Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia justru menjadi seperti mimpi terburuk yang pernah datang. Di tinggal pergi oleh calon suaminya sendiri tepat di hari pernikahan. Sehingga mau tidak mau Kanaya harus menikah dengan calon kakak iparnya yang terkenal arogan dan juga dingin. Demi menjaga nama baik keluarga, Andreas bersedia menggantikan adiknya yang kabur dan menikahi calon adik iparnya.
Bagaimanakah perjalanan pernikahan mereka? Akan kah pernikahan itu bisa membuat keduanya saling mencintai? Ikuti kisahnya, Ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat dari Abdreas
"Kanaya, maafkan aku" lirih Aditya sambil berusaha menahan langkah Kanaya. "aku mohon maafkan aku, Kanaya. Bukan maksudku untuk mengkhianati cinta kita, hanya saja aku terpaksa. Aku benar-benar minta maaf" Aditya menarik tangan Kanaya agar gadis itu kembali membalikkan tubuhnya. Namun sekuat tenaga Kanaya berusaha untuk tidak menatap wajah pria brengsek yang sudah melukai perasaannya. Yang telah tega mengkhianati cinta tulusnya dengan saudaranya sendiri.
Kanaya masih diam bergeming, wajahnya datar dengan nafas yang memburu, menahan diri untuk tidak emosi didepan beberapa karyawan Andreas yang kini tengah menatap ke arah mereka.
"Lepaskan tanganku, Aditya! Jangan seperti ini, ini kantor dan aku baru saja bekerja di sini!" balas Kanaya tanpa menoleh pada Andreas. rasanya Kanaya ingin sekali mencakar wajah pria itu, namun Kanaya urungkan karna dia harus menjaga martabat dan nama baik nya sendiri. Lagian tidak ada gunanya meladeni Aditya, karna sejak Kanaya mendengar apa alasan Aditya pergi di hari pernikahannya membuat gadis itu ilfil.
Namun Aditya masih tak menyerah, pria itu terus berusaha meminta maaf pada Kanaya dan meminta Kanaya agar tetap menganggapnya sebagai kekasih.
"Aku mohon, Kanaya. Aku masih sangat mencintaimu, tolong kasih aku satu kali lagi kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya" pinta Aditya lirih.
Mendengar itu membuat Kanaya tersenyum getir, apa Kanaya tidak salah dengar? Setelah apa yang sudah Aditya lakukan, masih pantaskah dia meminta kesempatan kedua untuk memulai semuanya dari awal lagi. Bahkan Aditya tau sendiri bagaimana Kanaya, gadis itu tipe perempuan yang jika di kecewakan tidak akan memberikan kesempatan lagi. Karna Kanaya tidak ingin kembali mengulang rasa sakit karna luka itu.
"Pergi, Aditya. Jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku lagi, karna sekali kamu kecewain aku, maka seterusnya aku akan membencimu, bukan kah sebelumnya kamu sudah tau bagaimana karakterku."
" Jadi jangan pernah berharap aku mau mengulang bersama dengan pria brengsek sepertimu lagi. Karna saat ini aku sudah bahagia bersama dengan suamiku yang tak lain adalah kakakmu sendiri"
"Terimakasih karna sudah pergi di hari pernikahan kita, karna dengan begitu aku tidak perlu merasakan kecewa yang lebih besar lagi. Dan aku juga sangat berterimakasih karna sudah memberikan aku suami yang jauh lebih baik dari kamu. Sekali lagi terimakasih sudah pergi dari hidupku, penghianat memang pantas dengan penghianat. Kalian berdua cocok!" ucap Kanaya dengan nafas yang naik turun.
Setelah mengatakan hal itu Kanaya langsung pergi meninggalkan Aditya yang masih terdiam di sana, tanpa Kanaya sadari ternyata ada asisten Andra yang menyaksikan kejadian tersebut. Bahkan Andra juga melakukan panggilan video pada Andreas, sehingga pria itu mendengar dan melihat semuanya.
Saat sambungan telponnya terputus, Andreas tersenyum karna teringat akan perkataan Kanaya tadi. sebab secara tidak langsung Kanaya sudah mengatakan jika dia bersyukur bisa menjadi istri Andreas.
"Aku malah lebih berterimakasih karna Aditya sudah pergi di hari pernikahan kalian, karna dengan begitu aku tidak perlu lagi mencari calon istri yang sesuai dengan kriteriaku seperti Kanaya. biarpun dia sedikit bawel, tapi dia memiliki semua kriteria calon istri idamanku" ujar Andreas sambil tersenyum..
Tak lama kemudian pintu ruangan Andreas pun terbuka, ternyata Kanaya sudah kembali dengan membawa secangkir teh, bukan kopi.
"Ini minumannya. Mulai sekarang kamu gak boleh terlalu sering minum kopi, itu kandungan kafeinnya terlalu tinggi, gak baik buat kesehatan. Lebih baik minum teh hijau yang kandungan kafeinnya lebih rendah. Kamu aku kasih jatah sehari sekali, itu pun satu jam sebelum berangkat bekerja" cerocos Kanaya sambil memberikan secangkir teh hijau itu, membuat Andreas mengerutkan keningnya..
"Sejak kapan asisten bisa mengatur atasannya?" balas Andreas sambil menerima teh pemberian Kanaya.
"Sejak sekarang dan seterusnya. Karna aku bukan hanya asistenmu, aku juga istri yang berkewajiban menjaga kesehatan kamu. Sudahlah tidak usah banyak protes, minum saja apa yang aku siapkan, tidak ada racunnya kok, jadi aman"
Andreas menatap gadis itu"Jadi ceritanya udah mau ngakuin saja sebagai suami?? Hmmm." Andreas terus menatap Kanaya hingga membuat gadis itu sedikit salah tingkah di buatnya. Membuat Andreas mengulum bibir menahan tawa.
"Kalo hanya berdua bolehlah, kamu harus mengikuti apapun yang aku katakan, tidak ada penolakan ataupun negosiasi" balas Kanaya sambil membalas tatapan Andreas.
"Boleh saja, bahkan kamu bebas mengatur saya semau mu, apapun itu. Tapi dengan satu syarat"
Kali ini Kanaya yang mengerutkan keningnya"Syarat? Syarat apa memangnya?"
Andreas bangun dari duduknya, pria itu mendekat pada Kanaya dan mengikis jarak di antara keduanya. "Jadilah istri saya seutuhnya. Dengan begitu kamu bebas melarang saya apa saja"
"Hanya itu?" jawab Kanaya singkat"Hmmm hanya itu, dan saya mau kamu menjadi istri saya seutuhnya sekarang"
"Hah. S-sekarang?
"Ya, sekarang di sini. Kenapa? kamu pasti tidak mau, sudah saya duga"
Andreas berbalik lalu melangkah kan kakinya untuk kembali ke kursi kerjanya. Namun langkah itu terhenti saat suara Kanaya kembali menerpa indra pendengarannya.
"Siapa bilang tidak mau, bahkan aku belum menjawabnya tadi."
"Jadi jawabannya?"
"Aku terima syaratmu"
Andreas terdiam sejenak, padahal awalnya Andreas hanya bercanda, namun ternyata Kanaya malah menyetujuinya.
"Apa kamu yakin?" Andreas kembali ingin memastikan pada Kanaya"Jika kamu saja yakin dengan syarat itu, lalu kenapa aku harus tidak yakin,"
Tak mau banyak bicara lagi, Andreas pun langsung membawa tubuh Kanaya menuju kamar pribadi yang ada di ruangan itu. Akankah mereka benar-benar melakukannya? Lanjut bab selanjutnya ya. Jangan lupa like, komen, subscribe🙏🏼