NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jimat keberuntungan

"Menurutmu apa yang kulakukan? Berenang? Bersepeda? Atau menonton film?" sarkas Myra.

"Hah, tidak. Kamu sedang membaca dan membeli buku," sahut Rafan dengan senyum penuh ketulusan.

Gadis itu terdiam, memandang dingin sosok yang masih mematung di hadapannya. "Apalagi yang kamu tunggu?! Cepat pergi. Menyingkir dari jalanku!"

Sudah terbiasa mendapat perlakuan kasar, sikap galak Myra justru menerbitkan senyum cerah di wajah Rafan. Ia merasa senang meski hanya mendapat ucapan dingin. Namun, pandangannya tak sengaja beralih pada luka memar di lengan kanan Myra.

"Apa---apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa terluka?" Rafan meraih tangan itu dengan lembut.

"Aw---lepaskan!"

"Apa sakit sekali? Perlu kubawa ke klinik atau rumah sakit?" tawar Rafan dengan tatapan teduh.

Sikap Rafan seketika membuat Myra tertegun. Alisnya bertaut melihat kecemasan yang tulus di wajah pria itu. Manik mata yang mengungkapkan kesedihan seharusnya tak ditunjukkan pada seorang musuh.

"Bukankah reaksinya terlalu berlebihan?" gumam Myra dalam hati. Apa dia sedang bersimpati pada musuh? Ia memicingkan mata curiga.

"Myra, ayo kuantar berobat. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ujar Rafan dengan raut menyesal. Ia merasa bersalah karena telah membuat Myra kesakitan akibat sentuhannya tadi.

"Ayo," seru Rafan lagi, mencoba memapah lengan Myra.

"Tidak---tidak perlu! Aku berteriak karena terkejut," tolak Myra sembari menarik kembali tangannya.

"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa tanganmu bisa terluka?"

"Hh, sudahlah, cukup! Hentikan omong kosongmu, karena kamu tidak akan mendapat apa pun!" potong Myra datar. Ia memijat pelan pangkal hidungnya yang terasa pening. "Sekarang, biarkan aku pergi. Mari kita urus hidup masing-masing."

"Tapi Myra---"

"Nyawamu dalam bahaya jika berurusan denganku!" timpal Myra sembari menggertakkan gigi dan melontarkan tatapan tajam. "Jangan sia-siakan nyawa serta jabatanmu hanya untuk mengejarku. Aku terlalu sulit untuk kamu penjarakan!"

Kalimat ketus itu menjadi tanda perpisahan yang mengakhiri pembicaraan mereka. Namun, Rafan masih enggan bergeming. Ia tetap berdiri di sana, menatap punggung berbalut kaos hitam itu yang perlahan menghilang dari pandangan.

"Apa Myra sedang mengkhawatirkanku?" Ia tersenyum kecil. "Apa itu berarti, Myra juga merasakan hal yang sama?"

"Hacim!"

Secara spontan, Myra menggunakan buku tebal di tangannya untuk menutup mulut.

"Maaf, Kak, seharusnya Anda tidak mengotori buku yang akan dijual," celetuk salah satu pegawai yang melihat kejadian itu.

Seorang wanita berseragam biru yang bertugas mengawasi pengunjung itu kini menatapnya tajam.

"Aku berniat membeli bukunya. Itu berarti, ini milikku!" tegas Myra angkuh. Ia memberikan tatapan sinis sebelum menghentakkan kaki menuju kasir.

Di setiap langkahnya, Myra tak henti

Di setiap langkahnya, Myra tak henti menggerutu. "Sejak kapan ada peraturan dilarang bersin? Lagipula aku refleks menunduk ke arah buku..." ocehnya lirih. "Memangnya air liurku mengandung asam yang bisa merusak kertas?"

Ia menyodorkan buku tadi kepada kasir, menatap malas pada petugas yang tetap mempertahankan senyum profesionalnya.

"Semuanya dua ratus lima puluh ribu," ujar petugas kasir.

"Hm." Myra merogoh tasnya, mencari dompet. "Ini," ucapnya singkat sembari menyerahkan beberapa lembar uang, lalu menyambar kantong plastik berisi bukunya.

"Terima kasih, kami harap Anda puas dengan pelayanan kami."

"Masa bodoh! Temanmu baru saja melarangku bersin, aku tidak akan sudi datang ke sini lagi!" gertak Myra dalam hati, membalas senyum kasir dengan tatapan sinis.

Ia masih dongkol. Bagaimana bisa ada pegawai yang bertindak selancang itu kepada pengunjung?

Saat hendak melangkah keluar, matanya tak sengaja menangkap sosok "pengganggu" yang membuatnya buru-buru mempercepat langkah. "Hah! Jangan sampai dia melihatku lagi!"

Dap... dap... dap...

Raut lega baru muncul setelah ia berhasil melewati pintu keluar. Myra berdiri tepat di depan pembatas, menuruni satu per satu anak tangga.

Drt... Drt...

Getaran dari dalam tas mengalihkan perhatian Myra. Ia segera merogoh ponselnya dan mendapati sebuah panggilan masuk yang memicu kerutan di dahi.

"Ngapain tiba-tiba menelepon?" gumamnya sebelum menggeser layar. "Halo?"

"Kamu di mana sekarang?" sahut suara wanita di seberang sana tanpa basa-basi.

"Kenapa bertanya?" Myra menjawab datar.

"His! Cukup katakan kamu di mana. Jika sedang berkendara, cepat hentikan mobilmu."

"Tidak jelas sekali. Aku di toko buku Elmedia," jawab Myra sambil melirik papan nama gedung di hadapannya.

"Elmedia? Berarti dekat lampu merah. Syukurlah!" Wanita itu menghela napas lega. "Aku lupa bilang kalau bensin mobilmu tinggal sedikit. Jangan lupa isi. Selamat malam!"

Tut. Sambungan terputus.

"Cewek aneh," gerutu Myra. Ia melempar ponselnya ke dalam tas, lalu masuk ke mobil putihnya. Sambil memasang sabuk pengaman, ia mendengus, "Masih harus isi bensin. Sial sekali hari ini."

...----------------...

Pukul 20.00

Suasana jalanan kota tampak sibuk. Di area parkir, Rafan berjalan santai menuju mobilnya. Ia menatap lekat stiker kucing di kaca depan dan tersenyum tipis. "Kucing liarku benar-benar jimat keberuntungan."

Ia melirik kantong plastik di tangannya yang berisi buku. "Aku rela meninggalkan antrean demi mengejarmu, dan lihat... buku terakhir ini malah jatuh ke tanganku."

Rafan merasa takdir sedang berpihak padanya. Ia pun melajukan mobilnya dengan kaca terbuka, membiarkan angin malam mengacak rambutnya yang tidak rapi. Namun, pandangannya terhenti pada sebuah mobil putih yang mogok di pinggir jalan.

"Myra?" gumamnya saat mengenali sosok familiar di sana. Tanpa ragu, Rafan menepi dan memarkirkan kendaraannya tepat di depan mobil gadis itu.

"Sial! Kenapa harus berhenti di sini? Pom bensinnya sudah dekat!" Myra sedang memaki kendaraannya saat Rafan menghampiri.

"Apa yang terjadi?" tanya Rafan.

Myra menoleh, awalnya berharap ada orang asing yang menolong, namun matanya membulat saat melihat wajah Rafan. "Kamu lagi?! Kenapa kamu ada di sini?"

"Aku sedang jalan pulang dan melihatmu. Ayo, aku bantu." Rafan hendak mengambil alih, namun Myra langsung menghadang pintu mobilnya.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" tolak Myra ketus. Ia berbalik untuk mengambil ponsel di dalam mobil, berniat menghubungi temannya, Sukma.

Rafan tak menyerah. Ia refleks menahan ponsel Myra agar gadis itu tidak menghubungi orang lain. "Myra, dengarkan aku. Biarkan aku membantu."

"Singkirkan tanganmu!" geram Myra.

Terjadi aksi tarik-menarik kecil. Myra yang tidak menyangka Rafan hanya menggenggam ujung ponselnya, menarik benda itu terlalu kuat hingga terlepas dan terlempar ke tengah aspal jalan yang sibuk.

Krak!

Dunia seolah melambat saat sebuah motor melintas tepat di atas ponsel malang itu. Myra terbelalak. "Hancur..." bisiknya dengan tatapan kosong.

"Hei, bajingan! Kembali!" pekik Myra pada pengendara motor yang kabur. Ia menjambak rambutnya sendiri sebelum menunjuk wajah Rafan dengan murka. "Ini semua gara-gara kamu!"

"Kamu yang menariknya tadi. Tapi jika memarahiku membuatmu lega, silakan," jawab Rafan tenang, meski sebenarnya ia merasa bersalah.

"Polisi bodoh!" maki Myra. Ia menghentakkan kaki ke tengah jalan untuk mengambil bangkai ponselnya, tanpa menyadari sebuah truk besar sedang melaju kencang ke arahnya.

"Myra, awas! Kembali!" teriak Rafan.

Myra yang telanjur emosi tidak menghiraukan peringatan itu. Ia baru tersadar saat bayangan besar menyelimuti tubuhnya dan suara klakson memekakkan telinga.

Tin! Tin!

Tubuh Myra membeku. Namun, sebelum maut menjemput, sebuah lengan kekar menariknya dalam satu sentakan kuat. Myra jatuh ke dalam dekapan Rafan. Jantungnya berdegup kencang, keningnya bersandar pada dada bidang pria itu.

"Ayo kembali ke tepi jalan," bisik Rafan lembut sambil memapah punggung Myra.

Begitu sampai di samping mobil, kesadaran Myra kembali. Ia segera mendorong tubuh Rafan. "Menjauh dariku! Mana ponselku?"

Rafan mengangkat ponsel dengan layar yang retak seribu. "Ini. Aku akan memperbaikinya."

"Berikan padaku!" Myra mencoba meraihnya, tapi Rafan mengangkat benda itu tinggi-tinggi.

"Tidak. Aku yang merusaknya, aku yang akan memperbaikinya."

Myra memicingkan mata, penuh kecurigaan. "Oh, aku tahu rencanamu. Kamu sengaja merusaknya agar bisa mengecek isinya dan mencari bukti untuk memenjarakanku, kan?"

Rafan menghela napas, menatap Myra dengan tulus. "Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku, tapi aku bersumpah, aku hanya ingin membantumu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!