Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : Para perampas
Malam yang penuh dengan aroma kemenangan dan pesta pora berlalu lebih cepat dari yang dibayangkan. Namun, ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana. Matahari sudah mulai meninggi, menyelinap di sela-sela gorden sutra kamar utama, namun sang "Ratu" masih terlelap dalam pelukan hangat selimutnya.
Di ruang makan bawah, suasana terasa sangat canggung. Delapan belas prajurit baru sudah berdiri tegap dengan seragam lengkap sejak pukul empat subuh, namun pemimpin mereka belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Tuan, Nona di mana?" tanya Tobi dengan suara berbisik, bingung karena kursi utama di meja makan masih kosong melompong.
"Masih tidur," jawab Leonard singkat tanpa menoleh, asyik mengunyah roti lapisnya dengan tenang.
Tobi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukannya kita jadwalnya berangkat ke Sektor 7 subuh tadi?"
"Iya, nanti nunggu istriku bangun dulu. Atau... di antara kalian ada yang ingin naik ke atas dan membangunkan nya?" tanya Leonard sambil mengangkat satu alisnya, menatap Tobi, Arkan, dan Herra secara bergantian.
Keheningan seketika melanda. Membangunkan Elara yang sedang istirahat sama saja dengan membangunkan singa betina yang sedang bermimpi.
"Saya rasa Nona kelelahan setelah interogasi dan pertempuran kemarin. Biarkan Nona tidur lebih lama lagi. Efisiensi tempur akan lebih baik jika pemimpin dalam kondisi prima," sela Arkan cepat, memberikan alasan logis yang sebenarnya adalah bentuk cari aman.
"Benar, benar! Apa yang dibilang Kak Arkan sangat masuk akal! Nona butuh regenerasi sel!" Tobi menimpali dengan semangat yang sedikit berlebihan.
Leonard beralih menatap Herra. "Her—"
"Tuan Leo, saran saya, biarkan Nona tidur sepuasnya. Saya yakin dari kita semua tidak ada yang tega atau lebih tepatnya, tidak ada yang cukup berani untuk membangunkan beliau," potong Herra dengan wajah datar andalannya.
Semua orang di ruangan itu serentak mengangguk setuju. Bahkan para prajurit baru ikut mengangguk kuat-kuat, lebih memilih menunggu tiga jam lagi daripada melihat amarah Elara di pagi hari.
Pukul 07:00
"DARI SEKIAN BANYAKNYA ORANG DI MANSION INI, KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBANGUNKAN KU?!"
Teriakan melengking itu menggema dari lantai atas, sanggup menembus pintu kayu jati yang tebal. Di aula bawah, semua orang tersentak seolah baru saja mendengar ledakan granat.
"Itu Nona... matilah kita," bisik Herra. Tanpa membuang waktu, ia langsung berbalik dan berlari menuju ruang senjatanya. "Aku harus mengecek kalibrasi... ya, kalibrasi!"
"Tuan Leo, semangat! Saya harus membantu Sarah di ruang medis!" teriak Tobi sambil melesat secepat bayangan, mengikuti Sarah yang sudah lebih dulu kabur.
Dalam hitungan detik, aula itu kosong. Pak Bara mendadak ingat ada baut yang longgar di bengkel, Pak Jaka tiba-tiba rindu pada tanamannya di kebun, Arkan masuk ke ruang kontrol dan mengunci pintu, sementara Mira kembali ke dapur, mencuci piring yang sebenarnya sudah berkali-kali ia gosok hingga mengkilap.
Leonard berdiri sendirian di ambang pintu kamar dengan wajah yang dipaksakan tenang, meski keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
"Sayang..." panggil Leonard pelan saat pintu kamar terbuka lebar.
Elara berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan namun auranya tetap mengintimidasi. "Ada apa dengan wajahmu? Kenapa panik begitu? Ada yang bikin rusuh di bawah? Ada serangan?"
"Bukan, bukan!" jawab Leonard buru-buru, otaknya berputar mencari alasan paling absurd. "Tadi... itu... tadi di luar ada naga terbang! Iya, naga besar sekali, jadi kami semua terpaku menontonnya sampai lupa waktu!"
Elara terdiam. Ia berjalan mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Leonard. "Hah? Leo, kamu sakit? Naga? Kamu ini kebanyakan nonton film fantasi sebelum tidur?"
"Nggak demam kok," gumam Elara setelah memeriksa suhu tubuh suaminya. "Kenapa sih kamu nggak jelas banget? Eh... kenapa aku nggak dibangunin? Lihat matahari sudah naik tuh! Haduh, aku lebih baik bertemu seribu zombie di jalan daripada bertemu manusia dalam kondisi matahari terik begini!"
Leonard menghela napas lega karena perhatian Elara beralih. Ia segera merangkul bahu istrinya. "Kamu pasti sangat lelah karena mengurus Jenderal tua itu kemarin. Makanya aku tidak membangunkan mu. Tidak masalah terlambat sedikit, Sayang. Besok atau lusa kita kan tetap bisa ke Sektor 7. Pangkalan itu tidak akan lari ke mana-mana."
Setelah drama pagi yang cukup menguras energi emosional, akhirnya pada pukul 09:00, konvoi tempur itu berangkat. Mansion tetap dijaga ketat oleh Pak Bara, Pak Jaka, Mira, dan Sarah. Mereka telah dilengkapi dengan persenjataan berat dan akses penuh ke sistem pertahanan otomatis.
Elara duduk di kursi penumpang depan mobil lapis baja utama, sementara Leonard yang menyetir. Di belakang mereka, truk-truk pengangkut prajurit baru mengikuti dengan disiplin tinggi.
Tiga jam pertama, perjalanan terasa sangat lancar. Aspal yang mengelupas dan bangkai kendaraan di sepanjang jalan tol seolah menjadi saksi bisu betapa hancurnya peradaban. Namun, bagi Elara, ketenangan ini justru mencurigakan.
"Terlalu sunyi," gumam Elara sambil menatap radar di dasbor.
"Mungkin karena matahari sedang terik, zombie-zombie itu bersembunyi di gorong-gorong," jawab Leonard santai.
Tiba-tiba, saat mereka melewati sebuah belokan tajam yang diapit oleh gedung-gedung tua...
CIIIIITTTTTTT! SRAAAAKKKK! DUMMMMM!
Ban mobil mendecit lalu meledak, Leonard membanting stir dengan keras untuk mengelakkan sesuatu. Mobil oleng hebat sebelum akhirnya berhenti dengan posisi melintang di tengah jalan.
"Anak kecil?! Tadi ada anak kecil berdiri di tengah jalan!" seru Arkan melalui interkom dari mobil belakang. "Dia bukan zombie, sensor jantungku mendeteksinya sebagai manusia!"
"Jangan ada yang keluar! Ini jebakan!" teriak Elara melalui HT dengan nada tinggi. Perintah itu membuat seluruh prajurit yang sudah memegang gagang pintu mobil langsung mematung.
Ketukan keras terdengar di kaca jendela mobil Elara. Seorang gadis kecil, mungkin berusia tujuh tahun, dengan baju yang kotor dan wajah cemong, menggedor-gedor pintu dengan tangis yang pecah.
"Kakak... tolong Juju... Juju lapar... Ibu di dalam sana sakit..." rengek anak itu sambil terus menggedor.
Suasana di dalam mobil menjadi sangat tegang. "Nona, dia hanya anak kecil," suara salah satu prajurit baru terdengar di HT, terdengar ragu.
"Diam!" bentak Elara. "Gunakan otak kalian! Tidak mungkin anak kecil sekecil itu bisa bertahan sendirian di jalan raya yang dipenuhi mutan selama berminggu-minggu tanpa perlindungan. Jangan terkecoh oleh air mata!"
Anak bernama Juju itu terus menggebrak mobil selama sepuluh menit. Tangisnya semakin keras, namun Elara tetap tidak bergeming seperti patung es. Ia justru memperhatikan pantulan di kaca spion dan jendela gedung di sebelah kanan yang memiliki tembok beton menjulang tinggi.
Tiba-tiba, ekspresi anak itu berubah. Tangisnya berhenti seketika. Ia menoleh ke arah gedung di sebelah kanan dengan wajah kesal.
"Mereka nggak mau keluar! Bagaimana?!" teriak Juju, suaranya tidak lagi terdengar seperti anak kecil yang lemah, melainkan kasar dan penuh tuntutan.
"Juju, kemari," sebuah suara berat menyahut.
Dari balik tembok beton, muncul seorang pria dengan tubuh berotot besar, mengenakan rompi kulit dan memegang kapak raksasa. Di belakangnya, satu per satu pria dengan tampang bengis keluar, total ada sekitar sepuluh orang. Mereka mengepung konvoi Elara dengan senjata rakitan dan beberapa senjata api rampasan.
"Kalian pintar juga," ujar pria berotot itu sambil menyeringai, menatap kendaraan militer milik Elara. "Kendaraan militer... pasti orang-orang pemerintah yang membawa banyak makanan. Teman-teman, ayo kepung mereka! Jangan biarkan satu pun lari!"
Elara menyandarkan punggungnya di kursi, senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya.
┌──────────────────────┐
│ NOTIFIKASI SISTEM:
│ TUAN RUMAH: LEVEL 10 (95%)
│ MISI DADAKAN: PEMBERSIHAN SAMPAH JALANAN
│ PENCAPAIAN: BERTARUNG DENGAN MEREKA AKAN
│ MENINGKATKAN PENGALAMAN DAN MENAIKKAN LEVEL KE 11.
│ HADIAH LEVEL 11:
│ 1. FITUR BARU: "MAP REAL-TIME EVOLUTION"
│ 2. KEMAMPUAN BARU: "GRAVITY PRESS" (TEKANAN GRAVITASI)
└────────────────────┘
"Sayang, tampaknya Sektor 7 harus menunggu sebentar," Elara menarik belatinya, matanya berkilat penuh gairah tempur. "Ada beberapa ekor lalat yang minta dikirim ke neraka."
Leonard melepaskan sabuk pengamannya dan meregangkan lehernya hingga berbunyi. "Akhirnya, sedikit pemanasan sebelum misi utama."
"Semuanya, dengarkan perintahku!" Elara berteriak melalui HT. "Jangan gunakan peluru berlebih. Gunakan senjata tajam. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuan kalian. Jangan biarkan satu pun dari mereka mati dengan cepat!"
Pintu mobil terbuka serentak. Elara melangkah keluar dengan anggun, menatap pria berotot itu yang kini tampak bingung melihat betapa tenangnya target mereka.
"Anak kecil sebagai umpan? Klasik sekali," ujar Elara sambil memainkan belatinya. "Tapi sayangnya, umpan mu terlalu basi untuk seleraku."
Bersambung... 🧟♀️🧟♀️🧟♀️
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥