Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 Sebuah Variabel tak di Duga
Rasa panas dan sakit pada tenggorokan membuat Wei Ying menitikkan air mata, orang-orang yang tadi heboh bergosip langsung berbalik memperhatikannya.
"Oh, nyonya! Apa anda baik-baik saja?" tanya pria tua itu dengan cemas.
Wei Ying menggelengkan kepalanya sembari memaksakan tersenyum, "Tidak, tidak apa-apa.." jawabnya dengan suara serak.
"Ibu, minum..." seru Lu Xue menyodorkan air minum.
Ketiga anak itu juga terlihat cemas dan terkejut, Wei Ying jadi merasa sedikit bersalah.
Lalu setelah selesai makan, Wei Ying dan anak-anak memutuskan untuk cepat-cepat pergi. Mengesampingkan rasa penasarannya, Lu Shu tetap diam dan hanya mengikuti kemana langkah Ibu tirinya pergi.
Hingga tak lama setelah berjalan cukup jauh, Lu Shu memberanikan diri untuk bertanya.
"Ibu.." panggil Lu Shu, "Mereka membicarakan desa kita kan?"
Wei Ying tak langsung menjawab, ia diam beberapa detik. "Entahlah, dari obrolan mereka itu memang seperti mengarah ke Desa kita.. tapi seperti yang kamu tau, ibu tak melakukan hal lain selain memberikan makanan yang tak sebagai di campur racun serangga pada mereka..." ujarnya.
"Tak sengaja?" bisik Lu Shu dalam hati. "Bukannya ibu bilang sengaja..."
"Ya, mau itu desa kita atau bukan.. itu bukan urusan kita. Lagipula pada akhirnya mereka juga akan mati, ibu hanya mempercepatnya saja.."
Lu Shu menatap punggung wanita yang menjadi Ibu tirinya itu dengan terkejut, mulutnya tanda sadar terbuka ketika kalimat dingin dan keji itu keluar dari mulutnya.
"Ibu memang berubah. Perlakuannya pada kami berubah, jadi lebih baik. Tapi.. di sisi lain, sifat jahat dan keji ibu seperti bertambah dan sangat asing." bisik Lu Shu dalam hati.
Tak jauh berbeda dengan isi pikiran Lu Shu yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang ibu tirinya itu, Wei Ying pun begitu kalut dengan isi pikirannya sendiri.
Obrolan tadi di kedai kecil itu sangat mengganggunya.
.
.
Di suatu hutan yang gelap dan lembab, jejak darah yang mengering membuat suasana menjadi kian mencekam. Bunyi sesuatu yang seperti di seret terdengar jelas di keheningan hutan, memantul di antara pohon dan semak.
"Sialan..." bisiknya dengan suara rendah dan serak. "Darahnya tidak mau berhenti!"
Wei Xang merasa pandangannya sudah mulai buram dan kakinya terasa dingin, sakit dari area selangkangannya nyaris sudah tak terasa. Nafasnya mulai memendek dan wajahnya sangat pucat.
"Sudah ku bilang.. menyerah saja, dan jadi budak ku!"
Samar-samar Wei Xang mendengar suara itu, ia sudah tak memiliki tenaga untuk menjawab. Kehilangan banyak darah membuat kesadarannya perlahan memudar.
"Kamari, pegang tanganku jika kamu berubah pikiran..."
Wei Xang menutup matanya, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang sudah menimpanya. Semua terasa begitu cepat, bahkan untuk mencernanya saja ia tak mampu.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi..." bisik Wei Xang di ambang kesadarannya.
Sosok gelap itu tersenyum kecil dan penuh tipu muslihat. Ia membelai wajah dingin Wei Xang lalu memasukan sebuah batu kecil berkilau ke dalam mulut pria itu.
"Yah, tak ku sangka kau akan menolaknya." ujar sosok itu. "Tapi bukan masalah.."
Sosok gelap itu mendekatkan wajahnya ke arah mayat Wei Xang, tepat saat bibirnya menyentuh bibir Wei Xang yang sudah membiru seketika tubuhnya ambruk.
Perlahan kedua mata Wei Xang terbuka, bola matanya bersinar kemerahan. Bibirnya yang semula biru, kini telah memiliki ronanya kembali.
"Tidak buruk..." bisiknya. "Untuk sementara.. Aku bisa menghindari kejaran mereka, meski sedikit mengecewakan tentang yang di bawah ini.." ujarnya seraya menatap area selangkangan tubuh barunya yang berlumur darah.
"Dasar Sekte Darah gila... "
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭