Aurielle Veyra (25 tahun), seorang Make Up Artist kelas dunia, dikenal mampu mengubah wajah biasa menjadi sebuah 'Mahakarya'.
Namun setelah tertidur usai bekerja tanpa henti, dia terbangun … bukan di Apartemen mewahnya.
Melainkan di raga seorang gadis yatim piatu miskin di desa terpencil dalam Kekaisaran Shang Agung, yang bernama Lin Yue. Yang meninggal karena menyerah menjalani kehidupan di dunia itu.
Di dunia tanpa kosmetik modern, Aurielle terikat dengan sebuah ruang dimensi misterius berisi resep kecantikan kuno yang telah lama hilang dari sejarah.
Dari bunga liar, mutiara, hingga ramuan rahasia, dia menciptakan kosmetik yang mampu membuat siapa pun terlihat memukau.
Namun, di balik kecantikan yang dia ciptakan …
tersembunyi rahasia racun halus, dan permainan kekuasaan yang mematikan.
Karena di dalam dunia Kekaisaran~
Sebuah wajah yang sempurna bisa menjadi sebuah 'senjata' yang mematikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Hari Setelah Unboxing!
***
Mentari pagi mulai menyelinap dari balik awan, membuat suasana pagi di dalam Paviliun Phoenix Emas terasa hangat dari pada malam sebelumnya, yang penuh ketegangan karena permainan takdir.
Di atas sebuah ranjang besar berselimut sutera yang sangat halus, Lin Yue membuka matanya perlahan.
Tatapan matanya terlihat kosong dalam beberapa detik, lalu kembali jernih seperti biasanya.
Kaisar Longhui masih terlelap disampingnya, napasnya teratur dan aura dominannya tetap terasa, walalupun matanya terpejam.
Lin yue menatap pria disampingnya selama beberapa detik, lalu dia bergumam dalam hatinya.
"Jadi ini, sosok pria Tiran yang kejam dan selalu melenyapkan bayi perempuan miliknya itu? Dan di hanya ingin keturunan laki-laki?"
"Dasar badjingan kejam! Semoga saja benih dia tidak jadi dalam rahimku! Mana aku sudah minum pil 'Cepat Hamil' pula! Hadeeeh! Aku terlalu terburu-buru semalam, semoga bulan depan Tango dapat menemukan solusinya."
"Apa aku minum air ajaib saja, ya? Supaya benihnya tidak tumbuh? Anggap saja seperti minum pil kontrasepsi gitu ..."
Tatapan matanya tajam melihat pria yang masih tertidur itu, dan tidak ada sedikitpun rasa kagum ... yang ada hanyalah sebuah perhitungan tajam dalam benaknya.
"Aku harus segera mengatur dan membuatnya sibuk dengan semua wanita yang ada di dalam Hareem-nya, agar dia tidak menyentuh Mei Fang dan melupakan keberadaanku!" tekadnya dalam hati.
Biarlah dia yang sudah terbuka 'segelnya', asalkan Mei Fang masih 'murni', karena dia mempunyai firasat buruk tentang masa depan.
Lin Yue bangkit dari atas ranjang perlahan, gerakannya terlihat sangat berhati-hati, berusaha agar tidak membangunkan pria kejam itu.
Akan tetapi~
"Sudah bangun sepagi ini, hm?"
Suara berat itu membuatnya berhenti melangkah.
Lin Yue menoleh dengan sebuah senyuman manis pada wajahnya, menyembunyikan semua rasa tidak sukanya dalam hati.
"Maafkan Chenqie, Yang Mulia ... Chenqie hanya tidak ingin menggangu tidur Anda. Chenqie ingin pergi ke kamar mandi ..." jawab Lin Yue dengan wajah memelas.
Kaisar Longhui membuka matanya, lalu dia bersandar dikepala tempat tidur dan menatap Selirnya itu dengan tatapan yang dalam.
"Kamu benar-benar berbeda dengan semua wanita yang ada di dalam Hareem Zhen. Kamu bahkan tidak berteriak memanggil pelayanmu, saat kamu membutuhkannya, demi kenyamanan Zhen ..." ujar Kaisar Longhui, terselip rasa kagum dalam setiap katanya.
"Apakah itu sebuah pujian untuk Chenqie, Yang Mulia?" tanya Lin Yue dengan wajah merona.
"Terserah bagaimana kamu menafsirkannya ..." sahut Kaisar Longhui sambil tersenyum tipis.
"Dasar badjingan! Dia pikir, aku terpesona dengan semua ini?! Cih! Sekarang aku harus bersandiwara saja dulu, sampai takdir membawaku kepada sebuah 'kebebasan' yang mutlak!" geram Lin Yue dalam hatinya.
Lin Yue meyambar jubah tipisnya, lalu dia memakainya dengan gerakan yang anggun.
"Kalau begitu ... Chenqie akan menganggap semua ini sebagai sebuah pujian dari Anda ..." ujarnya dengan kepala tertunduk.
Kaisar Longhui memperhatikan setiap gerakan gadis itu.
Dia terlihat tenang dan anggun, namun sulit ditebak.
"Zhen tidak salah memilihmu ..." ujarnya dengan nada rendah.
Mata Lin Yue berkilat tajam sesaat, saat mendengar ucapan itu.
Lalu dia mendongakkan kepalanya sambil tersenyum.
"Itu karena Yang Mulia memiliki 'Intuisi' yang sangat tajam ..." pujinya dengan nada tidak tulus.
Kaisar Longhui tertawa, lalu dia bangkit dari atas ranjang, dan berjalan mendekat ke arah Lin Yue.
"Hahahahaha! Kamu ternyata sangat pandai bicara dan ... pintar dalam menyenangkan Zhen ..." ujarnya dengan nada hangat.
Lin Yue tetap berdiri ditempatnya, dia tidak bergerak sama sekali saat Kaisar Longhui mendekatinya.
Namun dibalik ketenangannya itu, benaknya berisik dengan semua rencana kedepannya.
"Semakin dia tertarik kepadaku, maka akan semakin mudah aku mengendalikannya. Semangat Lin Yue!" ujarnya dalam hati.
"Apakah kamu siap untuk mulai mengatur Hareem hari ini, hm?" tanya Kaisar Longhui dengan nada lembut.
"Chenqie siap, Yang Mulia."
"Apakah kamu benar-benar sudah siap dalam menghadapi mereka semua?" tanya Kaisar Longhui kembali.
"Jika Chenqie tidak siap, maka Chenqie tidak akan berada diposisi ini sekarang ..." jawab Lin Yue sambil menatap mata pria itu dengan tekad kuat.
"Ternyata Selirku adalah seorang wanita yang sangat luar biasa!" puji Kaisar Longhui sambil tersenyum.
Lalu dia mengangkat tangannya, dan menyentuh wajah Lin Yue dengan gerakan yang sangat lembut.
"Zhen akan melihat, sejauh mana kamu bisa menghadapi semuanya ..."
Lin yue hanya tersenyum menanggapinya.
"Dan Chenqie tidak akan mengecewakan Yang Mulia ..."
--
Pagi itu, suasana di dalam Istana sangat tegang, ketika tersebarnya sebuah kabar, seperti api dimusim kemarau.
Itu adalah kabar, jika Kaisar Longhui bermalam di Paviliun Phoenix Emas, dan beliau belum juga keluar sampai waktu ini!
Beliau juga tidak pergi ke Paviliun milik Selir lain dalam semalam, dan hanya menetap disana.
Biasanya, Kaisar Longhui akan mengunjungi beberapa orang Selirnya dalam semalam, karena itu memang sudah pengaturan di dalam Istana Naga Hitam.
Namun sekarang, dia hanya mengunjungi Lin Yue semalaman.
Di dalam salah satu Paviliun megah lainnya, terdengar suara pecahan barang yang sangat kencang.
PRANG!
"Apa katamu?! Kaisar hanya menatap di Paviliun Phoenix Emas semalaman?!" teriak seorang wanita cantik yang masih terlihat muda.
Dia adalah Selir Xue Xialan, seorang gadis cantik keturunan sah dari Jenderal Perang Xue Xipeng, yang sekarang bertugas di Perbatasan Utara.
Menjadi Selir Istana adalah keinginannya sendiri, karena dia sangat memuja Kaisar Longhui yang tampan.
Dia sudah pernah melahirkan seorang anak, namun sayang ... anak yang dia lahirkan adalah perempuan, sehingga dia harus kehilangan buah hatinya.
Selir Xue berdiri dengan tubuh gemetar penuh amarah yang membuncah, antara iri dan benci melebur menjadi satu di dalam hatinya.
"Benar, Nyonya Selir ... Semalam, Yang Mulia Kaisar pergi ke Paviliun Phoenix Emas, dan belum keluar sampai sekarang," lapor pelayan itu dengan kepala tertunduk.
"Ja-lang sia-lan itu baru saja masuk ke dalam Istana ini, tapi kenapa ... kenapa dia bisa mendapatkan perhatian sebesar itu dari Yang Mulia?!" geramnya dengan nada rendah.
Dua orang Selir Istana yang dekat dengan Selir Xue pun menggeretakkan giginya dengan kesal, saat mereka mendengar berita itu.
Mereka adalah Selir Sang Shuling dan Selir Jiang Linmey, yang masuk bersama dengan Xue Xialan.
Mereka berdua adalah putri dari para pedagang besar di dalam Kekaisaran Naga Hitam, walaupun kaya raya, status mereka tetaplah dari Bangsawan Pedagang.
Masih kalah tinggi dengan status para putri Bangsawan Pejabat di dalam sana.
"Bukan hanya itu, Kak ... Dia juga sekarang sudah menjadi Selir Teratas yang mengendalikan seluruh Hareem Istana! Bagaimana dia bisa melampaui kita semua, padahal dia dan temannya hanyalah seorang gadis desa biasa?!" ujar Selir Jiang dengan nada cemburu.
"Jika kita membiarkan semua ini berlanjut, maka kita akan diinjak-injak olehnya nanti!" sahut Selir Sang dengan nada menggebu.
Suasana di dalam Paviliun Angsa Perak itu penuh dengan amarah dan kecemburuan, membuat udara di dalam sana terasa sangat berat.
"Apa yang harus kita lakukan, Kak Xue?" tanya Selir Shang dengan wajah cemas.
"Apakah kita harus meminta ramuan anak lelaki dari Tabib Istana, agar posisi kita bisa naik ke atas?" timpal Selir Jiang, mengeluarkan pendapatnya.
"Tidak perlu melakukan semua itu ..." jawab Selir Xue dengan nada datar.
"Kita tunggu saja ..." lanjutnya dengan nada penuh perhitungan.
"Menunggu ...?" beo Selir Sang dengan wajah bingung.
"Ya ..." jawab singkat Selir Xue.
"Maksud Kakak bagaimana?" tanya Selir Jiang.
"Berada diposisi itu pasti akan banyak musuhnya. Dan kita hanya bisa menunggu sambil melhat ... sampai dimana dia bisa mempertahankan posisinya itu ..." jawab Selir Xue dengan nada dingin.
Selir Jiang dan Selir Sang terdiam beberapa saat ntuk mencerna semua ucapannya itu, lalu wajah mereka terlihat sumringah.
"Benar! Kita tunggu saja tanggal mainnya ..."
"Hahahahaha ..."
--
Sementara itu di dalam Paviliun Phoenix Emas, suasananya justru sangat tenang di dalam sana, setelah kepergian Kaisar Longhui.
Lin Yue duduk di depan cermin, dan membiarkan Aling menata rambut indahnya sambil dia berdandan.
"Kabar yang Nona perintahkan sudah menyebar di seluruh Hareem ..." lapor Aling dengan nada rendah.
"Bagus! Mereka pasti mulai gelisah sekarang ..." sahut Lin Yue sambil tersenyum.
Aling menganggukkan kepalanya.
"Apakah Nona ingin mulai bergerak sekarang?" tanya Aling.
Lin Yue menatap pantulan wajah cantiknya di dalam cermin, lalu dia menyeringai tipis.
"Tidak sekarang. Biarkan mereka semakin gelisah. Semakin mereka gelisah, maka akan semakin mudah aku menyingkirkan mereka semua dari dalam Istana ini!" jawab Lin Yue dengan wajah dingin.
Aling tersenyum tipis, saat dia mendengar jawaban majikannya itu.
"Seperti yang Nona inginkan ..."
--
Di sisi lain kamar Paviliun Phoenix Emas, Mei Fang sudah bersiap sejak pagi.
Dia sudah mendapatkan izin Kaisar melalui Lin Yue, untuk keluar Istana hari ini.
Selain untuk memeriksa pembukuan Paviliun Orchid Bulan, dia juga ingin mengunjungi keluarganya.
Mei Fang sedan menungu kedatangan kereta miliknya di depan gerbang Istana bersama salah satu dari keempat pelayan yang diberikan oleh Lin Yue.
"Apakah Anda yakin ingin keluar Istana hari ini, Nona Fang?" tanya pelayan pribadinya yang bernama Yuyu.
"Ya, Yuyu. Aku harus mengecek Paviliun Orchid Bulan, sekaligus mengunjungi keluargaku ..." jawab Mei Fang sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, kereta kuda miliknya pun datang dan berhenti di depannya.
Yuyu dengan sigap membantu majikannya naik ke atas kereta kuda tersebut, lalu dia menyusul dibelakangnya.
"Kita pergi ke Kediaman Yue terlebih dahulu, setelah itu ke Paviliun Orchid Bulan!" perintah Mei Fang kepada kusirnya.
"Baik, Nyonya Selir!"
Sepanjang perjalanan, Mei Fang menatap keluar jendela dengan perasaan yang campur-aduk.
"Kenapa dengan perasaanku ini? Sejak kembali dari Hutan Shesan, perasaanku semakin sensitif saja. Semoga semuanya baik-baik saja ..." gumam Mei Fang dalam hatinya.
--
Sekitar satu batang dupa sedang (sekitar 45 menit), kereta kuda itu berhenti di depan gerbang sebuah Kediaman yang sangat besar dan elegan.
Pintu gerbang terbuka, dan kereta kuda itu perlahan masuk ke dalam kediaman tersebut.
Ini adalah rumah Lin Yue, hadiah dari Sistemnya, yang ditempati oleh keluarga Mei Fang dari Desa Gaolin.
Di dalam sana ada sekitar tiga puluh pekerja miliknya, yang terdiri dari pelayan, koki, dan penjaga.
Begitu Mei Fang turun dari atas kereta kuda, seorang wanita paruh baya yang terlihat terawat langsung menyambutnya dengan wajah sumringah.
"Fang'er!"
Mei Fang menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, karena dia sangat merindukan suaranya beberapa bulan ini.
"Ibu ...!" sahut Mei Fang sambil berjalan kearahnya.
Mereka langsung berpelukan dengan erat, seolah-olah menyalurkan semua kerinduan yang terpendam selama ini.
"Fang'er Ibu terlihat sangat cantik dan anggun sekarang! Sudah sama persis dengan para gadis bangsawan kaya di Ibukota ini ..." puji Ibunya dengan mata berbinar.
"Ihh! Ibu bisa saja ..."
Lalu Mei Fang menolehkan kepalanya kesana-kemari, seperti mencari sesuatu.
"Ayah dan Adik dimana, Bu? Kok aku tidak melihatnya?" tanya Mei Fang.
"Ayahmu sedang berada di Paviliun Orchid Bulan bersama dengan Adikmu itu. Dia dan adikmu sangat betah disana, membuat Ibu selalu sendirian di rumah besar ini ..." jawab Ibu Mei Fang dengan sedkit nada keluhan didalamnya.
"Tsk! Ayah dan adik memang sangat suka bekerja, sampai mereka melupakan wanita secantik ini sendirian dirumah ..." ujar Mei fang dengan nada bercanda.
"Hahahahaha! Ya sudahlah, ayo kita masuk ke dalam dulu, kita ngobrol di dalam ..." ajak Ibunya sambil tertawa.
"Baiklah ... Ayo, Bu ..."
Sesampainya mereka di ruang tamu, para pelayan langsung sigap membawakan teh dan berbagai kue kecil untuk mereka.
Suasananya terasa hangat dan lebih hidup disana, membuat Mei Fang malas kembali ke Istana yang dingin itu.
"Fang'er ... Apakah kamu baik-baik saja di dalam Istana?" tanya Ibunya dengan nada prihatin.
Mei Fang menyesap teh di dalam cangkirnya perlahan, sebelum dia menjawab pertanyaan sang Ibu.
"Aku baik-baik saja, Bu. Lin Yue menjagaku dengan baik di sana ..." jawab Mei Fang sambil tersenyum.
"Haaah, syukurlah kalau begitu ... Ibu hanya khawatir dengan keselamatanmu dan Lin Yue di dalam sana, karena banyak manusia serakah dan penuh ambisi di dalam sana," ujar Ibu Mei Fang dengan perasaan lega.
"Lin Yue memang gadis yang sangat tangguh sejak kecil. Dia tidak pernah mengeluh, walaupun sudah kehilangan semua anggota keluarganya ..." lanjut Ibu Mei Fang dengan nada prihatin.
"Ya, dia memang sangat tangguh dan pantang menyerah, demi melindungi orang-orang terkasihnya ..." ujar Mei Fang.
"Sangat luar biasa dan sedikit ... menakutkan ..." lanjut Mei Fang dengan suara gumaman yang sangat kecil.
Ibu Mei Fang menolehkan kepala ke arah putrinya dengan wajah bingung.
"Hm? Kamu bilang apa tadi?" tanyanya kepada Mei Fang.
"Ah! Aku hanya bilang, teh dan kuenya sangat enak sekali, Bu ..." sahut Mei Fang sambil nyengir.
"Kalau begitu, makanlah yang banyak, ya ..."
"Baik, Bu ..."
Mereka mengobrol tanpa jeda dengan gembira, setelah puas, Mei Fang pun berpamitan kepada Ibunya untuk pergi ke Paviliun Orchid Bulan.
"Bu, aku pamit, ya! Lin Yue minta aku mengecek tokonya. Lain kali aku akan datang kembali bersama Lin Yue ..." ujar Mei Fang kepada Ibunya.
"Baiklah! Hati-hati di jalan, Fang'er ... Sampaikan salam Ibu untuk Yue'er!"
"Baiklah, Bu ... Sampai Jumpa!"
--
Perjalanan ke Paviliun Orchid Bulan hanya memakan waktu sekitar setengah batang dupa kecil, yaitu sekitar lima belas menit saja.
Sesampainya disana, suasanan toko sangat ramai seperti biasanya.
Para wanita dari berbagai kalangan memenuhi tempat itu, khususnya bagi mereka yang sudah mendapatkan manfaat nyata dari semua produk toko itu.
Aling sudah berada disana atas perintah Lin Yue, karena dia sedang men-transfer perintah kepada robot yang baru dipesan Lin yue pada malam sebelumnya.
"Wah! Toko ini semakin hari, semakin ramai saja ..." gumam Mei Fang dengan nada kagum.
"Selamat datang, Nona Fang ..." sambut Aling dengan penuh hormat.
"Aling, bagaimana dengan laporan pemasukan hari ini?" tanya Mei Fang.
Aling langsung memberikan sebuah buku besar kepada Mei Fang, yang berisi data lengkap pemasukan dan pengeluaran barang beserta harganya.
"Penjualan meningkat dua kali lipat, sejak status Nona Yue terbongkar dan berita tentangnya menyebar luas," sahut Aling.
Mata Mei Fang terbeliak lebar, ketika mendengar laporan tersebut.
"Hah?! Secepat itukah?!" tanya Mei Fang.
"Benar Nona," jawab Aling sambil menganggukkan kepalanya.
"Hahahahaha! Rumor memang sangat efektif! Dan Lin Yue pasti akan sangat senang mendengarnya!" ujar Mei Fang sambil tertawa.
"Lalu, bagaimana dengan pesanan produk khusus?" tanya Mei Fang.
"Semuanya berjalan lancar, Nona. Para Bangsawan sudah mulai memesan tempat untuk acara lelang bulan depan," jawab Aling.
"Bagus!" ujar Mei Fang sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai memeriksa semua pembukuan, Mei Fang menatap ke arah sekelilingnya.
Toko itu berkembang dengan sangat pesat dalam beberapa bulan setelah dibuka.
Mei Fang tersenyum tipis, saat dia sudah mengerti semua yang sedang Lin Yue persiapkan sekarang.
"Aku mengerti sekarang ..." gumamnya pelan.
"Kenapa kamu begitu sangat percaya diri di dalam Istana ..."
"Ternyata kamu sedang mempersiapkan sesuatu yang sangat besar di wilayah ini ..."
--
Di dalam Paviliun Phoenix Emas, Lin Yue berdiri diatas balkon kamarnya dengan mata menatap jauh ke depan sana.
Angin meniup helaian rambutnya yang indah, membuat kecantikannya semakin tidak terkalahkan
"Semuanya bergerak sesuai rencana ..." gumamnya sambil tersenyum tipis.
"Di dalam maupun diluar Istana, semuanya berjalan dengan sempurna."
Tangannya terangkat, seolah dia menggenggam sesuatu yang tak terlihat.
"Secara perlahan ... Kekuasaan itu mulai berada di dalam genggaman tanganku ..."
Lalu wajahnya berubah datar dan dingin dengan cepat.
"Sekalinya tergenggam, maka aku tidak akan melepaskannya lagi!"
⚛⚛⚛
jadi semangat dalam menjalani niat yang mulia itu, terutama untuk kucing² manis itu..
pokoknya semangat ya 🥰
ditunggu yaa kelanjutannya author🤭
pokoknya semangat ee author
ditunggu yaa kelanjutannya author🥰