NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

BAB 22

Setelah memastikan situasi benar-benar aman, kami membawa kakek tua itu kembali ke kolam air tempat gerobak dan barang-barang kami ditinggalkan. Aku langsung menyalakan kembali sisa perapian, merebus air di panci besi, dan memanaskan kembali stok daging asap yang kami buat beberapa hari lalu. Aroma gurih daging perlahan mengusir hawa dingin di sekitar kami.

Kakek tua itu duduk di seberang api unggun. Tiba-tiba saja, ia berlutut dan membungkukkan badan hingga dahinya nyaris menyentuh tanah yang bersalju. Tangan kanannya diletakkan di dada kiri, memberikan sebuah penghormatan yang tampak sangat kaku sekaligus penuh rasa syukur.

"Te... terima kasih, Tuan Leshy," ucapnya dengan suara serak yang bergetar. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan tubuh renta ini dari para anak durhaka itu."

Goran yang sedang mengunyah daging seketika menghentikan rahangnya. Pria raksasa itu mendengus pelan.

"Namaku Goran. Bukan Leshy," ralatnya datar.

Mila yang duduk di sebelahku ikut mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat.

"Iya, iya, iya! Nama Ayah Goran bukan Leshy!"

Goran menelan makanannya, lalu menatap tajam ke arah kakek itu. "Jadi, kenapa Vedun tua sepertimu berjalan sendirian di tengah lebatnya Hutan Kakek Domb ini? Apa kau sudah bosan hidup?"

Aku yang sedang membolak-balik daging di atas api hanya bisa diam menyimak. Vedun... kalau tidak salah, itu sebutan kaum Pagan di sini untuk orang pintar atau tetua yang bijak.

Kakek itu perlahan mengangkat wajahnya, keningnya berkerut bingung mendengar panggilan itu.

"Vedun? Hamba?" Kakek itu menggeleng pelan. "Oh, hamba tua ini bukan Vedun, Tuan Goran. Hamba hanyalah seorang Rabi tua."

"Yah, sama saja," balas Goran tak peduli, kembali mengunyah dagingnya.

Aku beranjak dari perapian, menyodorkan secangkir air hangat dan sepotong daging asap berukuran sedang kepada sang Rabi. Kakek itu menerimanya dengan tangan gemetar dan menatapku dengan sorot berterima kasih.

"Nama saya adalah Ezra," ucap kakek itu setelah menyesap air hangatnya. Suaranya kini terdengar lebih tenang dan terpelajar. "Dulunya, saya adalah seorang Rabi dari kaum Yehuda di selatan sana. Namun di tanah es ini, gelar seperti itu memang sudah tak ada artinya."

Ezra menatap nanar ke arah kobaran api. "Sekarang, saya hanyalah seorang ayah yang hidup dalam pengasingan bersama anak laki-laki dan menantu saya. Saat ini, saya sedang menuju ke permukiman suku Chud. Berdasarkan petunjuk yang saya dapat, tempat mereka ada sekitar dua hari perjalanan kaki dari sini ke arah timur. Saya harus membeli kulit pohon ek dari mereka."

"Suku Chud?" Goran menaikkan sebelah alisnya. Pria raksasa itu tiba-tiba tertawa meremehkan. "Maksudmu orang-orang aneh pemakan lumut itu? Kalau begitu kau bodoh sekali, Orang Tua. Orang-orang aneh itu tidak menerima koin. Lagipula, untuk apa kau repot-repot membeli kulit pohon?"

Melihat wajah Ezra yang seketika memucat pasi mendengar ejekan Goran, aku segera menyela.

"Jangan dengarkan raksasa menyebalkan ini, Kek," ucapku menenangkan Ezra, lalu memberinya tatapan tajam yang langsung dibalas Goran dengan dengusan. "Memangnya Kakek beli kulit pohon ek itu untuk apa?"

Ezra tidak langsung menjawab. Kakek itu malah menyipitkan matanya, menatap wajahku lekat-lekat di bawah cahaya api unggun. Matanya menelusuri warna kulitku, hidungku, lalu mataku.

"Saya baru sadar..." gumam Ezra takjub. "Budak kecil Tuan Goran ini ternyata memiliki darah dari wilayah Suriah ya? Kulit dan matanya sangat khas ras Semit." Ezra lalu tersenyum maklum. "Iya, Budak Kecil, jadi... tujuanku mencari kulit kayu..."

"Hei! Aku bukan budak!!" potongku ngegas, nyaris melempar ranting ke arahnya. Enak saja mahasiswi Al-Azhar dikira budak!

Ezra terkesiap mundur. Ia menatapku, lalu menatap Goran, lalu menatap Mila bergantian. Otak tuanya sepertinya sedang berusaha memproses dinamika aneh di depannya. Lalu, raut wajahnya berubah menjadi 'sangat paham'.

"Ah... oh! Kalau begitu, kau pasti istri muda Tuan Goran!" simpul Ezra dengan wajah berseri-seri merasa pintar. "Luar biasa! Hebat sekali Tuan Goran bisa menemukan istri dari kaum Suriah di ujung dunia ini!"

Keheningan seketika menyergap perkemahan kami.

Satu detik, lalu dua detik berlalu.

Goran menutup mulutnya dengan sebelah tangan raksasanya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia berusaha sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak meledak, namun usahanya sia-sia.

"BWAHAHAHAHAHA!!" Goran tertawa menggelegar hingga salju-salju di dahan Kakek Domb berjatuhan. Pria itu bahkan sampai memukul-mukul pahanya sendiri kegirangan.

Sementara aku? Wajahku pasti sudah merah padam menahan emosi. Istri muda?! Yang benar saja!

"Kakak... istri itu apa?" tanya Mila dengan wajah super polos, menarik-narik lenganku.

"Jangan ketawa!!" teriakku kesal sambil melempar segenggam salju ke arah wajah Goran.

Tawanya memang mereda, tapi Goran masih tersenyum lebar dengan bahu terguncang. Ia akhirnya berdeham, menetralkan suaranya, lalu mulai meluruskan kesalahpahaman gila sang Rabi. Goran menjelaskan bahwa aku adalah anak bangsawan yang ia selamatkan dulu, dan kini aku sudah menjadi bagian dari keluarga kecilnya.

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Ezra berubah pias. Ia buru-buru menunduk.

"Oh... ya ampun. Maaf, maafkan kelancangan orang tua ini, Nona...?"

"Namaku Qatilah!" sahutku masih sedikit cemberut.

"Ah, ya. Maafkan ketidaktahuan saya, Nona Qatilah yang terhormat," ucap Ezra tulus.

Mila yang sejak tadi diam langsung menyodorkan wajahnya ke arah Ezra. "Aku Mila!"

Ezra tersenyum ramah pada raksasa kecil itu. "Salam kenal juga, Nona Mila." Ezra lalu mengerutkan keningnya, kembali menyadari sebuah kejanggalan. "Tapi... kenapa tadi Nona Mila memanggil Nona Qatilah dengan sebutan Kakak? Bukankah Nona Mila jauh lebih dewasa?"

Aku menghela napas lelah. Tanganku menunjuk tepat ke arah Goran yang sedang duduk santai.

"Apa Kakek tidak lihat pria yang sedang duduk di sana itu ukurannya tidak normal?" tanyaku retoris.

Ezra menoleh menatap Goran dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu menatap Mila, dan kembali menatapku. Matanya melebar perlahan.

"Aaaah... benar juga," gumam Ezra takjub, akhirnya mengerti. "Jadi Nona Mila adalah anak kandung Tuan Goran. Luar biasa... Apa Nona Mila seumuran dengan Nona Qatilah?"

"Iya, aku satu musim dingin lebih tua darinya," jawabku santai.

"Satu musim dingin lebih tua?" Ezra berkedip beberapa kali. Matanya menatap bergantian antara tubuh mungilku dan postur menjulang Mila yang setinggi remaja empat belas tahun. Kakek itu menelan ludah, tersenyum canggung. "Kalau begitu... keluarga Tuan Goran memang benar-benar luar biasa."

Mila tiba-tiba menunjuk ke arah Ezra dengan jarinya yang lumayan besar. "Kakek Ejura! Kenapa rambut Kakek putih seperti salju? Terus, kenapa kulit wajah Kakek kusut seperti akan mengelupas begitu?"

Ezra mengedipkan matanya berkali-kali, seolah baru saja tertusuk panah tak kasat mata akibat pertanyaan kelewat jujur itu.

Goran mendengus geli melihatnya.

"Anakku ini baru pertama kali melihat dunia luar," ujar Goran membela putrinya. "Jawab saja pertanyaannya, Ezra. Kau kan seorang Rabi, Vedun, atau apalah itu namanya."

Ezra memaksakan senyum di wajah keriputnya. "Namaku Ezra, Nona Mila. Ezra... bukan Ejura," koreksi si kakek dengan nada sabar. "Dan yah... ini semua terjadi karena saya sudah hidup melewati puluhan musim kegelapan, jauh lebih banyak dari yang pernah ayah Nona lewati."

"Oooh..." Mila mengangguk-angguk paham dengan mulut membentuk huruf O bulat.

Memutuskan untuk kembali ke topik yang lebih penting, aku menatap Ezra serius. "Jadi... untuk apa Kakek Ezra nekat ingin membeli kulit pohon ek sampai mempertaruhkan nyawa ke suku Chud?"

Raut wajah Ezra seketika mendung. Bahunya yang rapuh tampak merosot.

"Anak laki-laki saya adalah seorang pandai besi. Dialah tulang punggung keluarga kami," cerita Ezra dengan suara bergetar. "Biasanya, hasil tempaannya akan dibeli oleh para pedagang keliling yang melewati lembah tempat kami tinggal. Namun akhir-akhir ini... dia jatuh sakit parah. Dia terus-menerus buang air kotor tanpa henti."

"Lalu?" pancing Goran.

"Saya putuskan untuk pergi mencari obatnya," lanjut Ezra pedih. "Karena saya dan keluarga tinggal sangat jauh dari desa manapun, saya akhirnya nekat pergi ke wilayah kaum Chud yang jaraknya lebih masuk akal. Saya harus menyelamatkan nyawanya."

"Kau bilang kau punya menantu," potong Goran. "Kalau kau sudah terlalu tua, kenapa tidak menyuruh menantumu saja yang pergi?"

"Menantu saya sedang hamil tua, Tuan Goran," jawab Ezra lirih. "Sebagai penganut ajaran HaShem yang baik, saya tak mau anak saya kehilangan istri dan calon bayinya jika menantu saya mati di perjalanan. Jadi biarlah raga tua saya saja yang pergi mencari obat, sementara menantu saya merawat suaminya di rumah."

Mendengar pengorbanan itu, aku merasa dadaku sedikit sesak. Ezra benar-benar ayah mertua yang baik.

Namun, perhatian Goran rupanya tertuju pada hal lain. Pria besar itu menegakkan punggungnya, menatap Ezra dengan intens.

"Aku baru ingat," ucap Goran serius. "Apakah anakmu juga sering muntah-muntah dan terus merasa mual? Apakah tubuhnya jadi sangat lemas, matanya cekung, dan wajahnya sepucat mayat karena terlalu sering buang air?"

Ezra mendongak terkejut. "I-iya! Benar sekali! Tuan Goran tahu? Tidak seperti penyakit perut pada umumnya, penyakit yang anak saya derita ini... biasanya penderitanya selalu berakhir pada kematian. Tapi saya tahu, ada juga yang selamat berkat air rebusan kulit kayu ek merah pekat, maka dari itu..."

Goran tidak mendengarkan kelanjutan ucapan Ezra. Pria raksasa itu memutus obrolan dan melirik tajam ke arahku.

"Anak Bangsawan?" panggil Goran padaku. Terselip nada penuh harap di suara beratnya.

Aku mengangguk pelan. Tentu saja Goran ingat. Semua gejala yang Ezra sebutkan tadi adalah gejala disentri dan dehidrasi akut, penyakit yang sama persis dengan yang nyaris merenggut nyawa Mila saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Tanpa basa-basi, aku langsung menatap Ezra. "Kakek Ezra, apa Kakek punya garam dan madu di rumah?"

Ezra mengerjap bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba ini. "I... iya, ada. Menantuku sering menyimpannya karena anakku sering menerima madu atau garam sebagai bayaran barter alat besi. Tapi... apa urusannya penyakit ini dengan madu dan garam?"

Goran menyilangkan tangan raksasanya di depan dada dengan bangga. "Anakku Mila, lima musim dingin yang lalu juga menderita penyakit buang air yang sama persis dengan anakmu. Dan Anak Bangsawan dari selatan yang kubawa ini... ternyata punya semacam sihir yang menarik Mila kembali dari ambang kematian."

"Itu benar, Kek!" seru Mila membenarkan dengan penuh semangat. "Kakak Qatilah telah menyelamatkan nyawaku waktu itu!"

Ezra menatapku tak percaya. "B-benarkah itu, Nona Qatilah?"

"Bukan sihir! Tapi yah," balasku sambil merapikan mantel buluku, berusaha terdengar meyakinkan. "Jika anakmu memang menderita penyakit yang sama dengan Mila, maka iya. Aku bisa menyembuhkannya hanya dengan madu, garam, dan air hangat."

Raut wajah Ezra seketika dipenuhi keraguan yang menyakitkan. Suaranya terdengar nyaris putus asa. "Hanya dengan madu, garam, dan air hangat? Tapi... Nona, penyakit itu telah membunuh banyak orang. Bagaimana mungkin bahan-bahan sesederhana itu bisa..."

"Jangan meragukannya, Pendeta Tua," potong Goran mantap. "Kau belum melihat sendiri kehebatannya, lagipula," tambah Goran mendengus, "beruntung sekali kau bertemu kami. Meskipun kau tadi selamat dari para perampok itu, kaum Chud tetap tidak akan mau memberimu kulit pohon dengan koin-koin perakmu itu. Mereka hanya mau bertukar barang yang setimpal. Jika memaksakan diri, anakmu mungkin saja sudah mati sebelum kau kembali."

​Kata-kata Goran telak menghantam harapan Ezra. Kakek itu terdiam cukup lama. Pandangannya kosong menatap perapian, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan tersenyum getir. Fakta bahwa perjalanannya selama ini sia-sia tampaknya perlahan mulai ia terima dengan kepasrahan seorang tua.

​Mila tiba-tiba menarik pelan ujung lengan bajuku. "Kak Qatilah?"

​"Iya, Mil?"

​"Apa kita akan pergi ke rumah Kakek Ejura?" tanya gadis kecil itu dengan mata berbinar.

​Aku tersenyum memaklumi pelafalannya, sebelum menoleh sepenuhnya ke arah sang Rabi. "Tentu. Kita akan mencoba menyembuhkan anak Kakek Ezra. Itu pun... jika dia berkenan menerima bantuan dari seorang 'istri muda' ini?" candaku menyindir, mencoba mencairkan ketegangan.

​Ezra perlahan mengangkat wajahnya yang pucat. Ia menatapku, lalu beralih menatap Goran dan Mila secara bergantian. Pria tua itu kemudian merapikan jubahnya, lalu berdiri dan membungkukkan badannya dengan penuh rasa hormat.

​"Sejujurnya, menyembuhkan penyakit mematikan hanya dengan madu dan garam itu... otak tuaku ini masih sangat sulit untuk mempercayainya," ucap Ezra dengan nada pasrah yang jujur. "Namun, jalan menuju suku Chud sudah tertutup bagiku."

​Ezra menatapku dengan sorot mata yang teduh. ​"Kalian bertiga telah menyelamatkan nyawa hamba dari para perampok tadi. Berhasil atau tidaknya pengobatan Nona Qatilah nanti, biarlah itu menjadi takdir dan kehendak HaShem," lanjut Ezra dengan senyum lelah namun tulus. "Tapi setidaknya, izinkan hamba membawa kalian pulang. Hamba ingin menjamu orang-orang yang telah menyelamatkan nyawa hamba di rumah kami yang sederhana. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih orang tua ini."

​Di seberang api unggun, kulihat Goran hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum tulus yang sangat jarang ia perlihatkan.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!