NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di sisi lain, di lobi gedung perkantoran megah milik Afrain, Sisil melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Ia berjalan dengan penuh percaya diri, melintasi lantai marmer yang mengilat seolah-olah ia adalah nyonya besar di perusahaan itu, istri dari sang pemilik sah.

Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, ia menghampiri meja resepsionis.

"Permisi Bu, ada yang bisa saya bantu? Mau menemui siapa, ya?" tanya resepsionis wanita dengan senyum ramah yang profesional.

Sisil melipat kedua tangannya di dada, menatap sinis karyawan di hadapannya.

"Mas Afrain. Dia dulu suami saya. Di mana ruangan dia sekarang? Saya mau langsung ke atas."

Resepsionis itu diam sejenak, melirik ke arah Sisil dari atas sampai bawah.

Dandanannya yang sangat menor dengan lipstik merah menyala dan pakaian yang terlalu mencolok terasa sangat tidak pas untuk lingkungan kantor formal. Namun, mendengar wanita itu mengaku sebagai mantan istri bos besar, sang resepsionis tetap menjaga sikapnya.

"Maaf, Bu. Untuk hari ini Pak Afrain tidak masuk kantor," jawab resepsionis itu dengan sopan.

"Alasan saja kamu! Kamu pasti sudah bekerja sama dengan Lani, kan?! Perempuan mandul itu pasti yang melarangmu untuk mempertemukan aku dengan mantan suamiku!" bentak Sisil, suaranya yang melengking tinggi seketika memicu perhatian beberapa karyawan yang lewat di lobi.

Mendengar keributan itu, seorang petugas keamanan bertubuh tegap segera menghampiri meja resepsionis.

"Bu, maaf, Pak Afrain memang sedang libur hari ini. Mohon jangan membuat keributan di sini," tegas sang resepsionis, mulai kehilangan kesabaran karena atasannya dihina.

Sisil tetap bersikeras dan mencoba menerobos pembatas masuk.

Karena sudah mengganggu ketertiban, satpam terpaksa mengusir Sisil dengan tegas, memegang lengannya dan menuntunnya keluar dari area gedung meskipun Sisil terus berteriak-teriak maki.

Setelah keadaan kembali kondusif, resepsionis segera mengambil telepon kantor.

Ia langsung menghubungi nomor pribadi Afrain dan menceritakan semua kejadian memalukan yang baru saja dilakukan oleh wanita bernama Sisil itu.

Di kamar tidurnya, Afrain mendengarkan laporan tersebut lewat sambungan telepon.

Wajahnya yang semula sayu karena demam perlahan berubah menjadi dingin dan serius.

"Baik, terima kasih laporannya. Kalau dia datang lagi, langsung serahkan ke pihak berwajib," ucap Afrain tegas sebelum menutup telepon.

Afrain menganggukkan kepalanya perlahan, merenungkan sesuatu.

Lani yang duduk di samping ranjang sambil memegang mangkuk sup langsung menatapnya cemas.

"Ada apa, Mas? Ada masalah di kantor?"

Afrain menoleh, menatap lekat mata bening Lani. Rasa ingin melindungi wanita ini dari gangguan masa lalu mereka berdua mendadak memuncak.

Ia tidak mau Alex ataupun Sisil terus-menerus mengusik ketenangan hidup Lani.

"Sayang, sepertinya kita harus menikah sekarang," ujar Afrain dengan nada suara yang teramat serius.

Lani seketika mengerjapkan matanya, tertegun mendengar panggilan baru dari Afrain.

"M-maksud Mas?"

"Lekas ganti pakaian kamu, dan kita menikah sekarang, Sayang. Aku tidak mau menundanya lagi," tegas Afrain, meraih jemari Lani dan menggenggamnya erat.

"Tapi Mas sedang sakit demam tinggi seperti ini. Bagaimana bisa kita keluar?" tanya Lani bingung sekaligus khawatir dengan kondisi fisik calon suaminya.

Afrain mengulas senyum tipis yang penuh keyakinan.

"Kita menikah di sini, Sayang. Di rumah ini."

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Afrain segera meraih ponselnya kembali.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Afrain menghubungi Pak RT, Pak RW, dan pihak penghulu setempat, meminta mereka untuk datang ke rumahnya siang ini juga guna melaksanakan akad nikah secara siri terlebih dahulu agar hubungan mereka sah di mata agama secepatnya.

Tanpa membuang waktu, Lani segera bergegas menuju lemarinya.

Ia mengenakan kebaya putih sederhana namun elegan, yang senada dengan suasana sakral yang akan segera terjadi.

Setelah dirinya siap, dengan penuh kelembutan Lani membantu Afrain bangkit dan memakaikan kemeja koko putih bersih pada tubuh pria itu.

Meskipun wajah Afrain masih terlihat pucat karena demam, tatapannya menyiratkan tekad yang bulat.

Tidak lama berselang, suara ketukan pintu menyapa.

Mbok Mar membukakan pintu untuk Pak RT, Pak RW, dan sang penghulu yang datang sesuai janji.

"Mari, Pak, silakan masuk ke dalam," sambut Lani dengan sopan sembari mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu yang telah ditata sedemikian rupa.

Afrain menyambut tamu-tamunya dengan posisi duduk bersandar, suaranya terdengar sedikit parau.

"Mohon maaf sekali, Pak Penghulu dan Bapak-bapak sekalian, saya tidak bisa menyambut dengan berdiri karena kondisi saya sedang sakit."

"Tidak apa-apa, Pak Afrain. Kami mengerti kondisinya," jawab Pak Penghulu dengan ramah.

Di sela persiapan, Afrain dengan jujur menceritakan alasan di balik pernikahannya yang mendadak ini—tentang gangguan yang dialami Lani dan keinginannya untuk segera memberikan perlindungan secara sah.

Pak Penghulu mengangguk khidmat, memahami kedewasaan dan niat tulus pria di hadapannya.

"Baik, Pak Afrain. Jika sudah siap, mari jabat tangan saya," instruksi sang penghulu.

Karena Lani sudah tidak memiliki orang tua, ia duduk dengan tenang di samping Afrain, menundukkan kepala dengan perasaan yang berkecamuk antara haru, gugup, dan bahagia.

Afrain menarik napas panjang, menatap Lani sejenak, lalu menjabat tangan sang penghulu dengan mantap.

"Saya nikahkan dan kawinkan Lani Anggraeni binti Almarhum Abdullah dengan mas kawin seratus juta rupiah dibayar tunai," ucap Afrain dengan suara yang tegas, meski sedikit gemetar karena sisa demamnya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Lani Anggraeni binti Almarhum Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Afrain dalam satu tarikan napas.

Para saksi mengucap "Sah" dengan lantang. Dalam hening yang menyusul, doa-doa dipanjatkan, meresmikan ikatan antara dua insan yang kini sah menjadi sepasang suami istri di hadapan agama, di tengah ruang tamu yang menjadi saksi bisu awal perjalanan baru mereka.

Setelah prosesi akad nikah yang sakral dan penuh haru itu selesai, Afrain dengan sisa-sisa tenaganya memberikan amplop sebagai ungkapan terima kasih kepada Pak RT, Pak RW, dan Pak Penghulu.

Di saat yang sama, Mbok Mar dengan sigap membagikan nasi kotak yang sudah disiapkan kepada mereka semua.

"Terima kasih banyak, Pak Afrain, Mbak Lani. Semoga pernikahannya sakinah, mawaddah, warahmah. Dan semoga Pak Afrain lekas sembuh," doa Pak RT tulus.

Mereka bertiga kemudian berpamitan dengan Afrain dan Lani, lalu melangkah keluar meninggalkan rumah yang kini telah memiliki sepasang suami istri baru itu.

Begitu pintu depan ditutup oleh Mbok Mar, ketegangan di tubuh Afrain mendadak runtuh.

Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan napasnya kian memburu.

Ia menatap Lani dengan pandangan yang semakin mengabur.

"Sayang, antarkan aku ke kamar," bisik Afrain sangat lirih, menyandarkan separuh bobot tubuhnya pada bahu Lani.

Lani dengan sigap merangkul pinggang suaminya, menuntun langkah Afrain yang kian goyah menuju kamar tidur mereka. Namun, malang tak dapat ditolak. Baru saja mereka menapakkan kaki di ambang pintu kamar, kesadaran Afrain benar-benar habis.

Tubuh tegapnya langsung tergeletak pingsan, ambruk di atas lantai.

"Astaghfirullah, Mas!" pekik Lani histeris.

Jantungnya mencelos melihat pria yang baru beberapa menit lalu menjabat tangan penghulu kini tak sadarkan diri dengan tubuh yang terasa sekaku dan sepanas bara api.

"Mbok Mar! Mbok, tolong bantu saya!" teriak Lani panik sambil memangku kepala Afrain di paha kebayanya.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang mulai menetes, Lani segera meraba saku kemeja Afrain untuk mengambil ponsel suaminya.

Tanpa membuang waktu, Lani langsung mencari kontak dan menghubungi dokter pribadi Afrain agar segera datang ke rumah memberikan pertolongan medis secepatnya.

Tidak berselang lama, dokter pribadi Afrain tiba di rumah bersama seorang perawat.

Suasana kamar mendadak tegang. Dengan cekatan, dokter meminta perawat untuk segera memasang selang infus ke pergelangan tangan Afrain guna menyalurkan cairan dan obat penurun demam langsung ke tubuhnya.

Lani berdiri di sudut kamar, meremas jemarinya sendiri dengan perasaan cemas yang membuncah sembari memperhatikan jarum infus yang perlahan menusuk kulit suaminya.

Setelah memastikan cairan infus mengalir dengan lancar, dokter membalikkan badannya menghadap Lani.

"Tuan Afrain mengalami dehidrasi cukup parah dan masuk angin yang akut, Nyonya. Ditambah lagi sepertinya beliau terlalu memaksakan diri hari ini. Untuk beberapa hari ke depan, beliau harus istirahat total dan tidak boleh memikirkan pekerjaan kantor dulu," jelas dokter dengan nada tegas namun menenangkan.

Mendengar penjelasan dokter, Lani hanya bisa mengangguk pelan sembari mengembuskan napas lega karena kondisi suaminya sudah ditangani dengan benar.

Tepat saat dokter baru saja selesai merapikan peralatan medisnya ke dalam tas, kelopak mata Afrain bergerak perlahan.

Pria itu membuka matanya yang masih terasa sangat berat dan sayu.

Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar, sebelum pandangannya beralih pada sosok dokter pribadinya yang berdiri di sisi ranjang, serta Lani yang menatapnya dengan mata yang sembap.

"Aku, kenapa?" tanya Afrain dengan suara yang teramat serak, melirik ke arah selang infus yang kini menempel di pergelangan tangannya.

Lani melangkah mendekat ke sisi ranjang setelah dokter dan perawat pamit keluar kamar untuk memberikan ruang.

"Mas dehidrasi dan masuk angin karena semalam," jawab Lani dengan wajah sedih, matanya kembali berkaca-kaca menahan rasa bersalah yang teramat besar.

Melihat raut wajah istrinya yang mendung, Afrain memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang pucat.

Ia menggerakkan tangannya yang bebas dari infus, lalu mengusap lembut pipi Lani.

"Ssshh.. ini bukan salah kamu, Sayang. Aku yang mengajakmu ke angkringan semalam," bisik Afrain menenangkan, tidak mau Lani menyalahkan diri sendiri.

Kemudian ia menggeser sedikit tubuhnya yang masih lemas, menyisakan ruang kosong di sisi tempat tidur.

"Naiklah ke sini, dan peluk suamimu ini," pinta Afrain manja, menatap Lani dengan tatapan penuh kehangatan.

Lani menganggukkan kepalanya pelan. Sambil menghapus sisa air mata di sudut matanya, ia melepas flat shoes-nya dan ikut naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu aliran selang infus Afrain.

Kemudian Lani memeluk tubuh suaminya yang baru saja beberapa jam lalu ia nikahi.

Di dalam dekapan hangat itu, Lani menyandarkan kepalanya di dada bidang Afrain, mendengarkan detak jantung pria itu yang menenangkan, sementara Afrain mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Lani dengan penuh rasa syukur.

"Lani, terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku," bisik Afrain lirih, suaranya bergetar oleh rasa haru yang mendalam.

Ia mengecup dahi Lani lama, menyalurkan seluruh rasa hormat dan cintanya yang kini telah sah di mata agama.

Lani mendongak sedikit, menatap mata sayu suaminya dengan binar kebahagiaan.

"Aku juga, Mas. Terima kasih sudah memilihku dan melindungiku. Semoga pernikahan kita selalu sakinah, mawaddah, warahmah, dan diberkahi sampai maut memisahkan."

Afrain tersenyum tipis, merasa bebannya menguap begitu saja mendengar doa tulus dari bibir wanita yang kini resmi menjadi belahan jiwanya.

Ia mengeratkan pelukannya, memastikan Lani merasa aman dan hangat di dalam dekapannya.

Lani kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Afrain.

Ia memejamkan matanya perlahan, menikmati keheningan kamar yang menenangkan sambil mendengarkan suara detak jantung suaminya yang beritme teratur—sebuah melodi paling damai yang menjadi sauh baru dalam hidupnya setelah badai yang panjang.

Merasakan napas Lani yang mulai teratur dan kehangatan tubuh istrinya yang mendekapnya erat, perlahan-lahan rasa kantuk akibat pengaruh obat demam mulai menyerang Afrain.

Ia mengembuskan napas panjang yang lega, mengusap punggung Lani sekali lagi, lalu ikut memejamkan matanya.

Di dalam kamar yang temaram itu, sepasang suami istri yang baru saja mengikat janji suci tersebut akhirnya tertidur lelap bersama, saling memeluk dan saling menyembuhkan dalam ketenangan malam yang baru.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!