Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Cermin Kepalsuan
Sore itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar apartemen baru Nara terasa begitu hangat, seolah memberikan pelukan damai yang selama ini diimpikan oleh Bu Rahayu. Di ruang tengah yang harum oleh aroma terapi, Bu Rahayu duduk di kursi rodanya dengan tenang. Di pangkuannya, terdapat sebuah vas keramik putih dan seikat bunga lili yang baru saja dibelikan oleh Suster Rahmi.
Tangan Bu Rahayu yang masih sedikit gemetar bergerak perlahan, memotong batang bunga dan menyusunnya satu per satu. Senyumnya mengembang. Ia merasa sangat beruntung memiliki putri sebaik Nara. Pekerjaan di kantor yang mapan, bos yang baik hati, hingga fasilitas apartemen yang mewah ini, semuanya terasa seperti mimpi indah di masa tua.
"Nara benar-benar anak yang berbakti, Sus," ujar Bu Rahayu lembut tanpa menoleh.
Suster Rahmi yang sedang merapikan beberapa majalah di meja sudut tersenyum ramah.
"Iya, Bu. Mbak Nara itu sangat telaten. Jarang ada anak muda jaman sekarang yang sekuat dia demi orang tua."
Ting tong...
Suara bel pintu memecah keheningan. Bu Rahayu menghentikan gerakannya pada bunga lili.
"Ada tamu? Apa Nara pulang lebih awal?" tanya Bu Rahayu antusias.
"Biar saya cek dulu, Bu. Mungkin ada paket atau petugas apartemen," jawab Suster Rahmi sambil melangkah menuju pintu depan.
Ketika pintu terbuka, bukan Nara yang berdiri di sana. Seorang wanita muda dengan kacamata hitam besar, mengenakan setelan blazer berwarna merah menyala yang tampak sangat mahal, berdiri dengan angkuh. Aroma parfumnya yang kuat dan menusuk langsung memenuhi indra penciuman Rahmi.
"Siapa ya, Mbak?" tanya Suster Rahmi sopan.
Wanita itu, Sinta, tidak menjawab. Ia menurunkan sedikit kacamatanya, memandang Rahmi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan, lalu tanpa permisi ia melangkah masuk ke dalam.
"Oh, jadi di sini lubang persembunyiannya," gumam Sinta sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar dingin dan sinis di telinga Rahmi. Matanya menyapu sekeliling ruangan, menilai setiap furnitur dengan tatapan mencela. "Lumayan juga. Bagas benar-benar royal kalau soal selera."
"Maaf, Mbak, Anda mencari siapa?" Rahmi mencoba menghalangi, namun Sinta sudah melenggang masuk ke ruang tengah.
Bu Rahayu menoleh, wajahnya menunjukkan kebingungan namun tetap berusaha menjaga kesopanan. Ia mengira wanita modis ini adalah salah satu rekan kerja Nara di kantor.
"Cari Nara ya, Nak? Maaf, Naranya sedang tidak ada di rumah. Silakan duduk dulu," ujar Bu Rahayu dengan suara yang lemah namun tulus.
Sinta berhenti tepat di depan kursi roda Bu Rahayu. Ia tidak duduk. Ia tetap berdiri, menciptakan bayangan panjang yang seolah menelan sosok tua yang renta itu. Sinta melepas kacamatanya sama sekali, memperlihatkan mata yang tajam dan penuh amarah yang tersembunyi di balik riasan sempurna.
"Anda ibunya Nara?" tanya Sinta dengan nada datar.
"Iya, saya ibunya. Kamu ini, apa teman sekantor Nara?"
Sinta kembali tertawa, kali ini lebih keras, namun hambar.
"Teman sekantor? Oh, itu istilah yang bagus untuk menutupi kenyataan yang menjijikkan."
Sinta kemudian menarik sebuah kursi makan dan duduk dengan kaki menyilang di depan Bu Rahayu. Gerakannya begitu dominan, seolah dialah pemilik sebenarnya dari tempat itu.
"Perkenalkan, nama saya Sinta Mahadewi. Dan saya ke sini bukan sebagai teman. Saya adalah tunangan, sekaligus calon istri dari Bagaskara Prawijaya."
Bu Rahayu mengerutkan keningnya, mencoba mengingat nama itu.
"Bagaskara... Prawijaya?"
Sinta merogoh tas Hermes-nya, mengeluarkan sebuah foto yang baru saja dicetaknya. Ia menyodorkannya tepat di depan wajah Bu Rahayu. Foto itu menunjukkan Bagas yang sedang tersenyum tipis, berdiri di depan pintu apartemen ini beberapa waktu lalu.
"Lelaki ini. Anda mengenalnya, kan? Lelaki yang katanya atasan putri Anda?"
Mata Bu Rahayu membelalak.
"Iya... ini Pak Bagas. Dia orang baik, dia yang membantu Nara mendapatkan apartemen ini agar Nara bisa bekerja dengan tenang sambil merawat saya."
Sinta mendengus kasar. Wajahnya kini mendekat ke wajah Bu Rahayu, menghilangkan jarak kenyamanan.
"Orang baik? Dia memang baik kepada 'peliharaannya', Ibu yang terhormat. Tapi biarkan saya meluruskan satu hal. Bagas bukan bos putri Anda. Dia adalah calon suami saya. Dan apartemen ini? Ini bukan fasilitas kantor. Ini adalah sarang yang dibayar Bagas agar dia bisa meniduri putri Anda kapan pun dia mau."
Deg.
Jantung Bu Rahayu seolah berhenti berdetak sesaat.
"Apa... apa yang kamu katakan? Itu tidak mungkin. Nara anak baik-baik. Dia bilang ini prestasi kerja..."
"Prestasi kerja?" Sinta memotong dengan cepat, suaranya naik satu oktav. "Prestasi apa yang diraih seorang perempuan yang tidak punya ijazah sarjana dan hanya bermodal tubuh? Putri Anda itu perempuan yang sangat manipulatif, Bu! Dia membohongi Anda dengan wajah polosnya itu!"
"Cukup! Jangan menghina anak saya!" suara Bu Rahayu bergetar hebat, tangannya yang memegang tangkai bunga lili mulai gemetar hingga bunga itu jatuh ke lantai.
"Saya belum selesai!" bentak Sinta balik, membuat Suster Rahmi yang berdiri di dekat sana tersentak. Sinta mengeluarkan amplop cokelat besar dan melemparkannya ke pangkuan Bu Rahayu. "Buka! Lihat sendiri siapa putri kebanggaan Anda itu sebenarnya!"
Dengan tangan yang sangat gemetar, Bu Rahayu membuka amplop itu. Suster Rahmi mencoba membantu, namun Bu Rahayu menahannya agar dia membukanya sendiri. Ia menarik keluar lembaran-lembaran foto di dalamnya.
Wajah Bu Rahayu seketika pucat pasi. Di sana, di atas kertas foto berkualitas tinggi, ia melihat putrinya. Bukan Nara yang mengenakan kebaya santun saat menari tarian tradisional yang sering ia banggakan. Bukan pula Nara yang berpakaian rapi untuk pergi ke kantor.
Di foto itu, Nara mengenakan pakaian yang sangat minim, nyaris telanjang. Ia berada di bawah lampu remang-remang sebuah klub malam, melilit di sebuah tiang dengan ekspresi wajah yang tidak pernah Bu Rahayu lihat sebelumnya penuh gairah dan liar.
Ada foto lain yang memperlihatkan Nara sedang didekati seorang pria asing di kegelapan klub yang melemparkannya uanh dan foto-foto lainnya yang merekam kebersamaan Nara dan Bagas dalam pose yang terlalu intim untuk sekadar hubungan atasan dan bawahan.
"Tidak... ini bukan Nara... ini bukan anakku..." bisik Bu Rahayu. Air mata mulai menggenang di matanya yang keruh.
"Itu putri Anda, Bu! Penari telanjang di klub malam! Di siang hari dia berakting menjadi penari tradisional yang suci, tapi di malam hari dia menjual tubuhnya kepada siapa saja yang sanggup membayar mahal, termasuk calon suami saya!" Sinta berdiri, menunjuk-nunjuk foto itu dengan beringas.
"Putri Anda adalah seorang penghancur rumah tangga orang! Dia merayu Bagas, dia memeras uangnya untuk membiayai pengobatan Anda yang mahal itu. Apartemen ini, perawat ini, semua barang-barang ini, semuanya dibayar dengan harga diri yang sudah dia jual di lantai dansa!"
"Nara ... Nara tidak mungkin..." Bu Rahayu mulai sesak napas. Ia meremas dadanya yang terasa sangat nyeri.
"Sadar, Bu! Jangan mau ditipu terus. Beritahu putri Anda, lepaskan Bagas. Jangan pernah bermimpi untuk naik kasta dengan cara merebut milik orang lain. Dia berasal dari lumpur, dan dia akan saya kembalikan ke lumpur itu!"
Sinta mengambil kembali kacamatanya, memakainya dengan gerakan anggun yang penuh kemenangan. Ia menatap Bu Rahayu yang sedang meringkuk di kursi rodanya dengan kepuasan yang dingin.
"Saya pergi dulu. Semoga foto-foto itu cukup untuk mengingatkan Anda bahwa doa-doa yang Anda panjatkan untuk putri Anda selama ini salah alamat."
Sinta melangkah pergi, suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju kehancuran. Pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras.
"Ibu! Ibu tenang, Bu!" Suster Rahmi segera menghampiri Bu Rahayu yang kini terisak hebat. Napasnya pendek-pendek dan wajahnya membiru.
"Sus... tolong... bawa saya keluar dari sini..." bisik Bu Rahayu di sela tangisnya yang menyayat hati.
"Tapi Bu, kondisi Ibu belum stabil, mbak Nara juga belum diberitahu ..."
"BAWA SAYA KELUAR!" teriak Bu Rahayu dengan sisa tenaganya. "Saya tidak mau tinggal di tempat haram ini! Saya tidak mau makan dari uang hasil maksiat anak saya! Tolong, Sus... bawa saya ke rumah lama... alamat yang pernah saya beritahukan..."
Suster Rahmi panik. Ia melihat kondisi psikologis Bu Rahayu yang sangat terguncang. Ia tahu jika ia tidak menuruti, kondisi jantung pasiennya bisa memburuk. Dengan tangan gemetar, Rahmi mengambil tas berisi obat-obatan dan beberapa pakaian seadanya.
"Baik, Bu. Kita pergi sekarang. Tenang, Bu, tenang..."
Rahmi segera memesan taksi melalui aplikasinya. Sambil menunggu, ia membantu Bu Rahayu pindah ke kursi roda yang lebih portabel. Di meja makan, bunga lili yang tadi disusun dengan penuh cinta kini berserakan di lantai, terinjak dan layu, sama seperti hati Bu Rahayu yang hancur berkeping-keping.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di lobi apartemen. Rahmi membantu Bu Rahayu masuk ke dalam mobil.
"Kita kemana, Mbak?" tanya supir taksi.
Rahmi menyebutkan sebuah alamat di pinggiran kota, sebuah kawasan pemukiman padat yang jauh dari kemewahan apartemen ini.
Di dalam taksi, Bu Rahayu hanya diam menatap keluar jendela. Air matanya terus mengalir tanpa suara. Setiap gedung tinggi yang dilewatinya kini terasa seperti raksasa jahat yang telah menelan kejujuran putrinya. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Keinginan untuk sembuh yang tadinya menggebu, kini sirna digantikan rasa malu yang mendalam.
Sementara itu, di tempat lain, Nara sedang berada di sebuah toko peralatan rumah tangga, memilih sebuah lampu tidur baru untuk ibunya. Ia tersenyum menatap lampu berbentuk bunga yang cantik itu, membayangkan betapa ibunya akan menyukainya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa dunia kecilnya yang ia bangun dengan kebohongan demi cinta, baru saja diledakkan hingga tak bersisa. Ia tidak tahu bahwa saat ia pulang nanti, apartemen mewah itu hanya akan menyisakan keheningan dan aroma lili yang mati.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊