 meter. Ia sedang menuju lokasi menggunakan lingkaran sihir transportasi.]
Ren mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan keperakan dari dalam inventaris ruangnya—salah satu ramuan penguat jiwa yang ia bawa dari dunia asalnya. Ia meneteskan satu tetes ke bibir Issei yang sudah membiru.
"Kenapa kau menyelamatkannya secara sembunyi-sembunyi?" tanya Bibi Dong sambil berdiri di belakang Ren, memperhatikan tindakan suaminya dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Aku tidak menyelamatkannya, Dong'er. Aku hanya memastikan dia tidak mati sebelum Rias sampai di sini," Ren berdiri kembali, menyeka jemarinya dengan sapu tangan putih. "Issei adalah kunci untuk menggerakkan faksi Gremory. Jika dia mati sekarang tanpa sempat dibangkitkan oleh Rias, seluruh papan catur yang kubangun akan berantakan."
Ren kemudian menoleh ke arah kegelapan di balik air mancur. Sebuah lingkaran sihir berwarna merah darah mulai terbentuk di atas tanah, memancarkan cahaya yang menyilaukan.
"Dia sudah di sini," bisik Ren. "Ayo. Kita tidak perlu ada di dalam bingkai gambar saat sang pahlawan wanita menyelamatkan ksatria malangnya. Biarkan mereka percaya bahwa semua ini terjadi karena kebetulan."
Bibi Dong menggandeng tangan Ren. Dengan satu pemikiran, Ren memanipulasi ruang di sekitar mereka. Tubuh mereka berdua seolah-olah memudar, menyatu dengan udara malam tepat saat Rias Gremory muncul dari dalam lingkaran sihir dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
Dari dimensi tersembunyi yang hanya berjarak beberapa meter, Ren dan Bibi Dong berdiri diam, memperhatikan Rias yang segera berlutut di samping Issei. Rias mengeluarkan bidak catur Pawn miliknya, menggumamkan mantra pembangkitan yang akan mengubah nasib Issei selamanya.
Bibi Dong menyandarkan kepalanya di bahu Ren, memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan dewasa. "Jadi, itulah cara mereka menambah anggota keluarga? Dengan memanfaatkan kematian?"
"Sangat ironis, bukan?" Ren merangkul pinggang istrinya, menatap cahaya merah yang menyelimuti tubuh Issei. "Mereka menyebutnya keselamatan, tapi bagi kita, itu hanyalah sebuah kontrak perbudakan yang dibungkus dengan rasa syukur. Tapi biarlah... setidaknya Issei akan memiliki umur yang cukup panjang untuk menjadi alat yang berguna bagi kita."
Ren menatap langit malam yang kini sudah bersih dari awan. Bintang-bintang bersinar terang, seolah-olah tidak ada tragedi yang baru saja terjadi di taman itu.
"Pulanglah, Dong'er. Besok pagi, Akademi Kuoh akan memiliki 'anggota baru' di faksi iblis, dan aku ingin melihat bagaimana Rias mencoba menyembunyikan rahasia ini di depan mataku."