Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Kabar pengangkatan
Pak Edward menatap Ferdi lekat-lekat selama beberapa saat, seolah-olah sedang menimbang-nimbang kebenaran dari kata-kata yang baru saja didengarnya. Sebenarnya, kemarahan Pak Edward memang sudah mulai mereda. Bagaimanapun juga, ia sudah melihat Ferdi mendampingi putrinya selama lima tahun ini, dan selama itu pula Ferdi terlihat sebagai pria yang rajin, sopan, dan bertanggung jawab. Kejadian di jamuan makan malam itu memang sangat memalukan dan mengecewakan, namun di mata Pak Edward, itu masih bisa dianggap sebagai kesalahan refleks sesaat yang didorong oleh rasa khawatir berlebihan, bukan kesalahan yang disengaja. Ditambah lagi, Kiara sendiri sudah mengatakan bahwa ia sudah memaafkan suaminya dan menganggap masalah itu selesai.
Akhirnya, Pak Edward menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan.
“Baiklah, Ferdi. Ayah sudah mendengar apa yang kamu katakan. Memang benar, kejadian kemarin membuat nama keluarga kita menjadi bahan omongan orang, itu hal yang sangat buruk. Tapi Ayah melihat kamu sudah menyadari kesalahanmu, dan Kiara sendiri sudah memaafkan mu. Sebagai orang tua, Ayah tentu tidak ingin melihat rumah tangga putri Ayah terus dipenuhi pertengkaran dan kebencian. Ayah memaafkan mu, tapi ingat baik-baik, ini kesempatan terakhir yang Ayah berikan. Sekali lagi kamu membuat kesalahan yang menyakiti Kiara atau memalukan keluarga kita, jangan harap Ayah akan bersikap lunak lagi,” ucap Pak Edward dengan nada tegas namun sudah ada nada meredakan kemarahan di dalamnya.
Wajah Ferdi seketika berubah cerah, rasa lega yang luar biasa langsung memenuhi dadanya. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam sebagai tanda terima kasih dan rasa hormat.
“Terima kasih banyak, Ayah! Terima kasih atas kepercayaan dan pemaafan Ayah. Saya berjanji, saya akan menjaga kepercayaan ini sebaik mungkin, dan tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu lagi,” ucap Ferdi dengan suara yang penuh rasa syukur.
Pak Edward tersenyum tipis, lalu beralih membicarakan hal yang menjadi tujuan utamanya datang ke rumah itu. Ia menatap Ferdi dengan pandangan yang serius namun penuh penghargaan.
“Kebetulan sekali, Ayah datang ke sini juga ingin memberitahu kabar baik. Rapat pemegang saham utama baru saja selesai dilaksanakan, dan setelah mempertimbangkan kinerja dan kerja kerasmu selama ini, serta dukungan penuh dari Ayah, semua pihak sepakat untuk mengangkat mu menjadi Direktur Utama di perusahaan besar milik Grup Edward. Pelantikan resmi akan dilaksanakan hari Senin minggu depan. Ini adalah jabatan tertinggi, Ferdi, tanggung jawabnya sangat besar. Ayah harap kamu bisa menjalankannya dengan baik, bijaksana, dan penuh integritas,” jelas Pak Edward dengan rinci.
Mendengar kabar itu, jantung Ferdi hampir melompat keluar karena rasa gembira yang meluap-luap. Matanya membelalak lebar, wajahnya bersinar cerah karena kebahagiaan yang tak terkira. Inilah yang selama ini ia impikan, inilah puncak dari segala rencana dan usaha yang ia bangun selama bertahun-tahun. Menjadi Direktur Utama, memiliki kekuasaan besar, nama besar, dan kekayaan yang melimpah, semuanya akhirnya ada di genggamannya. Rasa bahagia itu begitu besar hingga ia hampir melompat kegirangan di tempat.
“Benarkah, Ayah? Itu… itu kabar yang sangat luar biasa! Terima kasih, Ayah! Saya tidak tahu harus berkata apa lagi selain terima kasih yang sebesar-besarnya. Saya pasti akan bekerja keras, Ayah, saya akan membuat perusahaan kita semakin maju dan berkembang pesat,” ucap Ferdi dengan suara yang gemetar karena terlalu senang.
"Selamat ya mas, kamu memang luar biasa " Kiara tersenyum tipis dan mengucapkan selamat dengan nada suara yang datar. Di dalam hatinya, ia tahu persis betapa pentingnya hari Senin minggu depan bagi Ferdi. Pria itu akan mendapatkan apa yang paling ia inginkan, posisi tertinggi yang menjadi tujuan utama ia mendekati dan menikahi Kiara. Namun, Kiara sudah menyiapkan segalanya. Saat Ferdi merasa berada di puncak kebahagiaan dan kesuksesannya, di saat itulah Kiara akan menjatuhkannya ke jurang terdalam, hingga pria itu tidak akan pernah bisa bangkit lagi.
Setelah percakapan itu selesai, Pak Edward dan Bu Silvia pun pamit pulang dengan hati yang lega melihat putri mereka dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Sejak kepergian ayah mertuanya itu, Ferdi berubah menjadi sangat bersemangat dan sibuk. Setiap hari ia sibuk menyiapkan segala keperluan untuk acara pelantikan penting itu. Ia memesan pakaian terbaik, mengatur tamu undangan, mempersiapkan pidato, hingga memikirkan strategi kerja apa yang akan ia jalankan nanti setelah resmi menjabat sebagai pemimpin tertinggi. Wajahnya selalu tampak ceria, penuh percaya diri, dan terlihat sangat puas dengan apa yang sudah ia capai. Ia merasa hidupnya sudah sempurna, rencananya berjalan sesuai jalur yang ia inginkan. Sebentar lagi ia akan menjadi orang yang dihormati, memiliki segalanya, dan setelah itu, ia akan mengurus masalah Emily dan anaknya dengan tenang, tanpa ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi.
Namun, Ferdi sama sekali tidak menyadari, bahwa di balik semua kesibukan dan kegembiraannya itu, ada sepasang mata yang selalu mengawasi setiap langkahnya dengan dingin dan penuh perhitungan, menunggu hari pelantikan itu tiba—hari yang bukan hanya menjadi hari kejayaannya, tetapi juga hari di mana semua rahasia kelamnya akan dibongkar habis di depan umum.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi