Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pekerjaan Jaksa penuh resiko
Kantor kejaksaan Agung Jakarta.
Pagi ini Arkanendra baru sampai di gedung kantornya, dia langsung masuk ke sebuah ruangan yang banyak terdapat laptop dan alat alat sadap canggih lainnya, dan berisi beberapa orang petugas reserse dari Polda metro jaya dan kejaksaan pilihan.
Marcus menoleh saat melihat rekannya baru masuk. Berbisik di telinga Arka..
"Mbak Krisera mengundurkan diri dari misi ini, semalam dia menelpon pak Rangga"
"Hah apa?? dia mundur, loe serius Marc--"
Marcus mengangguk lalu mengusap wajahnya, bibirnya berkedut saat ingin bicara lagi.
"Karena pemeran utama wanita mundur, kepala kejaksaan memanggilku tadi pagi dan memutuskan jika kita berdua saja yang masuk ke jamuan pesta itu nanti malam"
"Hah?! kok jadi kita berdua---" Arka kaget sekali, ingin protes namun Rangga sudah duluan menginterupsi.
"Baiklah selamat pagi semuanya, kasus yang kita tangani kali ini akan terasa lebih berat daripada sebelumnya, tetap berhati-hati dan utamakan keselamatan diri" Rangga menatap dua jaksa muda itu
"Selamat pagi Brigjen...." Kompak dua Jaksa itu.
"Pak Arka dan pak Marcus, mohon bantuannya untuk besok malam" Marcus tersenyum miring dia melirik Arka yang ekspresi wajahnya masih kesal.
"Eum....siapkan dirimu bang, lets go to party nanti malam hehehe"
"Astaga!" Arka malah mengerang syok.
"Kepala kejaksaan juga menjanjikan promosi kenaikan jabatan untuk kita jika kasus ini berhasil di bawa ke meja hijau" Ujar Rangga padahal ekspresi wajah Arka sudah kusut.
"Huh Pak Agung sialan! Dia selalu seenaknya sering membuat aku repot"
"Bang, soal perempuan yang akan kita bawa nanti malam sebagai pasangan, kita bebas memilihnya" Bibir Marcus tak tahan tersenyum miring, dan berbisik di telinga rekannya.
"Aku tak sabar bermain dengan Ririn nanti malam hehehe, ah senangnya aku bisa membawa pacarku ke club itu nanti"
"Aish dasar setan tengik, loe gila ya---"
Arka geleng-geleng kesal, dia malas masuk ke tempat itu, apa gunanya mereka berdua suit main, batu gunting kertas, kemarin jika nyatanya keduanya harus ikut serta masuk dan menyamar lalu ikut jamuan laknat.
"Alat sadap akan di pasang di telinga kalian dan ingat nama baru kalian" Rangga membagikan kaca mata bening untuk Arka dan dasi untuk Marcus, takkan ada yang mengira jika kedua benda itu adalah alat kamera dan perekam, semacam handycam berbentuk micro yang langsung menyambungkan suasana di club malam lewat kaca mata yang di pakai Arkanendra nanti.
"Kenapa dia hanya memakai alat sadap dengar, saya malah pakai kacamata, gak adil nih~" Arka protes dengan kesal.
"Itu karena aku tak sudi menunjukkan pada mereka kegiatanku bersama Ririn, uh~ enak saja"
Perwira Yusuf tersenyum geli, dia aneh saja dengan dua jaksa ini, yang sudah 30 tahun lebih tapi otaknya tak pernah beres seperti anak kecil, padahal saat berada di sidang pengadilan mereka bisa menjelma menakutkan siap menjatuhkan musuh musuhnya.
"Baiklah semua properti dan gaun untuk wanita kalian telah kami siapkan, pak Arka apa Anda sudah menemukan pasangan wanita untuk misi besok malam?"
Wajah Arka memerah, dia menatap seisi ruangan, di sana ada Henry di depan komputer nya, lalu Emir ahli penjinak bom, dan ada juga ada Sonia pegawai magang di kejaksaan, gadis itu menoleh, sambil mengigit bibirnya, seakan berharap jaksa tampan itu akan memilihnya pergi ke pesta nanti malam.
"Mungkin dia akan membawa kucing Coco - atau si Pindi kesayangannya kesana, hahaha"
Ledek Marcus dengan tawa jahil.
"Diam setan bawel! Jangan sebut nama kucing ku, sekali lagi loe meledek awas saja!"
Arka menghela nafasnya setelah itu, sebenarnya dia tak siap dengan tugas kali ini, ingin mundur tapi merasa tertantang, karena akan sangat memalukan jika dia takut ke tempat itu.
"Saya akan membawa gadis cantik kok, kalian semua tenang saja" Rangga mengangguk lalu menyodorkan dua kontak mobil pada dua jaksa muda itu.
"Ini kendaraan untuk kalian pakai besok, sudah kami siapkan, kalian bersiaplah untuk besok malam kita harus mendapatkan hasil memuaskan"
"Oke kami mengerti Brigjen....siap laksanakan!" Kompak mereka.
*****
Sampai di apartemennya masih sore, Arka bisa pulang lebih awal dari mempersiapkan pekerjaan tugasnya besok untuk menyamar di klub malam, pilihan yang paling tepat pergi kesana adalah membawa Nayyara, tak mungkin dia bisa membawa perempuan lain ke jamuan menakutkan itu.
"Kita mau kemana mas? Kamu menyuruhku bersiap tadi?" Nayyara yang masih enggan keluar sebenarnya tak setuju, dia takut masih dalam bahaya dan ada vampir atau siluman yang mengintainya nanti. Sejak dia hampir celaka Nayyara jadi parno pergi keluar sendirian, apalagi pulang ke rumah dan galerinya saja dia masih tak berani, sampai Arka yang harus kesana mengunci semua pintu dan jendela, lalu membawa beberapa barang Nayyara yang penting.
"Hanya jalan ke mall untuk belanja dan beli HP baru untukmu, kamu pasti bosan di apartemen terus sejak Kemarin" Jawab Arka ketika dia sudah bersiap dan terlihat rapi dengan penampilan santai, namun masih terlihat sungguh tampan.
"Beli HP baru?" Nayyara membeo kaget, pria itu mengangguk merangkul bahunya, dia cukup puas dengan penampilan gadis itu yang terlihat cantik sekali sore ini. Dia memakaikan jaket hitam di bahu Nayyara setelah mencium pipi mulus itu.
"Iya Nay, sekalian kita makan malam di luar ya"
"Benar juga sih? Hp ku jadi rusak gara-gara kejadian nyebelin itu?" Nayla sampai lupa jika HP nya memang rusak pada malam insiden rumah dia di satroni vampir, dia sampai tak pakai HP sejak beberapa hari lalu.
"Kita juga harus beli baju baju baru dan kebutuhan kamu lainnya, ayo kita masuk lift tuh udah sampe" Arka menggandeng tangan Nayyara ketika mereka masuk ke lift akan ke lantai basement parkiran apartemen mewah itu. Sebuah mobil Ferarri La Ferrari sport berwarna putih sudah terparkir dengan gagah di lantai basement dan Arka segera membuka pintu untuk Nayyara.
"Mas..! ya tuhan, mobil mewah ini punya kamu?!" Nayyara takjub dan tak percaya.
"Biasa aja, aku sudah lama punya mobil ini" Kekeh Arka santai, padahal Nayyara melongo, baru kali ini dia bisa melihat langsung mobil mewah yang hanya ada puluhan unit di produksi, dan harganya pasti fantastis bisa jutaan dollar.
Lalu Arkanendra bisa Memiliki satu unit kendaraan mewah itu. Sekaya apa pacarnya sebenarnya.
"Ayo masuk sayang, kita harus buruan ke mall, nanti keburu malam" Nayyara menurut lalu duduk di jok sebelah Arka yang tengah memakai sabuk pengaman, dan mulai menyalakan mesin kendaraan sport itu.
"Kita mal dekat sini aja ya, sekalian makan malam di restoran dalam sana"
"Iya boleh, terserah kamu aja mas, tapi jangan jauh-jauh dari ku, aku masih takut di culik vampir" Arka tertawa dengan riang dan menggenggam tangan gadis itu.
*
*
Plaza Indonesia.
Mereka berdua menikmati acara belanja malam ini bersama di Dept store, beberapa paperbag sudah ada di tangan Nayyara, dari pakaian baru, kosmetik, dalaman wanita, dan sepatu, semua lengkap, bahkan juga perlengkapan wanita lainnya semua Arka belikan tadi, mereka jadi cukup kerepotan membawa semua tas besar itu.
Di tambah lagi Arkanendra itu terus membeli apapun yang dia inginkan, padahal Nayyara sudah bilang jika mereka belanja sudah terlalu banyak. "Sepatu ini kamu suka yang mana sayang?" Pegawai di bagian etalase sepatu masih menunggu pelanggan mereka, bahkan kali ini yang datang ke sini salah satu anak dari keluarga Widjaya yang punya saham besar di mal ini.
Bayangkan saja betapa repotnya semua pegawai di sini jika anak dari pak Mochtar Widjaya, berkunjung ke Dept store ini.
"Ah tidak usah, tadi aku sudah beli sepatu kok?" Tolak Nayyara.
"Hanya satu sepatu itu masih kurang sayang......" Nayyara menggeleng jengah, namun Arka sudah duluan memerintah pegawai wanita Dept store.
"Kak, bisa tolong di bungkus semua sepatu ini ya, ini kartu ku, panggil juga pak Dendy manager disini untuk ke sini dan suruh security membawakan semua belanjaan ku nanti ke mobil!" Arka meminta lima sepatu itu di bungkus semua, sembari memberikan blackcard-nya pada SPG wanita itu, meski dia pemilik tempat in, jika belanja Arka selalu disiplin membayar semua belanjaannya
"Ini kebanyakan mas....ya ampun"
"Baik pak Arka, akan kami siapkan semua barangnya" SPG muda itu membungkuk sopan meski dalam hati dia iri setengah mati dengan gadis cantik yang bisa bersama Arkanendra itu dan bisa belanja memborong di dept store semua barang mahal, Nayyara geleng-geleng ingin protes lagi karena bingung bagaimana nanti dia bisa memakai sepatu sebanyak itu.
"Ma, kamu itu benar-benar boros, masa cuma belanja sekali harus segitu banyak, hah?" Arka tertawa lalu merangkul bahu Nayyara yang masih kesal, mereka melenggang santai sambil bergandengan tangan.
"Aku seperti Paris Hilton saja argh~ memborong seluruh isi toko......." Desah Nayyara masih kesal saat melihat troli mereka penuh.
"Memangnya kenapa kalo aku belikan sepatu banyak? Sepatuku di apartemen saja sampai ratusan, hampir penuh lima lemari, itu belum sepatuku di rumah orang tua ku"
"Ya deh, aku percaya pak Arka" Nayyara merengut dengan ucapan sombong orang kaya itu, dia ingin menampol bibir Arka yang hobi meledeknya. Setelah membayar semua belanjaan mereka, dia menarik Nayyara keluar dari Dept store, tujuan mereka kali ini makan malam.
Pak satpam dan Denny tadi sudah membawa semua belanjaan Arka duluan ke mobil, Denny itu yang biasa nya menjadi pengawal dari pak Mochtar, tadi Arka menelpon dia juga, pria itu sudah datang karena panggilan Arka, dan akan membawa pulang duluan semua belanjaan segunung mereka itu ke apartemen milik Arka.