Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sejak beberapa waktu terakhir, ada satu hal yang terus mengganjal di hati Yvaine.
Bukan tentang dirinya. Melainkan tentang Joy yang menurutnya terlalu pendiam.
Padahal, di usianya yang baru tiga tahun, seharusnya ia berlari ke sana kemari, tertawa lepas, membuat keributan, dan bertingkah manja tanpa beban.
Namun Joy tidak seperti itu. Ia selalu tenang. Seolah-olah ia sudah belajar sejak dini bahwa dunia bukan tempat yang aman untuk bersikap ceroboh.
Yvaine tahu penyebabnya.
Ayahnya yang meninggalkannya, dan dirinya sendiri yang dulu bersikap dingin.
Semua itu membuat seorang anak kecil belajar menahan diri dan itu menyakitkan.
Karena masa kecil seperti itu tidak akan pernah kembali. Karena itu, ketika Joy kini memeluknya erat dan bersikap manja, Yvaine justru merasa lega.
Inilah yang seharusnya.
“Mommy pulang secepat mungkin setelah urusannya selesai,” ucap Yvaine lembut sambil berjongkok. Ia mengangkat tubuh kecil Joy ke dalam pelukannya. “Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Ayo.. sini, Mommy kasih cium.”
Ia mengecup pipi bulat itu dengan penuh sayang. Joy langsung tersenyum puas.
Ia membalas ciuman itu dengan malu-malu, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yvaine, seolah dunia kecilnya sudah kembali utuh.
Namun tak lama kemudian, matanya yang bulat dan jernih tertuju pada sosok asing yang berdiri tidak jauh dari sana yaitu Louis.
Begitu pria itu keluar dari mobil dan melihat pemandangan di depannya, ia langsung terdiam.
Anak kecil dalam pelukan Yvaine terlihat seperti pangsit kecil berwarna merah muda yang imut, lembut, dan menggemaskan.
Tanpa sadar, ia bersiul pelan.
“Kak..” katanya dengan nada kagum. “Dari mana kamu dapat anak ini? Imut sekali. Besok aku pinjam ya, biar dia main sama aku.”
Ucapan itu langsung membuat Yvaine melirik tajam.
“Dia anakku,” jawabnya dingin. “Coba saja kalau berani.”
Louis tersedak. Baru saat itu kesadarannya kembali sepenuhnya.
Wanita di depannya bukan lagi sosok yang dulu ia kagumi dari kejauhan, dia bukan lagi hanya seorang polisi yang tangguh.
Dia sudah menikah dan sudah bercerai dan sekarang adalah seorang ibu dari anak berusia tiga tahun.
“Tunggu.. tunggu..” Louis mundur beberapa langkah, wajahnya terlihat seperti dunia yang ia kenal baru saja runtuh. “Aku butuh waktu untuk menerima ini..”
Yvaine hanya bisa memutar mata. Ia sudah kehilangan hitungan berapa kali ia melakukan itu hari ini.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, Joy menarik ujung bajunya pelan.
“Mom..” bisiknya. “Siapa itu?"
Nada suaranya penuh rasa ingin tahu, namun juga sedikit waspada.
Yvaine menatapnya lembut.
“Itu temanku,” jawabnya. “Kamu bisa panggil dia Paman Louis.”
“Tidak! Jangan panggil aku paman!”
Louis tiba-tiba melompat maju, membuat Joy terkejut.
Ia membungkuk di depan anak itu, wajahnya penuh ekspresi serius.
“Panggil aku Kakak saja,” katanya cepat. “Kakak lebih cocok.”
Yvaine terdiam, sedangkan Joy pun terkejut.
Anak kecil itu langsung memeluk leher Yvaine erat, wajahnya bersembunyi di bahunya.
“Paman..” bisiknya takut-takut.
“Paman?” Louis langsung memekik. “Lihat aku! Aku masih muda! Tampan! Enerjik! Bagian mana yang terlihat seperti paman?!”
Namun sebelum ia selesai, Joy sudah benar-benar ketakutan. Ia menyembunyikan wajahnya sepenuhnya.
Melihat itu, wajah Yvaine langsung berubah dingin. Tanpa peringatan, ia mengangkat kakinya dan menendang ke arah Louis.
“Woi!”
Louis langsung meloncat ke samping, nyaris menghindari serangan itu.
“Gila! Hampir saja..”
“Diam!” potong Yvaine tajam. “Kamu menakut-nakuti anakku!”
Ia menatapnya dengan marah.
“Kamu bilang kamu lebih muda dariku, tapi mau dipanggil kakak oleh anakku?” lanjutnya sinis. “Apa kamu tidak punya otak?," Suaranya semakin dingin.
“Kalau kamu membuatnya takut lagi.. aku pastikan ibumu tidak akan mengenalimu setelah aku selesai.”
Louis langsung gemetar. Ia buru-buru mengangkat tangan.
“Maaf! Maaf!” katanya cepat. “Aku hanya bercanda..”
Joy perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap Louis dengan mata besar, memiringkan kepalanya.
Beberapa detik berlalu. Lalu dalam pikirannya yang polos, ia membuat kesimpulan sederhana bahwa Louis adalah paman yang aneh yang harus dijauhi.
Louis sama sekali tidak tahu bahwa ia baru saja dicap sebagai “orang aneh” oleh seorang anak kecil.
Sebaliknya, ia malah berpikir 'Kalau aku bisa membuat anak ini menyukainya.. aku pasti aman.'
Sementara itu, kepala pelayan tua sudah mendekat. Ia berhenti saat melihat Louis, sedikit terkejut. Namun ia segera membungkuk hormat.
“Nyonya.”
Yvaine menatapnya sebentar. Lalu berkata tenang, “Aku sudah menyerahkan perjanjian perceraian. Aku bukan lagi bagian dari keluarga ini.”
Kepala pelayan itu terdiam.
Yvaine melanjutkan, “Barang-barangku sudah dikemas. Tolong minta seseorang membawanya turun.”
Pria tua itu ragu.
“Apakah Anda tidak ingin makan siang dulu?”
“Tidak perlu,” potong Yvaine. “Kami bukan lagi keluarga di sini. Tinggal lebih lama hanya akan menimbulkan kesalahpahaman.”
Kepala pelayan itu terdiam, namun ada kesedihan di matanya.
Yvaine yang melihatnya entah mengapa menjadi ikut sedih, akhirnya ia mengambil keputusan.
“Anda boleh datang mengunjungi Joy kapan saja,” katanya pelan. “Kami tidak menerima siapa pun dari keluarga ini.. tapi Anda berbeda.”
Mata pria tua itu berbinar.
“Terima kasih, Nona.”
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆