NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalah oleh ego

Azizah melanjutkan pekerjaannya di dapur tepat setelah melaksanakan salat Magrib. Suasana rumah yang sunyi hanya diiringi oleh denting alat masak yang sesekali beradu dengan dinding panci. Sambil sesekali mengaduk sup ayam yang mengepulkan aroma gurih, ia membalas pesan yang masuk di ponselnya. Pesan itu dari Arif yang membawa kabar bahwa Laksmi menanyakan keadaannya.

Tanpa ragu, Azizah mengetik balasan dengan tenang. Meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja agar sang nenek tidak perlu merasa khawatir di sana. Setelah memastikan pesan terkirim, ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantung celemek.

Ia kemudian memindahkan sup ayam itu ke dalam mangkuk, lalu menatanya di atas meja makan bersama nasi putih hangat yang baru saja matang dari mesin penanak nasi. Pekerjaannya selesai, namun hatinya justru mulai gelisah. Azizah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu yang cukup larut. Setahunya, jam operasional kantor tidaklah sampai selarut ini, namun sosok Ezra belum juga menampakkan batang hidungnya.

Ia pun memilih menunggu di ruang tamu, duduk di sana sambil menatap ke arah luar lewat jendela, di mana jalanan depan menjadi sepi karena malam telah tiba. Tidak lama kemudian, sorot lampu mobil muncul dari arah jalan. Azizah pun berdiri, berniat menyambut sang suami.

Begitu Ezra sampai di depan pintu, Azizah langsung membukanya dan menyambut pria itu dengan senyuman lebar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Ezra, karena merasakan keanehan.

Azizah tidak merespons. Ia memilih meraih tas kerja sang suami lalu membantunya melepas jas.

“Jangan menyentuhku!” sentak Ezra saat tangan Azizah menyentuh kerah jasnya. Ia kemudian mengganti sepatu pantofelnya dengan sandal rumahan, lalu menyenggol bahu Azizah saat memaksa masuk.

Namun Azizah tidak menyerah. Setelah menaruh sepatu Ezra ke rak sepatu, ia segera mencegat langkah pria itu, lalu menunjuk ke arah dapur dengan telunjuknya.

“Apa wanita bisu? Aku tidak mengerti maksudmu.”

Azizah mengambil ponselnya dan mengetik.

‘Makan malam sudah siap. Ayo kutemani makan.’

Ezra tersenyum remeh, “Aku sudah makan. Makan saja sendiri,” ucapnya lalu berlalu. Namun saat menaiki anak tangga pertama, ia menoleh ke belakang, “Semalam...”

Semalam...? ulang Azizah dalam hati. Ia kembali mengingat ketika Ezra hampir saja melakukan perbuatan di luar batas dan membayangkannya sebagai Sienna.

“Semalam kau tidak melakukan sesuatu padaku, kan?” tanya Ezra.

Azizah melotot. Apa-apaan pertanyaan Ezra? Padahal, justru pria itu yang hampir melakukan sesuatu padanya. Namun Azizah tidak gentar. Ia mengetik di ponselnya.

'Ya. Aku melakukan sesuatu. Seperti mencabut bulu kakimu.’

“Apa?!” Ezra langsung menaikkan celana kainnya dan mengintip kakinya dengan panik.

Azizah hanya menggeleng tidak percaya melihat reaksi Ezra. Walaupun kecewa makan malamnya kembali ditolak, ia tidak boleh merendahkan diri di depan pria itu. Ia akhirnya mengembalikan tas kerja milik Ezra, lalu menunjukkan tulisan di layar ponselnya.

‘Aku akan makan malam sendiri.’

Setelah itu, ia pun berjalan ke dapur.

“Terserah kau wanita bisu!” balas Ezra ketus, lalu menaiki tangga menuju kamarnya.

Sesampainya di kamarnya, Ezra langsung melepas jasnya asal dan melempar tas kerjanya ke ranjang. Ia benar-benar muak berada satu atap dengan wanita itu, terutama karena Azizah selalu menentang dan tidak terlihat takut padanya. Namun saat tatapannya berkeliling, ia merasakan keanehan. Sprei ranjangnya telah diganti dan letak beberapa furnitur tampak berbeda. Ia kemudian beralih ke lemari dan mendapati tatanan di sana jauh lebih rapi.

Dengan tangan yang mengepal, ia keluar kamar dan menuruni tangga dengan cepat.

“Azizah! Azizah!” panggilnya berulang kali hingga sampai di dapur.

Azizah hanya menatap kedatangan pria itu dengan datar sambil terus memakan sup ayamnya. Tatapan Ezra sempat jatuh pada makanan di atas meja makan, namun ia buru-buru menyadarkan diri dan kembali menatap wanita itu dengan tajam.

“Apa yang kau lakukan pada kamarku?”

Azizah menelan makanannya, lalu mengetik sesuatu di ponselnya.

‘Aku hanya membersihkannya.’

“Sudah kubilang jangan menyentuh barang-barangku!”

Azizah kembali mengetik.

‘Aku hanya melakukan kewajibanku. Katanya, aku sekarang adalah pembantu di rumah ini. Apa kau lupa perkataanmu kemarin?’

“Kau—“ Ezra kehilangan kata-kata. Wanita itu telah berhasil membalikkan kalimatnya. Ia menggertakkan giginya, “Menghadapimu benar-benar membuat kepalaku pusing!” kesalnya, lalu berlalu pergi.

Sepeninggal Ezra, ekspresi berani Azizah seketika luruh dan berubah menjadi kesedihan yang mendalam. Ia hanya ingin mengurus pria itu, namun Ezra selalu menolaknya mentah-mentah. Walaupun begitu, Azizah menyadari satu hal. Pria dengan watak seperti Ezra tidak bisa dihadapi dengan air mata. Keberanian adalah satu-satunya kunci untuk bertahan.

......................

Di kamarnya yang terang benderang, Ezra terus membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah. Ia akhirnya duduk, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam, lalu mengelus perutnya yang keroncongan.

Sebenarnya, ia berbohong saat mengaku sudah makan malam. Ia hanya enggan mencicipi masakan Azizah. Namun bayangan sup ayam yang dimakan Azizah tadi membuat rasa laparnya semakin tidak tertahankan. Akhirnya, ia menyibakkan selimut dan keluar kamar dan berniat membuat mie instan.

Ezra melangkah sangat hati-hati di lantai bawah. Ia sempat melirik pintu kamar Azizah, berharap wanita itu tidak mengetahui bahwa ia terbangun karena kelaparan.

Sesampainya di dapur, ia membuka tudung saji di meja makan dan mendapati sup ayam Azizah masih tersisa. Walaupun kuah kental sup itu tampak menggoda, ia menggeleng keras, menolak untuk menyerah pada masakan wanita itu. Dengan hati yang mantap, ia mulai mencari mie instan di rak atas.

Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundaknya dan membuat Ezra tersentak kaget. Ia pun berbalik dengan panik. Bayangan tentang teror pocong belakangan ini sangat mengganggu sampai membuatnya berburuk sangka.

Namun rasa leganya muncul saat melihat sosok Azizah. Segera, ia berdehem dan menyembunyikan bungkusan mie di balik punggungnya.

“Apa lihat-lihat?” tantang Ezra.

Azizah menghela napas, lalu mengetik di ponselnya.

‘Kau lapar?’

“Tidak. Ini hanya camilan.”

Mata Azizah menyipit, lalu ia mengetik lagi.

‘Jangan berbohong. Aku bisa mendengar bunyi perutmu.’

Ezra langsung menutup perutnya dengan spontan, “Kau mendengarnya?”

Azizah menahan senyumnya, lalu mengangguk.

Melihat Azizah yang menertawakannya membuat Ezra naik pitam.

“Kau pikir lucu?!”

Azizah langsung menghentikan tawanya.

“Dasar wanita bisu! Aku sudah tidak berselera makan!” teriak Ezra sambil membanting bungkusan mie yang ia pegang ke meja dapur dengan kasar, lalu bergegas pergi dan kembali ke kamarnya.

Azizah menatap punggung Ezra yang menjauh dengan perasaan bersalah. Pria itu memang sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Seharusnya ia tidak memergoki Ezra tadi, karena kini pria itu justru kembali ke kamar dengan perut kosong.

Maafkan hamba, Ya Allah, batin Azizah.

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!