Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Rumah, Percakapan dan Rasa Cinta Yang Baru
Rumah yang baru saja ditempati oleh pasangan suami istri baru itu kini kondisinya belum sepenuhnya tertata dengan rapih, beberapa kardus masih tersusun disudut ruang tamu. Baju-baju masih ada yang belum masuk kedalam lemari, peralatan dapur yang masih belum tertata rapi sempurna tapi entah mengapa ...... Rumah itu masih tetap terasa hangat.
Untuk pertama kalinya rumah itu kini diisi oleh dua orang yang sedang belajar menjadi kita.
Pagi ini matahari sudah mulai masuk kedalam tirai ruang keluarga, Nayara duduk santai dilantai dengan tangan yang mulai membuka kardus satu persatu yang berisi buku-buku dan beberapa barang pribadi.
Adrian berada tak jauh dari sang istri kini tengah merakit rak kecil sambil sesekali membaca petunjuk dengan wajah yang cukup serius, Nayara menatap wajah suaminya beberapa detik lalu tercipta senyuman manis itu.
Lucu banget seorang Adrian laki-laki dengan sejuta ketenangan, ternyata bisa kebingungan juga karena baut kecil.
" Mas..." Nayara memanggil Adrian dengan kekehan pelan.
" Iya, Sayang?".
" Mmmhhh... Itu rak nya kenapa miring ya?" tanya Nayara.
Adrian mengehentikan gerakan tangannya, lalu memperlihatkan hasil rakitannya dan ternyata ... Benar saja rak itu sedikit condong ke arah kanan membuat Adrian menghela nafasnya.
" Kayaknya Mas pasang sisi sebelah sini kebalik deh, Sayang" Ucap Adrian yang kini wajahnya sedikit kusut seolah frustasi.
" Boleh aku lihat?"
" Silahkan, Tuan Putri" Adrian tersenyum menatap wajah Nayara.
" Ohh... Sepertinya ini lubangnya salah posisi, Mas" Nayara kini mendekat dan berjongkok disamping Adrian.
" Hehehe... Masih ngantuk kayaknya deh, Sayang jadi Mas salah pasang" Adrian terkekeh geli.
" Ternyata seorang Mas juga bisa salah ya" ucap Nayara menatap wajah suaminya hangat.
" Maksudnya gimana, Sayang?" Adrian mengangkat sebelah alisnya.
" Biasanya Mas keliatan selalu tahu apapun solusi dari setiap masalah yang terjadi di bumi ini, sekarang sedikit keliru hehehe" Jawab Nayara.
" Sayang... menikah sama kamu bukan berarti Mas tiba-tiba jadi manusia sempurna ya.." Adrian tertawa pelan.
Nayara tertawa pelan dan obrolan sederhana saat ini terasa begitu menyenangkan, ringan, dan hangat.
Jadi begini ya rasanya berada di tangan orang yang tepat, kebahagiaan rumah tangga dimulai dari hal-hal kecil bukan dari hal besar apalagi perjalanan mewah. Tapi dari kebersamaan sederhana.
Nayara melanjutkan kegiatannya dengan merapihkan barang yang lain, kini tubuhnya berdiri didepan lemari dengan gerakan tangannya yang bergerak aktif menyusun beberapa dokumen pekerjaan. Namun seketika pergerakannya terhenti ketika melihat salah satu dokumen berlogo Almeera Group tubuh Nayara seketika terdiam.
Sebelum dan setelah menikah memang Adrian dan Nayara belum membicarakan tentang pekerjaan, Almeera Group sampai saat ini masih berada dibawah tanggung jawab Nayara.
Aku bahagia menjadi seorang istri, tapi aku juga mencintai pekerjaanku.
" Mas... Boleh aku tanya sesuatu?"
Adrian yang tengah fokus melipat pakaian seketika menghentikan gerakannya.
" Boleh, ada apa Sayang?"
" Setelah menikah, apa aku masih boleh bekerja?" Nayara mengigit bibirnya pelan.
" Tentu saja boleh, kenapa bertanya seperti itu?" Adrian mengernyitkan keningnya.
" Benarkah? Aku hanya berpikir.... Setelah menikah banyak perubahan yang terjadi" Nayara menundukkan kepalanya.
" Berubah?" tanya Adrian.
" Mmmhh... Begini maksudnya setelah menikah mungkin Ara harus lebih banyak dirumah, atau mungkin harus melepas beberapa tanggung jawab kan sekarang Ara sudah menjadi seorang istri" ucap Nayara pelan.
" Sayang... Menikah bukan berarti kamu berhenti menjadi diri kamu sendiri, Mas menikahi kamu termasuk semua mimpi dan tanggung jawab yang kamu punya" Adrian berdiri lalu berjalan mendekat.
" T.. ta.. Tapi bagaimana kalau pekerjaan Ara menyita waktu?" Nayara mulai berani mengangkat wajahnya.
" Kalau itu membuat sayangnya Mas ini berkembang, ya Mas akan mendukung dong" Adrian tersenyum lembut.
" Benarkah?" tanya Nayara memastikan.
" Selama Ara masih bisa membagi waktu, menjaga kesehatan z dan tidak melupakan bahwa ada rumah yang perlu di jaga... Mas tidak akan melarang apapun" Adrian menyentuh ujung rambut Nayara lembut.
" Ara pikir... Mas ingin aku lebih fokus dirumah " suara Nayara masih terdengar pelan.
" Sayang... Rumah itu bukan penjara, dan menjadi seorang istri bukan berarti kehilangan hak untuk terus tumbuh" Adrian menggelengkan kepalanya.
Kalimat indah itu kembali keluar dari mulut Adrian, begitu dewasa, menenangkan.
Kenapa Mas Adrian selalu tahu bagaimana membuat hatiku tenang? Bukan dengan janji besar, bukan dengan kata manis yang berlebih-lebihan.
Tapi dengan cara pandangnya yang membuatku merasa dihargai, aku tidak hanya dilihat sebagai seorang istri, tapi sebagai manusia yang utuh. Sebagai perempuan yang punya mimpi, dan dicintai begitu luar biasa.
" Sayang, tapi mas punya satu syarat loh enggak gratis" ucap Adrian.
" Syarat? Apa Mas?" tanya Nayara.
" Kalau capek cerita yaa, Mas tidak mau kamu memikul semuanya sendirian. Tolong libatkan Mas dan hal apapun, bisa dipahami Sayang?" kalimat itu begitu hangat di telinga.
" Ara beruntung sekali padahal belum pernah menyelamatkan bumi bagian manapun, jodoh aja dicariin Ayah kalau enggak mungkin gak ada yang mau..." bisik Nayara pelan.
" Hah apa Sayang?" Adrian mengangkat alisnya.
" Ara beruntung menikah dengan seorang lelaki yang tidak membuat diri kita takut kehilangan diri sendiri" jawab Nayara lirih.
" Mas tidak ingin istri yang kehilangan dirinya sendiri, tapi Mas ingin istri yang bahagia dan tetap menjadi dirinya sendiri" Adrian menggelengkan kepalanya pelan.
Air mata Nayara hampir saja jatuh tapi bukan karena rasa sedih, tapi karena bahagia yang terlalu penuh. Kini Nayara melangkah mendekat lalu memeluk tubuh Adrian, pelukan sederhana yang penuh rasa syukur.
" Tumben peluk Mas duluan..." goda Adrian.
" Karena ternyata Ara makin cinta sama suami hehe" Nayara tertawa kecil.
" Waahhhh berarti Mas harus terus mempertahankan prestasi membuat istri jatuh cinta setiap hari" jawab Adrian disertai tawa ringan.
" Kenapa Mas sebaik ini?"
" Karena Mas ingin menjadi rumah tempat Ara pulang, bukan tempat yang membuat istri cantiknya Mas ini merasa terkurung" Adrian mengusap pipi Nayara pelan dan lembut.
Jika cinta datang dari orang yang tepat....
Ia tidak akan membatasi pergerakanmu.
Ia tidak akan mengecilkan mimpimu.
Ia justru aja. Berdiri disampingmu, mendorong, mendukung, dan memastikan jika kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri.