NovelToon NovelToon
Prince Of The Wind

Prince Of The Wind

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan yang Memadamkan Badai

Angin berhenti.

Sesaat—arena terasa hampa.

Makhluk itu kembali bergerak, siap menghantam tanpa ampun.

Namun—Reyd tidak menghindar.

Ia berdiri diam. Kepalanya sedikit menunduk. Rambutnya menutupi matanya.

Sunyi.

“Aku tidak punya pilihan lagi.”

Suaranya rendah. Hampir tidak terdengar.

Angin di sekitarnya—berhenti sepenuhnya. Bukan melemah—melainkan tertahan. Seperti sesuatu yang dikunci.

Di tribun—Lein langsung berdiri. Matanya melebar.

“Reyd.”

Vaks mengernyit.

“Apa yang terjadi?”

Felixa menatap tajam. Lalu—matanya sedikit membesar.

“Jangan bilang…”

Di arena—Reyd mengangkat wajahnya. Matanya berubah. Seolah sesuatu yang lama terkunci—akhirnya terbuka.

“Kalau aku harus menang…”

Ia mengangkat tangannya perlahan. Angin mulai bergetar.

“Maka aku akan gunakan ini.”

BOOOOOM—

Langit berubah.

Dalam hitungan detik—awan gelap berkumpul. Cepat. Tidak alami. Tidak wajar.

Cahaya matahari tertutup. Bayangan menyelimuti seluruh arena.

Angin mulai berputar. Awalnya pelan. Lalu—semakin cepat.

Debu terangkat. Batu-batu kecil melayang.

Para penonton mulai panik.

“Apa ini?!”

“Langit—!”

Di seluruh kerajaan—orang-orang menatap ke atas. Langit Risvela menghitam. Angin berhembus kencang dari satu titik—arena.

Di atas—Seyron tersenyum. Lebih lebar dari sebelumnya.

“Tch… akhirnya menggunakan kartu as.”

Iselle membeku. Matanya tidak lepas dari Reyd.

“Ini…”

Ia pernah mendengar rumor. Tentang kejadian itu. Di Akademi Magica. Sihir yang tidak terkendali. Sihir yang dilarang.

Di arena—angin tidak lagi sekadar berputar. Ia membentuk sesuatu.

TORNADO.

Pilar angin raksasa membelah arena. Menghubungkan tanah dan langit. Menghisap segalanya. Menghancurkan segalanya.

Makhluk itu mengaum. Namun kali ini—ia terdorong mundur. Cakar-cakarnya mencengkeram tanah. Namun tetap terseret.

Reyd berdiri di pusatnya. Rambutnya berkibar liar. Pakaiannya berkibar keras.

Matanya tetap tajam—namun tidak sepenuhnya tenang. Angin di sekitarnya terlalu kuat. Seolah—bahkan ia sendiri—tidak sepenuhnya mengendalikannya.

“Datanglah.”

Bisiknya.

Tornado itu bergerak. Mengarah langsung ke makhluk itu. Menghancurkan lantai arena saat melintas.

Makhluk itu mencoba melawan. Melompat. Menghindar.

Namun—hisapan angin terlalu kuat. Tubuh besarnya terangkat. Lalu lebih tinggi. Akhirnya—terseret masuk.

GRAAAAAA!!

Aumannya tenggelam dalam badai. Tubuhnya dihantam oleh tekanan angin dari segala arah. Tanpa henti. Tanpa ampun.

Di tribun—semua orang terdiam. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak.

Hanya satu hal yang mereka lihat—kekuatan itu.

Lein mengepalkan tangannya.

“Reyd…”

Vaks menelan ludah.

“Itu bukan sihir biasa…”

Felixa berbisik pelan.

“Itu bencana.”

Di atas—Raja Ryvons akhirnya berdiri. Tatapannya berubah. Bukan lagi marah. Namun—serius.

“…Jadi ini… kekuatanmu sekarang, Reyd.”

Di tengah badai—Reyd masih berdiri. Namun napasnya berat. Tangannya sedikit gemetar.

Tornado itu terus membesar. Lebih kuat. Lebih liar. Langit semakin gelap. Petir mulai menyambar di dalamnya.

Seolah badai itu—hidup.

Dan untuk sesaat—terlihat jelas. Reyd bukan hanya mengendalikan badai—ia hampir menjadi bagian darinya.

Iselle menatap tanpa berkedip. Jantungnya berdetak cepat.

“Ini kekuatan yang…”

Ia menggenggam tangannya.

“Bisa menghancurkan segalanya.”

Namun di saat yang sama—matanya menyempit.

“Ini juga alasan… kenapa aku harus mendapatkannya.”

Angin mengamuk. Langit menghitam.

---

Badai masih mengamuk. Tornado raksasa berputar liar, mengoyak arena tanpa ampun. Langit gelap. Petir menyambar di dalam pusaran angin.

Makhluk itu masih terperangkap, terseret tanpa kendali.

Dan di pusatnya—Reyd berdiri.

Napasnya berat. Tubuhnya mulai gemetar.

Angin di sekitarnya—tidak lagi stabil. Warna biru terang yang sebelumnya menyala kuat… kini mulai bergetar.

“Hah…”

Reyd mencoba menahan.

Namun—sesuatu terasa salah.

Tenaganya… terkuras terlalu cepat.

“Tidak…”

Tornado tiba-tiba bergetar hebat. Putarannya tidak lagi sempurna. Warna angin itu—perlahan memudar.

Dari biru terang—menjadi lebih redup. Lalu—berubah.

Hijau.

Lebih lemah. Lebih tipis. Lebih rapuh.

“Sial…”

Reyd mencoba mengangkat tangannya lagi.

Namun—

WHOOM!

Sebuah tekanan tak terlihat menghantamnya.

Tubuhnya terpental.

DHAAM!

Ia menghantam tanah, tergelincir jauh hingga mendekati tepi arena.

Pedang anginnya hancur. Lenyap seperti tidak pernah ada.

Tornado—masih berputar sesaat. Namun—tanpa pusat.

Ia mulai runtuh. Perlahan. Hingga akhirnya—HILANG.

Langit masih gelap. Namun badai itu mati.

Sunyi.

Seluruh arena terdiam. Tidak ada yang langsung mengerti apa yang terjadi.

Sampai—langkah kaki terdengar.

Tenang. Ringan. Namun terasa menekan.

Dari atas tribun—Seyron turun.

Langkahnya santai. Tidak tergesa. Seolah apa yang baru saja terjadi—hanya hal biasa baginya.

Ia berjalan ke tengah arena. Melewati debu. Melewati sisa kehancuran.

Matanya tertuju pada Reyd yang terjatuh.

“Sudah cukup.”

Suaranya ringan.

Reyd mencoba bangkit. Tangannya menekan tanah. Namun tubuhnya tidak merespons sepenuhnya. Napasnya kacau.

Angin di sekitarnya—hanya berhembus lemah.

Seyron berhenti beberapa langkah darinya. Menatapnya dari atas.

“Masih emosi juga kau mengendalikan sihirmu.”

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Namun—SEMUA ANGIN BERHENTI.

Tidak ada hembusan. Tidak ada sisa sihir. Tidak ada getaran.

Seolah konsep “angin” itu sendiri dipadamkan.

Mata Reyd membelalak.

“Apa?”

Ia mencoba memanggil lagi. Namun—tidak ada yang datang. Kosong. Benar-benar kosong.

Seyron menurunkan tangannya.

“Seperti ini.”

Suaranya tetap tenang.

“Baru disebut kendali. Dasar adik kedua bodoh.”

Di tribun—semua orang membeku.

Lein berdiri. Matanya penuh keterkejutan.

“Dia mematikan sihir itu begitu saja?”

Vaks terdiam.

Felixa menyipitkan mata, namun bahkan ia tidak langsung mengerti.

“Itu bukan sekadar kekuatan… itu dominasi mutlak.”

Di arena—Seyron berjongkok sedikit. Sejajar dengan Reyd.

Tatapan mereka bertemu.

“Adikku…”

Senyumnya tipis. Namun dingin.

“Kau membuat pertunjukan yang bagus.”

Reyd menatapnya tajam. Namun tubuhnya tidak bisa bergerak.

“Kau…”

Seyron mengangkat satu jari. Menepuk ringan dahi Reyd. Tidak keras. Namun cukup membuat Reyd kembali jatuh.

“Beristirahatlah. Tak ada gunanya kau melawanku.”

Ia berdiri kembali. Seolah semua sudah selesai.

Di atas—Iselle tidak bisa berkata apa-apa. Matanya tertuju pada Reyd. Yang kini—tergeletak.

Ia benar-benar melihat perbedaan itu. Kekuatan yang ia incar—dan kekuatan yang mengendalikan segalanya.

Ia menelan pelan.

“Kalau aku gagal…”

Pikirannya terhenti. Karena jawabannya—sudah jelas.

Langit perlahan kembali terang. Angin kembali berhembus.

1
Protocetus
Min belum kontrak min?
Mr. Wilhelm
Ini beda penulis sama novel² sebelumnya, kah?

soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?

what happen?
Apin Zen: Gk om, Setiap novel pakai editor.
Soalnya malas revisi, meski dikit juga sih yang baca tapi seru nulis novel fantasy, hehe.
total 3 replies
Mr. Wilhelm
Keknya mending dihapus narasi yg sebelumnya deh, soalnya hampir sama dengan dialog ini.
Mr. Wilhelm
Emmm harusnya Ayahnya kan yg pewaris dan Seyron jdi ahli waris?
Mr. Wilhelm
Keknya harus upload ulang, paragrafnya jdi jelek, langsung copas, kah?
Apin Zen: baca ulang lagi bab 1 nya Mr, apa masih kurang🤔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!